Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Effect of White Noise on Sleep Quality Patient with Acute Myocardial Infarction Susanti, Lise; Purnama, Agus; Susaldi, Susaldi
Open Access Health Scientific Journal Vol. 6 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Griya Eka Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55700/oahsj.v6i1.60

Abstract

Background: Symptoms of acute myocardial infarction include chest pain radiating to the neck, jaw, shoulders and arms , as well as shortness of breath and stress , which can cause decreased sleep quality. Therapy given to overcome sleep quality disorders includes pharmacological and non-pharmacological therapy, including the use of complementary methods in the form of white noise therapy. This study aimed to determine whether there is an effect of white noise therapy on sleep quality in patients with acute myocardial infarction.Methods: This type of research is quantitative research with a non-equivalent control group design method or untreated control group design with pretest and posttest. The population of this study was 24 respondents , with sampling using non-probability sampling.Results: Based on the results of the study The average age of respondents was in the age range of 54.0 years and Pvalue of < , 001 < 0.05 with an effect size of 2.30 with an average value before white noise therapy was given as much as 33.3% and after white noise therapy was given to 100%.Conclusion: There is an effect of changes in sleep quality in patients with acute myocardial infarction at Amira Hospital in 2024 after being given white noise therapy.
EFEKTIFITAS PROGRAM PMT DAN KEGIATAN KONSELING TERHADAP ANGKA KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PKM HAURWANGI Nurhajar, Intan Siti; Susaldi, Susaldi; K.D, Meinasari
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 4 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, April 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i4.2572

Abstract

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018, meskipun mengalami penurunan stunting disbanding tahun 2018 tetapi stunting merupakan salah satu target capaian yang harus mengalami penurunan sampai mencapai 14 % sehingga dapat mencapai angka toleransi prevalensi stunting dari WHO yaitu dibawah 20%. Tujuan umum pada penelitian ini untuk mengetahui efektivitas Program PMT (Pemberian Makan Tambahan) dan kegiatan konseling posyandu terhadap angka kejadian stunting Di Desa Cipeuyeum Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur Tahun 2023. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian pre eksperimen one group pre test post test. Lebih dari setengahnya balita dengan kategori status gizi sangat pendek sebanyak 18 orang (36%) dan balita dengan kategori pendek sebanyak 32 orang (64%). Sebagian kecil balita dengan kategori status gizi sangat pendek sebanyak 16 orang (32%) dan pendek sebanyak 11 orang (22%) dan hampir setengahnya memiliki kategori status gizi normal sebanyak 23 orang (46%).   Hasil uji Paired T-test menunjukkan p value 0.000 < 0.05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima, dapat disimpulkan secara statistik bahwa Program Pemberian Makan Tambahan (PMT) dan Kegiatan Konseling efektif dalam menurunkan angka stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Haurwangi Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur Tahun 2023. Diharapkan dapat menjadi informasi tambahan untuk bidan dalam memberikan konseling dan penyuluhan untuk mengurangi angka kejadian stunting.
HUBUNGAN PAPARAN ASAP ROKOK, POLA MAKAN DAN FAKTOR RIWAYAT PENYAKIT DENGAN KEJADIAN STUNTING HM, Kemala Dewi; Susaldi, Susaldi; Munawaroh, Madinah
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 4 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, April 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i4.2573

Abstract

Prevalensi stunting provinsi Jawa Barat tahun 2021 berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) adalah 24,5 % dan data prevalensi stunting di kabupaten Cianjur pada tahun 2022 menjadi 20,1 %. Data stunting di Desa Sukatani Wilayah kerja Puskesmas Haurwangi pada tahun 2023 menunjukkan angka kejadian sebanyak 23 balita stunting dari 565 balita yang ada di Desa Sukatani yang berarti bahwa 4,07 % balita mengalami stunting. Tujuan umum pada penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Paparan Asap Rokok, Pola makan Dan Faktor Riwayat Penyakit Dengan Kejadian Stunting Di Desa Sukatani Wilayah Kerja Puskesmas Haurwangi Cianjur Tahun 2023. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif. dengan pendekatan cross sectional. Hasil uji chi square menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai p = 0,000 < 0,05. artinya terdapat hubungan paparan asap rokok dengan kejadian stunting, nilai p = 0,000 < 0,05 artinya terdapat hubungan pola makan dengan kejadian stunting. Hasil uji chi square menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai p = 0,005 < 0,05, maka Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan riwayat penyakit dengan kejadian stunting. Diharapkan penelitian ini menjadi salah satu referensi yang dapat digunakan untuk melihat variable apa saja yang berhubungan dengan kejadian stunting.
PENGARUH TERAPI KOMBINASI PIJAT TUI NA DENGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BALITA GIZI KURANG DI PUSKESMAS PEMBANGUNAN KABUPATEN GARUT TAHUN 2023 Putri, Fauzia Bhayunirza Riyandhini Munggaran; Susaldi, Susaldi; Kusumastuti, Istiana
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 5 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Mei 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i5.2744

