Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antidiabetes Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap di Rumah Sakit Nasional di Dili Putu Dian Marani Kurnianta; Gracia Isabel Baptista Soares; Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya; Agustina Nila Yuliawati
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 19 No 1 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v19i1.1338

Abstract

Among several types of diabetes mellitus (DM), type-2 DM seemed to demonstrate the highest prevalence. Appropriate management in type-2 DM should follow rational use of antidiabetic agents to prevent any unfavorable impacts. In fact, due to the limited guidelines and medication resources, medication process for patients with type-2 DM has not been evaluated in Timor-Leste, especially at a national hospital in Dili. This was the first study which aimed to evaluate the use of oral antidiabetic agents (OAD) in hospitalized patients with type-2 DM at a national hospital, Dili Timor-Leste.This study was conducted retrospectively under cross-sectional design to describe the rational drug use evaluation based on indicators: right patient, right dose, right indication, right drug, and cautious to adverse events according to guideline from American Diabetes Association (2020). The included patients were diagnosed as type-2 DM, hospitalized during year 2020, and received OAD. Data were calculated (%) for each indicator of rational drug use.A total number of 83 hospitalized patients with type-2 DM at a national hospital in Dili had taken metformin (62.65%), gliclazide (12.15%), and combination of both metformin and gliclazide (22.89%), respectively. The evaluation results of OAD use according to ADA guideline comprised of right indication 100%, right patient 100%, right drug 72.28%, right dose 100%, and cautious to adverse events 93.7%. Despite favorable results in rational medication, enhancement for limitation of OAD use at a national hospital in Dili, Timor-Leste is compulsory.
PENGGUNAAN STATIN DAN ANTIPLATELET SEBAGAI PENCEGAHAN SEKUNDER KOMPLIKASI KARDIOVASKULER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Pande Made Desy Ratnasari; Putu Dian Marani Kurnianta; Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 24 No. 2 (2020): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v24i2.10384

Abstract

Resistensi insulin pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kardiovaskuler yang selanjutnya dapat berkontribusi sebagai penyebab utama kematian. Resistensi insulin meningkatkan kerentanan pasien mengalami aterosklerosis dan menimbulkan gangguan pada fungsi platelet di pembuluh darah yang dapat berdampak pada peningkatan risiko komplikasi kardiovaskuler. Sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan mengurangi risiko tersebut, Canadian Cardiovascular Society Guidelines tahun 2011 dan American Diabetes Association tahun 2019 merekomendasikan penggunaan golongan statin dan antiplatelet sebagai upaya pencegahan sekunder komplikasi kardiovaskuler pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan statin dan antiplatelet sebagai pencegahan sekunder pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi kardiovaskuler. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 110 pasien di RSU Puri Raharja Denpasar Bali periode November 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 110 pasien yang memenuhi kriteria penggunaan statin, hanya 42 pasien (38,1%) yang menggunakan statin (simvastatin 20 mg; 95,2%). Selain itu, dari total 96 pasien yang memenuhi kriteria penggunaan antiplatelet, hanya 52 pasien (47,3%) yang menggunakan antiplatelet (aspirin 80 mg; 82,7%). Penelitian ini merefleksikan penggunaan statin yang masih rendah dalam upaya pencegahan sekunder komplikasi kardiovaskuler pada pasien DM tipe 2. Meskipun terdapat kecenderungan tingkat penggunaan antiplatelet aspirin yang lebih tinggi daripada statin dalam penelitian ini, pemberian aspirin selanjutnya masih perlu ditingkatkan lagi bersama-sama dengan peningkatan pemberian statin.
KETERCAPAIAN TARGET GLIKEMIK DAN ANALISIS FAKTORFAKTOR TERKAIT PADA PASIEN DIABETES TIPE 2 Putu Dian Marani Kurnianta; Pande Made Desy Ratnasari; Heny Dwi Arini
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 25 No. 2 (2021): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v25i2.13037

