Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Telepractice Reading Intervention using Orton-Gillingham Approach for Child with Dyslexia Rahma, Puti Aulia; Boediman, Lia Mawarsari
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, Juni 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i2.10830

Abstract

Specific learning disorders are one of the neurodevelopmental disorders that cause obstacles in a person's academic performance. One category of specific learning disorders is dyslexia, which is a learning disorder caused by reading difficulties. Dyslexia can have a negative impact on children's well-being and learning motivation, therefore special interventions need to be carried out to improve reading skills. One of the most widely used interventions in the world is the reading intervention with the Orton-Gillingham approach. Current technological developments allow practitioners to conduct telepractice, or the implementation of assessments and therapies through online means. Telepractice is gaining popularity because with this method, practitioners can reach groups in need even though they are far apart. This study aimed to see if reading interventions with the Orton-Gillingham approach given through telepractice could improve beginning reading skills. The study participants were 10-year-old boys who had mild dyslexia. This study consisted of 10 sessions divided into pre-test, 8 intervention sessions, and post-test. Early Grade Reading Assessment (EGRA) was used to measure participants' reading ability before and after the intervention. The results showed an increase in participants' EGRA scores after the intervention was given. In conclusion, interventions with the Orton-Gillingham approach can be provided using telepractice methods and are useful in improving the early reading skills of children with mild dyslexia.Gangguan belajar spesifik merupakan salah satu gangguan neurodevelopmental yang menyebabkan hambatan dalam performa akademik seseorang. Salah satu kategori dari gangguan belajar spesifik adalah disleksia, yaitu gangguan belajar yang disebabkan oleh kesulitan membaca. Disleksia dapat menimbulkan dampak negative terhadap kesejahteraan dan motivasi belajar anak, oleh karena itu perlu dilakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kemampuan membaca. Salah satu intervensi yang paling banyak digunakan di dunia adalah intervensi membaca dengan pendekatan Orton-Gillingham. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan praktisi untuk melakukan telepraktik, atau pelaksanaan asesmen dan terapi melalui sarana daring. Telepraktik mulai populer karena dengan metode ini, praktisi dapat menjangkau kelompok yang membutuhkan meskipun terpisah jarak yang jauh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah intervensi membaca dengan pendekatan Orton-Gillingham yang diberikan melalui telepraktik dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Partisipan penelitian adalah anak laki-laki berusia 10 tahun yang memiliki disleksia taraf ringan. Penelitian ini terdiri dari 10 sesi yang terbagi menjadi pre-tes, 8 sesi intervensi, dan post-tes. Early Grade Reading Assessment (EGRA) digunakan untuk mengukur kemampuan membaca partisipan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada skor EGRA partisipan setelah intervensi diberikan. Sebagai kesimpulan, intervensi dengan pendekatan Orton-Gillingham dapat diberikan menggunakan metode telepraktik serta bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak dengan disleksia taraf ringan.
Emotion Regulation Training Based on Cognitive Behavioral Therapy to Reduce Anxiety Levels in Adolescent Afifah, Nursita; Boediman, Lia Mawarsari
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i4.16743

