Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN BERGIZI DAN MPASI PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI POSYANDU DUSUN KANGIN DESA TUSAN BANJARANGKAN KLUNGKUNG Dewa Ayu Ratnawati; Ni Luh Made Asri Dewi
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol. 4 No. 2 (2018): Oktober: Jurnal Kesehatan Medika Udayana
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesdam IX/Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47859/jmu.v4i2.140

Abstract

Background: MPASI is a food transition from breast milk to family food. Giving MPASI should be given to infants aged 6-24 months in stages both from the texture and number of portions. Proper provision of complementary feeding can lead to nutritional problems in infants. Proper processing and administration of MPASI, mothers are required to have sufficient knowledge so that they can create healthy babies. Objective to describe the knowledge of mothers about nutritious food and complementary feeding in infants aged 6-12 months. Method: This study uses an explorative descriptive design. The technique of taking respondents of this study was purposive sampling with a total sample of 25 mothers who had babies aged 6-12 months in Posyandu Dusun Kangin, Tusan Banjarangkan Klungkung Village. Data collection tool in the form of a closed questionnaire. Data analysis uses univariate analysis on a qualitative scale. Results: the study showed the characteristics of respondents, most of whom were aged 21-25 years (56%), working (56%), elementary education (44%), and the level of knowledge of mothers in the less category (40%). Conclusion: This study found that most levels of maternal knowledge about nutritious food and complementary feeding were lacking (40%), so further research is needed on the provision of MPASIKeywords: Knowledge; Solidarity; Infants 6-12 months
Mental Health Problems Among Adolescent Students Windu Astutik; Ni Luh Made Asri Dewi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 25 No 2 (2022): July
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v25i2.848

Abstract

Concern for adolescents usually focuses on physical problems, such as reproductive health and nutrition, including anemia and obesity. Nowadays, adolescent mental health has been recognized as essential, particularly in low- and middle-income countries. Mental health problems that often occur in adolescents include anxiety, depression, and the risk of suicide. This study aimed to determine the prevalence of mental health problems and the risk of suicide among adolescent students in Bali Province, Indonesia. The sample consisted of 435 students from four junior high schools (Grades 7, 8, and 9) aged 12–15 years who were selected with a multistage sampling technique. This descriptive study applied the Indonesian version of the Pediatrics Symptom Checklist-Youth (PSC-Y) report. The results showed that 14.5% of adolescent students experienced mental health problems, and 6.7% had a risk of suicide. Screening for adolescent mental health, especially in school, is important to ensure normal development and detect mental health problems as early as possible. Keywords: adolescent mental health, junior high school student, suicide risk Abstrak Masalah Kesehatan Jiwa pada Siswa Remaja. Dewasa ini, masalah fisik kerap menjadi perhatian pada remaja, seperti kesehatan reproduksi dan nutrisi (anemia dan obesitas), dan masih sangat sedikit orang yang memerhatikan masalah kesehatan jiwa. Padahal, kesehatan jiwa memiliki peran penting dalam tahap kehidupan remaja kedepannya. Belakangan ini, masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemui pada remaja adalah ansietas, depresi, dan risiko bunuh diri. Kasus-kasus kejiwaan tersebut belum terdokumentasi dengan baik karena tidak ada deteksi dini terhadap masalah kesehatan jiwa di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi masalah kesehatan jiwa dan risiko bunuh diri pada siswa remaja di Bali, Indonesia. Sampel dalam penelitian adalah 435 siswa remaja dari empat SMP di Kota Denpasar (Kelas 7, 8, dan 9) berusia 12 – 15 tahun yang dipilih berdasarkan teknik multistage simple random sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi deskriptif kuantitatif dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner Pediatrics Symptom Checklist-Youth (PSC-Y) Report, yang diolah menggunakan SPSS dengan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada 14,5% siswa remaja mengalami masalah kesehatan jiwa dan 6,7% memiliki risiko bunuh diri. Skrining kesehatan mental remaja sangat penting, terutama dilakukan oleh sekolah, untuk menjaga tumbuh kembang remaja dengan jiwa yang sehat dengan mendeteksi sedini mungkin masalah kesehatan mental tersebut. Kata Kunci: masalah kesehatan jiwa, remaja, risiko bunuh diri, sekolah menengah pertama
Edukasi Kesehatan Remaja Tentang Pencegahan Stunting di Desa Tibubeneng Kabupaten Badung Propinsi Bali Kurniasih Widayati; Elfi Kuswati; Ni Luh Made Asri Dewi
ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdikan.v2i1.1547