Abstract

Prevalensi balita yang mengalami gizi kurang di Puskesmas Pembangunan pada tahun 2023 sebanyak 20 balita (5,45%) dari 367 balita dan termasuk 5 besar pukesmas penyumbang prevalensi gizi kurang di Kabupaten Garut. Berdasarkan studi pendahuluan kepada 10 orang ibu yang memiliki balita dengan gizi kurang, ibu balita mengatakan balitanya mengalami gangguan nafsu makan dan tidak naik berat badan selama 2 bulan terakhir sehingga penulis tertarik untuk melakukan riset pembuktian tentang penerapan pijat tui na dan pemberian MP-ASI dengan cara mengkombinasikan keduanya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi kombinasi pijat tui na dengan pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan berat badan pada balita gizi kurang. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan pretest posttest one group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita dengan status gizi kurang di Puskesmas Pembangunan Kabupaten Garut sebanyak 20 orang pada bulan Oktober 2023. Sampel dalam penelitian menggunakan total sampling yaitu sebanyak 20 responden dan sesuai dengan kriteria dalam penelitian. Instrument yang digunakan berupa lembar observasi, SOP pijat tuina, timbangan berat badan, makanan tambahan dan buku KIA. Analisis data menggunakan uji Paired Samples Test. Hasil penelitian didapatkan Rata-rata berat badan balita gizi kurang sebelum diberikan terapi kombinasi pijat tuina dengan PMT sebesar 9,010 kg dan sesudah diberikan terapi kombinasi pijat tuina dengan PMT sebesar 9,300 kg. Hasil bivariat menunjukkan p-value sebesar 0,000. Terdapat pengaruh terapi kombinasi pijat tui na dengan pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan berat badan pada balita gizi kurang. Diharapakan masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita gizi kurang dapat mengimplementasikan penggunaan terapi pijat Tui Na dan pemberian makanan tambahan sesuai aturan untuk membantu peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan balita
HUBUNGAN RIWAYAT ANTENATAL CARE, RIWAYAT PAPARAN SINAR MATAHARI PAGI DAN RIWAYAT FREKUENSI ASI DENGAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM DI BPM BIDAN DARATULLAILAH BOJONG GEDE BOGORTAHUN 2024 Pambudiningtyas, Titis Rahayu; Susaldi, Susaldi; Ramadhani, Nur Rizky
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 1 No. 11 (2024): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, November 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/pytc1r49

