Reagen Jimmy Mandias
Profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Klabat

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Nutrix Journal

Lama Kerja dengan Burnout Syndrome Pada Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Injilia Desgia Kawalod; Reagen Jimmy Mandias
NUTRIX Vol 7 No 1 (2023): Volume 7, Issue 1, 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v7i1.918

Abstract

Nursing profession is required to provide fast and optimal service in making decisions in an environment that is basically full of pressure because it is related to the patient's life. The demands of this job for a long time can cause stress for nurses. Continuous stress can cause burnout syndrome. The purpose of this study was to determine the relationship between tenure and burnout syndrome in practicing nurses at Prof. Hospital. Dr. R.D. Kandou Manado. The sampling technique used purposive sampling. The Slovin formula is used to determine the sample size. Meanwhile, to assess burnout syndrome using the Maslach Burnout Inventory questionnaire. The results showed that of the 129 respondents, the majority of respondents, 72.1%, worked for less than 6 years or were in the new category of length of service. For Burnout syndrome, there were 45% of respondents who had low Burnout syndrome, 27.9% moderate, 26.3% quite high, and 0.8% had high Burnout syndrome. Meanwhile, the results of the Spearmen rank/rho statistical test showed a p value of .226 > .05, which means that there was no significant relationship between length of work and burnout syndrome in nurses at Prof. RSUP. Dr. R.D Kandou Manado. Recommendations for hospital management to find out the factors that trigger Burnout syndrome in practicing nurses, so as to increase nurse satisfaction in serving so that service quality will increase and ultimately patient satisfaction and safety will be created. Abstrak Profesi perawat dituntut untuk memberikan pelayanan yang cepat dan optimal dalam pengambilan keputusan di tengah lingkungan yang pada dasarnya penuh tekanan karena berhubungan dengan nyawa pasien. Tuntutan pekerjaan ini dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan stress bagi perawat. Stress yang terus menerus dapat mengakibatkan Burnout syndrome. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama kerja dengan Burnout syndrome pada perawat pelaksanan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Rumus Slovin digunakan dalam menentukan besaran sampel. Sementara untuk menilai burnout syndrome menggunakan kuesioner Maslach Burnout Inventory. Hasil penelitian menunjukkan dari 129 responden mayoritas responden 72.1% bekerja kurang dari 6 tahun atau berada pada lama kerja kategori baru. Untuk Burnout syndrome terdapat 45 % responden mengalami Burnout syndrome rendah, 27.9% sedang, 26.3% cukup tinggi, dan 0.8% mengalami Burnout syndrome tinggi. Sementara untuk hasil uji statistik spearmen rank/rho menunjukkan p value .226 > .05 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan Burnout syndrome pada perawat di RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado. Rekomendasi bagi management rumah sakit untuk mencari tahu faktor-faktor yang memicu terjadinya Burnout syndrome pada perawat pelaksana, sehingga dapat meningkatkan kepuasan perawat dalam melayani sehingga kualitas pelayanan akan meningkat dan pada akhirnya kepuasan dan keselamatan pasien akan tercipta. Kata kunci : Burnout Syndrome, Lama kerja, Perawat Pelaksana
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Jenis Penyakit Degeneratif Loing, Atalarik Jonathan; Mandias, Reagen Jimmy
NUTRIX Vol 9 No 2 (2025): Volume 9, Issue 2, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i2.1417

