Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Aktivitas Analgesik Ekstrak Etanol 70% Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada Mencit Secara In Vivo Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Ratnasari, Pande Made Desy; Ardianti, Ni Putu Lia
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i1.737

Abstract

Nyeri ditandai rasa tidak nyaman akibat adanya kerusakan jaringan tubuh sehingga memerlukan pengunaan obat golongan non steroid antiinflamatory disease (NSAID) untuk mengatasi nyeri. Penggunaan obat NSAID jangka panjang memiliki resiko efek samping pada saluran pencernaan. Ekstrak Etanol 70% kayu secang mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid yang dapat menghasilkan efek analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgesik menggunakan beberapa varian dosis ekstrak etanol 70% kayu secang pada mencit secara in vivo yang diinduksi asam asetat. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan proses ekstraksi menggunakan maserasi ultrasonik dengan pelarut etanol 70%. Uji analgesik dilakukan menggunakan metode writhing test. Hewan uji yang digunakan adalah mencit yang dikelompokkan menjadi kontrol negatif, kontrol positif, dan kelompok varian dosis 50mg/kgBB (S1), 100mg/kgBB (S2), dan 200mg/kgBB (S3). Aktivitas analgesik dilihat berdasarkan %Proteksi geliat dan %Daya analgesik serta dianalisis secara statistik menggunakan kruskal-wallis dan Post-Hoc Pairwise Comparisons. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 70% kayu secang mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Hasil uji analgesik didapatkan %Proteksi geliat S1, S2, dan S3 masing-masing sebesar 54,62%, 80,81%, dan 87,62%, serta %Daya analgesik masing-masing sebesar 115,20%, 170,45%, dan 184,81%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan (<0,05) antara varian dosis S2 dan S3 dengan  kontrol negatif. Hasil penelitian ini menunjukan ekstrak etanol 70% kayu secang memiliki aktivitas sebagai analgesik dengan semakin tinggi jumlah ekstrak yang digunakan aktivitas analgesik yang dihasilkan semakin tinggi sehingga ekstrak etanol 70% kayu secang dapat dikembangkan menjadi sediaan obat berbasis herbal sebagai analgesik.
Identifikasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 pada Karyawan Apotekku Group Wilayah Bali Periode Februari-Maret Tahun 2023 Ratnasari, Pande Made Desy; Yuliawati, Agustina Nila; Dewi, Gusti Ayu Putu Suci Nirmala; Sapitri, Ni Kadek Dwita; Angoluan, Rona; Hardianta, I Nyoman
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 5, No 2 (2025): Generics : Journal of Research in Pharmacy Volume 5, Edisi 2, 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v5i2.26666

Abstract

Hingga kini belum ditemukan obat untuk menangani penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), sehingga pemerintah melakukan upaya pencegahan dengan pemberian vaksinasi. Setelah pemberian vaksinasi, muncul beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menandakan vaksin telah bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran KIPI setelah pemberian vaksin COVID-19. Rancangan penelitian adalah cross-sectional yang melibatkan 105 responden (Februari-Maret 2023) diambil dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi (seluruh karyawan Apotekku Group Bali yang telah divaksin COVID-19 dan kriteria eksklusi (responden tidak bersedia atau menyetujui informed concent). Pengumpulan data menggunakan panduan wawancara terstruktur, lalu melihat kartu dan catatan vaksinasi responden. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (72,38%), berusia 21-25 tahun (44,76%) dan berprofesi tenaga vokasi farmasi (69,52%). Seluruh responden tidak memiliki riwayat komorbid dan alergi. Jenis vaksin yang mayoritas diberikan adalah Sinovac dosis pertama (56,20%) dan kedua (55,00%), sementara Astra Zeneca dosis ketiga (44,16%) dan Moderna dosis keempat (55,56%). Gambaran KIPI yang kerap dialami (dosis 1-4) adalah nyeri area suntikan (29,62-46,55%; 34,10-54,83%; 33,33-62,50%; 57,14-60%). Waktu munculnya KIPI paling banyak 1 jam setelah vaksinasi (54,91%) dengan durasi 1 hari (55,20%) serta penanganan dengan parasetamol (69,50 %). Temuan menunjukkan mayoritas KIPI pada pemberian vaksin COVID-19 tidak menimbulkan keparahan, namun hanya memberikan rasa tidak nyaman.
Identifikasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 pada Karyawan Apotekku Group Wilayah Bali Periode Februari-Maret Tahun 2023 Ratnasari, Pande Made Desy; Yuliawati, Agustina Nila; Dewi, Gusti Ayu Putu Suci Nirmala; Sapitri, Ni Kadek Dwita; Angoluan, Rona; Hardianta, I Nyoman
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 5, No 2 (2025): Generics : Journal of Research in Pharmacy Volume 5, Edisi 2, 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v5i2.26666

