Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PUISI INDONESIA ABAD KE-5: KAJIAN STRUKTURAL DAN SOSIOLOGI SASTRA TEKS YŪPA MUARAKAMAN Sarathan, Indra; Nugrahanto, Widyo; Ridwansyah, Randy
SUAR BETANG Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.515 KB) | DOI: 10.26499/surbet.v14i1.113

Abstract

The history of modern Indonesian poetry often begins in the 1920s. The first modern Indonesian poem refers to the poem ?Tanah Air?/ ?Motherland? by Muhammad Yamin. The canonization of M. Yamin (1903-1962) as one of pillar modern Indonesian poetry was known from the contribution of A. Teeuw (1921-2012). And, the results of his research on Indonesian poetry continue to resonate in the spaces of literary and language education to this day (2018). However, there is still little attention that explains the process of transformation from old poetry (mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, etc.) to modern Indonesian poetry. The data only explained the milestones of modern Indonesian poetry starting in the 1920s. Even though the history of world literature dived until the time Before Century in his explanation of the history of poetry. Such as the Gilgamesh epic written on the 3rd century BC stone remains of the Sumerians in Mesopatami or the Beawulf long poem derived from oral literature as the beginning of the history of Anglo-Saxon (ancient English) poetry of the 8th century CE. Referring to the not strict definition of poetry, this paper will review the oldest text of the inscription in the Indonesia archipelago (5th century AD) as a form of old poetry by examining the structure and typology, as well as the social history of Indonesian ancient people that produced the inscription text in viewpoints sociology of literature. Thus, the results of this study are also expected to offer an alternative historiography of the history of Indonesian poetry.
Puisi Indonesia Abad ke-5: Kajian Struktural dan Sosiologi Sastra Teks Yūpa Muarakaman Indra Sarathan; Widyo Nugrahanto; Randy Ridwansyah
SUAR BETANG Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i1.113

Abstract

The history of modern Indonesian poetry often begins in the 1920s. The first modern Indonesian poem refers to the poem ―Tanah Air‖ ‗Motherland‘ by Muhammad Yamin. The canonization of M. Yamin (1903—1962) as one of pillar modern Indonesian poetry was known from the contribution of A. Teeuw (1921—2012). The results of his research on Indonesian poetry continue to resonate in the spaces of literary and language education to this day (2018). However, there is still little attentions that explain the process of transformation from old poetry (mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, etc.) to modern Indonesian poetry. The data only explained the milestones of modern Indonesian poetry starting in the 1920s. Even though the history of world literature dived until the time Before Century in his explanation of the history of poetry. Such as the Gilgamesh epic written on the 3rd century BC stone remains of the Sumerians in Mesopatami or the Beowulf long poem derived from oral literature as the beginning of the history of Anglo-Saxon (ancient English) poetry of the 8th century CE. Referring to the not strict definition of poetry, this paper will review the oldest text of the inscription in the Indonesia archipelago (5th century AD) as a form of old poetry by examining the structure and typology, as well as the social history of Indonesian ancient people that produced the inscription text in viewpoints sociology of literature. Thus, the results of this study are also expected to offer an alternative historiography of the history of Indonesian poetry.
MEMBACA ANTOLOGI PUISI MENCINTAI KARYA EVI IDAWATI; MEMBACA KERINDUAN YANG TAKPERNAH JEDA Baban Banita; Indra Sarathan
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.26864

Abstract

Mencintai adalah aktivitas yang luar biasa sebab dengan mencintai berarti telah turut menciptakan kedamaian dunia yang sekaligus juga kebahagiaan.  Mencintai bisa diungkapkan dengan berbagai hal sesuai dengan kapasitas atau ketertarikan orang itu. Evi Idawati melakukannya dengan membuat puisi. Puisi-puisi yang bertemakan cintanya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni mencintai kepada manusia dan mencintai kepada pencipta manusia. Dalam mengungkapkan cinta tersebut ada persamaan dan perbedaan. Persamaannya, aku lirik memposisikan diri sebagai orang yang siap menghamba terhadap yang dicintainya. Perbedaannya, dalam mencintai manusia terdapat unsur tubuh dan berahi sementara dalam mencintai sang pencipta yang muncul adalah sikap iklas dalam menjalankan ritual yang disertai doa-doa. Bentuk atau jenis cinta ini  dalam pandangan Fromm adalah cinta terhadap Tuhan dan cinta erotis atau cinta sesama. 
RESPON WARGANET DAN ANALISIS SEMANTIK BERITA CORONA DI CNN INDONESIA PADA MEDIA SOSIAL TWITTER: JANUARI - MARET 2020 Indra Sarathan; Randy Ridwansyah; Aditya Pradana
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.28505

