Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Perkawinan Wanita Hamil Dengan Yang Bukan Menghamilinya di Desa Uraso Kabupaten Luwu Utara Menurut Imam Malik dan Syafi'i Aldiansyah; Maloko, M. Thahir; Sanusi, Nur Taufiq
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab VOLUME 3 ISSUE 3, SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.vi.27499

Abstract

The main problem in this research is how the marriage of pregnant women with men who are not pregnant in Uraso Village, Kec. Mapdeceng, Kab. North Luwu According to Imam Malik and Shafi'i. The main problems that will be described from the sub-problems are: 1) What are the views of the people of Uroso Village, Kec. Mapdeceng, Kab. North Luwu regarding the marriage of a pregnant woman with a man who did not impregnate her? 2) What is the opinion of Imam Malik and Syafi'i on the marriage of a pregnant woman with a man who did not impregnate her in Uroso Village, Kec. Mapdeceng, Kab. North Luwu?. The type of research used is qualitative research or field research which describes the phenomena that occur in society and aims to produce descriptive data in the form of data, images and behavior of the people observed using a syar'i normative approach sourced from the arguments of the Qur'an, the hadith of the Prophet as well as the ijtihad of the Ulama and the sociological approach. The data sources in this research are sourced from primary data and secondary data. The results of this study indicate that: 1) Regarding the views from interviews with several community and religious leaders, they have different opinions regarding this phenomenon. 2) The scholars agree on the permissibility of marrying adulterers for those who commit adultery. Thus, the marriage of a pregnant woman with a man who impregnates her or commits adultery is legal and they may have intercourse as husband and wife. Meanwhile, the views of Imam Malik and Shafi'i regarding the marriage of a pregnant woman with a man who did not impregnate her have different opinions. Imam Malik is of the opinion that the marriage is invalid. This is because women who have sexual intercourse with adultery have exactly the same legal status as women who have sexual intercourse with syubhat. The woman must purify herself at the same time as the 'iddah of the woman whose husband divorced her, except when had (punishment) is required. Meanwhile, Imam Shafi'i allowed the marriage of a pregnant woman to a man who did not impregnate her.
Political Configuration of Islamic Law in Legal Development in Indonesia Sanusi, Nur Taufiq; Fauzan, Ahmad; Syatar, Abdul; Kurniati, Kurniati; Hasim, Hasanuddin
Jurnal Adabiyah Vol 23 No 1 (2023): June (Islamic Humanities)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v23i1a3

