Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

THE SUFI ORDER AND PHILANTHROPY:A CASE STUDY OF PHILANTROPHICAL ACTIVISM OF THE NAQSYABANDIYAH AL-HAQQANI SUFI ORDER IN INDONESIA Sakhok, Jazilus; Munandar, Siswoyo Aris
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v8i1.5299

Abstract

This study is entitled "Tarekat and Philanthropy: Study of the Social Activities of the Al-Haqqani Naqsyabandiyah Congregation in Indonesia". The background of this case study is Sufism so far known as the esoteric dimension in Islam. This identification often gets Sufism considered to be mystical and ascetic. So far, the Sufis are seen as a group of people who emphasize individual piety (personal) rather than social piety. However, in contrast to the Naqshbandiyah Al-Haqqani Congregation, its students must go into the community and be active in social life. In terms of the formulation of the problem two questions can be drawn namely; First, what is behind the Naqshabandiyah Al-Haqqani Congregation is engaged in social and philanthropic activities. Second, What is the social activity and philanthropy of the Al-Haqqani Naqshbandiyah Order. Efforts to answer the problems in this study will be used field research methods, namely by digging field data and observing directly. This paper describes the social activities of the tarekat as the object of study. The results of this study indicate that there is a Naqsyabandiyah Al-Haqqani order which is active in social and philanthropy. The social activities of the Al-Haqqani Naqsyabandiyah Congregation are realized through institutions such as: HCNS (Hajjah Naziha Charitable Society), Rumi Café, Karem Food Drive, Rabbani Sufi Center and CV Sogan Jaya / Sogan Batik.
Ajaran Tasawuf dalam Serat Wedhatama Karya K.G.P.A.A Mangkunegara IV Munandar, Siswoyo Aris; Afifah, Atika
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3064

Abstract

Abstrak Serat Wedhatama merupakan salah satu karya sastra Jawa kuno yang biasa disebut kitab Jawa kuno (kitab piwulang dan paweling) yang sangat popular di kalangan masyarakat Jawa pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Serat ini berisi tentang ajaran-ajaran budi luhur yang ditujukan untuk anak keturunannya, yang kemudian menjadi tersebar luas dikalangan masyarakat di waktu itu. Ajaran-ajaran tersebut mengajarkan tentang nilai-nilai budi luhur dan ajaran tentang sembah kepada Tuhan. Dalam ajaran-ajaran tersebut, terdapat kesamaan dengan ajaran tasawuf tentang pembersihan jiwa dan cara-cara untuk menempuh jalan spiritual. Hasil penelitian yang telah dilakukan ajaran-ajaran yang disampaikan banyak memiliki unsur-unsur yang sama dengan ajaran etika islam dari Al Ghazali dalam karyanya kitab Ihya’ Ulumuddin. Adapun pokok-pokok ajaran tasawuf dalam Serat Wedhatama yaitu pertama, rendah hati (tawadu’), kedua, mencari guru yang baik,ketiga tidak mabuk keduniawian (zuhud), keempat, mengontrol diri (mujahadah) dan uzlah, kelima berpasrah kepada Tuhan (Tawakal), keenam, merasa cukup dengan nikmat (Qanaah), ketujuh, makrifat.
Pemaknaan Makrifat oleh Para Sufi dari Zaman ke Zaman Munandar, Siswoyo Aris; Mursalat, Mursalat; Malikhaturrahmah, Elia
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 11 No 1 (2021): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v11i1.3176