Abstract

Berita tentang wabah corona telah menyita perhatian masyarakat luas. Terdapat banyak portal berita daring yang memberitakan wabah corona tersebut. CNN Indonesia merupakan salah satu portal berita pertama yang memberitakan wabah corona melalui cuitan di akun Twitter resminya. Penelitian ini menganalisis respon warganet terhadap teks judul berita tentang corona di Indonesia serta membahas makna semantik yang terkandung dalam judul berita tersebut. Kemudian, mahadata tersebut dibagi berdasarkan sebelum dan sesudah WHO menyatakan corona sebagai wabah pandemik. Pengumpulan data dilakukan dengan memilih judul berita CNN Indonesia mengenai wabah corona yang paling banyak mendapatkan respon dari warganet di Twitter dengan menggunakan bahasa pemrograman python. Data isi berita kemudian dianalisis secara semantik menggunakan framework USAS (UCREL Semantic Analysis System). Kategori tema yang banyak dibahas sebelum dinyatakan pandemik adalah 1) tubuh dan individu; 2) angka & pengukuran; 3) aksi sosial, negara & proses; 4) pemerintah & publik; serta 5) pergerakan, lokasi, perjalanan, & transportasi. Sedangkan, kategori tema yang banyak dibahas sesudah dinyatakan pandemik adalah 1) angka & pengukuran; 2) aksi sosial, negara & proses; 3) tubuh & individu; 4) bahasa & komunikasi; serta 5) makhluk hidup & kehidupan.
PERMASALAHAN PENULISAN SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA Indra Sarathan
Kandai Vol 14, No 2 (2018): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.444 KB) | DOI: 10.26499/jk.v14i2.594

Abstract

Sejarah kesusastraan Indonesia modern sering dianggap dimulai dari masa roman Balai Pustaka (1920~). Namun, sedikit perhatian yang menjelaskan proses dari sastra tradisional menuju sastra modern. Secara turun-temurun, dikenal konvensi sastra tradisional macam pupuh, pantun, sureq, kakawin, babad, wawacan yang seringkali ditulis dalam naskah-naskah kuno sebagai tradisi tata tulis tradisional. Namun, dari mana datangnya sastra modern sebagai bentuk tulisan (genre) baru apabila tidak didahului oleh karya-karya yang sebelumnya. Maka, perlu peninjauan karya-karya saduran cerita Eropa yang diserap oleh bangsa Indonesia pada akhir abad ke-19 yang seringkali ditulis dalam buku-buku yang masih menggunakan aksara daerah (vernacular script). Untuk itu, penelitian ini melacak bagaimana sejarah sastra Indonesia dituliskan dengan menelusuri buku-buku sejarah sastra Indonesia yang pernah tebit. Dengan mengetahui bagaimana sejarah sastra Indonesia dituliskan, kami akan menguji keajegan historiografi sejarah sastra Indonesia dengan data-data terbaru khususnya mengenai karya-karya sastra sebelum masa Balai Pustaka. Dengan demikian penelitian ini menawarkan alternatif historiografi sastra Indonesia.(The history of modern Indonesian literature often considered to start from the Balai Pustaka (1920~) romance period. However, little attention explains the process from traditional literature to modern literature. From generation to generation it is recognized the traditional literary conventions of pupuh, pantun, sureq, kakawin, babad, wawacan, etc. which are written in ancient texts as traditional literary tradition. However, from whence comes the modern literature as a new form of writing (genre) if not preceded by previous works. Thus, it is necessary to review the works of adaptations of European stories absorbed by the Indonesian people at the end of the 19th century which is often written in books that still use local script (vernacular script). To that end, this research traced how the history of Indonesian literature is written by tracing the books of history of Indonesian literature ever published. By knowing how the history of Indonesian literature is written, we will examine the historiography of Indonesian literary history with the latest data especially on literary works prior to Balai Pustaka. Thus, this study try to offer an alternative to Indonesian literary historiography.) 
Fenomena Self Diagnose terhadap Konten Kesehatan Mental di Media Sosial Tiktok: Analisis Wacana Multimodal terhadap Asumsi Masyarakat di Kolom Komentar Wijaya, Rivaldiansyah; Ramdan, Abdul Rosad; Asariningrum, Diva; Syantifa, Rizka A'in; Sarathan, Indra
JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Article In Press: JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Vol. 8 No. 2 September 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jssh.v8i2.23784