Abstract

Untreated anxiety may cause various problems in teenagers, such as difficulty in daily activities, social relationship problems, lack of academic performance, and other more complex problems. This research was a quasi-experimental research with a one-group pretest-posttest design that aims to examine the effect of emotion regulation training based on Cognitive Behavior Therapy (CBT) in reducing adolescent anxiety levels. The participants consisted of 5 female adolescents (13-14 years) who had moderate to severe anxiety and emotion dysregulation problems. Training is carried out in 5 sessions of 1-1.5 hours. Difficulties in Emotion Regulation Scale Short Form (DERS-SF) and Depression Anxiety Stress Scales (DASS 21) were used to measure the level of emotion dysregulation and anxiety before, after, and 3 weeks after the training. The results showed decreased emotion dysregulation (26.9%-30.5%) and anxiety (17.1%-42.8%) among participants. Emotion regulation training based on CBT was effective in increasing the ability to manage emotions and reducing anxiety levels in adolescents. This training can be considered as a group intervention method to overcome anxiety problems in adolescents. Masalah kecemasan yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan berbagai hambatan pada remaja, seperti kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, masalah dalam relasi sosial, kurangnya performa akademik dan berbagai persoalan lain yang lebih kompleks. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan one-group pretest-posttest design yang bertujuan menguji efektivitas pelatihan regulasi emosi berbasis Cognitive Behavior Therapy (CBT) dalam menurunkan tingkat kecemasan pada remaja. Partisipan penelitian ini adalah 5 orang remaja perempuan (13-14 tahun) yang memiliki masalah kecemasan dan disregulasi emosi tingkat sedang hingga berat. Pelatihan dilakukan dalam 5 sesi dengan durasi 1-1,5 jam pada tiap pertemuan. Pengukuran dilakukan dengan Difficulties in Emotion Regulation Scale Short Form (DERS-SF) dan Depression Anxiety Stress Scales (DASS 21) untuk mengetahui perubahan tingkat disregulasi emosi dan kecemasan sebelum, setelah dan 3 pekan setelah pelatihan dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan disregulasi emosi (26,9%-30,5%) dan kecemasan (17,1%-42,8%) pada partisipan. Pelatihan regulasi emosi berbasis CBT efektif meningkatkan kemampuan mengelola emosi dan menurunkan tingkat kecemasan pada remaja. Pelatihan ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu metode intervensi kelompok guna mengatasi masalah kecemasan pada remaja.
STRATEGI SELF-COMPASSION: MENGURANGI STRES DI KALANGAN SISWA SMA Febrianti, Vinesia; Boediman, Lia Mawarsari
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 16 No. 2 (2024): JIP: Jurnal Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol16.iss2.art6

Abstract

ABSTRAK: Stres yang tinggi merupakan suatu kondisi yang sering terjadi pada siswa SMA dikarenakan semakin meningkatnya tuntutan dan perencanaan masa depan. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengelola stres adalah melalui praktik self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas intervensi self-compassion terhadap penurunan stres pada siswa SMA. Penelitian ini menggunakan small-n design dengan 4 partisipan. Pengukuran menggunakan dua alat ukur, yaitu Self-Compassion Scale dan The Perceived Stress Scale. Hasil penelitian menemukan bahwa intervensi self-compassion tidak efektif untuk menurunkan stres pada siswa SMA. Hal tersebut disebabkan tidak semua partisipan mengalami penurunan skor perceived stress dan peningkatan skor self-compassion. Meskipun demikian, terlihat adanya tren yang positif dari hasil penelitian ini, sehingga penerapan intervensi self-compassion dapat dipertimbangkan lebih lanjut untuk menurunkan stres siswa SMA. Kata kunci: self-compassion, stres, siswa SMA. ABSTRACT: High stress levels are a common condition among high school students due to increasing demands and future planning pressures. One potential method for managing stress is the practice of self-compassion. This study aimed to evaluate the effectiveness of self-compassion interventions in reducing stress among high school students. The research employed a small-n design with four participants. Two measurement tools were used: the Self-Compassion Scale and the Perceived Stress Scale. The findings revealed that the self-compassion intervention was not effective in reducing stress among high school students, as not all participants showed a decrease in perceived stress scores or an increase in self-compassion scores. Nevertheless, a positive trend was observed in the results, suggesting that the implementation of self-compassion interventions could be further explored as a potential approach to managing stress in high school students. Key words: self-compassion, stress, high school students.
Quietly Crowded: Peran Moderasi Kualitas Hubungan Positif di Dunia Maya Terhadap Kesepian dan Subjective Well-Being Masyarakat Perkotaan Erica, Luisa; Pudjiati, Sri Redatin Retno; Boediman, Lia Mawarsari
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v39i2.6078

