Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PELAKSANAAN REKLAMASI PULAU G JAKARTA UTARA (STUDI PUTUSAN NOMOR: 193/G/LH/2015/PTUN-JKT) Ivana Novrinda Rambe; Suhaidi Suhaidi; Syamsul Arifin; Sutiarnoto Sutiarnoto
USU LAW JOURNAL Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.498 KB)

Abstract

ABSTRACT One development which is closely related to living environment is Reclamation. It is a development effort and/ or activity to reclaim land at the river bank or seashore. It is stipulated in the Presidential Regulation No. 122/2012 on Reclamation at the Coastal Areas, the Law No. 27/2007 on the Management of Coastal Areas and Small Islands in conjunction with the Law No. 1/2014 on the Management of Coastal Areas and Small Islands and Article 34 paragraph (1). The reclaimed areas are used for agriculture, housing, industry, shopping center or business, and tourism resorts. This has led reclamation to be permitted. However, there are some problems arising in the establishment license of reclamation; namely the Decree of Governor No. 2238/2014 dated December 23, which is the license for reclamation of Pulau G in Teluk Jakarta. It is resisted by some elements of the society because it has caused them some loss. It resulted in a claim against the ruling to the State Administrative Court in the Decree No.193/G/LH/2015/PTUN-JKT.   Keywords : Reclamation, Environment, G Island North Jakarta.
PENYULUHAN HUKUM DALAM PENANGANAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH BAGI MASYARAKAT DI KELURAHAN PALUH KEMIRI KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA Fajar Khaify Rizky; Ivana Novrinda Rambe; Dio Agung Herubawa
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i4.19707

Abstract

Permasalahan yang dihadapi masyarakat dan perangkat kelurahan Paluh Kemiri belum mengetahui dan memahami pengaturan hukum terkait pengelolaan sampah, penanganan dan pengelolaan sampah yang memberikan manfaat baik dari segi lingkungan maupun ekonomi dengan rencana dibentuknya Pokja (Kelompok Kerja) masyarakat dan Bank Sampah dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan hal itu pentingnya kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan hukum mengenai penanganan dan pengelolaan sampah. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pemaparan atau penyuluhan dari segi aspek hukum lingkungan dalam pengelolaan sampah yang memberikan manfaat baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Metode selanjutnya digunakan diskusi/sharing yang bertujuan untuk memberikan solusi terkait pengelolaan sampah bagi masyarakat dan perangkat kelurahan Paluh Kemiri. Hasil dari pengabdian ini adalah masyarakat dan perangkat kelurahan Paluh Kemiri dapat mengetahui dan memahami pengaturan mengenai pengelolaan sampah yang terdapat dalam UU. No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2020 tentang Sampah Spesifik, Permen LHK No. 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah, dan Perda Kabupaten Deli Serdang No. 4 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah serta memahami pengelolaan sampah yang dapat memberikan manfaat baik dari segi lingkungan maupun ekonomi dengan membentuk Pokja (Kelompok Kerja) masyarakat dan mendirikan Bank Sampah serta memahami pengelolaan sampah rumah tangga.
Social Environmental Responsbility (CSR) as a Legal Obligation in Corporate Law: Implementation and Its Impact on Society Imam Nur Hidayat Tarigan; Ivana Novrinda Rambe; Yessi Kurnia Arjani Manik
Haqqiyyah: Journal of Islamic and Legal Studies Vol. 1 No. 2 (2025): December
Publisher : PT ARFA DIGITAL TECHNOLOGY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65358/haqqiyyah.v1i2.55