Abstract

Hingga kini belum ditemukan obat untuk menangani penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), sehingga pemerintah melakukan upaya pencegahan dengan pemberian vaksinasi. Setelah pemberian vaksinasi, muncul beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menandakan vaksin telah bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran KIPI setelah pemberian vaksin COVID-19. Rancangan penelitian adalah cross-sectional yang melibatkan 105 responden (Februari-Maret 2023) diambil dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi (seluruh karyawan Apotekku Group Bali yang telah divaksin COVID-19 dan kriteria eksklusi (responden tidak bersedia atau menyetujui informed concent). Pengumpulan data menggunakan panduan wawancara terstruktur, lalu melihat kartu dan catatan vaksinasi responden. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (72,38%), berusia 21-25 tahun (44,76%) dan berprofesi tenaga vokasi farmasi (69,52%). Seluruh responden tidak memiliki riwayat komorbid dan alergi. Jenis vaksin yang mayoritas diberikan adalah Sinovac dosis pertama (56,20%) dan kedua (55,00%), sementara Astra Zeneca dosis ketiga (44,16%) dan Moderna dosis keempat (55,56%). Gambaran KIPI yang kerap dialami (dosis 1-4) adalah nyeri area suntikan (29,62-46,55%; 34,10-54,83%; 33,33-62,50%; 57,14-60%). Waktu munculnya KIPI paling banyak 1 jam setelah vaksinasi (54,91%) dengan durasi 1 hari (55,20%) serta penanganan dengan parasetamol (69,50 %). Temuan menunjukkan mayoritas KIPI pada pemberian vaksin COVID-19 tidak menimbulkan keparahan, namun hanya memberikan rasa tidak nyaman.
ANALYSIS BETWEEN THE NUMBER OF ANTIHYPERTENSIVE WITH MEDICATION ADHERENCE IN END STAGE RENAL DISEASE Ratnasari, Pande Made Desy; Yani, Ketut Lia Pran Anggar; Arini, Heny Dwi
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 8 No 1 (January-April 2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/pharmacy.v8i1.5611

Abstract

End-Stage Renal Disease (ESRD) is a condition of severe renal damage associated with a higher incidence of hypertension that requires antihypertensive therapy to prevent the worsening disease. Therefore, patients who received more than two types of antihypertensives have affected medication adherence. This study aimed to analyze relationship between the number of antihypertensives and medication adherence in ESRD patients. The study was a cross-sectional design involving 77 participants selected by a purposive sampling technique at Outpatient Private Hospital Buleleng Bali in July-September 2020. Data were collected based on patient’s medical records and the Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS) questionnaire. The inclusion criteria were ESRD patients aged ≥18 years, with hypertension history, taking the same antihypertensive for three months before the study, sign informed consent, and completed medical record data. Those who were a weak general condition and cognitive impairment were excluded from the study. Data were analyzed using a Kruskal-Wallis test. The results showed that overall, of patients were <65 years old (80.52%), male (70.13%), duration of ESRD <5 years (89.61%), primarily high school (57.14%), and without complications (57.1%). Most patients used a combination of two antihypertensives (35.07%), and 61.04% has a high medication adherence. There was no significant relationship between the number of antihypertensives and medication adherence (p=0.847). Nevertheless, it was still shown that the higher number of antihypertensives in ESRD patients was directly proportional to the lower medication adherence.
Association Analysis of Complications, Number of Drugs, and Medication Adherence in End-Stage Renal Disease Patients Undergoing Hemodialysis Ratnasari, Pande Made Desy; Yuliawati, Agustina Nila; Lestari, Gusti Ayu Dewi; Andaresta, Ni Luh Putu Silvia
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30650/jik.v11i2.3809

