Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN LAMTORO(Leucaena leucephala) TERHADAP BAKTERI Shigella flexneri DAN Escherichia coli DENGAN METODE DIFUSI SUMURAN Yulis Adriana; Dede Komarudin; Bayu Barata Nusantara; Muhammad Sadikin
ISTA Online Technologi Journal Vol. 4 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v4i1.70

Abstract

Diare merupakan kondisi buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, biasanya faktor penyebab diare disebabkan oleh bakteri Eschericia coli. Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka dengan gejala khas tinja mengandung darah dan lendir. Biasanya penyebab terjadinya disentri disebakan oleh bakteri Shigella flexneri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucephala) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Shigella flexneri. Ekstrak daun lamtoro dibuat dengan metode maserasi etanol 70 % selama 5 hari, dan membuat media agar serta ditambahkan larutan bakteri Eschericia coli dan Shigella Flexneri dan didiamkan sampai media mengeras. Media agar yang sudah mengeras dilubangi sebanyak 6 lubang pada masing – masing cawan petri yang sudah diberi tanda dengan konsentrasi berbeda yaitu 75 %, 50 %, 25 %, 10 %, 5 %, 2,5 % , kemudian dimasukan masing – masing konsentrasi ekstak kedalam cawan petri yang sudah disiapkan sesuai konsentrasi nya, lalu inkubasi selama 48 jam. Dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daya hambat bakteri Eschericia coli dengan ekstrak dengan kosentrasi 25 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar 20,66 mm termasuk golongan kuat, konsentrasi 5 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar sebesar 16,33 mm termasuk golongan sedang, dan konsentrasi 2,5 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar sebesar 12,33 mm termasuk golongan lemah. Dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daya hambat bakteri Shigella flexneri dengan ekstrak dengan kosentrasi 25 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar 21,33 mm termasuk golongan kuat, konsentrasi 5 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar sebesar 16,83 mm termasuk golongan sedang, dan konsentrasi 2,5 % memiliki daya hambat rata - rata sebesar sebesar 12,83 mm termasuk golongan lemah. Kata kunci: Diare, disentri, Escherichia coli, Leucaena leucephala, Shigella flexneri
Peningkatan Pengetahuan Melalui Edukasi Dagusibu pada Ibu Kader Tentang Dexametason di RW 02 Semanan, Kalideres, Jakarta Barat Latief, Mutawalli Sjahid; Hidayat, Febri; Dipta, Eka; Komarudin, Dede; Fitri, Dewi Rahma; Fajar, In Rahmi Fatria; Adriana, Yulis; Rusli, Jessica
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 10 No 1 (2026): JANUARI - JULI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v10i1.7341

Abstract

Pengelolaan obat yang tepat di rumah tangga sangat penting untuk menjamin keamanan dan efektivitas terapi. Namun, pengetahuan dan kesiapan ibu kader dalam mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara benar masih rendah, sehingga penggunaan obat yang rasional menjadi terhambat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu kader di RW 02 Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat melalui edukasi DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat secara tepat) menggunakan presentasi dan leaflet, dengan fokus khusus pada penggunaan Dexametason. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif pretest-posttest satu kelompok dengan 72 responden. Hasil pre-test menunjukkan kategori “baik” sebesar 38,9%, yang meningkat menjadi 76,4% pada post-test setelah edukasi. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p=0,000; p<0,05). Edukasi DAGUSIBU terbukti efektif meningkatkan pemahaman ibu kader tentang Dexametason dan pengelolaan obat secara umum, sehingga diharapkan mendorong penggunaan obat yang lebih aman, tepat, dan ramah lingkungan di masyarakat.
PROGRAM PHARMA CARE 2025: EDUKASI NARKOBA, HIV/AIDS, SKRINING KESEHATAN, DAN UJI FORMALIN UMKM DESA BANJARSARI Dinda Paramudita; Nindi Adinta; Dewi Meilia Agustin; Sintia Audina; Yayang Mutiara Marcellina; Yulis Adriana
Berajah Journal Vol. 6 No. 2 (2026): Berajah Journal
Publisher : CV. Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/bj.v6i2.298

Abstract

The Pharma Care 2025 program is a community service initiative aimed at improving public knowledge, awareness, and health status in Banjarsari Village, Ciawi District, Bogor Regency. This program was motivated by the increasing cases of drug abuse (NAPZA), the risk of HIV/AIDS transmission, and the high prevalence of degenerative diseases in the community. The methods used included observation, health education, screening, and community empowerment through a participatory approach. The activities implemented consisted of health screening, drug abuse and HIV/AIDS education for adolescents, education on degenerative diseases and dementia, vitamin distribution, formalin testing in food products, and a herbal soap-making workshop. The screening results indicated that a significant proportion of the community had high cholesterol and uric acid levels, suggesting a risk of degenerative diseases. Health education activities were proven effective in improving participants' knowledge, as indicated by an increase in average pretest–posttest scores among students from 83.67 to 92, and among community members from 65.86 to 83.79. In addition, formalin testing on food samples showed negative results, indicating relatively safe food conditions. The herbal soap workshop successfully enhanced community skills in utilizing natural resources for economically valuable products. Overall, this program had a positive impact on increasing health awareness, promoting healthy lifestyle changes, and strengthening community economic empowerment. This initiative is expected to serve as a sustainable promotive and preventive intervention model to improve public health quality.