Abstract

Berbicara tentang mistik Islam, makrifat, tasawuf dan irfan, yang perlu diketahui pertama-tama adalah makna mistisisme dalam konteks Islam, khususnya berkenaan dengan kekaburan makna istilah itu dalam Bahasa inggris sekarang ini. Kita dapat berbicara tentang mistisme Islam jika kita memahami makna orsinal istilah Mistisme, yang berkaitan dengan misteri-misteri ilahi. Secara bahasa makrifat berasal dari bahasa Arab, yaitu kata ‘arafa, ya’rifu, ‘irfan, ma’rifah yang berarti pengetahuan atau pengenalan. Makrifat secara bahasa juga berarti mengetahui sesuatu apa adanya atau ilmu yang tidak lagi menerima keraguan. Sedangkan menurut istilah para sufi, makrifat secara umum diartikan sebagai melihat Tuhan dari dekat dengan menggunakan mata hati. Penyebutan ma’rifah dalam lidah masyarakat Indonesia dikenal dengan sebutan “makrifat”. Dalam bahasa inggris, makrifat dikenal dengan istilah gnosis, sedangkan orang yang telah mencapai tahapan makrifat (‘arif) dikenal dengan gnostik-mistik. Akan tetapi ma’rifah jika diteliti mempunyai pengertian atau makna yang berbeda-beda setiap zaman ke zaman. Oleh karena itu penulis ingin memaparkan makna ma’rifah dari zama ke zaman, yang mana pada masa Rasulullah dan para sahabat sampai kalangan ulama salaf dan khalaf.
Konsep Makrifat dalam Kitab Syarḥ al-Ḥikam Karya Kyai Sholeh Darat Munandar, Siswoyo Aris; Mursalat, Mursalat
TAJDID Vol 28 No 2 (2021): Islamic Studies
Publisher : Research and Development Institution, Darussalam Institute for Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36667/tajdid.v28i2.444

Abstract

Makrifat is very important to be known and owned by every Muslim, although generally Sufis view makrifat to be understood and owned by people who have a high station. Therefore, many ordinary people avoid trying to understand makrifat. This study attempts to explain the concept of makrifat in the book Syar al-Ḥikam by Kyai Sholeh Darat. The results showed that Kyai Sholeh Darat's concept of makrifat is the state of a servant who always remembers God and needs Him in any circumstances. The concept of makrifat can cross between groups so that it can be understood in the current conditions. A person who is wise today always remembers Allah and needs Him, so that he can take goodness in everything he faces, both in the fields of technology, social relations, culture, economy, and politics.
Synthesizing Spirituality and Business: Exploring the Economic Dimensions of Sufism Orders in Indonesia Munandar, Siswoyo Aris
Jurnal Dakwah Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.23.2.22.3

Abstract

AbstractSo far, the general view of the tarekat teaches to stay away from the world, only to carry out worship. Moreover, his doctrines live for the hereafter and distance themselves from the world of asceticism. In addition, Sufis are often imagined as someone who looks simple, even tends to be what he is. that the Sufis are a collection of poor, poor and desperate people. This opinion is not completely wrong and not completely correct. Therefore, in this study the author wants to show that the tarekat are also in business. This research is a descriptive-qualitative research by prioritizing primary data sourced from field studies; and using secondary data as a supporting source. The use of this descriptive-qualitative method aims to describe the construction of business, which is influenced by both religion and culture, in the economic activities carried out by entrepreneurs following the tarekat in Indonesia. The results of this study show that the Idrisiyyah Tarekat is not only engaged in education and da'wah, but is also engaged in the economic field, not less than 40 business units developed by Pesantren Idrisiyyah. The Tarekat Shiddiqiyyah through its members also carries out many economic activities that can help the lives of the surrounding community. Some of the business units formed include star hotels, bottled mineral water production, kretek cigarette business partners, cigarette companies, health clinics, honey production, handicrafts and restaurants.  AbstrakSelama ini Pandangan umum terhadap tarekat itu mengajarkan untuk jauh dari dunia, hanya sebatas menjalankan ibadah. Apalagi doktrin-doktinnya hidup untuk akherat dan menjauhkan diri dari dunia zuhud. Selain itu Sufi kerap dibayangkan sebagai seorang yang berpenampilan sederhana, bahkan cenderung apa adanya. bahwa sufi itu kumpulan orang-orang fakir, miskin dan putus asa. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Oleh karena dalam penelitian ini penulis ingin menunjukan bawah kaum tarekat juga berbisnis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif dengan mengendepankan data primer yang bersumber dari kajian lapangan; dan menggunakan data sekunder sebagai sumber pendukung. Pemakaian metode deskriptif-kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan konstruksi bisnis, yang dipengaruhi baik oleh agama maupun budaya, dalam aktivitas ekonomi yang dijalakan oleh pengusaha pengikut tarekat-tarekat di Indonesia. Hasil dari penelitian ini bahwa Tarekat Idrisiyyah tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, tapi juga bergerak dalam bidang ekonomi, tidak kurang dari 40 unit usaha yang dikembangkan oleh Pesantren Idrisiyyah. Tarekat Shiddiqiyyah lewat anggota-anggotanya juga banyak melakukan aktivitas ekonomi yang dapat membantu kehidupan masyarakat sekitarnya. Beberapa unit usaha yang dibentuk diantaranya, hotel bintang, produksi air mineral kemasan, mitra usaha sigaret kretek, perusahaan rokok, klinik kesehatan, produksi madu, kerajinan tangan dan rumah makan.  
PANDANGAN KIAI PESANTREN TERHADAP KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (Telaah Hermeneutis terhadap Pemikiran Tafsir Kiai Misbah Mustafa) Munandar, Siswoyo Aris
Raheema Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/raheema.v10i1.1594