Abstract

Hemodialysis (HD) in its implementation is reported to cause complications. Complications may cause the patients to receive >3 types of drugs and decrease their medication adherence. This study aimed to analyze the association between the number of complications and the number of drugs, and the association between the number of drugs with medication adherence in End-Stage Renal Disease (ESRD) patients. This research was conducted at the private hospital Denpasar in March-May 2021 with a cross-sectional design involving 93 respondents. The purposive sampling technique was used according to inclusion criteria (ESRD patients with complications, undergoing HD at least twice a week, signing informed consent) and exclusion criteria (having poor or unstable health, unable to communicate well). The research instrument used was a questionnaire (ESRD-AQ). The Mann-Whitney test and Kendall tau-b test were used to analyze the association in this study. The results showed that the majority of patients were <65 years old (83.9%), male (66.7%), 35.5% high school education, still working (51.6%), and long of diagnosed with ESRD <5 years (77%). The average patient had ≥2 complications (81.72%) and 80.64% received 1-6 types of drugs with high levels of medication adherence (67.74%). There was an association between the number of complications and the number of drugs (p=0.026) and the association between the number of drugs and medication adherence (p=0.023) with a weak correlation (r=-0,227). This indicates that complications can affect the number of drugs consumed and indirectly also affect the medication adherence of ESRD patients.
Identifikasi Potentially Inappropriate Medication Pasien Geriatri Dengan Beers Criteria 2023 Dan STOPP Criteria Version 3 Putra, I Wayan Rama Wijaya; Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Ratnasari, Pande Made Desy
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i1.517

Abstract

Pasien geriatri biasanya memiliki beberapa penyakit kronis dengan peresepan obat secara polifarmasi yang beresiko terjadinya Potentially Inappropriate Medication dan menyebabkan Adverse Drug Events (ADEs) pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian Potentially Inappropriate Medication dengan menggunakan Beers dan STOPP Criteria serta menganalisis hubungan antara faktor risiko PIM dengan kejadian PIM. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif observasional secara cross-sectional. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah pasien geriatri. Pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling dengan kriteria inklusi yaitu pasien yang berusia 65 tahun keatas dengan data rekam medik lengkap, dengan kriteria eksklusi yaitu pasien yang meninggal atau dirujuk ke rumah sakit lain selama periode tahun 2023. Sebanyak 373 sampel masuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini. Hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 12,06% kejadian PIM di rawat jalan dengan obat paling tinggi yaitu antihistamin generasi pertama (19,58%), benzodiazepine (15,38%), dan antipsikotik (9,09%). Sedangkan kejadian PIM di rawat inap sebesar 4,48% dengan obat yang paling tinggi yaitu kortikosteroid (20,59%), dan NSAID (11,79%). Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat korelasi yang sangat lemah antara jumlah penyakit dan jumlah obat terhadap resiko kejadian PIM.
Gambaran Penggunaan Insulin Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Rawat Jalan Di Salah Satu Rumah Sakit Negeri Tabanan Bali Ratnasari, Pande Made Desy; Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Arini, Heny Dwi
Acta Holistica Pharmaciana Vol 4 No 1 (2022): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v4i1.63

Abstract

Intisari Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) dengan kontrol glikemik yang buruk berdampak pada peningkatan morbiditas dan mortalitas sehingga diperlukan penggunaan insulin secara dini. Terdapat dua golongan insulin berdasarkan asalnya (manusia dan analog) yang memiliki keunggulan masing-masing, maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan insulin pada pasien DMT2 rawat jalan di salah satu Rumah Sakit Negeri Tabanan Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Desember 2019 dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi yaitu pasien DMT2 rawat jalan yang memperoleh insulin yang sama selama minimal 3 bulan kunjungan, berumur >18 tahun dan data rekam medik yang lengkap. Pengumpulan data berdasarkan rekam medik pasien selama periode September-November 2019 menggunakan instrumen penelitian. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan software Microsoft Excel yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Penelitian ini melibatkan 88 pasien yang mayoritas berumur 46-65 tahun (53,4%), berjenis kelamin laki-laki (53%), tidak bekerja (60%), berpendidikan SD (57%), mengalami DM <5 tahun, 90% mengalami komplikasi mikrovaskuler serta 80% mengalami penyakit penyerta. Seluruh pasien menggunakan insulin analog dengan jenis insulin kerja panjang (49%) yang telah sesuai dengan pedoman terapi. Pengunaan insulin analog lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa keunggulan yaitu efek samping hipoglikemia lebih rendah dan dapat menurunkan HbA1c hingga 2% sedangkan insulin kerja panjang memiliki lama kerja yang panjang yaitu 12-24 jam sehingga mempermudah dalam waktu penyuntikan serta hampir tidak memiliki efek puncak sehingga dapat meminimalkan terjadinya efek hipoglikemia.
Gambaran Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada Karyawan Rumah Sakit Bangli Medika Canti yang Memperoleh Vaksin COVID-19 Ratnasari, Pande Made Desy
Acta Holistica Pharmaciana Vol 5 No 1 (2023): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v5i1.154

