Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Prohealth Journal

Virgin Coconut Oil (VCO) Meningkatkan Epitelisasi Luka Diabetes Mellitus Daryaswanti, Putu Intan; Widyanata, Komang Agus Jerry; Artawan, I Kadek
ProHealth Journal Vol 21 No 1 (2024): June
Publisher : STIKes Hamzar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59802/phj.2024211117

Abstract

Diabetic wounds are a complication of Diabetes Mellitus (DM) which is caused by peripheral blood vessel disorders and neuropathy. Treatment for diabetic wounds is not sufficient to be treated using antibiotics, but wound care must be carried out. The important thing in wound care is time and quality to improve the healing of the procedure and to reduce the costs associated with healing. The aim of this research was to determine the effect of administering VCO on diabetic wound healing. This study used a one group pre- post test experimental design to determine differences in the degree and extent of wounds as well as wound healing time after being given VCO. The number of samples in this study was 11 people in 1 group of patients who had DM wounds. Most of the respondents were aged 56 – 65 years (54.6%) and were male (63.6%). In pre-test conditions or before being given VCO. Most of the wound area before intervention was (11.85) with the base color of the wound being red, the type of fluid being serious to haemooserous, the skin around the wound being healthy, erythema, edema and hyperpigmentation with an average of epithelium (1.82). Most of the wound areas after intervention were large (6.65) with the base color of the wound pink (epitilization), dry to serous fluid type, the skin around the wound was healthy, with an average epilation (68.64). There was a significant difference between before and after wound treatment using VCO in terms of diabetic wound area of 0.006 and wound epithelialization of 0.000 where p < 0.05. VCO can increase skin moisture which can stimulate collagen synthesis thereby accelerating epithelialization and granulation of wound tissue.
Gambaran Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja dalam Mengkonsumsi Air Putih Wahyu Widiantari, Made Ary; Daryaswanti, Putu Intan
ProHealth Journal Vol 20 No 1 (2023): June
Publisher : STIKes Hamzar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59802/phj.2023201105

Abstract

Saat ini banyak remaja mengkonsumsi minuman-minuman selain air putih, seperti soft drink. Salah satu contoh akibat kurang mengkonsumsi air putih akan menurunkan konsentrasi siswa saat belajar di kelas. Kurang mengkonsumsi air putih dalam jangka panjang akan mengakibatkan seseorang mengalami dehidrasi berat yang dapat mengakibatkan kerusakan pada organ ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja dalam mengkonsumsi air putih di SMAN 1 Semarapura. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu simpel random sampling. Populasi penelitian ini adalah remaja di SMAN 1 Semarapura dengan jumlah sampel yaitu 228 siswa. Instrumen penelitian yang dipakai yaitu berupa kuesioner. Data kemudian diolah menggunakan SPSS dengan uji univariat. Hasil penelitian dari 228 responden yaitu pengetahuan remaja dalam mengkonsumsi air putih sebagian besar sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 129 responden (56,6%). Sikap remaja dalam mengkonsumsi air putih sebagian besar dengan kategori positif yaitu sebanyak 140 responden (61,4%) dan sebagian besar remaja yang memiliki tingkat pengetahuan baik dalam mengkonsumsi air putih dan memiliki sikap yang positif dalam mengkonsumsi air putih yaitu sebanyak 109 responden (84,5%). Tingkat pengetahuan dan sikap remaja dalam mengkonsumsi air putih dalam kategori baik. Kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi air putih dapat ditingkatkan dengan poster atau banner yang dipajang di masing-masing kelas sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja dalam mengkonsumsi air putih.
Hubungan Hubungan Gula Darah Dengan Nilai Ankle Brachial Index (ABI) Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Widyanata, Komang Agus Jerry; Daryaswanti, Putu Intan; Artawan, I Kadek
ProHealth Journal Vol 20 No 1 (2023): June
Publisher : STIKes Hamzar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59802/phj.2023201107

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit kronis karena tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang diproduksinya secara efektif. Kadar glukosa dalam darah yang tidak stabil pada penderita DM tipe 2 dapat menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya adalah neuropati perifer. Penilaian ABI terhadap Pasien DM tipe 2 perlu dilakukan untuk mengetahui secara dini terjadinya neuropati perifer terutama pada telapak kaki. Rendahnya nilai ABI yang menimbulkan gangguan vaskular dipengaruhi oleh multi faktor seperti usia yang semakin bertambah, lamanya menderita DM, obesitas, menkonsumsi obat anti hiperglikemik yang belum tepat, tingkat aktivitas fisik yang rendah, perawatan kaki yang belum optimal dan diet DM belum dilakukan secara taat, serta kontrol glikemik yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut Hubungan Gula Garah Dengan Nilai Ankle Bracial Index (ABI) Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Utara. Penelitian ini menggunakan penelitian korelatif dengan rancangan cross-sectional study dengan 80 responden yang merupakan penderita DM di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Utara. Instrument untuk mengukur nilai ABI adalah tensi meter digital, SPO, dan lembar leklist dan untuk mengukur gula darah menggunakan SPO dan glucotest yang sudah terkalibrasi. Analisis data dilakukan analisa data dengan menggunakan uji statistik parametrik Pearson. Pada uji korelasi (Product Moment) hipotesa alternatif diterima apabila nilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukan nilai gula darah pasien DM di wilayah Kuta Utara Sebagian besar masuk ke dalam kategori tidak terkontrol (71,2%), nilai Angle Bracial Indek (ABI) pasien DM di wilayah Kuta Utara Sebagian besar masuk ke dalam kategori ditoleransi (42,4%), dan Nilai Gula darah dengan nilai Angkle Bracial Indek (ABI) memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai hubungan negative. Artinya adalah semakin tinggi nilai gula darah pasien makan semakin rendah nilai ABI dan berpotensi mengalami Periperal Arteri Desease (PAD)