Abstract

Epidemiological transition in the causes of death from infectious diseases to non-communicable or degenerative diseases. This phenomenon is closely related to the adoption of prolonged unhealthy lifestyles, thereby increasing the risk of degenerative diseases in the community. The objective of this study was to analyse the relationship between physical activity, smoking behaviour, and alcohol consumption with the incidence of degenerative diseases in Rerer Village, Minahasa Regency, North Sulawesi, Indonesia. The present study adopted a quantitative design, employing a descriptive correlation approach through a cross-sectional method. The present study was conducted using a total sampling method, with 54 respondents participating. The data on patients with degenerative diseases was obtained from local health centre medical records, while data on physical activity, smoking behaviour, and alcohol consumption were collected using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), the Glover Nilsson Smoking Behavioural Questionnaire (GN-SBQ), and the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). The results demonstrated that, among the range of degenerative diseases examined, hypertension emerged as the most prevalent condition, affecting 30 individuals (55.6%). The majority of respondents (88.9%) were categorised as engaging in heavy physical activity, 85.2% were classified as light smokers, and 87.0% were identified as low risk for alcohol consumption. Chi-square analysis demonstrated that physical activity (p = 0.799), smoking behaviour (p = 0.367), and alcohol consumption (p = 0.002) were not associated with the outcome. The findings of this study suggest that, among the three risk factors examined, alcohol consumption emerged as the sole factor demonstrating a statistically significant correlation with the prevalence of degenerative diseases in Rerer Village. It is recommended that future studies explore the potential influence of other variables, such as diet, genetic factors, and obesity, on the incidence of degenerative diseases. Epidemiologis penyebab kematian di negara berkembang telah  beralih dari communicable ke penyakit degenerative. Fenomena ini erat kaitannya dengan adopsi gaya hidup tidak sehat yang berkepanjangan, sehingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik, perilaku merokok, dan konsumsi alkohol dengan insidensi penyakit degeneratif di Desa Rerer Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara Indonesia. Desain kuantitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan pendekatan korelasi deskriptif melalui metode cross-sectional. 54 responden dengan menggunakan total sampling, terlibat dalam penelitian ini. Data mengenai pasien dengan penyakit degeneratif diperoleh dari catatan medis pusat kesehatan setempat, sementara data mengenai aktivitas fisik, perilaku merokok, dan konsumsi alkohol dikumpulkan menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), Glover Nilsson Smoking Behavioural Questionnaire (GN-SBQ), dan Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari semua penyakit degeneratif yang diteliti, hipertensi merupakan kondisi yang paling umum, mempengaruhi 30 individu (55,6%). Sebagian besar responden (88,9%) dikategorikan melakukan aktivitas fisik berat, 85,2% diklasifikasikan sebagai perokok ringan, dan 87,0% diidentifikasi berisiko rendah untuk konsumsi alkohol. Analisis chi-square menunjukkan bahwa aktivitas fisik (p = 0,799), perilaku merokok (p = 0,367), dan konsumsi alkohol (p = 0,002). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari tiga faktor risiko yang dianalisis, konsumsi alkohol adalah satu-satunya yang menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan insidensi penyakit degeneratif di Desa Rerer. Disarankan penelitian berikutnya mengeksplorasi pengaruh potensial variabel lain seperti pola makan, faktor genetik, dan obesitas terhadap insidensi penyakit degeneratif.
Paparan Sinar Matahari dengan Kualitas Tidur Mahasiswa Keperawatan Mandias, Reagen Jimmy; Tuerah, Kenny
NUTRIX Vol 8 No 1 (2024): Volume 8, Issue 1, 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v8i1.1107

Abstract

Sleeping is a natural habit that has many good health benefits. Therefore, good quality sleep is very important for everyone to support optimal health. Exposure to sunlight itself has a role in improving a person's sleep quality by stimulating the hormone melatonin, a hormone that plays a role in regulating the sleep cycle. The aim of this study was to determine whether there was a significant relationship between exposure to sunlight and the sleep quality of nursing students at Klabat University. The design of this research is correlation research with a cross-sectional approach. The sampling technique used total sampling with a total of 151 students at the Faculty of Nursing, Klabat University Level III and IV for the 2021/2022 academic year. The research results showed that the majority of respondents, namely 69,5%, had moderate sun exposure. Meanwhile 77,5% of respondents had poor sleep quality. The results of the Spearman Rank/Rho statistical test show a value of p=0,003 with a correlation coefficient of r=-0,241, which means that statistically there is a significant relationship between sun exposure and sleep quality, where the relationship is weak and in a negative direction, which means that if the light exposure score As the sun rises, the sleep quality score decreases, so the higher a person's exposure to sunlight, the better the quality of sleep. The recommendation for future researchers is to carry out further research on sunlight by providing specific interventions, namely sunbathing in the sun, to see the difference in sleep quality of people who sunbathe and those who don't. Tidur merupakan suatu kebiasaan alami yang memiliki banyak manfaat yang baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, kualitas tidur yang baik sangatlah penting bagi setiap orang untuk menunjang kesehatan yang optimal. Paparan sinar matahari sendiri memiliki peran dalam meningkatkan kualitas tidur seseorang dengan merangsang hormon melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara paparan sinar matahari dengan kualitas tidur mahasiswa keperawatan Universitas Klabat. Desain penelitian ini adalah correlation research dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 151 mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Klabat Tingkat III dan IV tahun ajaran 2021/2022. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden yaitu 69.5% memiliki paparan sinar matahari sedang. Sementara 77.5% responden memiliki kualitas tidur buruk. Hasil uji statistik Spearman Rank/Rho menunjukkan nilai p=.003 dengan koefisien korelasi r=-.241 yang berarti secara statistik ada hubungan yang signifikan paparan sinar matahari dengan kualitas tidur, dimana keeratan hubungannya lemah dan arah negatif, yang berarti jika skor paparan sinar matahari naik maka skor kualitas tidur turun, sehingga semakin tinggi paparan sinar matahari seseorang maka semakin baik juga kualitas tidurnya. Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian lebih lanjut mengenai sinar matahari dengan memberikan intervensi secara khusus yaitu berjemur pada sinar matahari, untuk dilihat perbedaan kualitas tidur orang yang berjemur dengan yang tidak.
Perilaku Merokok dan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Pitoy, Frendy Fernando; Mandias, Reagen Jimmy; Senduk, Angelina Firma Sheryll
NUTRIX Vol 8 No 2 (2024): Volume 8, Issue 2, 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v8i2.1129

