Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

RELEVANSI FILIPI 2:1-11 BAGI GEREJA DALAM MEMBANGUN KESATUAN Giawa, Suarman; Halawa, Iman Kristina
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.181

Abstract

Perpecahan sering kali sulit diatasi oleh karena seorang pemimpin yang cerdas, meski memiliki pandangan teologi yang salah, karakter yang buruk namun memiliki kemampuan sosial yang baik, bisa menyebabkan perpecahan menjadi besar. Paulus mendorong jemaat untuk hidup dalam satu kasih, satu tujuan, dan satu pikiran sebagai wujud nyata dari persekutuan yang didasarkan pada pengalaman bersama akan kasih Kristus dan kehadiran Roh Kudus. Kesatuan yang dimaksud tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga spiritual dan relasional, yang diwujudkan melalui sikap rendah hati, saling mengutamakan, dan teladan hidup Yesus Kristus yang rela mengosongkan diri dan menjadi hamba. Ajaran Paulus ini tetap relevan dan menjadi fondasi untuk membangun komunitas iman yang kuat, harmonis, dan mencerminkan kasih Kristus. Tulisan ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai teologis dan praktis dari Filipi 2:1-11 serta menguraikan implikasinya bagi pembentukan kesatuan gereja di tengah keberagaman umat.
Philosophical Theological Analysis of Stone Jumping Culture In Nias Iman Kristina Halawa* Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu *imankristinahalawasttab@gmail.com Firman Jaya Hia Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu Abstract Culture is a characteristic that expresses the local identity of an area. Culture becomes a unifying method in each region following the beliefs held by each region. Culture is built based on the background of historical phenomena that occur and has its philosophy. Halawa, Iman Kristina; Hia, Firman Jaya
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 1 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i1.454

Abstract

Culture is a characteristic that expresses the local identity of an area. Culture becomes a unifying method in each region following the beliefs held by each region. Culture is built based on the background of historical phenomena that occur and has its philosophy. This research analyzes the philosophical value of the Nias stone-jumping tradition based on a theological perspective. This research uses qualitative research to provide understanding to the people of Nias, who are always enthusiastic about maintaining and preserving the Homba Batu culture. This research results in finding a rock jumping culture that can shape the leadership spirit of Nias' young generation based on the Bible.
Kristus Dalam Tabernakel: Studi Teologis Kristosentris Terhadap Tipologi Perjanjian Lama Gulo, Rencana; Halawa, Iman Kristina; Halawa, Mediana
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 2 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i2.388

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi struktur dan simbolisme Tabernakel dalam Perjanjian Lama sebagai tipologi teologis yang menunjuk kepada pribadi dan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan menggunakan pendekatan Kristosentris dan hermeneutika redemptive-historical, penelitian ini menelusuri setiap elemen utama Tabernakel—seperti mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan, meja roti sajian, kandil emas, mezbah ukupan, tabir pemisah, dan tabut perjanjian—sebagai bayangan dari realitas yang digenapi dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tabernakel bukan sekadar struktur liturgis bangsa Israel, melainkan kerangka naratif dan eskatologis yang terintegrasi dalam rencana keselamatan Allah. Kristus tampil sebagai penggenapan peran Imam Besar, korban pendamaian, dan tempat kediaman Allah. Penelitian ini juga mengisi kesenjangan ilmiah dalam kajian teologi biblika yang jarang membahas tipologi Tabernakel secara sistematis dalam terang Kristologi.
BUDAYA KRISTIANI SEBAGAI HIBRIDITAS BUDAYA: Halawa, Iman Kristina; Suhadi
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 2 Desember 2024
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v20i2.668

Abstract

ABSTRAK Budaya Kristiani sebagai sistem norma dan nilai yang dianut oleh umat Kristen bukan hanya melingkupi elemen ritual dan keagamaan, tetapi pun mengambarkan interaksi dengan budaya lokal dan tantangan yang dihadapi dalam jaman globalisasi. Melalui perspektif kualitatif dan etnografi, penelitian ini menginvestigasi bagaimana nilai-nilai Kristiani diinternalsasi pada perilaku budaya sehari-hari dan bagaimana struktur sosial pada umat Kristen membentuk identitas kolektif anggotanya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa agama berperan menentukan dalam pembentukan identitas sosial umat Kristiani, di mana perbuatan keagamaan dan aktivitas sosial di gereja meningkatkan ikatan indra dari individu kepada umat. Selain itu, perpaduan sosial dalam umat Kristen dipengaruhi dari latar kebudayaan, ekonomi, dan pendidikan, yang selalu menjadi tempat perlindungan dan dukungan bagi anggotanya. Penelitian ini pun menyoroti dampak dari globalisasi atas budaya hidup umat Kristiani, yang membawahi peluang akan pertumbuhan tetapi sebaliknya menuntut umat akan tetap kritis dalam menegakkan nilai-nilai iman kristen. Integrasi diantara antropologi dan sosiologi memberikan wawasan yang lebih lengkap mengenai bagaimana umat Kristen menyesuaikan dan mengembangkan diri dalam konteks sosial yang lebih luas. Kata Kunci :
Esther’s Stand Against Injustice: Theology for Women’s Political Participation in Indonesia Halawa, Iman Kristina; Purwonugroho, Daniel Pesah; Adi, Didit Yuliantono
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 9 No 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v9i2.954

