Masa remaja merupakan fase transisi krusial, namun pergeseran gaya hidup ke arah sedentari di era digital memicu tingginya inaktivitas fisik yang berdampak destruktif pada kapasitas daya tahan jantung paru (cardiorespiratory endurance). Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan pendekatan promotif dan preventif guna melihat gambaran faktual kondisi fisik remaja, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup aktif. Kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 3 Pontianak dengan melibatkan 20 siswa sebagai mitra sasaran. Metode pelaksanaan mencakup empat tahapan utama: pendataan dan skrining kesehatan awal, ceramah edukasi interaktif, pengukuran kapasitas kardiorespirasi secara objektif menggunakan instrumen Harvard Step Test, serta evaluasi dan analisis data. Hasil pengukuran menunjukkan temuan yang sangat homogen, di mana seluruh peserta teridentifikasi berada pada kategori poor (sangat kurang). Kondisi kebugaran yang berada pada titik terendah ini mengonfirmasi hipotesis awal bahwa dominasi gaya hidup pasif dan program olahraga sekolah yang kurang memfokuskan pada kapasitas aerobik berdampak nyata pada rendahnya kebugaran kardiovaskular siswa. Sebagai kesimpulan, program ini berhasil menyoroti urgensi krisis kebugaran di tingkat sekolah. Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan penyusunan program pendampingan praktik yang berkesinambungan dan berkolaborasi dengan pihak sekolah guna memodifikasi perilaku sehat remaja secara permanen demi mencetak generasi yang produktif. Kata Kunci: Remaja, Aktivitas Fisik, Gaya Hidup Sedentari, Harvard Step Test, Siswa Adolescence is a crucial transitional phase, but the shift towards a sedentary lifestyle in the digital era has triggered high physical inactivity, yielding a destructive impact on cardiorespiratory endurance. This Community Service Program (PKM) aims to provide promotive and preventive approaches to obtain a factual overview of adolescents' physical conditions while encouraging behavioral changes toward an active lifestyle. The activity was conducted at SMK Negeri 3 Pontianak, involving 20 students as target partners. The implementation method encompassed four main stages: initial data collection and health screening, interactive educational lectures, objective measurement of cardiorespiratory capacity using the Harvard Step Test instrument, and data evaluation and analysis. The measurement results revealed highly homogeneous findings, wherein all participants were classified in the Poor category. This remarkably low fitness level confirms the initial hypothesis that the dominance of a passive lifestyle and school sports programs lacking focus on aerobic capacity significantly impact the students' poor cardiovascular fitness. In conclusion, this program has successfully highlighted the urgency of the fitness crisis at the school level. As a follow-up, it is recommended to design a continuous practical assistance program in collaboration with the school to permanently modify adolescents' healthy behaviors in order to foster a productive generation.