Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

EVALUASI KONDISI FISIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI DUSUN MEDENG DESA SUNGKUNG II KECAMATAN SIDING KABUPATEN BENGKAYANG Edo, Martoni; Khwee, Kho Hie; -, Yandri
Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura Vol 2, No 1 (2019): Jurnal S1 Teknik Elektro UNTAN
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.833 KB)

Abstract

Dusun Medeng Desa Sungkung II, termasuk Desa terpencil di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Desa ini tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, pada tahun 2009 telah dibangun PLTMH berkapasitas 32 kW unit PLTMH Dusun Medeng. Ini dimaksudkan agar pembangkitan dan keberlangsungan PLTMH tersebut dapat beroperasi secara optimal. PLTMH terdiri dari tiga komponen utama yaitu bangunan sipil, mekanikal, dan elektrikal. Konsumen PLTMH Dusun Medeng adalah seluruh masyarakat Dusun Medeng. Setelah sepuluh tahun beroperasi PLTMH Dusun Medeng mengalami beberapa perubahan baik dari sisi bangunan sipil, mekanikal, dan elektrikal. Dalam skripsi ini yang berjudul Evaluasi Kondisi Fisik PLTMH Dusun Medeng Desa Sungkung II akan dipaparkan mengenai beberapa hasil evaluasi terhadap hal-hal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer yang berupa survei langsung ke lokasi, dan data sekunder sebagai acuan penulisan skripsi ini. Total debit yang tersedia sebesar 2,5792 m3/s, namun hanya digunakan debit sebesar 0,7559 m3/s untuk PLTMH dengan daya listrik sebesar 32 kW. Jika digunakan total debit maka daya listrinya adalah 109 kW. Secara umum Fisik PLTMH masih berfungsi dengan baik. Kerusakan yang pernah terjadi pada katup utama, bearing, belt, penyaring sampah, dan pipa penstok. Kerusakan ini telah diperbaiki. Penggunaan listrik PLTMH oleh masyarakat mengalami peningkatan yang signifikan. PLTMH di Dusun Medeng didasarkan pada kebijakan Pemkab Bengkayang Kalimantan Barat, PLTMH Dusun Medeng kurang berjalan dengan baik, orang-orang yang bertugas menjalankan kepengurusan harian maupun operator kurang bekerja optimal. Dari evaluasi kondisi tersebut maka diperlukan pembenahan agar keberlanjutan PLTMH Dusun Medeng dapat terjaga.
ANALISIS STUDI POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN DI PANTAI INDAH KAKAP KAB. KUBU RAYA KALIMANTAN BARAT Dulhadi, -; -, Yandri; Kurnianto, Rudi
Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura Vol 2, No 1 (2020): Jurnal S1 Teknik Elektro UNTAN
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada riset kali ini, daerah kawasan Pantai Indah Kakap Kab. Kubu Raya Kalimantan Barat dipilih sebagai lokasi pemanfaatan energi angin yang dikonversikan menjadi energi listrik. Data sekunder kecepatan angin diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak selama setahun pada satu titik koordinat dengan ketinggian 10 meter. Terdapat 3 metode persamaan yang digunakan yaitu model persamaan Linear, Quadratic dan Cubic dengan menggunakan satu turbin yaitu Wind Turbine Travere Industries (TI/2.4/0.9 kW) 900 W. Penelitian ini membandingkan beberapa persamaan pemodelan kurva daya pada ketiga persamaan tersebut, untuk menentukan metode mana yang lebih efektif dan sesuai dengan spesifikasi turbin yang digunakan. Nilai total energi listrik yang dihasilkan selama setahun dengan menggunakan model persamaan Linear yaitu sebesar 1435,511609 kWh. Nilai total energi listrik yang dihasilkan selama setahun dengan menggunakan model persamaan Quadratic yaitu sebesar 912,7703299 kWh. Nilai total energi listrik yang dihasilkan selama setahun dengan menggunakan model persamaan Cubic yaitu sebesar 567,111731 kWh. Kurva daya yang digambarkan dengan menggunakan model persamaan Cubic, hasilnya hampir mendekati spesifikasi turbin yang ditentukan. Berdasarkan hasil energi listrik dan kurva daya dari ketiga persamaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode yang sesuai untuk lokasi Pantai Indah Kakap yaitu model persamaan Cubic. Dimana energi listrik dan kurva daya yang dihasilkan memenuhi batas standar dengan kecepatan angin rata-rata setahun sebesar 3,458346558 m/s yang masuk dalam kategori angin kelompok II.
