Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Prologia

Perilaku FOMO dan Budaya Konsumtif pada Penggemar Stray Kids dalam Pembelian Merchandise Natalie, Cherysa; Utami, Lusia Savitri Setyo
Prologia Vol. 9 No. 1 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i1.33175

Abstract

The rapid development of social media in recent years has transformed how individuals interact and access information. This evolution has also contributed to the rise of popular culture phenomena, such as K-Pop. K-Pop fans are known for their high level of loyalty to their idols. They are often willing to set aside personal needs to purchase various products related to their favorite idols. Additionally, fans actively support their idols through social media platforms. However, the prevalence of social media often leads K-Pop fans to spend hours in front of their devices, resulting in a phenomenon known as social media addiction. One of the common issues arising from excessive social media use is the fear of missing out (FOMO), which refers to the anxiety of missing out on trends or specific experiences. The aim of this study is to describe the behavior of fear of missing out (FOMO) within the consumptive culture of Stray Kids fans. Using a qualitative approach and phenomenological method, the study explores the subjective experiences of fans. The results reveal that social media and fan communities play a significant role in creating social pressure to follow trends. Fans experience pressure and encouragement from social media, which triggers FOMO and drives them to engage in consumptive behavior, manifested in impulsive buying, overspending, and seeking pleasure through the purchase of idol merchandise. Perkembangan pesat media sosial pada beberapa tahun terakhir telah mengubah cara individu berinteraksi dan mengakses informasi. Hal ini turut berkontribusi pada munculnya budaya populer, seperti K-Pop. Penggemar K-PopĀ  dikenal memiliki loyalitas yang tinggi pada idolanya. Mereka bersedia untuk mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk membeli berbagai produk yang berhubungan dengan idolanya. Lalu, penggemar juga aktif mendukung idola yang mereka sukai melalui media sosial. Namun, adanya platform media sosial seringkali membuat penggemar K-Pop menghabiskan waktu berjam-jam di depan perangkat mereka dan menimbulkan fenomena adiksi media sosial. Salah satu fenomena yang kerap muncul karena penggunaan media sosial berlebih adalah fear of missing out atau yang biasa disebut FOMO, yaitu perasaan takut ketinggalan tren atau pengalaman tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku fear of missing out (FOMO) dalam budaya konsumtif pada penggemar Stray Kids. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman subjektif penggemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial dan komunitas penggemar memainkan peran dalam tekanan sosial untuk mengikuti tren. Penggemar merasakan adanya tekanan serta dorongan dari media sosial yang membuat mereka menjadi FOMO dan mendorong penggemar untuk berperilaku konsumtif, yang diwujudkan melalui aspek pembelian impulsif, pemborosan, dan mencari kesenangan dalam membeli merchandise idolanya.
Komunikasi Persuasif Chlorophyllamakeup untuk Membangun Kepercayaan pada Online Class Makeup Azizah, Tarisha Wardah; Utami, Lusia Savitri Setyo
Prologia Vol. 9 No. 2 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i2.33498

Abstract

The growth of the beauty industry in Indonesia has increased the demand for alternative makeup learning methods, such as online makeup classes. Despite their convenience and flexibility, many potential participants remain skeptical about the quality of teaching and lack of direct interaction. This study analyzes the persuasive communication used by makeup artists to build participant trust in online makeup classes. Using a qualitative approach and a case study method focused on Chlorophyllamakeup, data were collected through in-depth interviews, observations, and document studies. The findings reveal that Chlorophyllamakeup applies persuasive techniques, including association, integration, reward, framing, and red-herring. The association technique links participants' needs with solutions, such as makeup durability under extreme conditions. Integration creates personal connections through consistent communication. Rewards include video recordings, e-modules, certificates, and additional gifts. Framing ensures materials are structured and easy to understand, while the red-herring technique shifts focus to tangible results. persuasive communication effectively build trust, foster loyalty, and expand promotional reach through testimonials on social media. This research highlights how persuasive communication plays a pivotal role in overcoming skepticism, enhancing participant trust, and promoting the growth of online makeup education. Pertumbuhan industri kecantikan di Indonesia telah meningkatkan kebutuhan akan alternatif pembelajaran makeup, seperti online class makeup. Meski menawarkan kemudahan dan fleksibilitas, masih banyak calon peserta yang ragu terhadap kualitas pengajaran dan minimnya interaksi langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi persuasif yang digunakan oleh makeup artist dalam membangun kepercayaan peserta terhadap online class makeup sebagai alternatif pembelajaran. Menggunakan konsep komunikasi persuasif, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus pada Chlorophyllamakeup. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chlorophyllamakeup menggunakan beberapa teknik komunikasi persuasif, seperti teknik asosiasi, integrasi, ganjaran, tataan dan red-herring. Teknik asosiasi menghubungkan kebutuhan peserta dengan solusi yang ditawarkan, seperti ketahanan makeup dalam kondisi ekstrem. Teknik integrasi menciptakan hubungan personal dengan peserta melalui komunikasi yang intensif dan berkelanjutan. Ganjaran diberikan dalam bentuk rekaman video, e-modul, sertifikat, dan hadiah tambahan. Teknik tataan memastikan materi tersampaikan secara terstruktur dan mudah dipahami. Teknik red-herring dengan mengarahkan fokus peserta dan calon peserta pada hasil nyata. Komunikasi persuasif ini berhasil membangun kepercayaan peserta, menciptakan loyalitas, dan memperluas jangkauan promosi melalui testimoni di media sosial.