Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SUPLEMENTASI SARI DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) MENURUNKAN BILANGAN PEROKSIDA DAN ASAM LEMAK BEBAS VCO Nangsih Sulastri Slamet; Ghaitsa Zahira Sopha Yusuf; Fadli Husain; Fihrina Mohamad; Prisca Safriani Wicita; Zulfiayu; Fitriah Ayu Maghfirah Yunus
JURNAL KATALISATOR Vol. 8 No. 1 (2023): Jurnal Katalisator Volume 8 No. 1, April 2023
Publisher : LLDIKTI X Sumbar, Riau, Jambi, Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.741 KB) | DOI: 10.62769/katalisator.v8i1.1698

Abstract

Syarat VCO menurut SNI 7381:2008 yaitu memiliki nilai bilangan peroksida dan kadar asam lemak bebas yang rendah. Permasalahan VCO yang beredar saat ini yaitu pada parameter organoleptik khususnya pada aroma bau tengik yang mempengaruhi kualitas dan penyimpanan. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut diperlukan antioksidan alami. Daun kelor merupakan tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan alami, sehingga berpotensi dalam menurunkan bilangan peroksida dan asal lemak bebas pada VCO.Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai bilangan peroksida dan asam lemak bebas pada VCO yang disuplementasi dengan sari daun kelor (Moringa oleifera L.) menggunakan metode fermentasi.Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen mengunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 formulasi dengan variasi volume penambahan sari daun kelor F1 (0 mL); F2 (50 mL); F3 (100 mL) dan F4 (150 mL). Bilangan peroksida dan asam lemak bebas dianalisis menggunakan metode titrimetri. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney.Hasil Penelitian: penambahan sari daun kelor dapat menurunkan bilangan peroksida dan asam lemak bebas pada VCO yang dihasilkan. Bilangan peroksida terukur pada F1, F2, F3 dan F4 berturut-turut adalah 5,76; 3,33; 2,42 dan 1,82 meq/kg, sedangkan kadar asam lemak bebas terukur berturut-turut sebesar 0,4; 0,36; 0,31 dan 0,2 %.Kesimpulan: Semakin besar volume sari daun kelor yang ditambahkan maka nilai bilangan peroksida dan kadar asam lemak bebas pada VCO semakin rendah.
Amilum Jagung Pulo (Zea mays ceratina) Sebagai Alternatif Zat Pengikat Tablet yang Ekonomis Imran, Arlan K.; Mohamad, Fihrina; Kisman, Deyanti; Maku, Zahra Ainun
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 1, No 1 (2021): February, 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v1i1.197

Abstract

Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah penghasil jagung, dimana Gorontalo merupakan penghasil jagung terbesar dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Salah satu jenis jagung yang banyak diproduksi adalah jagung pulo (Zea mays ceratina). Sebagian besar atau seluruh pati jagung pulo adalah amilopektin. Kandungan amilopektin yang tinggi menyebabkan jagung menjadi lengket dan pulen seperti ketan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan perekat. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi jagung pulo sebagai bahan pengikat dalam pembuatan sediaan tablet. Artikel ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data-data potensial yang mendukung dan menunjukkan potensi Pulo Jagung (Zea mays certina) untuk digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet melalui tinjauan literatur yang tersedia.Hasil tinjauan pustaka menunjukkan bahwa jagung pulo memiliki kandungan amilopektin yang sangat tinggi dibandingkan dengan jenis jagung lainnya, yaitu 70 persen. Dalam pembuatannya sebagai bahan pengikat tablet, pati jagung pulo (Zea mays certina) harus dibuat dalam bentuk musilago dengan kisaran konsentrasi 5-10%. Cara pembuatannya adalah dengan mensuspensikan pati dengan air. Dalam hal ini, kadar air yang digunakan adalah 11-14%, yang akan menyebabkan tablet berintegrasi dengan cepat. Pembuatannya juga harus hati-hati agar diperoleh musilago yang baik dan tidak terhidrolisis. Dengan hadirnya tepung jagung pulo (Zea mays certina), alternatif pengikat tablet yang lebih ekonomis dan mudah didapat.Gorontalo Province is one of the corn producing areas, where Gorontalo is the largest corn producer compared to with other regions in Indonesia. One of the many types of corn produced is corn pulo (Zea mays ceratina). Most or all Pulo corn starch is amylopectin. Amylopectin content which causes the corn to become sticky and fluffier like sticky rice, so it can be used as an adhesive. This article aims to describe the potential of Pulo corn as a binder in tablet preparation. This article was carried out with collect potential data that supports and shows the potential of Pulo Corn (Zea mays certina) to be used as an ingredient binders in tablet preparations through a review of the available literature. Result literature review shows that Pulo corn contains very high amylopectin compared to other types of corn, that is 70%. In its manufacture as a tablet binder, starch Pulo corn (Zea mays certina) must be made in the form of a musilago with concentration range of 5-10%. The way to make it is by suspend starch with water. In this case, the water content used is 11-14%, which will cause the tablet to integrate quickly. The manufacture must also be careful in order to obtain a good and beautiful musilago not hydrolyzed. With the presence of Pulo corn flour (Zea mays certina), alternative to tablet binders that are more economical and easy to obtain.
Skrining Fitokimia dari Ekstrak Metanol Akar Kelor (Moringa oleifera L.) Basri, Insyira Fadliana; Mohamad, Fihrina; Slamet, Nangsih Sulastri; Imran, Arlan K.; Daud, Rizka Puji Astuti; Yunus, Fitriah Ayu Magfirah; Wicita, Prisca Safriani; Basri, Rakhmadhana Fitraeni
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 2, No 2 (2022): August 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v2i2.345

