Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Enhancing government communication for climate change adaptation: a case study of agricultural policies and practices Hasanah, Khuswatun; Brotodjojo, Rukmowati; Poerwanto, Mofit Eko; Lakatos, László
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 14, No 1 (2025): June 2025
Publisher : Master of Communication Science Program, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/interaksi.14.1.222-239

Abstract

Climate change presents serious threats to highland agricultural areas such as Dieng (Central Java) and Karo (North Sumatra), where farmers increasingly experience irregular weather patterns, prolonged droughts, and frost events (bun upas). This study examines how the government communicates climate adaptation innovations—particularly through the Farmer Field School (Sekolah Lapang, SL) program and the work of agricultural extension officers (Penyuluh Pertanian Lapangan, PPL)—to support farmers in these vulnerable regions. Innovations such as the application of Lactic Acid Bacteria (LAB), Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), and basic frost prevention strategies have been introduced since 2022 through Farmer Field School (SL) initiatives led by local agricultural departments. Guided by Rogers’ Diffusion of Innovation Theory, this qualitative research involved semi-structured interviews with six farmers and two Agricultural Extension Officers. The analysis focuses on five diffusion stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. The findings show that while farmers in both regions are increasingly aware of climate change (knowledge stage), many receive information from peers or media rather than official channels. In Dieng, adoption is constrained by resource competition with tourism and limited frost response strategies. In Karo, although media use is higher, government messaging still lacks practical, region-specific guidance. The study reveals key gaps in the persuasion and implementation phases, suggesting that existing communication efforts remain too generic and insufficiently persuasive. It recommends more localized, trust-based, and multi-channel communication strategies tailored to the unique environmental conditions of each region. The research contributes to the understanding of how institutional communication can better support innovation adoption in climate-vulnerable farming communities.
Peningkatan Kompetensi Penulisan Berita Memdalam Bagi Reporter Majalah Mata Budaya Yogyakarta Hasanah, Khuswatun; Indah, Sika Nur
Bengawan : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2021): Desember
Publisher : Politeknik Indonusa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.496 KB) | DOI: 10.46808/jurnal_bengawan.v1i2.34

Abstract

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat memiliki 56 desa mandiri budaya. Publikasi terkait keberadaan dan aktivitas desa ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap pelestarian budaya. Oleh karena itu diperlukan sumber daya manusia yang kompeten di bidang tersebut. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi reporter, kontributor, dan relawan Majalah Mata Budaya dalam menyajikan tulisan yang secara dalam menelisik perkembangan budaya, termasuk mengangkat citra desa budaya secara menarik sesuai kaidah 9elemen jurnalisme dan Kode Etik Jurnalisme (KEJ). Harapannya dengan produk jurnalistik yang baik, desa budaya dapat berkembang dan lebih dikenal. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Budaya (Kundha Kabudayan) DIY, menyasar 24 peserta dari 7 organisasi berbeda mulai dari Duta Museum hingga Pendamping Desa Budaya di DIY. Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan latihan menganalisis tulisan mendalam. Materi-materi yang diberikan terkait pengenalan liputan mendalam danperbedaannya dengan karya jurnalistik lainnya, teknik merancang liputan mendalam, menggali data dalam liputan mendalam, dan teknik menulis liputan mendalam. Dari kegiatan ini, reporter, kontributor, serta relawan memiliki sudut pandang baru dalam menulis liputan mendalam. Hal ini terbukti dari hasil analisis tulisan oleh peserta yang menunjukkan pemahaman atas materi yang disampaikan dalam pelatihan.