Abstract

Latar Belakang Ikterus neonatorum atau penyakit kuning adalah salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir, dengan prevalensi 25% hingga 50% pada minggu pertama kehidupan. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin dalam darah bayi, yang apabila tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kern ikterus dan keterbelakangan mental. Beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian ikterus neonatorum meliputi Riwayat Antenatal Care yang kurang baik, kurangnya paparan sinar matahari pagi, serta frekuensi pemberian ASI yang kurang. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui Hubungan Riwayat Antenatal Care, Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi dan Riwayat Frekuensi ASI Dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Di BPM Bidan Daratullailah Bojong Gede Bogor Tahun 2024. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel yang diambil sebanyak 49 bayi yang lahir di BPM Bidan Daratullailah Bojong Gede Bogor Tahun 2024 Periode Januari – Juni, dimana 33 bayi mengalami ikterus neonatorum. Hasil Penelitian Diperoleh bahwa hasil uji Chi-Square pada variabel Riwayat Antenatal Care diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05), pada variabel Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05), pada variabel Riwayat Frekuensi ASI diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05). Kesimpulan Terdapat hubungan antara Riwayat Antenatal Care yang kurang baik, Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi Yang kurang dan Riwayat Frekeunsi ASI yang kurang dengan kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru lahir. Dengan adanya penelitian ini, bagi responden dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya ikterus neonatorum dan pentingnya perawatan pada neonatal
Hubungan Taste Abnormalities Dan Durasi Tidur Dengan Overweight Pada Mahasiswa Dan Mahasiswi: The Relationship Between Taste Abnormalities and Sleep Duration with Overweight in Male and Female Students Safitri, Dina; Susaldi, Susaldi
Indonesian Scholar Journal of Nursing and Midwifery Science Vol. 4 No. 12 (2025): Vol. 4 No. 12 (2025): Vol. 4 No. 12 (2025): Indonesian Scholar Journal of Nurs
Publisher : Dohara POAJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Overweight is defined as the accumulation of abnormal or excess fat that occurs due to an imbalance in energy intake with energy expenditure over a long period of time. decreased sensitivity to sweet tastes then humans will tend to consume more sugar and if not balanced with a balanced diet, they are at risk of developing diabetes mellitus, obesity, accelerating aging and causing cavities. Factors that affect sleep quality in adolescents include ethnicity, religion, location of home, parents' alcohol drinking status, satisfaction with academic performance, smoking, relationships with friends, internet use before bed. Overweight and obesity among university students have become a growing public health concern, influenced by various lifestyle and biological factors. Taste abnormalities, including changes in taste sensitivity or preference, may alter food intake patterns, leading to increased caloric consumption. Additionally, sleep duration has been identified as a critical determinant of body weight regulation where insufficient sleep can disrupt hormonal balance and appetite control.  Methods: the research used in this study is quantitative using an observational approach. The research design used is cross-sectional. The population in this study were 96 regular undergraduate students of Nursing at the University of Indonesia Maju in Jakarta. The researcher used the chi-square test with a confidence level of 95% or a significance level of 5%. This cross-sectional study involved a sample of male and female students selected using a stratified random sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire that assessed demographic characteristics, sleep duration and self-reported taste perception abnormalities. Body mass index (BMI) was calculated based on measured height and weight to determine overweight status. Statistical analysis was conducted using chi-square and logistic regression tests to examine the relationship between taste abnormalities, sleep duration and overweight status. Results: Based on the results of the study, the p-value = 0.000 means p-value <α (0.05). The findings revealed a significant association between taste abnormalities and overweight (p < 0.05), where students experiencing taste sensitivity changes were more likely to be overweight compared to those with normal taste perception. Moreover, shorter sleep duration (< 7 hours per night) was significantly related to higher BMI levels (p < 0.01). Female students showed a higher prevalence of overweight compared to male students. Discussion: There is a relationship between Taste Abnormalities and Sleep Duration on Obesity of Students at the University of Indonesia Maju 2024. The results suggest that altered taste perception and inadequate sleep duration may play a considerable role in the development of overweight among university students. Taste abnormalities could influence dietary preferences toward high-fat or high-sugar foods, while reduced sleep duration may disrupt metabolic and hormonal pathways regulating hunger and satiety. Interventions promoting healthy sleep patterns and awareness of sensory health may be essential strategies to prevent overweight and obesity in young adults.
Pengembangan dan Implementasi Program SPEDE KPSP Berbasis Web untuk Meningkatkan Kompetensi Guru PAUD dalam Deteksi Dini Perkembangan Anak: Indonesia Lestari, Nur Eni; Susaldi, Susaldi; Mulachela, Zainab Husin; Cahyati, Arinda Rizki; Azalia, Devia Rahma
Jurnal Abdimas Madani dan Lestari (JAMALI) Volume 08, Issue 1, Maret 2026
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jamali.vol8.iss1.art6

