Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT ADIKSI GAME ONLINE DENGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK PADA PELAJAR SMA Maramis, James Richard; Maengkom, Kent Stephanus
Klabat Journal of Nursing Vol. 4 No. 1 (2022): New Start
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v4i1.801

Abstract

Statistik global menunjukkan bahwa lebih dari 2 miliar orang yang memainkan game. Di Indonesia 10,15% kelompok usia remaja terindikasi mengalami adiksi terhadap game online, sementara 49% remaja dengan kelompok umur 15-19 masuk dalam kategori aktivitas fisik rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan tingkat adiksi game online dengan tingkat aktivitas fisik pada pelajar SMA. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasi dengan menggunakan teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukan gambaran tingkat adiksi game online termasuk dalam kategori kecanduan ringan dan gambaran tingkat aktivitas fisik termasuk dalam kategori aktivitas fisik rendah. Hasil uji spearmen correlation menunjukan p value = 0,01 p<0,05 yang artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat adiksi game online dengan tingkat aktivitas fisik, dan nilar r = -0,230. yang artinya hubungan keduanya adalah rendah serta memiliki arah negatif. Rekomendasi bagi pelajar agar dapat meningkatkan aktivitas fisik 30 menit perhari atau 150 menit perminggu dengan melakukan gerak badan atau olahraga yang digemari secara aktif dan membagi waktu secara seimbang dalam bermain game agar tidak mengarah kepada adiksi. Serta rekomendasi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian sehubungan dengan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi baik adiksi game online maupun aktivitas fisik. Kata Kunci: Adiksi game online, aktivitas fisik, pelajar ABSTRACT Global statistics show that more than 2 billion people are playing the game. In Indonesia, 10.15% of the adolescent age group is indicated to be addicted to online games, while 49% of adolescents in the 15-19 age group are in the low physical activity category. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of online game addiction and the level of physical activity in students in Senior High School. The research design used is quantitative correlation using the convenience sampling technique. The results showed that the description of the level of online game addiction was in the category of mild addiction and the description of the level of physical activity was included in the category of low physical activity. The statistic shows p-value = 0.01 p <0.05, which means that there is a significant relationship between the level of online game addiction and the level of physical activity, r = -0.230. which means that the relationship between the two is low and has a negative direction. Recommendations for students to be able to increase physical activity by 30 minutes per day or 150 minutes per week by doing sports or sports that are actively liked and dividing time in a balanced way by playing games so as not to lead to addiction. As well as recommendations for further researchers to conduct research in relation to other factors that can affect both online game addiction and physical activity. Keywords: online game addiction, physical activity, students
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL PERAWAT PENANGGULANGAN COVID-19 Maramis, James Richard; Somba, Chintya Zhou Chen Mariam; Ruku, Denny Maurits
Klabat Journal of Nursing Vol. 7 No. 2 (2025): Nursing Insights: Bridging Science and Care
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v7i2.1442