Abstract

Abstract The position of women is an interesting topic. In Islamic history, several perspectives view and place women differently. There are still many who state that women's roles are limited to the home, the main task of a woman is to look after her husband and children or take care of the household. In addition to the teachings of Islam, religion interprets women today by facing great challenges, especially in Indonesia. So far, women are looked down on according to Islamic law. Yet according to the Koran, humans as caliphs on earth (consisting of men and women) have an equal element of humanity. This study draws on the thoughts of Kiai Misbah Mustafa about the position of women who are a kiai in an al-Balagh boarding school, Tuban. Kiai Misbah Mustafa also wrote a book that discusses specifically women apart from interpretations of his work, both of which will be carefully examined here. The results that the authors get from this study are, first, the author focuses on several problems in examining the position of women according to the kiai of Misbah Mustafa, namely polygamy, divorce, and inheritance. The author finds that Kiai Misbah Mustafa's thought in polygamy does not indicate that women and men get the same rights. Where Kiai Misbah Mustafa always talks about her husband's rights that are not fulfilled because of being corrupted by his wife every month. It is different from the opinion of Kiai Misbah Mustafa in divorce and the distribution of inheritance. The author agrees that the rights and obligations between husband and wife are balanced. Secondly, the implications of the thought of Kiai Misbah Mustafa in his interpretation book, Tafīsr Tᾱj al-Muslimīn Min Kalᾱmi Rabb al-īlamīn, al-Iklīl Fī Ma'ᾱnī at-Tanzīl, and to some extent helped the community in understanding the religion of Islam. Keywords: Position of Women, Kiai Misbah Mustafa Abstrak Kedudukan perempuan merupakan salah satu topik yang menarik. Dalam sejarah Islam terdapat beberapa perspektif yang memandang dan menempatkan perempuan secara berbeda. Masih banyak yang menyatakan bahwa peranan perempuan dibatasi di rumah saja, tugas utama seorang perempuan yaitu menjaga suami dan anak-anaknya atau mengurusi rumah tangga. Selain ajaran Islam agama menafsirkan tentang perempuan yang ada sekarang ini dengan menghadapi tantangan besar, khususnya di Indonesia. Selama ini perempuan dipandang rendah menurut hukum Islam. Padahal menurut Alquran, manusia sebagai khalifah di bumi (terdiri dari laki-laki dan perempuan) mempunyai unsur kemanusiaan yang setara. Penelitian ini mengambil pemikiran dari Kiai Misbah Mustafa tentang kedudukan perempuan yang merupakan seorang kiai di sebuah pondok pesantren al-Balagh, Tuban. Kiai Misbah Mustafa juga menulis kitab yang membahas khusus mengeni perempuan selain dari tafsir karyanya sendiri yang keduanya akan penulis teliti disini. Hasil yang penulis dapatkan dari penelitian ini yaitu, pertama, penulis fokuskan pada beberapa masalah dalam mengkaji kedudukan perempuan menurut kiai Misbah Mustafa, yaitu poligami, talak