Abstract

Loneliness is commonly experienced by individuals in urban communities because of the difficulties in establishing close relationships in urban settings. One way to deal with loneliness in the real world is to find virtual friends in cyberspace. In other words, high level of loneliness can cause social relationship in the virtual world to increase and social relationship in the real world to decrease. The social compensation model hypothesized that higher quality interaction with virtual friends could reduce loneliness levels and ultimately increase one's subjective well-being because this interaction is considered a safe relationship and a preference for those who feel isolated. By utilizing the Social and Emotional Loneliness Scale for Adults - Short Version (SELSA-S), the Positive Negative Relationship Quality (PN-RQ) Scale, and the Satisfaction With Life Scale (SWLS), this study found that positive relationship quality in cyberspace (with virtual friends) significantly moderated the association between loneliness levels and subjective well-being (N = 300). Therefore, this study’s results show that not all online interactions are detrimental to individual’s mental health. Also, individuals in urban communities should considering focusing more on increasing the quality of interactions, instead of increasing the quantity or number of friendships.
Religious coping among muslim parents of children with disabilities: a narrative review Pratama, Gumelar Ferdiansyah; Boediman, Lia Mawarsari
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 27 No. 2 (2025): AUGUST 2025
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/psikologi.v27i2.4711

Abstract

This narrative review explores how Muslim parents of children with disabilities draw on religious coping (RC) to navigate parenting challenges. The literature search covered three major international databases and manual sources, yielding 136 articles published between 2011 and 2025. In the end, 13 articles met the inclusion criteria and were included in the analysis. The quality and narrative suitability of the articles were evaluated using the SANRA (Scale for the Assessment of Narrative Review Articles) protocol. The review identified three main themes: (1) the types of RC strategies used by Muslim parents, (2) the factors influencing their use of RC, and (3) the impact of RC on well-being and parenting practices. Overall, RC plays an essential role in helping Muslim parents adapt, manage stress, cultivate inner peace, and maintain a sense of meaning and hope in their parenting journey. It also supports the development of positive attitudes, strengthens moral responsibility, and enhances overall well-being. This review underscores the importance of integrating religious perspectives into psychosocial support for families of children with disabilities in Muslim communities.
DIR/floortime Approach to Improve Two-way Communication Skills in Children with Autism Spectrum Disorder Rahmani, Hana Lazuardy; Boediman, Lia Mawarsari
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.14419

Abstract

The limited ability to engage in two-way social communication poses a significant challenge for children with Autism Spectrum Disorder (ASD). Nevertheless, proficiency in two-way social communication is a crucial skill that children need to foster for their overall development. This study employs a single-subject design (n=1), focusing on early childhood and involving fathers as the primary caregivers. The primary objective is to assess the effectiveness of the DIR/Floortime approach, specifically in enhancing communication skills in children with autism spectrum disorders. This study consisted of 16 sessions which divided into pre-intervention, intervention, and post-intervention sessions. Measurement was conducted using the Circle of Communication (CoC) observation sheet and the Functional-Emotional Assessment Scale (FEAS) to compare participant change in score trends between pre-intervention and post-intervention phases. The research findings indicate that the application of DIR/Floortime principles effective in improving the two-way communication abilities of children with autism spectrum disorders. Consequently, this approach can be considered as an alternative consideration for the intervention of children with autism spectrum disorders.Minimnya kemampuan untuk melakukan komunikasi sosial dua arah menjadi salah satu masalah utama pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autisme. Padahal, kemampuan komunikasi sosial dua arah merupakan salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki oleh anak agar dapat menunjang perkembangannya. Penelitian ini merupakan penelitian single subject design (n = 1) pada anak usia dini dan ayah sebagai pengasuh utama anak yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari pendekatan DIR/Floortime khususnya dalam meningkatkan kemampuan komunikasi pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Penelitian terdiri dari 16 sesi yang terbagi menjadi sesi pra-intervensi, intervensi, dan sesi post-intervensi. Pengukuran menggunakan lembar observasi Circle of Communication (CoC) dan Functional-Emotional Assessment Scale (FEAS) untuk membandingkan perubahan tren skor partisipan pada pra-intervensi dan post-intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip DIR/floortime dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dua arah anak dengan gangguan spektrum autisme. Oleh karena itu, pendekatan ini dapat dijadikan salah satu pertimbangan alternatif penanganan anak dengan gangguan spektrum autisme.