Abstract

Hingga saat ini belum ditemukan obat terkait infeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), sehingga organisasi dunia dan pemerintah Indonesia menggalakkan pemberian vaksin untuk menurunkan penyebarannya. Setelah pemberian vaksinasi, dapat muncul beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menandakan vaksin telah bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran KIPI yang terjadi setelah pemberian vaksinasi COVID-19 berdasarkan jenisnya pada karyawan di Rumah Sakit BMC Bangli. Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan jenis observasional. Penelitian melibatkan 250 sampel yang memenuhi kriteria inklusi (karyawan yang memperoleh vaksinasi COVID-19) serta kriteria eksklusi (tidak bersedia menjadi responden) yang dilaksanakan pada bulan Desember 2022. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase dengan bantuan software Microsoft Excel lalu dipaparkan dalam bentuk tabel. Karakteristik demografi responden didominasi perempuan (80,00%), berusia 26-30 tahun (48,40%), bekerja sebagai perawat (45,20%) dan berat badan <75kg (92,80%). Mayoritas responden tidak memiliki alergi obat ataupun makanan (100,00%), tanpa riwayat komorbid (99,60%) dan tidak terinfeksi COVID-19 sebelumnya (92,00%). Jenis vaksin yang dominan digunakan pada dosis pertama dan kedua adalah Sinovac (71,60%; 53,20%), dosis ketiga yaitu Moderna (94,80%) serta dosis keempat yaitu Moderna (59,20%). Gambaran KIPI yang banyak dialami berupa pegal di area suntikan (88,80%), nyeri di area suntikan (82,80%) dan bengkak di area suntikan (59,20%). Waktu munculnya KIPI adalah 1 jam setelah vaksinasi (15,64%) dengan durasi kejadian paling banyak selama 1 hari (15,92%) serta penanganan yang dilakukan dengan obat parasetamol (16,16%). Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa vaksin COVID-19 yang beredar aman digunakan serta mayoritas KIPI yang terjadi setelah pemberian vaksin tidak parah dan memberikan perlindungan terkait infeksi.
Analysis of the Relationship Between Providing Drug Information, Medication Adherence, and Glycemic Control in Type 2 Diabetes Outpatients at the North Denpasar Health Center Ratnasari, Pande Made Desy; Yuliawati, Agustina Nila; Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Krisnamahesswari, Ni Luh Koming
Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas (Journal of Pharmaceutical Sciences and Community) Vol 22, No 2 (2025)
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jpsc.009708

Abstract

Medication adherence among patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) continues to be a difficult challenge. Providing drug information (PDI) at health centers can enhance medication adherence and help patients achieve glycemic control. A cross-sectional study was conducted in February-April 2024 at the North Denpasar Health Center. Inclusion criteria were patients 18 years old either with or without comorbidities, receiving the same antidiabetic treatment for ≥3 months. Exclusion criteria were patients who withdrew from the study, changed their care, or had unstable health conditions. Medication adherence data were collected using the Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS) questionnaire, PDI data and fasting blood glucose (FBS) examination results in medical records using data collection documents. Correlation analysis between PDI and medication adherence and glycemic control used the Kendall's tau-b/c test. Results showed patients were mostly male (53.84%), age ≥65 (43.20%), elementary school education (35.50%), unemployed (63.90%), no family history (70.41%), disease duration 5 years (62.72%), with comorbidities (65.09%), and FBS achieved (81.66%). The antidiabetic used was a combination of metformin and glimepiride (54.43%). A total of 81.65% obtained routine PDI with high medication adherence (48.52%). The conclusion of the study was that there was a significant relationship between PDI with medication adherence (p=0.000; r=0.253) and glycemic control (p=0.000; r=0.447).