dan pembagian waris. Penulis menemukan bahwa pemikiran Kiai Misbah Mustafa dalam pologami tidaklah menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki mendapatkan hak yang sama. Dimana Kiai Misbah Mustafa selalu membicrakan masalah hak suami yang tidak dipenuhi karena dikorupsi oleh istri setiap bulannya. Berbeda dengan pendapat Kiai Misbah Mustafa dalam talak dan pembagian harta waris. Penulis sepakat, bahwa hak dan kewajiban antara suami dan istri berimbang. Kedua, implikasi dari pemikiran Kiai Misbah Mustafa dalam kitab tafsirnya yaitu Tafīsr Tᾱj al-Muslimīn Min Kalᾱmi Rabb al-‘Ālamīn, al-Iklīl Fī Ma’ᾱnī at-Tanzīl, dan sedikit banyaknya telah membantu masyarakat dalam memahami agama Islam. Kata Kunci: Kedudukan Perempuan, Kiai Misbah Mustafa
TASAWUF SEBAGAI KEMAJUAN PERADABAN: STUDI PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EKONOMI TAREKAT IDRISYYIAH DI TASIKMALAYA Munandar, Siswoyo Aris
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v1i22.677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran aktif gerakan tasawuf dalam kemajuan peradaban di masyarakat terutama di bidang sosial dan ekonomi. Secara konseptual, tasawuf adalah suatu tradisi mistik dalam Islam yang menekankan pada hubungan manusia dengan Tuhan melalui pengalaman spiritual. Sebagai suatu tradisi yang sudah ada sejak awal Islam, tasawuf telah berkontribusi dalam banyak aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik di dunia Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan wawancara dengan beberapa anggota tarekat Idrisiyyah. Analisis data dilakukan dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna dan pengalaman tasawuf dalam konteks kemajuan peradaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarekat Idrisiyyah memiliki peran yang penting dalam kemajuan peradaban, terutama dalam bidang sosial dan ekonomi yakni dengan mendirikan sebuah gerakan dakwah dalam bidang perekonomian berupa Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), serta sebuah warung kelontong pada 1987 yang dikelola oleh pengurus Yayasan Al-Idrisiyyah. Usaha warung kelontong berubah menjadi unit usaha ritel minimarket dengan nama Qini Mart di era 2000-an. Sekitar tahun 2007, Qini Mart mulai membangun sistem yang lebih modern dengan menggunakan sistem Convenience Store seperti yang digunakan banyak usaha ritel modern. Qinimart sekarang memiliki sekitar 11 Cabang, selain itu mendirikan BMT Idrisiyyah, Qini Mart (Minimarket) Qini Center, Qini Vaname (Tambak Udang) Depo Qini (Perikanan), Qini Minang (Restoran), Perkebunan, Warung UKM, Asosiasi Pengusaha Idrisiyyah (API), Travel Haji dan Umrah. Selain itu, dakwah Syekh Muhammad Fathurahman melebarkan sayapnya membuat channel youtube ‘Tarekat Idrisiyyah’ dan memiliki siaran Radio Idrisiyyah. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang peran gerakan tasawuf dalam membangun kemajuan positif bagi peradaban manusia.
Potret Terkini Tradisi Gendurenan di Ngaglik Sleman Munandar, Siswoyo Aris
PUSAKA Vol 11 No 2 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v11i2.1246

