Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Otoritas Keagamaan Baru Taufiq, Firmanda; Alkholid, Ayu Maulida
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 8 No 1 (2024): AnCoMS, Oktober 2024
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/ancoms.v8i1.582

Abstract

Arus digitalisasi dalam dunia teknologi telah masuk ke dalam praktik dan wacana keagamaan Islam. Hal ini pula yang melahirkan berbagai platform di media sosial yang membawa isu dan wacana perempuan Muslim dan gender. Atas dasar tersebut, media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan wacana tersebut dalam ruang publik. Berbagai platform berbasis perempuan Muslim dan gender menjadi bagian dari otoritas baru dalam Islam. Artikel ini berupaya mengeksplorasi dan mengkaji wacana aktivisme perempuan dan gender di media sosial. Beberapa media sosial tersebut diantaranya, yakni Rahma.id, Bincang Syariah, Neswa.id, dan Bincang Muslimah. Platform tersebut menyuarakan wacana perempuan dan diskursus gender dalam ruang publik. Melalui teori critical discourse analysis dan fenomenologi, peneliti berupaya meneliti, mengkaji dan menelaah postingan di beberapa platform tersebut di media sosial sejak tahun 2021-2023, terutama mengenai suatu permasalahan keagamaan tertentu, khususnya terkait isu perempuan, gender, dan persoalan keagamaan Islam di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa berbagai platform perempuan Muslim tersebut, di mana mereka menyuarakan diskursus keseteraan gender dan menjadi otoritas keagamaan baru dalam konteks keagamaan di Indonesia. Mereka telah menjadi alternatif baru dalam mengakses dan mencari jawaban atas persoalan keagamaan kontemporer, yang mana selama ini untuk mendapatkan jawaban-jawaban atas problematika keagamaan harus ke kiai, ustadz, ustadzah atau tokoh agama secara langsung.
Radical Turn: The Case of Front Persaudaraan Islam (Neo-FPI) in Indonesia Taufiq, Firmanda; Tsauro, Ahalla
Journal of Asian Wisdom and Islamic Behavior Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : JAWAB: Journal of Asian World and Islamic Behavior Journal of Asian World and Islamic Behavior

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59371/jawab.v2i1.67

Abstract

In the last decade, a religious conservatism group of Front Pembela Islam (FPI) was notoriously controversial due to series of anti-government protests, harsh approaches as well as opposing state constitution which led to this group disbandment in 2020. After being disbanded, this group quietly formed Front Persaudaraan Islam (Neo-FPI) during COVID-19 and operated secretly through religious activities. The momentum of Neo FPI appeared publicly comes in 2022 when they took to the street for complaining the Minister of Religious Affairs’ comment of call for prayer, widely known as adzan. This study aimed at exploring how Neo-FPI responds and transforms after being dissolved constitutionally by the government and to what extent this rebirth is accepted by the Muslim community. The emergence of Neo-FPI can be interpreted by Sydney Tarrow (1998) as a puzzle of political opportunity. The social movement increased when it gained the support of resources and successfully mobilized the resource. The result of the study shows that the Neo-FPI might try to attempt on humanistic approach and moderation within the religious movement. However, substantially this group will not be different from the old version like an apple that falls not far from the tree.