Abstract

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan keterkaitan antara rendahnya ketercapaian target glikemik selama pengobatan DM tipe 2 dengan risiko komplikasi kronik. Apabila kegagalan pengobatan tersebut diabaikan, maka ancaman global yang dihadapi akan terus meningkat. Oleh karena itu, penelitian cross sectional ini bertujuan untuk menyelidiki kegagalan pengobatan, khususnya ketercapaian target glikemik berupa tingkat kejadian dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pasien DM tipe 2 di daerah Gianyar. Data rekam medik dari salah satu rumah sakit di Gianyar, Bali, selama periode 2016-2020, diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang meliputi pasien rawat jalan berusia ≥18 tahun, terdiagnosis DM tipe 2 pertama kali, tidak berpindah fasilitas kesehatan selama enam bulan, dan memperoleh antidiabetika oral atau insulin secara konsisten. Penentuan status kegagalan pengobatan berdasarkan target kontrol glikemik oleh ADA. Pada sejumlah total 145 subjek yang terlibat, proporsi kegagalan pengobatan DM tipe 2 mencapai 64,83%. Hasil analisis deskriptif enam faktor pada penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan pengobatan cenderung terjadi pada laki-laki (59,57%), usia ≤60 tahun (75,53%), subjek yang tidak bersekolah (39,36%), subjek dengan komplikasi (7,45%), subjek berpenyakit penyerta (51,06%), dan pengguna insulin (58,51%). Berdasarkan Uji χ2 atau Uji Fisher’s Exact (p<0,05, 95%), penelitian ini mempresentasikan hubungan signifikan antara faktor usia dan faktor penggunaan antidiabetika terhadap tingginya kegagalan pencapaian target glikemik selama pengobatan.
Empowerment Program in Pesagi Village Community: Assistance in Compounding Innovative Peel-off Pain Reliever (UNO) Derived from Family Medicinal Plants Putu Dian Marani Kurnianta; Agustina Nila Yuliawati; I Komang Tri Musthika; Ni Kadek Ayu Sri Darma Putri; Ni Luh Putu Asra Dianita; Ni Putu Sudiasih; Ni Made Ayu Lestari; Ni Putu Arik Candra Wahyuni; I Putu Gede Hendra Wiarta; Powen Ester Jacqlien Fangidae; I Made Ngurah Arya Kresna Acharya Putra
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4555.825 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.74515

Abstract

The abundance of family medicinal plants (TOGA) growing in the yards of the house can be utilized for one of the health products called boreh, a traditional medicine used from generation to generation by the Balinese. Boreh can be innovated into a peel-off preparation form that has some potential to increase public interest in traditional medicine. The contents of TOGA, such as ginger, turmeric, and galangal in the peel-off boreh preparation, may exhibit beneficial effects as a pain reliever. Therefore, the mentioned product can be used to overcome pain problems that are commonly found in the people of Pesagi Village. The ideas related to compounding certain innovative herbal preparations for overcoming health problems in Pesagi Village were carried out through community empowerment activities. A series of program activities took place during January-April 2022. The purpose of this community empowerment program was to provide training and assistance activities to the people of Pesagi Village in the practice of utilizing TOGA as an innovative boreh peel-off preparation, namely UNO, with empirical pain reliever properties. Guidance and assistance in compounding practice were based on the results of dosage formulation previously developed by the executive team in the School of Pharmacy Mahaganesha Laboratory. This empowerment program was executed through a learning-by-doing approach, integrated training, participatory practice, and guided mentoring by the executive team with knowledge and skills evaluation (pre-test and post-test, p=0.000, 95%). After the empowerment program, the community has been able to practice how to turn TOGA from the ground into a useful product. The innovative products in this empowerment program may offer some potential benefits to overcome certain health-related problems of the community in Pesagi Village, such as joint pain. The success of this program may encourage the sustainability of the program in the future.
EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL 70% KULIT BUAH POMELO (Citrus maxima (Burm.) Merr) PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR BERDASARKAN DOSIS PEMEJANAN Putu Dian Marani Kurnianta; Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya; Elisabeth Oriana Jawa La; I Gede Krisna Yudiarta
PROSIDING SIMPOSIUM KESEHATAN NASIONAL Vol. 2 No. 1 (2023): Simposium Kesehatan Nasional
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.065 KB)

Abstract

Beberapa penelitian menunjukkan hasil positif terkait efek antiinflamasi ekstrak kulit buah pomelo pada model hewan uji, namun pengamatan efek berdasarkan perbedaan dosis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek antiinflamasi dari beberapa dosis pemejanan ekstrak etanol kulit buah pomelo atau Citrus maxima (Burm). Merr. pada tikus putih jantan galur Wistar dengan metode carrageenan-induced hind paw edema. Volume edema berbeda secara signifikan antara kelompok ekstrak dengan kontrol negatif CMC-Na pada menit ke-120 (p=0,013). Penghambatan inflamasi terendah hingga tertinggi ditimbulkan oleh ekstrak dosis 100, 400, dan 200 mg/kg secara berturut-turut. Jadi, efek antiinflamasi berdasarkan perbedaan dosis pada penelitian ini bersifat non-linear.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS KOMBINASI ANALGESIK OPIOID PADA PASIEN PASCA OPERASI SESAR DI RSIA PUCUK PERMATA HATI DENPASAR Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya; Mahadri Dhrik; Putu Dian Marani Kurnianta
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 2 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i2.4366