Abstract

The locus of stunting in 2020 in Bali has increased to five regions, namely Denpasar and Badung districts. One of the stunting loci in Badung district, namely in the Kuta Health Center area, North Kuta sub-district in Tibubeneng Village (BKKBN prop Bali, 2020), obtained data on 342 toddlers, found 32 children with very short status toddlers and 16 children with a total of 48 toddlers (14.04%). From the results of Kurniasih's research (2020), it was found that short mothers (TB <150 cm) are a risk factor for stunting. Stunting is a chronic nutritional problem in toddlers which is characterized by shorter height compared to children of their age. Children who suffer from stunting will be more susceptible to disease and as adults are at risk of contracting degenerative diseases and affecting children’s intelligence level. So this community service activity targets young women as prospective mothers, so they don't give birth to short toddlers (stunting). The activity is carried out by providing education in the form of online counseling activities about health for adolescents. From the results of counseling activities, it was found that the knowledge of adolescents in the Good category increased from 71% to 86%, sufficient knowledge from 24% decreased to 14% and knowledge of less than 5% became 0%
Pengetahuan Orang Tua tentang Penggunaan Gadget pada Anak Pra Sekolah Ni Luh Made Asri Dewi; Ida Bagus Candra Wibawa Manuaba
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.777 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan orangtua tentang penggunaan gadget pada Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2021. Proses pengambilan data menggunakan kuesioner dari peneliti sebelumnya dengan jenis pertanyaan tertutup dan dengan pilihan jawaban benar dan salah. Penyebaran kuesioner menggunakan link google form pada aplikasi WhatsApp di smartphone. Hasil: dari 88 responden 68,2% (60 orang) memiliki tingkat pengetahuan baik, 25% (22 orang) tingkat pengetahuan cukup, dan 6,8% (6 orang) dengan tingkat pengetahuan kurang. Simpulan: Gambaran pengetahuan penggunaan gadget orangtua di Desa Mambal Kabupaten Badung sebagian besar berada dalam kategori baik. Hasil penelitian dapat menjadi literasi untuk penelitian selanjutnya.
Pemberdayaan SD 2 Muhammadyah Denpasar dalam Revitalisasi Permainan Tradisional sebagai Wahana Edukasi Pembentukan Karakter Anak Ni Luh Made Asri Dewi; Windu Astutik; Kurniasih Widayati
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Peduli Masyarakat, Maret 2020
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v2i1.71

Abstract

Fokus pengabdian ini adalah merevitalisasi permainan tradisional sebagai wahana edukasi pembentukan karakter anak sekolah. Bermain bagi anak memiliki arti yang sangat penting diantaranya menstimulasi perkembangan bahasa/kemampuan verbal, mengembangkan keterampilan sosial, dan meningkatkan kemampuan problem solving. Permainan tradisional merupakan suatu permainan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal, serta menjadi stimulus membentuk karakter positif anak. Permainan tradisional memiliki aspek motorik, kognitif, emosi, bahasa dan spiritual. Pengabdian ini dilatarbelakangi beberapa persoalan, diantaranya anak cenderung bermain permainan game online yang dapat memicu perilaku agresif, individual, acuh tak acuh dan penurunan sopan santun. Guna mengatasi persoalan tersebut, dalam pengabdian ini dilakukan kegiatan sosialisasi, pendampingan, monitoring dan fasilitasi penyerahan peralatan permainan tradisional Kata kunci: revitalisasi; permainan tradisional; edukasi; karakter; anak EMPOWERMENT OF BASIC SCHOOL 2 MUHAMMADYAH DENPASAR IN REVITALIZATION OF TRADITIONAL GAME AS WAHANA EDUCATION FORMATION OF CHARACTER CHILDREN ABSTRACT The focus of this community is revitalizing traditional games as an educational tool for the formation of schoolchildren's characters. Playing for children has a very important meaning including stimulating language development / verbal ability, developing social skills, and improving problem solving abilities. The traditional game is a game of ancestral heritage that needs to be preserved because it contains the values of local wisdom, as well as being a stimulus to shape the positive character of children. Traditional games have aspects of motor, cognitive, emotion, language and spiritual. This service is motivated by several problems, including children who tend to play online games that can trigger aggressive, individual, indifferent behavior and decline in courtesy. In order to overcome this problem, in this service community activities include socialization, assistance, monitoring and facilitation of the delivery of traditional game equipment. Keywords: revitalization; traditional game; education; character; children
Sosialisasi Masalah Darurat Penggunaan Gadget Anak Usia Pra Sekolah di Desa Tibubeneng Kuta Utara Ni Luh Made Asri Dewi; Kurniasih Widayati; Windu Astutik
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 3 No 4 (2021): Jurnal Peduli Masyarakat, Desember 2021
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v3i4.827