Abstract

Indonesia's multicultural society influences legal policy in the development of the country from philosophical, cultural, social, and religious aspects. The current development of customary law, commonly referred to as al-dah al-muhakkamah, strongly supports national law as a source of law and is used by the Indonesian Islamic community along with customary law as its legal basis. Both are designed to provide legal benefits for the Indonesian people. This study focuses on the synchronization of Islamic law and national law to create a national law that is in harmony with the existing law in society through normative legal investigation methods and comparative legal approaches. The method used is qualitative method. The procedural model is a research technique that gathers verbal or written descriptions from sources in order to apply normative comparison techniques. The research results show Islamic law in the development of national law is the answer to the democratization of various sources of law in Indonesia. That is, national sources of law need to pay attention to the basic philosophy of Islamic law, which can answer and solve substantive and formal legal problems as the basis for the development of national law. The formalization of Islamic law in the context of the policy development of law or the development of Islamic law (legal structure) in the development of national law is not sufficiently limited to mere formalization but to its nature and content. امللخص يؤثر المجتمع متعدد الثقافات في إندونيسيا على السياسة القانونية في تطور البلاد من الجوانب الفلسفية والثقافية والاجتماعية والدينية. إن تطوير القانون العرفي الذي يشار إليه عادة باسم "العدة المحكمة" يدعم اليوم بقوة القانون الوطني كمصدر للقانون ويستخدمه المجتمع الإسلامي الإندونيسي جنبًا إلى جنب مع القانون العرفي كأساس قانوني له. كلاهما مصمم لتقديم مزايا قانونية لشعب إندونيسيا. يركز هذا البحث على تزامن الشريعة الإسلامية والقانون الوطني لتحقيق القانون الوطني المتوافق مع القوانين القائمة في المجتمع من خلال أساليب التحقيق القانوني المعياري والأساليب القانونية المقارنة. الطريقة المستخدمة هي طريقة نوعية. تقنيات جمع البيانات ، وهي جمع الأوصاف الشفوية أو المكتوبة من عدة مصادر كمواد مقارنة معيارية. تظهر نتائج البحث أن الشريعة الإسلامية في تطوير القانون الوطني هي الرد على دمقرطة مصادر القانون المختلفة في إندونيسيا. وهذا يعني أن مصادر القانون الوطني بحاجة إلى الاهتمام بالفلسفة الأساسية للشريعة الإسلامية التي يمكنها الإجابة على المشكلات القانونية الموضوعية والشكلية وحلها كأساس لتطوير القانون الوطني. إن إضفاء الطابع الرسمي على الشريعة الإسلامية في سياق سياسات تطوير القانون أو تطوير الشريعة الإسلامية (الهيكل القانوني) في تطوير القانون الوطني لا يقتصر بشكل كافٍ على مجرد إضفاء الطابع الرسمي ، ولكن ما هو جوهرها ومحتواها. الكلمات المفتاحية: التكوين السياسي ، التطور القانوني ، السياسة القانونية ، الشريعة الإسلامية Abstrak Masyarakat multikultural Indonesia mempengaruhi kebijakan hukum dalam pembangunan negara dari aspek filosofis, budaya, sosial dan agama. Perkembangan hukum adat yang biasa disebut dengan al-ādah al-muhakkamah dewasa ini sangat mendukung hukum nasional sebagai sumber hukum dan digunakan oleh masyarakat Islam Indonesia bersama dengan hukum adat sebagai landasan hukumnya. Keduanya dirancang untuk memberikan manfaat hukum bagi masyarakat Indonesia. Penelitian ini menitikberatkan pada sinkronisasi hukum Islam dan hukum nasional untuk mewujudkan hukum nasional yang selaras dengan hukum yang ada di masyarakat melalui metode penyelidikan hukum normatif dan pendekatan hukum komparatif. Metode yang digunakan adalah metode qualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan deskripsi verbal atau tertulis dari beberapa sumber sebagai bahan perbandingan normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional merupakan jawaban atas demokratisasi berbagai sumber hukum di Indonesia. Artinya, sumber hukum nasional perlu memperhatikan filosofi dasar hukum Islam yang dapat menjawab dan memecahkan masalah hukum substantif dan formal sebagai landasan pembangunan hukum nasional. Formalisasi hukum Islam dalam konteks kebijakan pembangunan hukum atau pembangunan hukum Islam (legal structure) dalam pembangunan hukum nasional tidak cukup terbatas pada formalisasi belaka, tetapi bagaimana hakikat dan isinya. Kata Kunci: Konfigurasi politik; Pembangunan hukum; Politik hukum; Hukum Islam
PATTONGKO’ SIRI’ (MENIKAHI WANITA YANG HAMIL KARENA ZINA) DALAM HUKUM ISLAM Sanusi, Nur Taufiq
PUSAKA Vol 4 No 2 (2016): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.547 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v4i2.165

Abstract

Penelitian ini dilakukan dalam rangka melihat Bagaimana hukum Islam menjawab problematika pernikahan pattongko siri, khususnya dalam menjawab persoalan “boleh-tidaknya menikahi wanita yang hamil di luar nikah” dan bagaimana hukum Islam mampu meluruskan kembali prilaku hubungan sex kepada jalur yang dibenarkan. Penelitian ini diawali dengan melakukan kajian pustaka tentang hukum-hukum yang telah dikemukakan dalam berbagai luteratur fiqih, selanjutya menghubungkannya dengan fenomena yang terjadi di masyarakat untuk kemudian dilakukan analisis, dalam rangka mengambil istinbath hukumnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun para Ulama berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya pernikahan yang sedang hamil akibat zina dengan seorang laki-laki yang tidak menzinahinya. Namun menurut kajian penulis, boleh menikah dengan wanita penzina (baik hamil ataupun tidak), dengan ketentuan telah bertobat, baik oleh laki-laki yang menghamilinya (dan ini lebih diutamakan) maupun oleh laki-laki lain yang tidak menghamilinya, karena wanita yang telah bertobat sudah menjadi wanita baik-baik kembali..
Filantropi Islam dan Regulasi Hukum Positif: Kajian Fikih Sosial terhadap Program Donasi Dana Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan Wildan, Muhammad; Asni, Asni; Sanusi, Nur Taufiq
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab VOLUME 6 ISSUE 1, JANUARY 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.v6i1.52949