Abstract

Childbirth is the culmination of a series of pregnancies, one of the delivery methods is by caesarean section with common complaints after that being pain and difficulty in the mobility of the patient. This study aimed to determine the profile and effectiveness of combination therapy with opioid analgesics used to reduce pain after caesarean section based on the value of the Visual Analogue Scale (VAS). This research was conducted at RSIA Pucuk Permata Hati Denpasar. This study was conducted in a cross-sectional manner. This study used all medical record data for pregnant women who gave birth by caesarean section and had VAS values before and 6 hours after receiving opioid analgesic combination therapy in January-December 2021. Samples were taken using a probability sampling technique with a simple random sampling approach. Data were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov test and the Kruskal-Wallis test to see differences in the effectiveness of combination analgesics therapy. Based on 183 samples (each group 61 samples), the highest age group was 21-30 years (52.46%), with the gestational age at 40 weeks (70.49%). The combination therapy with opioid-opioid (pethidine-morphine) has better effectivity based on the mean of lowering pain intensity with a VAS scale (2.05 ± 0.59). The normality test showed that the data were not normally distributed (p 0.05). The Kruskal-Wallis test showed that there was no significant difference (p-value 0.748 0.05) in the usage of three combination analgesics therapies to reduce pain in post-caesarean patients based on VAS values
EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING MELALUI SUPLEMENTASI PADA KADER POSYANDU DESA WONGAYA GEDE Kurnianta, Putu Dian Marani; Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Astari, Ni Komang Eni; Ricardo, I Komang Aan Adi
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v4i1.1395

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya, namun hingga saat ini kejadian stunting masih terjadi. Pemberian suplemen mikronutrien berupa vitamin dan mineral merupakan salah satu upaya dalam pencegahan stunting. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan mengenai peran penting suplemen pada ibu hamil, balita, wanita usia subur, dan remaja putri untuk mencegah terjadinya stunting, dengan melibatkan 44 kader Posyandu di Desa Wongaya Gede. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan memberikan edukasi melalui media PowerPoint. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil antara pre-test dan post-test dengan menggunakan kuesioner yang telah memenuhi uji validitas. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan setelah pemberian edukasi (pre-test dan post-test, p=<0,001, 95%). Tingkat pengetahuan yang sebelumnya masuk dalam kategori “Cukup” (73,2%) meningkat menjadi “Baik” (82,7%) setelah diberikan edukasi. Kami berharap kegiatan edukasi ini dapat menjadi program yang berkelanjutan, sehingga para kader dapat lebih paham mengenai cara mencegah stunting dan tidak ada lagi kasus stunting pada balita di Desa Wongaya Gede.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU90% pada Pasien Pneumonia di RSD X Tahun 2022 Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya; I Gede Eka Juni Suteja Wijaya; Putu Dian Marani Kurnianta
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.398