Abstract

Permasalahan penggunaan gadget pada anak usia dini menjadi masalah baru seperti anak mudah tantrum, tidak dapat bersosialisasi baik dengan teman sebaya, anak cenderung pasif, menarik diri, gangguan penglihatan, resiko obesitas yang berpotensi menghambat tahap perkembangan anak selanjutnya. Kondisi ini tidak terlepas dari peran orangtua dalam mengasuh anak yang cenderung abai dalam memfaatkan gadget sebagai wujud kemajuan teknologi. Orangtua menjadi pengasuh, pendidik serta pemberi stimulus utama pada anak usia dini. Tujuan dari pengabdian ini adalah sebagai media menambah pengetahuan, sharing seputar masalah penggunaan gadget pada anak di wilayah Desa Tibubeneng, sehingga dampak negatif penggunaan gadget dapat diminimalkan. Metode pelaksanaan kegiatan ini melalui tahap persiapan dengan melakukan wawancara kepada masyarakat dan kader posyandu, mengurus perizinan dan koordinasi kegiatan di Desa. Tahap pelaksanaan; menyiapkan materi, video, link zoom dan interaksi dengan audien, serta tanya jawab. Tahap evaluasi dilihat dari ketepatan jawaban responden dalam menjawab pertanyaan secara langsung. Jumlah peserta dalam kegiatan ini sebanyak 40 audien. Pencapaian target dari kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dapat diukur dengan hasil mencapai 90% pengetahuan meningkat. Kesimpulan bahwa penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan orangtua tentang masalah penggunaan gadget.
Determinant Factor for Stunting in Toddler Widayati, Kurniasih; Putra, I kadek Agus Dwija; Dewi, Ni Luh Made Asri
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1: March 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.482 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i1.381

Abstract

Stunting (failure to thrive) is a chronic nutritional problem in children under five which is characterized by a height that is shorter than its age. Stunting is a threat to the nation’s competitiveness. The side effects are disruption of brain development, intelligence, physical growth disorders, and metabolic disorders in the child’s body. The research objective was to determine the determinant factors causing stunting in Sukawati Gianyar District. The research design was a case-control with a sample size of 47 cases and 144 controls, all of which were selected within a certain time period, namely 1-16 August 2020 in Sukawati Subdistrict, Gianyar Regency. Cases were respondents whose height was less suitable for age and controls were toddlers with height according to age. Data were collected using a questionnaire that asks about maternal factors, child factors, environmental factors and health service factors. Univariate analysis is used to determine the characteristics of respondents, bivariate to determine OR and, multivariate logistic regression method to determine Adjusted OR. The bivariate analysis showed that the factors that increased the risk of stunting were maternal height with OR = 3,260 (95% CI: 1,567-6,783), Gravida OR = 2,719 (95% CI: 1,256-5,889), Birth weight with OR = 0.217 (95% CI: 0.165-0.286), Multivariate analysis showed that the determinant variable which significantly increased the risk of stunting was maternal height with OR = 3.5 (95% CI: 1.6-7.9), Gravida with OR = 3.394. (95% CI: 1.368-8.416) and breastfeeding initiation counseling with OR = 0.392 (95% CI: 0.158 0.974). Mother's height and Gravida are risk factors for stunting in Sukawati District, Gianyar Regency, Bali. Abstrak: Stunting (gagal tumbuh) merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari usianya. Stunting merupakan ancaman bagi daya saing bangsa. Efek sampingnya adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme pada tubuh anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor determinan penyebab stunting di Kecamatan Sukawati Gianyar. Rancangan penelitian adalah  case control dengan ukuran sampel 47 kasus dan 144 kontrol yang semuanya dipilih dalam kurun waktu tertentu yaitu tanggal 1-16 Agustus 2020 di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Kasus adalah responden yang didapatkan tinggi badan kurang sesuai dengan umur dan kontrol adalah bayi dengan tinggi badan sesuai dengan umurnya. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang menanyakan tentang faktor ibu, faktor anak, faktor lingkungan dan faktor pelayanan kesehatan. Analisis univariat digunakan untuk mengetahui karakteristik responden, bivariat untuk mengetahui OR  dan, metode regresi logistik multivariat untuk menentukan Adjusted OR. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor yang meningkatkan risiko stunting adalah tinggi badan ibu dengan OR = 3,260 (95% CI: 1,567-6,783), Gravida OR = 2,719 (95% CI: 1,256-5,889), Berat Badan Lahir  dengan OR = 0,217 (95 % CI: 0,165-0,286), Analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel determinant meningkatkan risiko stunting secara signifikan adalah tinggi badan ibu dengan OR = 3,5 (95% CI: 1,6-7,9), Gravida  dengan OR= 3,394 (95%CI: 1,368-8,416) dan penyuluhan Inisiasi Menyusui Dini dengan OR=0,392 (95%CI: 0,158 0,974). Tinggi badan Ibu dan Gravida merupakan faktor risiko stunting di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali.
KEDARURATAN MASALAH MENTAL EMOSIONAL PENGGUNA GADGET PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH Ni Luh Made Asri Dewi; Kurniasih Widayati
PROSIDING SIMPOSIUM KESEHATAN NASIONAL Vol. 1 No. 1 (2022): Simposium Kesehatan Nasional
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.736 KB)