Abstract

Abstract The more the incidence of diabetes mellitus (DM) increases, the more varied the factors that can trigger the disease. One of the causative factors is impaired productivity and insulin sensitivity caused by smoking. Cigarettes contain substances that can cause oxidative stress which can damage the pancreas and nicotine which can reduce insulin sensitivity. This study aims to find out the relationship between smoking behavior and blood sugar levels in DM patients. This research is quantitative research using descriptive correlation methods through a cross-sectional approach. Samples used in this research was 84 respondents using purposive sampling techniques. The instruments were an Autocheck brand glucometer and an observation sheet. Data analysis for the correlation test uses chi-square. The results showed that the majority of respondents smoked with 51 (60.7%) respondents and KGD was in the diabetes category with 67 (79.8%) respondents. Furthermore, the results show that there is a value of p=0.023, cc=0.023. It can be concluded that there is a significant relationship between smoking behavior and KGD in DM sufferers with a weak relationship. There is a need for awareness for DM sufferers to adopt a healthy lifestyle, such as stopping smoking and keeping the KGD at a reasonable value so as to avoid complications from existing diseases. For further research, researchers are expected to add more samples so that the statistical power of the research is greater. Keywords: Diabetes, Blood Sugar Levels, Smoking Abstrak Semakin meningkatnya angka kejadian insiden diabetes mellitus (DM), maka semakin bervariasi faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit tersebut. Salah satu faktor penyebab adalah gangguan produktifitas dan sensitifitas insulin yang diakibatkan oleh aktivitas merokok. Pada rokok terdapat sat yang dapat menyebabkan stres oksidatif yang dapat merusak pankreas dan sat nikotin yang dapat membuat sensitivitas insulin berkurang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perilaku merokok dengan kadar gula darah (KGD) pasien DM. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif korelasi melalui pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 84 responden melalui teknik sampling purposive. Instrumen yang digunakan adalah glukometer merek Autocheck dan lembar observasi. Analisis data untuk uji korelasi menggunakan chi-square. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden berperilaku merokok dengan jumlah responden sebanyak 51 (60,7%) responden dan KGD berada pada kategori diabetes dengan responden sebanyak 67 (79,8%). Lebih lanjut hasil menunjukan bahwa terdapat nilai p=0,023, r=0,023. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan KGD pada penderita DM dengan keeratan hubungan yang lemah. Sangat di butuhkan kesadaran bagi penderita DM untuk menjalankan pola hidup yang sehat salah satunya berhenti merokok dan menjaga KGD berada pada nilai yang wajar sehingga terhindar dari komplikasi-komplikasi penyakit yang ada. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti untuk menambah lebih banyak sampel agar semakin besar kekuatan statistik dari penelitian tersebut. Kata Kunci: Diabetes, Kadar Gula Darah, Merokok
Konsumsi Makanan Berisiko dengan Keluhan Gastritis Pada Komunitas Pemuda Maramis, Jacqueline Maria Imanuela; Mandias, Reagen Jimmy
NUTRIX Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Issue 1, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i1.1265

Abstract

Gastritis atau peradangan pada lapisan lambung, merupakan kondisi yang lazim terjadi pada anak muda, yang bermanifestasi dengan gejala dan penyebab yang beragam. Etiologi keluhan gastritis yang paling banyak ditemukan adalah konsumsi makanan berisiko tinggi, termasuk makanan pedas, makanan dengan kandungan lemak tinggi, makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG), dan makanan yang bersifat asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan yang beresiko dengan terjadinya keluhan gastritis pada komunitas pemuda. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan pendekatan deskriptif dan uji-t melalui analisis cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara responden yang mengonsumsi makanan pedas dengan yang tidak mengonsumsi makanan pedas (p-value = 0,012 <0,05). Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik yang diamati untuk jenis makanan lain, seperti makanan berlemak dan makanan yang mengandung MSG. Disarankan agar remaja mengkonsumsi makanan pedas secukupnya untuk menghindari keluhan gastritis, dan diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel lain, seperti ukuran porsi, dalam kaitannya dengan keluhan gastritis. Gastritis, which is defined as inflammation of the stomach lining, is a prevalent condition among young people, manifesting with a variety of symptoms and causes. The most prevalent etiology of gastritis complaints is the consumption of high-risk foods, including spicy foods, foods with high fat content, foods containing monosodium glutamate (MSG), and acidic foods. The present study aims to ascertain whether there is a significant relationship between the consumption of high-risk foods and the occurrence of gastritis complaints in the youth community. The research design utilised in this study is quantitative, employing a descriptive approach and t-test through cross-sectional analysis. The findings revealed a statistically significant difference between respondents who consumed spicy foods and those who did not consume spicy foods (p-value = 0,012 <0,05). However, no statistically significant differences were observed for other types of food, such as fatty foods and foods containing MSG. It is recommended that teenagers consume spicy food in moderation to avoid gastritis complaints, and it is hoped that future researchers can examine other variables, such as portion size, in relation to gastritis complaints.