Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pendidikan Karakter dalam Tradisi Gelar Bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Arifin, Syaiful; Indrahastuti, Tri; Setyawati, Meita; Ulwatunnisa, Marwah; Azmi, Muhammad
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i2.11486

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi gelar kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mencerminkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam masyarakat Kutai. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kutai Kuno kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang memiliki tradisi turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap leluhur, serta penghargaan terhadap jasa individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklore. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gelar seperti Aji, Awang, dan Encek memiliki makna historis dan sosial yang mendalam, di mana setiap gelar diberikan berdasarkan keturunan, jasa, atau peran dalam pemerintahan kesultanan. Selain itu, praktik budaya seperti Beseprah menegaskan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Meskipun modernisasi mengubah persepsi terhadap sistem gelar, nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya. Oleh karena itu, integrasi nilai warisan budaya dan tradisi lokal dalam pendidikan formal dan nonformal menjadi penting untuk memperkuat karakter generasi muda dan menjaga warisan budaya Kutai agar tetap lestari dalam masyarakat yang terus berkembang.
Analisis mantra suku Kutai Muara Kedang Desa Sungai Mariam kajian semiotik Ulwatunnisa, Marwah; Dwi Sulistyowati, Endang; Lidya, Salma; Setyawati, Meita; Queena Hadi Putri, Nina
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 7 No. 2 (2025): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v7i2.12700

Abstract

Mantra masih dipercaya hingga saat ini, khususnya di Kalimantan Timur. Salah satu keberadaan penutur mantra dan mantranya, dapat ditemukan pada masyarakat suku Kutai, di Muara Kedang, Desa Sungai Mariam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dalam konteks mantra, simbol-simbol yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai alat retorika atau estetika linguistik, tetapi juga mengandung makna kultural dan spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu analisis mantra suku Kutai menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes; makna denotasi, konotasi dan mitos, serta fungsi mantra. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara serta studi pustaka. Teknik analisis data berupa kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, hingga verifikasi data. Hasil temuan penelitian yaitu ada beberapa jenis mantra; Mantra belas kasihan, Mantra Pagar Diri, Mantra Grecek, Mantra Ndik Benapsu, Mantra Wisa, Mantra Penghilang Kembung Anak, dan Mantra Penyengat. Empat fungsi mantra yang ditemukan yaitu sebagai proyeksi/menggambarkan kepercayaan masyarakat, menjadi alat pengesah pranata serta lembaga kebudayaan, sarana pendidikan, dan alat untuk menegakkan norma serta mengendalikan perilaku anggota masyarakat. Kepercayaan terhadap fungsi mantra dibangun secara kuat melalui bahasa simbolik dan penuh makna emosional.
Analisis Tuturan Tingkilan Suku Kutai di Tenggarong dan Upaya Pelestariannya Setyawati, Meita; Ulwatunnisa, Marwah; Ningsih, Wulan Mulia
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15951

Abstract

Tingkilan adalah kesenian tradisional Suku Kutai yang kaya budaya dan penting dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis bentuk pantun, makna, dan upaya pelestarian Tingkilan Suku Kutai Tenggarong. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Bentuk pantun Tingkilan Pinang Babaris dan Rindu Malam memiliki empat baris per bait dengan sepuluh hingga dua belas suku kata, jenis pantun kiasan dan cinta, serta rima a-a-a-a dan a-b-a-b; (2) Makna pantun Pinang Babaris menekankan pentingnya menjaga hubungan baik, sedangkan Rindu Malam menggambarkan kerinduan dan harapan yang belum terpenuhi; (3) Upaya pelestarian kesenian Tingkilan oleh seniman lokal meliputi festival desa, upacara adat, dan media sosial, serta oleh masyarakat setempat melalui dokumentasi dan publikasi, komunitas seni, dan promosi media sosial.
Daya Juang Menghadapi Diskriminasi Kerja Pada Penyandang Tunadaksa Setyawati, Meita
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 5, No 1 (2017): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v5i1.4330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran daya juang penyandang tunadaksa yang bekerja ketika dihadapkan dengan permasalahan diskriminasi kerja, bagaimana respon subjek ketika mengalami diskriminasi serta bentuk diskriminasi yang didapatkan. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Peneliti menggunakan tenik purposive sampling dengan metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam dengan ketiga subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini memiliki daya juang yang berbeda satu sama lain. Pada subjek D, subjek memiliki daya juang yang rendah karena kempat aspek daya juang tidak terpenuh dengan baik. Subjek merasa diskirminasi yang terjadi merupakan akibat dari kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Subjek M, subjek memiliki daya juang tinggi karena subjek memenuhi keempat subjek keseluruhan aspek dari daya juang. Hal ini dikarenakan subjek merasa bahwa diskriminasi yang muncul bukan dari diri subjek melainkan orang-orang yang tidak menyukainya. Subjek merasa kemampuan yang dimilikinya akan membuatnya bisa bertahan ditengah diskriminasi. Subjek T, subjek memiliki daya juang tinggi karena subjek memenuhi keseluruhan aspek dari daya juang. Memiliki pendidikan yang baik membuat subjek percaya diri menghadapi setiap diskriminasi yang muncul. Kemampuan ini yang membuat subjek mampu bekerja dengan baik.
A Semiotic Analysis of Icons, Indexes, and Symbols in the Kutai Folktale Puan and Si Taddung and Their Cultural Meanings Cesarida, Arneta; Ahmad, Muhammad Rusydi; Arifin, Syaiful; Nurdin, Nurdin; Setyawati, Meita
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025): #1
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1237

Abstract

This study analyzes the forms of icons, indexes, and symbols as well as the cultural meanings embedded in the Kutai folktale Puan and Si Taddung by applying Charles Sanders Peirce’s semiotic framework. The study is grounded in the issue of diminishing local cultural literacy and the need to strengthen cultural identity through literature-based learning. Using a qualitative descriptive design, data were collected through documentation and close reading of narrative excerpts containing visual, situational, and symbolic signs. The data were categorized based on Peirce’s triadic model representamen, object, and interpretant and interpreted according to the cultural context of the Kutai community. The findings reveal that icons appear in depictions of the village landscape, characters, and cultural objects; indexes emerge through causal signs linked to events such as danger, illness, and moral obligation; and symbols represent deeper cultural values, including filial piety, bravery, honor, and spiritual purity. These signs collectively articulate the core principles of Kutai culture Politeness , identity and reputation, and honor and dignity. The study concludes that the folktale functions not only as a narrative of entertainment but also as a medium of cultural transmission and character education, highlighting its relevance for strengthening local wisdom within contemporary educational practice.