Abstract

Gadget menjadi daya tarik bagi penggunanya. Kemudahan gadget membuat orangtua memberikan gadget terlalu dini pada anak dapat menimbulkan permasalahan mental emosional. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining dan mengidentifikasi masalah mental emosional anak usia prasekolah pengguna Gadget. Metode penelitian menggunakan deskritif analitik. Hasil penelitian menunjukkan dari 93 responden, 73 responden (85%) durasi penggunaan gadget ≤ 60 menit, 14 responden (15%) durasi penggunaan gadget ≥ 60 menit. 32 responden (34,4%) mengalami masalah tantrum, 15 responden (16,1%) masalah konsentrasi, 14 responden (15,1%) masalah komunikasi. Simpulan Sebagian besar durasi penggunaan gadget anak ≤ 60 menit, dan Sebagian besar mengalami masalah mental emosional
Screening Anemia remaja Putri di Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Di Desa Dauh Puri kurniasih widayati; Windu Astutik; Ni Luh Made Asri Dewi
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v4i1.1028

Abstract

Dalam rangka mendukung upaya pencegahan terjadinya stunting pada balita dapat dilakukan melalui pendekatan pada hulu yaitu remaja. Desa mitra (kelurahan Dauh Puri) masuk lokus/lokasi fokus stunting di wilayah kecamatan Denpasar barat. Salah satu sasaran upaya pencegahan stunting adalah dari Hulu yaitu Remaja. Disini Tim menyasar pada remaja di desa mitra, dimana permasalahannya adalah kurang aktifnya remaja mengikuti kegiatan sekaa teruna teruni, banyak remaja yang belum paham tentang stunting, sehingga melalui kegiatan ini tim memberi penyuluhan remaja putri dengan tentang kesehatan dan pengukuran kadar hemoglobin. Tujuan pendampingan kelompok remaja putri meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan remaja dan masalah gizi sehingga remaja bisa merencanakan masa depannya dengan baik dan dapat ikut serta dalam program mencegah stunting. Metoda setelah diberikan motivasi pada remaja, penyuluhan dan pelatihan kepada remaja, kemudian dilakukan screening cek HB pada 53 remaja putri di Desa Dauh Puri. Hasil pada kegiatan pendidikan masyarakat yang dilakukan penyuluhan didapatkan hasil pretest dengan pengetahuan baik 36%, cukup 57% dan kurang 7% dan hasil posttest didapatkan pengetahuan baik 94%, cukup 6% dan kurang 0%. Pada pemeriksaan Hb didapatkan tidak anemia 94% dan anemia 6% Keywords: Anemia; Remaja; Stunting.
Pendampingan Kader Catin dalam Penjaringan Calon Pengantin di Kabupaten Jembrana Daryaswanti, Putu Intan; Widayati, Kurniasih; Noviyanti, Ni Putu Ayu Wulan; Dewi, Ni Luh Made Asri; Febianingsih, Ni Putu Eka; Astutik, Windu; Sulistyadewi, Ni Putu Eny
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada Vol. 5 No. 2 (2023): Desember: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47859/wuj.v5i2.427

Abstract

Background: Many factors cause stunting, one of which is health problems for young women (mothers-to-be) who are about to become pregnant. In several studies, smoking behavior and exposure to cigarette smoke also have an impact on pregnancy and fetal disorders which result in stunted babies being born. Before becoming pregnant, young women must really prepare their health. This preparation can start when you reach puberty until you are ready to become a prospective bride. The female bride-to-be (catin) is a woman of childbearing age who was in a healthy condition before becoming pregnant so that she can give birth to a normal and healthy baby and the male prospective bride-to-be will be introduced to the reproductive health problems of herself and the partner she will marry. Purpose: The aim of this activity is to help cadres in recruiting catin. Method: This service activity uses counseling and discussion methods for 30 cadres of prospective brides and grooms consisting of the Traditional Village Council, Village Kelian, Village Perbekel, Village PLKB, Village TPPS, and Village Midwife Element TPK. Results: There was an increase in post test scores after being given the material. The mean pre-test score was 68 and rose to 70. There was agreement in selecting potential brides, especially Hindu brides. This flow will be disseminated to each village, and will be socialized at every meeting with teenagers. So that teenagers who will later get married go through this flow. Conclusion: The importance of health screening for prospective brides and grooms to prevent stunting in children in the future. The catin flow is a tool to make it easier to disseminate information about how prospective brides and grooms, especially Hindus, report to Kelian Desa about their wedding plans.