Abstract

This study aims to analyze the practice of cutting social fund donations by the Dompet Dhuafa Philanthropic Institute of South Sulawesi from the perspective of social fiqh and positive law. The focus of this research includes the mechanisms of fund management by philanthropic institutions, as well as how these practices are normatively reviewed in the context of Islamic law and national regulations. This study uses a qualitative approach with a field study method. Data was collected through observation, in-depth interviews, and documentation, which was then strengthened by literature studies of laws and regulations, scientific literature, and information from the official websites of related institutions. Data analysis is carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that Dompet Dhuafa South Sulawesi collects funds from ZISWAF and Corporate Social Responsibility (CSR) sources, with an allocation of 12.5% for operational needs and amil rights. From the perspective of social fiqh, the deduction is justified based on the provisions in QS. At-Taubah verse 60 and MUI Fatwa No. 8 of 2011, which stipulates the share of amil at 12.5%, in line with the views of scholars such as KH. Sahal Mahfudh and KH. Ali Yafie who emphasized the importance of optimizing zakat institutions in community empowerment in accordance with the principles of maqāṣid al-syarīʿah. Meanwhile, in the context of positive law, the deduction of social funds by Islamic philanthropic institutions is regulated in Article 67 paragraph (2) of Government Regulation No. 14 of 2014 as a derivative of Law No. 23 of 2011, and strengthened by the Decree of the Ministry of Religion No. 733 of 2018 and BAZNAS Regulation No. 1 of 2016, which allows deductions of up to 20% outside of zakat funds. On the other hand, public philanthropic institutions or Money and Goods Collection Institutions (PUB) are subject to Government Regulation No. 29 of 1980 and Permensos No. 8 of 2021, which limit operational costs to a maximum of 10% without specific regulations regarding the salary of administrators. This research emphasizes the need for regulatory distinction between Islamic and public philanthropic institutions, as well as the strengthening of transparency in the management of social funds to maintain public trust and the effectiveness of aid distribution.
REINTERPRETASI MA’HRAM (Q.S. AN-NISA/4 AYAT 22-23) DAN RELEVANSINYA DENGAN FENOMENA MENIKAHI SEPUPU DI INDONESIA: Studi Penafsiran Muhammad Syahrur Sanusi, Nur Taufiq; Misbahuddin, Misbahuddin; Sapitri, Sandi; HS, Muhammad Alwi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.613

Abstract

Menikahi sepupu menjadi fenomena yang unik sekaligus tabu oleh sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu pemikir kontemporer yang memiliki penafsiran yang signifikan didiskusikan perihal fenomena tersebut adalah Muhammad Syahrur, dalam bukunya Al-Kitāb wa Al-Qur’ān: Qira’ah Mu’āṣirah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan menggunakan metode deskripsi-analitis, dan berdasarkan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mengungkap bahwa Syahrur menambahkan sepupu sebagai kategori mahram atau orang yang tidak boleh dinikahi, karena alasan medis dan adat istiadat masyarakat. Secara medis, menikahi sepupu dapat memberi dampak buruk kepada keturunan, sementara secara adat istiadat masyarakat terjadi pro-kontra di lapangan. Kedua, penafsiran QS. An-Nisa’ ayat 22-23 tentang menikahi sepupu perspektif Syahrur relevan dengan konteks Indonesia, berdasarkan sudut pandang ulama-ulama Indonesia, undang-undang, aspek kedokteran, sosial di masyarakat, yang memiliki pandangan senada bahwa menikahi sepupu tidak diperbolehkan, terutama mempertimbangkan dampak pada keturunan yang lemah secara jasmani maupun rohani.
Konsep Khāfī Dilalāh Perspektif Ulama Salaf dan Khalaf Ainun Mardiah, Nur; Hilal, Fatmawati; Sanusi, Nur Taufiq
AL-BAYAN: JURNAL HUKUM DAN EKONOMI ISLAM Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Publikasi (P3M) STAI Nahdlatul Watan Samawa-licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35964/albayan.v5i2.487