ANALISIS KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) (STUDI KASUS PLTU HARJOHN TIMBER KUBU RAYA) Singko, A; -, Yandri; Khwee, Kho Hie
Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura Vol 2, No 1 (2021): Jurnal S1 Teknik Elektro UNTAN
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap PT. Harjohn Timber menggunakan generator turbin uap berkapasitas 7,5 MW. Secara aktual, daya yang dibangkitkan tidak statik pada nilai kapasitas generator turbin uap tersebut. Hingga saat ini PT. Harjohn Timber telah beroperasi  selama  15 tahun dan telah mengalami banyak perubahan yanng disebabkan adanya permasalahan, sehingga dapat menurunkan efisiensi unit pada umumnya dan secara spesifik pada efisiensi turbin dan generator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai spesifikasi efisiensi turbin uap pada kondisi nominal, untuk mengetahui efisinesi generator berdasarkan variasi beban, dan untuk mengetahui perbandingan konsumsi penggunaan bahan bakar kayu dengan bahan bakar batu bara pembangkit listrik PT. Harjohn Timber. Metode perhitungan menggunakan program aplikasi termodinamika ChemicaLogic SteamTab dalam mencari parameter nilai entalpi dan perhitungan konsumsi bahan bakar spesifik. Setelah dilakukan analisis didapat nilai efisiensi nominal turbin uap sebesar 94,5%. Nilai kerja turbin uap yang paling tinggi berdasarkan nilai rata-rata operasi, yaitu pada bulan ke-3, penelitian dengan nilai sebesar 5.535,81 kW dari nilai spesifikasi 7.088 kW. Sedangkan nilai operasi rata-rata efisiensi generator yang paling tinggi mencapai 94,17%, terjadi pada bulan ke-2 penelitian dan efisiensi terendah saat pada bulan ke-3 penelitian dengan nilai sebesar 82,73 %. Nilai konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) batu bara didapat nilai tertinggi pada bulan ke-5 menghasilkan nilai brutto 0,6798 kg/kWh dan nilai netto 0,8181 kg/kWh. Sedangkan nilai terendah pada bulan ke -6 yaitu dengan nilai bruto 0,4824 kg/ kWh dan nilai netto 0,6041 kg/kWh. Nilai konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) kayu didapat nilai tertinggi pada bulan ke-5 menghasilkan nilai bruto 0,4911 kg/kWh dan nilai netto 0,5910 kg/kWh. Sedangkan nilai terendah  pada bulan ke -6 yaitu dengan nilai bruto 0,3440 kg/kWh dan nilai netto 0,4308 kg/ kWh. Semakin tinggi total energi yang dihasilkan maka nilai Specific Fuel Consumption (SFC) akan semakin rendah. Sebaliknya semakin rendah total energi yang dihasilkan  maka nilai Specific Fuel Consumption (SFC) akan semakin tinggi.