Abstract

The daily rise in COVID-19 cases has intensified the workload for nurses treating patients with the virus, placing healthcare workers at heightened risk for mental health disorders. This study seeks to identify the factors that affect the mental health of nurses working in COVID-19 isolation units. A cross-sectional study was conducted involving 86 nurses, utilizing the Daily Spiritual Experience Scale (DSES), Social Provisions Scale (SPS), Coping Mechanisms Questionnaire (CMQ), and The Mental Health Inventory - 38 (MHI-38) instruments. The findings revealed that the average mental health score of participants was Good (74.03 ± 10.15). Mental Health exhibited a significant correlation with Spiritual Support (r = .40, p < .01), Social Support (r = .56, p < .01), and Coping Mechanisms (r = .25, p < .01). However, factors such as gender, education, and length of service showed no significant correlation. Hierarchical multiple regression test analysis identified two key predictors of mental health: Spiritual Support (β= .33, p< .01) and Social Support (β= .34, p< .01). These findings suggest that Spiritual Support, Social Support, and effective Coping Mechanisms can enhance an individual's mental health status, with both Spiritual and Social Support serving as predictors of mental health among nurses dealing with COVID-19. Healthcare institutions should proactively enhance social and spiritual support to mitigate the crisis's negative impact on nurses' mental health. Kasus COVID-19 yang terus bertambah setiap harinya, menyebabkan beban kerja perawat penanggulangan COVID-19 pun terus bertambah. Hal itulah yang menyebabkan tenaga kesehatan berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental perawat penanggulangan COVID-19. Cross sectional study design dilakukan pada 86 perawat yang bekerja di ruangan isolasi COVID-19 dengan instrumen Daily Spiritual Experience Scale (DSES), Social Provisions Scale (SPS), Coping Mechanisms Questionnaire (CMQ), dan The Mental Health Inventory - 38 (MHI–38). Hasil menunjukkan bahwa rerata kesehatan mental responden (74,03 ± 10,15). Kesehatan mental mempunyai hubungan yang signifikan dengan dukungan spiritual (r= 0,40, p< ,01), dukungan sosial (r= 0,56, p< 0,01), dan mekanisme koping (r= 0.25, p< 0,01); sedangkan jenis kelamin, pendidikan, dan lamanya bekerja tidak mempunyai hubungan yang signifikan. Uji hierarchical multiple regression memperlihatkan dua variabel merupakan predictor dari kesehatan mental seperti dukungan spiritual (β= 0,33, p< 0,01), dan dukungan sosial (β= 0,34, p< 0,01). Dukungan spiritual, dukungan sosial dan mekanisme koping yang baik dapat meningkatkan status kesehatan mental seseorang, sedangkan dukungan spiritual dan dukungan sosial merupakan prediktor dari kesehatan mental perawat penanganan COVID-19. Institusi kesehatan harus secara proaktif meningkatkan dukungan sosial dan spiritual untuk mengurangi dampak negatif krisis terhadap kesehatan mental perawat.
Efektivitas Edukasi Menggunakan Kartu Kuartet Terhadap  Pengetahuan Mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak Usia Sekolah Bimbanaung, Preisy Gloria; Maramis, James Richard
NUTRIX Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Issue 1, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i1.1299

Abstract

Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kesehatan mereka dengan menggunakan media promosi kesehatan yang menarik dan efektif. Kartu kuartet adalah kartu yang berisi informasi yang disertai gambar menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan kartu kuartet terhadap pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat pada anak-anak di SDN 18 Pandu. Desain penelitian ini menggunakan metode pre-test post-test dengan satu grup. Populasi penelitian terdiri dari 35 siswa kelas V yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Para siswa diberikan permainan edukatif kartu kuartet yang berisi pesan-pesan PHBS pada setiap kartu. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pengetahuan adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara bivariate menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan siswa sebelum diberikan edukasi adalah 68,43% (SD = 10,553), sementara setelah diberikan edukasi, rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 86,71% (SD = 7,389). Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dari edukasi dengan kartu kuartet terhadap peningkatan pengetahuan siswa, dengan nilai p 0,000 < 0,05. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memanfaatkan kartu kuartet untuk meningkatkan pengetahuan tentang PHBS di area pengetahuan lainnya, seperti pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. School-age children are a group that is vulnerable to disease, so efforts are needed to improve their health by using attractive and effective health promotion media. Quartet cards are cards that contain information accompanied by attractive images. This study aims to determine the effect of education with quartet cards on knowledge about clean and healthy living behavior in children at SDN 18 Pandu. The design of this study used the pre-test post-test method with one group. The study population consisted of 35 fifth grade students selected using purposive sampling techniques. Students were given an educational game of quartet cards containing PHBS messages on each card. The instrument used to measure knowledge was a questionnaire. Data analysis was carried out bivariately using the Wilcoxon test. The results showed that the average knowledge of students before being given education was 68.43% (SD = 10.553), while after being given education, the average knowledge increased to 86.71% (SD = 7.389). This study shows that there is a significant effect of education with quartet cards on increasing student knowledge, with a p value of 0.000 <0.05. Further research is expected to utilize the quartet card to improve knowledge about PHBS in other areas of knowledge, such as understanding, application, analysis, synthesis, and evaluation.
Kebiasaan Makan dan Keparahan Acne Vulgaris pada Mahasiswa Maramis, James Richard; Pitoy, Frendy Fernando; Thomas, Vanesa Giselle
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.091 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i5.10346