Abstract

This article is designed with the aim of tracing Esther's example in suing for justice in the face of power. Queen Esther's courage in the Book of Esther, especially her action against King Ahasuerus without an invitation, is a representation of courage against potential injustice. Queen Esther's courage was not blind courage but courage with wise strategy. This study looks at how Esther's actions have affected modern leadership and how courage and wisdom can serve as examples for Christian communities and leaders today. This study can inspire modern leadership to dare to declare an injustice lawsuit against the rulers. The research uses the method of religious research to respond to the injustice in the face of power that threatened the Jewish nation under the rule of King Ahasuerus. The results of this study show that fighting injustice must be accompanied by a wise strategy and trust in God's providence for the Jewish nation by returning to moral principles and values. This research contributes in the form of a theological reflection for Christian women to emulate Esther in facing injustice in Indonesia.
Theological Basis for Obedience to the Government During the Covid-2019 Pandemic in Indonesia Supriadi, Made Nopen; Gulo, Manase; Halawa, Iman Kristina
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5 No 2 (2021): July 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v5i2.372

Abstract

The Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pandemic continues to increase its spread. The government has made efforts to contain the space by enacting several health protocols by March 2020. However, many Indonesians have not followed through on this appeal, and this situation also occurs in the context of the church. The Covid-19 pandemic is predicted to subside at the end of August or early September 2020, but this has not been realized. The authors observe the phenomenon of failure to recognize this due to a lack of adherence to health protocols. Obedience is an important principle that needs to be understood and implemented by all Indonesian people, especially Christians and church leaders. This research used the descriptive method to identify the phenomenon to get to the main problem, namely the concept of obedience. This research got the theological formulation of obedience to the government, namely priestly service, political service, and submission to government policies that have justice and humanity values.  ABSTRAKPandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus meningkat penyebarannya. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mengatasi penyebaran dengan memberlakukan beberapa protokol kesehatan pada bulan Maret 2020, namun masih banyak masyarakat Indonesia belum menaati imbauan tersebut, dan situasi tersebut juga terjadi dalam konteks gereja. Pandemi Covid-19 diprediksi akan reda pada akhir Agustus atau awal September 2020, namun hal tersebut tidak terealisasi. Penulis mengamati fenomena gagalnya realisasi tersebut karena kurangnya ketaatan terhadap penerapan protokol kesehatan. Ketaatan adalah prinsip penting yang perlu dimengerti dan diimplementasikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, secara khusus bagi umat Kristen dan para pemimpin gereja. Penelitian ini memakai metode deskriptif melakukan identifikasi fenomena untuk mendapatkan pokok permasalahan yaitu konsep ketaatan. Hasil penelitian menunjukkan formulasi teologis ketaatan kepada pemerintah yaitu pelayanan keimaman, pelayanan politis dan ketundukan kepada kebijakan pemerintah yang memiliki nilai keadilan serta kemanusiaan.
Analisis Fenomenologis Terhadap Pembatasan Pembacaan Kitab Kidung Agung Dalam Konteks Ibadah Kristen Di Sekolah Tinggi Teolog Arastamar Bengkulu Halawa, Iman Kristina; Supriadi, Made Nopen; Dilla, Minggus; Waharman, Waharman; Ayawaila, Estherlina Maria
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.83