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana fenomena self diagnose di media sosial TikTok serta dampak yang ditimbulkannya. Dalam studi ini, peneliti menggunakan model analisis multimodal Kress & Van Leeuwen serta dibantu dengan aplikasi linguistik digital AntConc. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif ditemukan representasi fenomena self diagnose dan pengaruhnya di media sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada 7 (tujuh) konten video kampanye kesehatan mental. Selain menganalisis konten dan komentar di media sosial, kami pun  mengonfirmasi para pengguna TikTok di dua Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbeda guna menguatkan argumen tentang dampak fenomena self diagnose. Hasil penelitian ini menunjukkan rendahnya literasi kesehatan mental pada masyarakat khususnya remaja pengguna media sosial TikTok. Dalam pengamatan kami, fenomena self diagnose juga terjadi akibat kurangnya self awareness mengenai kesehatan mental pada diri sendiri hingga rentan terjadi misdiagnosis.
Fenomena Self Diagnose terhadap Konten Kesehatan Mental di Media Sosial Tiktok: Analisis Wacana Multimodal terhadap Asumsi Masyarakat di Kolom Komentar Wijaya, Rivaldiansyah; Ramdan, Abdul Rosad; Asariningrum, Diva; Syantifa, Rizka A'in; Sarathan, Indra
JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Vol. 8 No. 2 September 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jssh.v8i2.23784

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana fenomena self diagnose di media sosial TikTok serta dampak yang ditimbulkannya. Dalam studi ini, peneliti menggunakan model analisis multimodal Kress & Van Leeuwen serta dibantu dengan aplikasi linguistik digital AntConc. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif ditemukan representasi fenomena self diagnose dan pengaruhnya di media sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada 7 (tujuh) konten video kampanye kesehatan mental. Selain menganalisis konten dan komentar di media sosial, kami pun  mengonfirmasi para pengguna TikTok di dua Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbeda guna menguatkan argumen tentang dampak fenomena self diagnose. Hasil penelitian ini menunjukkan rendahnya literasi kesehatan mental pada masyarakat khususnya remaja pengguna media sosial TikTok. Dalam pengamatan kami, fenomena self diagnose juga terjadi akibat kurangnya self awareness mengenai kesehatan mental pada diri sendiri hingga rentan terjadi misdiagnosis.
FENOMENA SELF DIAGNOSE PENGGUNA APLIKASI TIKTOK TERHADAP KONTEN KESEHATAN MENTAL: ANALISIS WACANA MULTIMODAL TERHADAP ASUMSI MASYRAKAT DI MEDIA SOSIAL Rivaldiansyah Wijaya; Rosad Ramdan, Abdul; Asariningrum, Diva; Syantifa, Rizka A’in; Sarathan, Indra
DESANTA (Indonesian of Interdisciplinary Journal) Vol. 5 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Desanta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana fenomena self diagnose di media sosial TikTok serta dampak yang ditimbulkannya. Dalam studi ini, peneliti menggunakan model analisis multimodal Kress dan Van Leeuwen (1996) yang meliputi analisis visual dan verbal untuk menganalisis konten kesehatan mental di media sosial, serta analisis linguistik digital dengan menggunakan aplikasi AntConc untuk mencari kata kunci pada komentar video kesehatan mental di media sosial TikTok. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif ditemukan representasi fenomena self diagnose dan pengaruhnya di media sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada 7 (tujuh) video kampanye kesehatan mental yang dipilih. Selain menganalisis konten dan komentar di media sosial, kami pun mengonfirmasi para pengguna TikTok di dua Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbeda guna menguatkan argumen tentang dampak fenomena self diagnose. Hasil penelitian ini menunjukkan rendahnya literasi kesehatan mental pada masyarakat pengguna media sosial TikTok dan keraguan masyarakat Indonesia dalam meminta bantuan kepada tenaga profesional. Dalam pengamatan kami, fenomena self diagnose juga terjadi akibat kurangnya self awareness mengenai kesehatan mental pada diri sendiri sehingga rentan terjadi misdiagnosis. Tak jarang pula masyarakat melakukan misdiagnosis terhadap orang-orang terdekatnya secara subjektif.
Persepsi Remaja pada Konten Edukasi Seksual di Media Sosial Tiktok Arafat, Yulia Minarti; Agustiana, Iqbal; Subari, Asih Gunarina; Sarathan, Indra
Serat: Journal of Literary & Cultural Studies Vol 1 No 1 (2024): Serat, February 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/serat.v1i1.52330