Abstract

Specifically, the study identifies a crucial legal gap: the limited scope of this obligation only to natural-resource-based companies, and critically analyzes the disproportionality of legal sanctions that undermines its deterrent effect. Initially recognized as a voluntary, ethics-driven initiative, TJSL has now become a legal mandate for certain limited liability companies, especially those engaging in or related to natural resources. This shift creates a distinctive paradigm compared to neighboring Southeast Asian countries, which mostly prefer incentive-based or voluntary frameworks. The study aims to analyze in depth the juridical construction of TJSL as a mandatory obligation, identify primary challenges in its implementation and governance, and examine the legal enforcement and empirical implications of such regulation for the community in the context of sustainable development. Findings highlight legal gaps, particularly the limited scope of the obligation to only natural-resource-based companies, ambiguities in operational definitions and funding sources, and weaknesses in the effectiveness of legal sanctions. The research suggests the need for comprehensive regulatory reforms to ensure the effectiveness of TJSL both legally and empirically for Indonesian society as a whole
Analysis of Complete Systematic Land Certification (PTSL) to Increase the Economic Value of Community Land Muhammad Yamin Lubis; Ivana Novrinda Rambe; Erna Herlinda; Nurhadi Ahmad Juang; Nurhimmi Falahiyati
Mahadi: Indonesia Journal of Law Vol. 5 No. 01 (2026): Vol. 05 No. 01 (2026) February Edition 2026
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the persistently high number of unregistered land parcels and the low level of legal certainty regarding community land ownership, which has resulted in limited access to economic opportunities and capital. The Complete Systematic Land Registration Program (PTSL) implemented by the government aims to accelerate asset legalization through the mass issuance of land title certificates. However, the effectiveness of PTSL in increasing the economic value of community land still requires empirical and juridical examination. This study aims to analyze the implementation of PTSL, identify the obstacles encountered, and assess the impact of land certification on enhancing the economic value of community land. The research method employed is normative legal research with a socio-juridical approach. Secondary data were obtained from statutory regulations, academic literature, and policy documents related to PTSL and land law. The analysis was conducted qualitatively to evaluate the relationship between legal certainty of land rights and the increase in economic value. The findings indicate that PTSL provides legal certainty and protection of land rights, increases land market value, and expands community access to financial institutions through credit schemes using land certificates as collateral. Certification also enhances investor confidence and strengthens the bargaining position of landowners. Nevertheless, administrative constraints, limited public understanding, and the suboptimal utilization of certificates as instruments of economic empowerment remain challenges. Therefore, PTSL significantly contributes to increasing the economic value of land, although strengthening community assistance and legal literacy is still necessary.
Edukasi Hukum Anti Korupsi Melalui Konsep Trading in Influence: Upaya Penanaman Nilai Integritas di Lingkungan Pendidikan Menengah Ivana Novrinda Rambe; Gatot Teguh Arifyanto; Yessi Kurnia Arjani Manik
Jurnal Kemitraan dan Pengabdian Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : PT Arfa Digital Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65358/jurnamitra.v1i2.200

Abstract

Perkembangan tindak pidana korupsi di Indonesia semakin kompleks dan meluas, dengan munculnya bentuk baru seperti trading in influence atau perdagangan pengaruh. Praktik ini merupakan penyalahgunaan kekuasaan atau kedekatan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman hukum dan menanamkan nilai integritas di kalangan siswa pada lingkungan pendidikan menengah melalui penyuluhan hukum bertema “Korupsi Terselubung Melalui Trading in Influence: Refleksi Kasus Tom Lembong”. Metode kegiatan mencakup pemaparan materi, diskusi kelompok, dan evaluasi partisipatif. Hasilnya menunjukkan peningkatan kesadaran siswa terhadap bentuk korupsi non-material serta pemahaman mereka tentang pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari. Program ini menjadi langkah strategis dalam menumbuhkan budaya antikorupsi sejak dini.
Pergeseran Politik Hukum Agraria dari Konsep Hak Menguasai Negara menuju Hak Memiliki Negara: Transformation of Agrarian Legal Politic from State Rights of Control to State Rights of Ownership Muhammad Yamin Lubis; Ivana Novrinda Rambe; Novina Sri Indiraharti; Muhammad Rum Lubis
Neoclassical Legal Review: Journal of Law and Contemporary Issues Vol. 5 No. 1 (2026): In-Press - Neoclassical Legal Review: Journal of Law and Contemporary Issues
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/nlr-jolci.v5i1.26577

Abstract

Terbitnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja membawa perubahan mendasar dalam politik hukum agraria di Indonesia, khususnya terkait Hak Menguasai Negara (HMN) yang dinilai mengarah pada praktik Hak Memiliki Negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pergeseran politik hukum agraria dari konsep Hak Menguasai Negara sebagaimana dikonsepsikan dalam Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 menuju praktik yang menyerupai Hak Memiliki Negara pasca Undang-Undang Cipta Kerja, serta mengkaji implikasinya terhadap keadilan penguasaan tanah dan pelaksanaan reforma agraria dalam mewujudkan sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan UUPA. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik hukum agraria pasca Undang-Undang Cipta Kerja telah menggeser implementasi Hak Menguasai Negara dari fungsi kewenangan publik (public authority) menuju penguasaan negara, yang berdampak pada meningkatnya potensi konsentrasi penguasaan tanah, berkurangnya ruang redistribusi tanah sebagai instrumen reforma agraria, serta meningkatnya potensi konflik agraria. Dari perspektif teori keadilan, perubahan tersebut lebih menekankan kepastian hukum dan kemanfaatan ekonomi bagi investasi, namun belum sepenuhnya mewujudkan keadilan distributif sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan UUPA. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi politik hukum agraria yang menempatkan kembali Hak Menguasai Negara sebagai kewenangan publik yang berorientasi pada pemerataan penguasaan tanah dan sebesar-besar kemakmuran rakyat.