Abstract

ABSTRACT Acne vulgaris is a dermatological condition that affects both teenagers and adults. While various factors contribute to the severity of acne vulgaris, recent studies are progressively studying the interesting relationship between acne vulgaris and eating habits. Scientific studies have found that certain eating habits such as foods with high fat and glycemic index, products containing milk and energy-dense, and high-calorie foods play a role in exacerbating acne vulgaris. This study aims to determine whether there is a significant relationship between eating habits and the severity of acne vulgaris in grade III and IV students of the Faculty of Nursing, Universitas Klabat.This research is a quantitative research with a descriptive correlation method through a cross-sectional approach. The research sample was taken using a total sampling technique with a total of 205 respondents. Data was collected using the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) questionnaire to measure eating habits, and the Global Acne Grading System (GAGS) to measure the severity of Acne Vulgaris. It was found that most of the students were in the category of poor eating habits, with a total of 114 (55.6%) respondents, and had mild acne vulgaris, with a total 109 (53.2%) respondents. After conducting bivariate analysis using the Spearman's Rho, it was found that the value of p = 0.001; and r=-0.646. There is a significant relationship between eating habits and the severity of acne vulgaris in grade III and IV students of the Faculty of Nursing, Universitas Klabat. The level of coefficient correlation was classified as strong with the negative direction, where the poorer respondent's eating habits are, the higher the severity of acne vulgaris. It is recommended for the students to pay attention to their eating habits by reducing foods high in fat, calories and glycemic index, and starting to eat fruits and vegetables regularly. For further researchers, it is possible to measure the comparison of certain types of food as well as the schedule, and number of food portions consumed and their effect on the severity of acne vulgaris. Keywords: Acne Vulgaris, Eating Habits, Students.  ABSTRAK Acne vulgaris merupakan kondisi dermatologis yang mempengaruhi remaja dan orang dewasa. Sementara berbagai faktor berkontribusi terhadap keparahan acne vulgaris, penelitian-penelitian terbaru secara progresif mempelajari keterkaitan yang menarik antara acne vulgaris dan kebiasaan makan. Studi ilmiah mendapati bahwa kebiasaan makan tertentu seperti makanan dengan lemak dan indeks glikemik tinggi, produk yang mengandung susu dan makanan padat energi serta tinggi kalori berperan dalam memperparah acne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan keparahan acne vulgaris pada mahasiswa tingkat III dan IV Fakultas Keperawatan Universitas Klabat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif korelasi melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 205 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) untuk mengukur kebiasaan makan, dan Global Acne Grading System (GAGS) untuk mengukur derajat keparahan Acne Vulgaris. Ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori kebiasaan makan yang kurang baik yaitu sebanyak 114 (55,6%) responden, dan memiliki tingkat keparahan acne vulgaris ringan yaitu sebanyak 109 (53,2%) responden. Setelah dilakukan analisis bivariat menggunakan rumus Spearman’s Rho didapati bahwa nilai p=0,00; r=-0,646. Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan keparahan acne vulgaris pada mahasiswa mahasiswa tingkat III dan IV Fakultas Keperawatan Universitas Klabat.  Tingkat keeratan hubungan tergolong kuat dengan arah hubungan variabel yang bersifat negatif, dimana semakin kurang baik kebiasaan makan responden maka tingkat keparahan acne vulgaris semakin tinggi. Direkomendasikan kepada mahasiswa agar dapat memperhatikan kebiasaan makan mereka dengan mengurangi makanan tinggi lemak, kalori dan indeks glikemik, dan mulai rutin mengonsumsi buah dan sayur. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengukur perbandingan dari jenis-jenis makanan tertentu serta jadwal dan jumlah porsi makanan yang dikonsumsi dan pengaruhnya terhadap tingkat keparahan acne vulgaris.  Kata Kunci: Acne Vulgaris, Kebiasaan Makan, Mahasiswa.