Abstract

This research analyzes the concept of Khāfī Dilalāh an ambiguous legal term due to external factors from the perspectives of Salaf and Khalaf scholars, using the term al-sāriq from Q.S. al-Maidah verse 38 as a case study, with implications on some similar issues. Employing a qualitative-comparative methodology via library research, this study aims to examine how the differing approaches to istinbat the Salaf's textualism versus the Khalaf's rational-contextualism impact legal outcomes. The findings reveal that Salaf scholars tend to limit the application of law to explicit texts, whereas Khalaf scholars expand it based on the underlying ‘illat (legal reason) and Maqāsid al-Shari'ah (objectives of Islamic law). This divergence is evident in the resolution of corruption cases, which are consensually categorized as jarīmah ta'zir rather than hadd. The study concludes that this methodological difference is not merely theoretical but has direct causal implications for legal application and the relevance of contemporary Islamic jurisprudence, thereby addressing a fundamental gap in existing literature.
The Implementation of Muthlaq and Muqayyad Rules in the Determination of Family Maintenance: A Methodological Analysis of the Nash-nash of Islamic Family Law Erniawati; Sanusi, Nur Taufiq; Fatmawati; Mohamad Subli
BAYAN: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : PT. Nawa Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research analyzes the implementation of muthlaq and muqayyad principles in determining family maintenance (nafkah) through a methodological approach to Islamic family law texts. The study addresses the complexity of interpreting absolute (muthlaq) and conditional (muqayyad) legal texts in contemporary family maintenance determination. Using qualitative library research with textual analysis (tahlil an-nushush), comparative analysis (al-manhaj al-muqaran), and contextual analysis methods, this research examines primary sources including the Quran, hadith collections, and classical fiqh literature. The findings reveal that Quranic verses and prophetic traditions combine muthlaq and muqayyad expressions, providing flexibility while establishing boundaries in maintenance standards. Different Islamic schools (madhabs) apply these principles with varying approaches: Hanafi emphasizes contextual flexibility, Shafi'i focuses on standardization of basic needs, while Hanbali prioritizes balance between rights and obligations. The implementation in Indonesian family law, particularly through the Compilation of Islamic Law (KHI) and religious court decisions, demonstrates the relevance of classical ushul fiqh methodology for addressing contemporary family law issues. This research contributes a theoretical framework for analyzing contemporary family law matters using muthlaq-muqayyad principles.
TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM NASIONAL TERHADAP PEMBERIAN DISPENSASI NIKAH PADA PENGADILAN AGAMA MAROS Kafrawi, Try Sa’adurrahman HM.; Kurniati, Kurniati; Sanusi, Nur Taufiq
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6786

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan hukum Islam dan hukum nasional terhadap dispensasi nikah pada Pengadilan Agama Maros.  Jenis penelitian ini tergolong kualitatif lapangan (field research kualitatif) dan pendekatan penelitian yang digunakan; yuridis-empiris. Adapun sumber data penelitian ini adalah data primer yang diambil enam orang Hakim Pengadilan Agama Maros dan data skunder sebanyak tiga orang sebagai pendukung dalam penelitian ini, selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan penulusuran referensi. Lalu, teknik pengolahan dan analisis data dilakukuan melalui empat tahap, yaitu; reduksi data, display data, verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Perspektif hukum Islam, tidak adanya ketegasan nas dalam perkawinan di bawah umur, namun bukan berarti hukum Islam tidak mengatur lebih lanjut tentang batasan itu. Untuk menjembatani pernikahan di bawah umur ini yang terus berkembang, maka perlu sebuah usaha terus menerus dalam upaya menggali hukum Islam yang disebut dengan ijtihad. Sedangkan dalam hukum nasional mengatur umur ideal untuk menikah yakni 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Pernikahan di bawah umur, merupakan salah satu hak setiap orang dalam menentukan kehidupannya, namun perlu adanya pertimbangan-pertimbangan sebelum menentukan pilihan. Salah satu cara untuk menindak lanjuti pernikahan di bawah umur, Pengadilan Agama bukanlah satu-satunya alat dalam perkara ini karena peran yang lebih utama dalam memperhatikan dan menjaga adalah orang tua, keluarga, masyarakat dan beberapa badan hukum lainnya seperti: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia (PPPAI), dan sebagainya. Sehingga tujuan pernikahan untuk mewujudkan sakinah mawaddah warahmah tercapai dengan aman dan tentram.
EKSISTENSI HUKUM WARIS ADAT DALAM MASYARAKAT MUSLIM DI KOTA GORONTALO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Pongoliu, Hamid; Jafar, Usman; Djalaluddin, Mawardi; Sanusi, Nur Taufiq
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6866