Abstract

Early Childhood Education (ECE) represents a crucial stage in establishing the foundation for children’s overall development. However, many ECE teachers continue to face challenges in the early detection of developmental delays. A real example can be found at TEKAKU Pre-School Cinere, Depok, where teachers were not yet accustomed to using standardized developmental screening tools, resulting in inaccurate developmental monitoring outcomes. To address this issue, the SPEDE KPSP Program (Skrining Perkembangan Efektif dan Efisien menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan, Effective and Efficient Developmental Screening using the Developmental Pre-Screening Questionnaire) was developed to enhance the competence of ECE teachers. The implementation process was carried out through five main phases: (1) socialization, (2) training, (3) technology implementation through a web-based digital application (benihbahagia.co.id), (4) mentoring and evaluation, and (5) program sustainability. The results indicated that the educational interventions significantly improved participants’ understanding of child development and the importance of early detection (p = 0.021; p < 0.05). Training sessions were also effective in enhancing teachers’ screening skills (p = 0.002; p < 0.05). The benihbahagia.co.id web application supported the process by facilitating KPSP administration, data storage, result visualization, and follow-up recommendations. Its key features include child data management, developmental visualization, automatic recommendations, educational materials, downloadable reports, and red-flag alerts. Mentoring activities confirmed that the platform was practical and user-friendly, enabling teachers to perform developmental screening efficiently. The program demonstrates potential for wider adoption in other ECE institutions, thereby strengthening early detection systems and expanding the network of competent and digitally literate ECE teachers. Keywords: Competence, Development, Early Childhood Education (ECE), KPSP, Teacher
HUBUNGAN INDEKS MASA TUBUH DAN RIWAYAT DIABETES MELITUS DENGAN KEJADIAN HIPOGLIKEMIA PADA PASIEN HEMODIALISIS DI RUANGAN HEMODIALISA DI RSUD KISA KOTA DEPOK TAHUN 2025 Febrianti, Ariska Dwi; Susaldi, Susaldi; Handayani, Yani
EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2026): EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, Maret 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/empiris.v3i1.2438

Abstract

Hypoglycemia is one of the common complications in patients with end-stage chronic kidney disease undergoing hemodialysis therapy. Nutritional status, measured by Body Mass Index (BMI), and a history of Diabetes Mellitus (DM) are suspected to contribute to the occurrence of hypoglycemia. This study aimed to determine the relationship between BMI and history of DM with the incidence of hypoglycemia among hemodialysis patients at Khidmat Sehat Afiat (KiSA) Regional Public Hospital, Depok City. This study employed a quantitative method with an observational analytic design and a cross-sectional approach. The sample consisted of 145 hemodialysis patients selected using a total sampling technique. Data were obtained from medical records and analyzed using the Chi-Square test. The results showed that the majority of hemodialysis patients were classified as obese based on BMI, while most patients did not have a history of DM. Bivariate analysis demonstrated a significant relationship between BMI and the incidence of hypoglycemia among hemodialysis patients (p value = 0.001; p < 0.05). In addition, a significant relationship was found between a history of DM and the incidence of hypoglycemia in hemodialysis patients (p value = 0.001; p < 0.05). In conclusion, BMI and history of DM are significantly associated with the incidence of hypoglycemia in hemodialysis patients. It is recommended that healthcare providers conduct appropriate screening and optimal blood glucose monitoring based on patients’ nutritional status and history of DM.
HUBUNGAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI STIGMASI SOSIAL DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN RESIKO KOMPLIKASI KEHAMILANPADA IBU HAMIL USIA REMAJA DIPUSKESMAS KARANGPAWITANKABUPATEN GARUTTAHUN 2023 Roslianti, Irma; Susaldi, Susaldi; Darmi, Salfia
EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2024): EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, September 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/83ff7419

Abstract

Kehamilan pada usia remaja merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang masih menjadi perhatian di Indonesia. Risiko komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia remaja lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil usia dewasa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi, stigma sosial, dan kurangnya dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi, stigma sosial, dan dukungan keluarga terhadap risiko komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner kepada 100 ibu hamil usia remaja di wilayah kerjja Puskesmas Karangpawitan Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi, stigma sosial, dan dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan terhadap risiko komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia remaja. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi ibu hamil usia remaja, mengurangi stigma sosial terhadap ibu hamil usia remaja, dan meningkatkan dukungan keluarga terhadap ibu hamil usia remaja.