Abstract

The Song of Solomon is one of the books of Poetry. This book has been accepted into canonization as an inspired writing by God. This book gets a lot of attacks and criticisms as a book that does not deserve to be called the word of God because many sentences have erotic nuances, the phenomenological implications of this book rarely get a portion in readings in Christian Worship, even the majority of Christians suggest not to use the Song of Solomon as a reference. Reading in a general context and only read in a special class and the phenomenon occurs in the context of College Theology Students. In addition, the Song of Solomon also raises debates regarding the approach to reading the book. Through qualitative methods, specifically descriptive and phenomenological analysis. The results of this study indicate that the Song of Solomon needs to get a place in Christian worship readings, but before entering the general reading of the Song of Solomon it is necessary to study it specifically to avoid misunderstanding the theological meaning in every word and sentence that has an erotic feel. Kitab Kidung Agung adalah salah satu kitab Puisi. Kitab ini telah diterima dalam kanonisasi sebagai tulisan yang diilhamkan oleh Allah. Kitab ini banyak mendapatkan serangan dan kritikan sebagai kitab yang tidak pantas disebut sebagai firman Allah karena ada banyak kalimat yang bernuansa erotis, implikasi secara fenomenologis kitab ini jarang mendapatkan porsi dalam pembacaan di Ibadah Kristen, bahkan mayoritas umat Kristen menyarankan untuk tidak menggunakan kitab Kidung Agung sebagai pembacaan dalam konteks umum dan hanya dibaca dalam kelas khusus dan fenomena tersebut terjadi dalam konteks Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi. Selain itu kitab Kidung Agung juga menimbulkan perdebatan dalam hal pendekatan pembacaan kitab. Melalui metode kualitatif secara khusus melakukan analisis deskriptif dan fenomenologis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kitab Kidung Agung perlu mendapatkan tempat dalam pembacaan di ibadah Kristen, namun sebelum memasuki pembacaan umum kitab Kidung Agung perlu dipelajari secara khusus untuk menghindari kesalahpahaman makna teologis dalam setiap kata dan kalimat yang bernuansa erotik.
Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat: Analisis 1 Timotius 3:8-13 Halawa, Iman Kristina; Sesatonis, Yos Adoni; Purwonugroho, Daniel Pesah
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.322

Abstract

This paper aims to explore the role of church elders in the spiritual growth of the congregation. The role of church elders is examined through the lens of 1 Timothy 3:8-13. Church elders are believers entrusted with significant responsibilities within a local church. It is essential that church elders exhibit good character and integrity, as their attitudes directly influence the spiritual life of the local church they serve. Church elders must align their lives with the truth of God’s Word. 1 Timothy 3:8-13 outlines the proper attitudes in the context of church ministry. These attitudes, as described in 1 Timothy 3:8-13, should be adopted and lived out by church elders. When elders embody these attitudes, their ministry will have a positive impact on the spiritual growth of the congregation. Through a qualitative descriptive method, it can be concluded that the attitudes in 1 Timothy 3:8-13 must be possessed and expressed in the lives of church elders. When these attitudes are cultivated and become integral to their character, the congregation will experience significant spiritual growth. AbstrakTulisan ini dibuat untuk menjelajahi peran majelis gereja dalam pertumbuhan rohani jemaat. Peran majelis gereja tersebut akan diperhatikan dalam perspektif 1 Timotius 3:8-13. Majelis gereja adalah orang percaya yang memegang pelayanan penting di dalam sebuah gereja lokal. Majelis gereja perlu memiliki sikap yang baik dan berintegritas. Kualitas sikap akan mempengaruhi kehidupan rohani dalam sebuah gereja lokal tempat majelis gereja melayani. Majelis gereja perlu membangun hidupnya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. 1 Timotius 3:8-13 menunjukkan sikap-sikap yang tepat sesuai dengan konteks ayat tersebut dalam membangun sebuah pelayanan gereja. Sikap-sikap dalam 1 Timotius 3:8-13 perlu dimiliki dan dihidup oleh para majelis gereja. Saat para majelis gereja memiliki sikap seperti yang dinyatakan dalam 1 Timotius 3:8-13, maka pelayanan majelis gereja akan memberi dampak kepada pertumbuhan rohani jemaat. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa sikap-sikap dalam 1 Timotus 3:8-13 harus dimiliki dan diekspresikan dalam kehidupan majelis gereja. Saat sikap tersebut terbangun dan menjadi karakter majelis gereja, maka jemaat akan mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan.
Ketaatan Abraham Dalam Perspektif Teologis: Implikasinya Bagi Kehidupan Orang Kristen Halawa, Iman Kristina; Panggabean, Saut Maruli
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 15 No. 2 (2025): Pemikiran Teologis dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47154/sjtpk.v19i2.891

Abstract

This article examines Abraham's obedience in the biblical narrative, particularly in Genesis 12 and 22, from a theological perspective and its implications for the lives of Christians today. Abraham's obedience is understood not as a form of mechanical obedience, but rather as a manifestation of living faith and a response to God's call and command. Through a literature-based descriptive-analytical study, this paper shows that Abraham was willing to leave the comfort of his homeland and even sacrifice his only son as a form of total obedience to God. The study highlights how Abraham's act of faith reflects the integration of fides (faith) and obedientia (obedience), and contains theological dimensions of divine election, promise and provision. In the context of contemporary Christianity, Abraham's obedience becomes a relevant spiritual paradigm to face the challenges of faith, moral relativism, and the crisis of obedience to the divine call. This article concludes that true obedience is an act of faith that prioritises God's will, even if it demands the greatest sacrifice, and is the path to the revelation of God's providence and favour in the lives of believers.