Abstract

Pneumonia merupakan penyakit saluran pernafasan yang terjadi akibat infeksi mikroorganisme dengan penggunaan antibiotik yang dapat menjadi salah satu penyebab tidak rasionalnya penggunaan obat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memastikan penggunaan antibiotik yang rasional yaitu melakukan evaluasi penggunaan obat (EPO). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode ATC/DDD (DDD/100 hari rawat) dan DU 90% pada pasien pneumonia rawat inap di RSD X Kabupaten Badung tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif observasional rancangan cross sectional dengan teknik simple random sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu data rekam medis pasien pneumonia rawat inap pasien berusia 18 – 65 tahun yang menerima antibiotik (memiliki kode ATC) pada periode Januari – Desember 2022. Kriteria eksklusi penelitian adalah data rekam medis pasien yang dirujuk, meninggal, dan pulang paksa. EPO dilakukan dengan metode DDD/100 hari rawat dan DU 90% dengan penilaian rasionalitas pengobatan berdasarkan formularium nasional. Terdapat 15 antibiotik dengan total nilai DDD/100 hari rawat sebesar 171,85 dan penggunaan terbanyak yaitu infus levofloksasin (79,88), dan injeksi seftriakson (40,52). Antibiotik dalam segmen DU 90% yaitu infus levofloksasin (46,51%), injeksi seftriakson (23,60%), tablet azitromisin (4,74%), injeksi sefoferason (4,18%), injeksi meropenem (4,06%), infus siprofloksasin (3,89%), dan tablet levofloksasin (3,59%). Berdasarkan hasil evaluasi diketahui bahwa antibiotik spektrum luas (florokuinolon, sefalosporin, atau makrolida) paling banyak digunakan pada pasien pneumonia. Tingginya nilai total DDD/100 hari rawat menunjukkan bahwa semakin tinggi pula  tingkat pemakaian antibiotik dalam 100 hari rawat serta banyaknya obat yang masuk dalam segmen DU 90% menandakan kurang selektifnya pemilihan antibiotik dalam terapi.
ASESMEN RISIKO PERDARAHAN SEKELOMPOK PASIEN FIBRILASI ATRIUM PENERIMA WARFARIN BERDASARKAN NILAI HAS-BLED DI RS ABC GIANYAR Putu Dian Marani Kurnianta; Ni Komang Putri Pradnyani; Kadek Dwi Oktariadi; Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 1 (2024): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v9i1.1590

Abstract

In the management of atrial fibrillation (AF) preventing risk of stroke, warfarin may be prescribed. Warfarin’s narrow therapeutic index encourages the importance of regular monitoring during therapy to avoid the risk of bleeding. This study aimed to describe the risk of bleeding in a group of patients with AF receiving warfarin based on HAS-BLED score assessment at ABC Hospital Gianyar, Bali. A descriptive-observational study was conducted under retrospective case study approach involving outpatient’s data at mentioned hospital. This study included all patients with AF receiving warfarin based on visit history during January 2022-May 2023. Risk of bleeding documentation addressed the HAS-BLED assessment which then were illustrated into tables and diagram according to patients’ profile. From a total of eight eligible patients, five patients (62.5%) had moderate-risk of bleeding (score 1-2) and the rest were in the low-risk category (score 0). Advanced age >65 y.o. (50.00%), use of specified drugs (25.00%), and high INR values had contributed to the findings of moderate-risk based on stratification category. Despite the absence of high-risk category, therapeutic monitoring is necessary focusing on modifiable risk factors. The limited number of samples and several laboratory parameters may suggest for the advancement of clinical practice and further research.
Association Between Antidiabetic Pattern with Medication Adherence in Type 2 Diabetes Patients at Buleleng Hospital: Hubungan Antara Pola Penggunaan Antidiabetik dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Salah Satu Rumah Sakit Swasta Buleleng Bali Ratnasari, Pande Made Desy; Ardeliani, I Gusti Ayu Indira; Yuliawati, Agustina Nila; Kurnianta, Putu Dian Marani
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 9 No. 2 (2023): (October 2023)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2023.v9.i2.15908

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is a chronic disease which requires long-term therapy. Medication adherence plays an important role for therapeutic success in patients with T2DM. Antidiabetic usage pattern might involve with some problems related to medication adherence. Objectives: The aim of this study was to analyze the association between antidiabetic usage pattern with medication adherence. Material and Methods: This observational study was conducted cross-sectionally involving 90 participants of T2DM outpatient at Private Hospital in Buleleng Bali during July-September 2020. Patients were included if aged ≥18 years, received the same antidiabetic for three months before the study, signed informed consent, and provided with complete medical record data. Patients were excluded if appeared to be unwell, pregnant or breastfeeding. Demographic data and antidiabetic usage patterns were collected retrospectively based on the patient's medical records. Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS) questionnaire was used to assess medication adherence. Data were analyzed with Kruskal-Wallis test. Results: The results showed that 55.6% patients were male, aged 46-65 years (61.1%), education predominantly by elementary school (37.8%), had suffered from DM for 5-10 years (46.7%), with comorbidities (50%), and without complications (77.8%). The antidiabetic usage pattern was dominated by a combination of two antidiabetics (53.3%). Most patients (42.2%) showed moderate-high medication adherence. There was no statistically significant association between antidiabetic usage pattern and medication adherence (p=0.275). Conclusions: A higher rate of medication adherence was found in patients taking combination of two antidiabetics compared to combination of three or four antidiabetics.