Abstract

Tradisi Genduren, yang memiliki akar budaya yang kaya dan mencakup aspek keagamaan. Selain itu fenomena tradisi Gendurenan menarik untuk dijelajahi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman mendalam tentang bagaimana tradisi Genduren yang dijalankan di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, serta untuk memahami perubahan makna dan nilai-nilai sosial yang terjadi seiring berjalannya waktu. Penelitian ini juga mengeksplorasi dampak tradisi ini terhadap komunitas lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Informan penelitian terdiri dari tokoh adat, tokoh agama, dan anggota masyarakat yang terlibat dalam tradisi Genduren. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Genduren di Ngaglik memiliki nilai yang mendalam dalam membentuk ikatan sosial dan keagamaan. Tradisi ini dijalankan dengan melibatkan komunitas yang bersatu dalam merayakan momen-momen penting dalam kehidupan, seperti pernikahan, kelahiran, dan pencapaian tertentu. Namun, terdapat perubahan makna dan tata cara dalam tradisi ini, yang tercermin dalam transformasi dari aspek budaya yang lebih kuno menjadi ekspresi keagamaan. Nilai-nilai sosial, seperti solidaritas, gotong royong, dan kerjasama, diperkuat melalui tradisi ini. Meskipun ada adaptasi terhadap perubahan zaman, tradisi Genduren tetap memegang peranan penting dalam mempertahankan identitas budaya dan agama dalam masyarakat. Implikasi sosial dan budaya dari tradisi Genduren di Ngaglik menunjukkan bahwa tradisi ini memainkan peran dalam membangun harmoni sosial dan memelihara nilai-nilai lokal.
Harmony in Schools: Exploring the Impact of the Peaceful Schools Program in Building Tolerance and Peace Munandar, Siswoyo Aris; Fahrurrozi, Fahrurrozi
IJIBS Vol. 2 No. 2 (2024): International Journal of Islamic Boarding School
Publisher : LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijibs.v2i2.45

Abstract

This research explores the implementation and impact of the Peaceful School Program managed by the Wahid Foundation in several Senior High Schools (SMA) in Indonesia. The research method used is a qualitative descriptive case study approach, with a focus on an in-depth understanding of how this program is implemented in specific schools and how it impacts students, teachers and the school environment as a whole. The results of this research reveal how the Peaceful Schools Program has created a more inclusive educational environment and encouraged a better understanding of the values ​​of tolerance, peace and inclusion among students. Yenny Wahid as Director of the Wahid Foundation, the Peaceful Schools Program is an initiative that was born in response to the results of a survey on socio-religious tolerance trends conducted by the Wahid Foundation in 2016. In 2018, the Wahid Foundation reported that the Peaceful Schools program had been implemented in several high schools/vocational schools in provinces such as DKI Jakarta, West Java, East Java and Central Java. In Central Java Province, there are already 5 schools implementing the Peace School program, namely SMAN 7 Semarang, SMAN 10 Semarang, SMAN 11 Semarang, SMAN 13 Semarang, and SMAN 1 Cepiring Kendal. To date, the Peace School has been implemented in 79 Senior High and Vocational Schools (SMA/SMK) in the region. Good cooperation between Indonesia and Australia, through AIPJ2, has contributed to the success of the Peaceful Schools initiative in promoting tolerance and peace in the educational context in Indonesia.
Zuhud in Modern Sufism: Bridging Spirituality and Economic Life Fahrurrozi, Muhammad; Munandar, Siswoyo Aris
Religia: Jurnal Ilmu-Ilmu KeIslaman Vol 27 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v27i2.8527

Abstract

This study aims to explore the concept of zuhud within the perspective of modern Sufism and its application to economic life. The authors’ interest in this research stems from the traditional and widespread understanding of zuhud as the practice of renouncing worldly pleasures to draw closer to God. However, its interpretation has evolved within a more dynamic modern context. Consequently, the authors seek to demonstrate that the teachings of zuhud do not necessarily require abandoning worldly possessions or living in poverty. The study employs a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, including a literature review of Qur’anic verses related to zuhud and interpretations from contemporary Sufi scholars. The findings reveal that zuhud in modern Sufism is no longer regarded as an extreme ascetic practice but as a balanced perspective that integrates spirituality and materiality. In the economic sphere, zuhud is interpreted as a work ethic emphasizing honesty, justice, and the use of wealth for communal benefit. This research makes a significant contribution to understanding the integration of the spiritual values of zuhud within modern economic life. It provides fresh insights for economic practitioners and Sufi enthusiasts in applying spiritual principles to everyday life. Furthermore, the study highlights several modern Sufi figures who advocate for the concept of zuhud without promoting a life of poverty. These figures serve as examples of how zuhud can manifest in economic and entrepreneurial activities.