Abstract

Tanaman kelor tumbuh di daerah tropis dan telah dikenal oleh masyarakat sebagai sayur dan berkhasiat sebagai obat tradisional. Sangat jarang ditemukan penelitian yang mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada bagian akar kelor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam akar kelor (Moringa oleifera L.) yang berasal dari Desa Talulobutu, Kabupaten Bone Bolango. Metode penelitian ini menggunakan reagen Mayer dan reagen Dragendorff untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid, reagen NaOH 4% untuk mengidentifikasi senyawa tanin, reagen Pb(C2H3O2)2 10% untuk megidentifikasi senyawa flavonoid, dan uji buih menggunakan aquadest panas untuk megidentifikasi senyawa saponin.Moringa plant grows in the tropics and has been known by the public as a vegetable and efficacious as traditional medicine. It is very rare to find studies that identify secondary metabolites in the roots of Moringa. Therefore, this study aims to identify secondary metabolites contained in Moringa root ( Moringa oleifera L.) originating from Talulobutu Village, Bone Bolango Regency. This research method uses Mayer's reagent and Dragendorff's reagent to identify alkaloid compounds, 4% NaOH reagent to identify tannin compounds, Pb(C2H3O2)2  10% reagent to identify flavonoid compounds, and foam test using hot aquadest to identify  saponins compounds.
The effectiveness of butterfly pea hydrogel film (Clitoria Ternatea) with chitosan and poly-vinyl-alcohol based as diabetic wound healing Wicita, Prisca Safriani; Daud, Rizka Puji Astuti; Sapiun, Zulfiayu; Yahya, Cindy; Wantaa, Nurunnisa; Mohamad, Fihrina; Imran, Arlan K.; Hartati, Hartati; Husain, Fadli
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 22 No 2 (2024): JIFI
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v22i2.1483

Abstract

Butterfly pea possesses antioxidant activities with IC50 470 μg/ml of wound healing acceleration quality. Hydrogel for diabetic wound healing due to its physical characteristic that binds water, aside from its qualities that wets the surface and bio-compatibility in the body. This study aimed to identify effectivity test of hydrogel film preparation with butterfly pea (clitoria ternatea l.) Water extract for diabetic wound healing, employing true experimental method which involves 12 rats divided into 4 groups. The control group was treated without the Hydrogel (HET) or HET0 on hyperglycemic rats, HET1 (2%), HET2 (5%), and HET3 (7.5%). The findings revealed wounds treated with HET0 was healed in 9 days with 11.13 mm of diameter (100%), HET1 was healed in 6 days with 15.22 mm of diameter (100%), HET2 that was healed in 4 days with 11.29 mm of diameter (100%), and HET3 that was healed in 8 days with 9.05 mm of diameter (100%). It was concluded that the effectivity test revealed that the best formula is HET2 (5%) healed in 4 days with 11.29 mm of diameter in 100%.