Abstract

Fenomena dispensasi nikah marak terjadi di Indonesia saat ini. Di Kabupaten Bandung, terdapat 132 perkara dispensasi nikah yang diterima Pengadilan Agama Soreang selama periode Januari sd Agustus 2023. Alasan utama terjadinya dispensasi nikah karena terjadinya kehamilan di luar pernikahan di kalangan pelajar. Kehamilan di luar pernikahan terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya pendidikan (Yull, 2021). Meskipun pada kenyataannya banyak edukasi seks di media sosial yang beredar, namun jika tidak menyebarkannya maka akan mengakibatkan kesalahan persepsi yang berakhir pada maraknya berdampak negatif (tempo.co, 2021). Kognitif anak dalam memproses konten pendidikan seks dapat berbeda-beda, ada yang menganggap konten itu sebagai pencegahan, ada juga yang menganggap konten itu layak untuk ditiru (economica.id, 2020). Kemudian peneliti melakukan analisis wacana multimodal pada konten edukasi seksual di media sosial TikTok, yaitu akun @dr.nila_daulay, @matiiaaassss, dan @bkkbnofficial. Peneliti menggunakan analisis multimodal, linguistik, serta persepsi remaja yang diperoleh dari kuesioner kepada pelajar SMP PGRI Jatinangor dan SMAN 22 Bandung. Tujuan analisis ini untuk mengetahui konten seperti apa yang disukai remaja pada konten edukasi seksual. Hasil penelitian ini menemukan bahwa remaja menyukai edukasi seksual dengan gaya bahasa yang cenderung memiliki unsur humor dengan tetap menonjolkan edukasi seksual itu sendiri, sedangkan remaja SMA lebih tertarik pada visual yang menarik dan warna yang cerah dengan gaya bahasa ilmiah yang mudah dipahami oleh remaja SMA. Elemen kedua ini menjadi rekomendasi peneliti untuk konten edukasi seksual seperti apa yang berterima kasih sekaligus mengedukasi pelajar remaja.Kata-Kata Kunci: kehamilan diluar nikah, edukasi seksual, konten media sosial, analisis multimodal
Écriture Féminine in Ken Bugul’s De L’Autre Côté du Regard Subekti, Mega; Maulana, Sandya; Sarathan, Indra
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v8i4.1279

Abstract

The article analyzes the representation of écriture féminine in Ken Bugul's De L’Autre Côté du Regard (DLCR) and its connection to feminist ideology and the narrator’s hybrid cultural identity. This research applies a close reading technique, utilizing the framework of feminist narratology by Lanser (1986) and écriture féminine by Cixous (1976) and Brahimi (2000). Through data analysis, it is found that the narrative structure of DLCR, which represents the concept of écriture féminine, appears very fluid and non-linear, similar to writing pattern of memoirs. Repetitive phrases are found that represent the narrator’s deepest emotions regarding her maternal relationship and her in-between identity within postcolonial context. The results indicate that the structure of écriture féminine in DLCR appears to represent the narrator’s process of reconciliation, not only related to the maternal relationship with her biological mother but also to her motherland, Senegal. By incorporating the voice of other women, the text opens up a collective space of solidarity emblematic of African feminism. DLCR's narrative is argued to offer a distinctly African reinterpretation of feminism where bodily experience, ancestral tradition, and political resistance converge, ultimately presenting writing as an aesthetic and emancipatory act of postcolonial female self-definition.