Abstract

Tulisan ini menguraikan tentang eksistensi hukum waris adat dalam masyarakat muslim di Kota Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan bercorak deskriptif kualitatif, dianalisis dengan alur pikir prosedur deduktif yang bersumber dari data primer dan data sekunder dengan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan syar’i, yuridis, antropologis, sosiologis, historis, dan filosofis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hukum waris adat yang eksis dalam masyarakat muslim di Kota Gorontalo pada awalnya berasal dari nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Namun dengan masuknya Islam dan menjadi agama seluruh masyarakat Gorontalo, hukum waris adat tersebut berubah menjadi Islami yang ditandai dengan hidupnya hukum Islam tercermin pada pelaksanaan hukum dalam masyarakat pada saat itu selalu mengacu pada tiga prinsip hukum adat Gorontalo, yaitu: (1) adati hula-hula’a to syara’a (hukum adat bertumpuk pada hukum syarak); (2) adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to adati (hukum adat bertumpuk pada hukum syarak dan hukum syarak bertumpuk pada hukum adat); (3) adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to Kitabi (hukum adat bertumpuk hukum syarak dan hukum syarak bertumpuk pada al-Qur’an dan hadis Nabi saw). Tiga macam prinsip ini merupakan pijakan masyarakat Gorontalo dalam menyelesaikan persoalan hukum, tetapi kemudian hal ini berubah disebabkan kebijakan politik hukum Belanda dengan teori hukumnya (teori resceptie in complexu dan teori receptie), berhasil mengeluarkan hukum adat dari pengaruh hukum Islam yang hingga sekarang masih dirasakan. Inilah sebabnya munculnya praktik pewarisan yang tidak sejalan dengan prinsip hukum Islam dalam masyarakat.
HUKUM DISTRIBUSI DAGING QURBAN KEPADA NON-MUSLIM MENURUT PANDANGAN MAJLIS AGAMA ISLAM PROVINSI PATTANI THAILAND SELATAN Ka-nga, Muhammadrodee; Djalaluddin, Mawardi; Sanusi, Nur Taufiq
Jurnal Diskursus Islam Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v4i2.7515

Abstract

Tulisan ini membahas tentang hukum distribusi daging qurban kepada non-Muslim pada Pandangan Majlis Agama Islam Provinsi Pattani Thailand Selatan. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Lokasi yang akan menjadi tempat penelitian ini di Majlis Agama Islam provinsi Pattani Thailand Selatan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan tologis normatif dan sosiologis. Sumber data primer diperoleh dari lembaga Majlis Agama Islam provinsi pattani Thailand Selatan, melalui wawancara dan catatannya dalam menghukum tentang distribusi daging qurban kepada non-muslim. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan instrumen penelitian adalah pedoman wawancara dan pedoman observasi. Teknik pengolahan dan analisis terhadap data dilakukan dengan reduksi data, display data dan verifikasi data. Pengujian keabsahan data, peneliti menekankan pada uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap hasil penelitian melalui beberapa tahap antara lain; memperpanjang pengamatan, meningkatkan ketekunan dalam penelitian, melaksanakan triangulasi sumber data maupun teknik pengumpulan data, melakukan diskusi dengan sejawat/orang yang berkompeten menyangkut persoalan yang sedang diteliti, serta mengadakan member chek untuk memastikan kesesuaian data yang telah diberikan oleh pengurus.Hasil penelitian menunjukkan bahwa para imam mazhab sepakat bahwa udhiyyah (penyembelih hewan qurban) disyari’atkan dalam Islam. Namun para ulama berbeda pendapat, apakah boleh dibolehkan memberi daging qurban kepada non-Muslim. Hal ini kerana tidak ada ayat ataupun hadis yang menerangkan, juga tidak ada ayat ataupun hadis yang mengkhususkan pembagian daging qurban hanya untuk orang Islam saja, dan juga tidak ada ijma’ ulama pada masalah ini. Namun masalah distribusin daging qurban kepada non-Muslim adalah masalah furu’iyah, ada perbedaan di antara ulama-ulama fuqaha. Hal ini karena tidak ada ayat atau pun hadis Nabi saw. yang melarangnya dan tidak ada yang mengkhususkan pembagian daging qurban hanya untuk orang Islam saja. Tetapi ada Ayat dan hadis yang menyebabkan larangan diberikan daging qurban kepada non-Muslim. Maka pandangan Majlis Agama Islam Provinsi Pattani, bahwa tidak boleh sama sekali diberikan daging qurban kepada non-Muslim di Pattani, kerana kafir musyrik dan ahli harbi. Sementara daging qurban itu adalah daging ibadah, maka yang boleh hanya sesama muslim dan non-Muslim ahli ibadah, yakni  yang pemeluk agama samawi.