STUDI TEKNIS DAN EKONOMIS SISTEM ENERGI HIBRIDA DIESEL-SURYA-ANGIN DI PULAU LEMUKUTAN KABUPATEN BENGKAYANG Humaidi, -; -, Yandri; Arsyad, M. Iqbal
Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura Vol 1, No 1 (2021): Jurnal S1 Teknik Elektro UNTAN
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya, mayoritas pasokan energi listrik di Indonesia disuplai dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Pemanfaatan sumber energi fosil sebagai penghasil energi listrik secara masif memberikan efek yang tidak ramah terhadap lingkungan dan kesehatan serta tingginya biaya operasional generator diesel, sehingga diperlukan pengembangan energi terbarukan secara hibrida yang lebih bersih dan ekonomis dalam menggantikan peran energi fosil sebagai penyuplai energi listrik.  Penelitian ini mengkaji tentang potensi energi hibrida yang dapat digunakan sebagai penyokong kebutuhan listrik di Pulau Lemukutan baik dari sisi teknis dan juga ekonomisnya. Piranti perangkat lunak HOMER digunakan untuk menganalisis potensi energi hibrida tersebut . Potensi energi baru terbarukan yang dapat dimanfaatkan di Pulau Lemukutan yang paling optimal adalah energi surya. Kebutuhan energi listrik di Pulau Lemukutan selama 24 jam atau satu hari sebesar 1.186,17 kWh/hari. Sehingga kebutuhan energi listrik selama satu tahun adalah 432.953 kWh/tahun. Dalam aspek teknis pemenuhan kebutuhan energi listrik dilakukan dengan skenario konfigurasi paling optimal, yaitu sistem energi hibrida diesel-surya. Dari hasil simulasi didapat kapasitas generator diesel yang terpasang sebesar 140 kW, panel surya sebesar    85,4 kW, baterai memiliki kemampuan menyalurkan 12.376 kWh/tahun dengan susut energi sebesar 2.476 kWh/tahun, dan kapasitas sistem konverter untuk inverter dan rectifier  berturut-turut adalah sebesar 57,1 kW dan 57,1 kW. Sistem mampu menghasilkan energi listrik sebesar 368.989  kWh/tahun dari sistem pembangkit tenaga diesel dan 130.142 kWh/tahun dari sistem pembangkit tenaga surya. Total energi yang dihasilkan dari keseluruhan sistem energi hibrida diesel-surya adalah sebesar 499.131 kWh/tahun. Dalam aspek ekonomis, pada skenario sistem energi hibrida yang paling optimal yaitu sistem energi diesel-surya dengan total net present cost ­­­(NPC) dihasilkan sebesar Rp38.545.108.000,00, dengan total biaya tahunan (annualized cost) sebesar Rp1.743.914.200,00, biaya operasional (operational cost) sebesar Rp1.508.131.660,00 dan levelized cost of energy (LCOE) sebesar Rp4.031,00/kWh. Berbeda hal dengan skenario sistem energi menggunakan pembangkit tenaga diesel saja, dimana besar daya dari name plate sebesar 175 kVA dengan faktor daya 0,8 sehingga besar daya diesel 140 kW, dan hasil simulasi didapat total net present cost (NPC) sebesar Rp45.710.648.620,00,  total biaya tahunan sebesar Rp2.068.108.280,00, total levelized cost of energy (LCOE) sebesar Rp4.399,00/kWh dan biaya operasional terhitung sebesar Rp2.023.770.000,00. Secara keseluruhan, diketahui bahwa sistem energi hibrida diesel-surya lebih ekonomis dibanding dengan sistem energi diesel saja dengan persentase penghematan mencapai 16,30%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem energi hibrida diesel-surya yang lebih direkomendasikan untuk diterapkan dalam memenuhi kebutuhan energi listrik di Pulau Lemukutan.
STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA SISTEM HYBRID SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF Mahesa, Aditya Gilang; -, Yandri; Khwee, Kho Hie
Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura Vol 2, No 1 (2021): Jurnal S1 Teknik Elektro UNTAN
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan energi listrik di Indonesia setiap tahun meningkat, kurang meratanya infrastruktur jaringan listrik dapat menyebabkan kekurangan pasokan listrik. Salah satu sumber energi alternatif yang cocok dikembangkan adalah energi surya, melihat dari kondisi inilah maka perlu adanya penelitian perencanaan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya sistem hybrid di Pondok Meranti sebagai sumber energi alternatif untuk back up energi yang disuplai PLN. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data beban harian, data peralatan elektronik, insolasi matahari tahun 2020, radiasi matahari dan temperatur udara harian tahun 2020. Dengan aspek teknis yang diperhitungkan, menggunakan panel surya berkapasitas 100 wp, suhu rata-rata maksimum  31,7 ⁰C, insolasi rata-rata minimum sebesar 4,7 kWh/m2/hari. Didapatkan perhitungan berupa panel surya yang diperlukan untuk memback up daya sebesar 50% dari total energi harian yang terpakai sebanyak 11 panel surya, solar charger controller kapasitas 50 A berjumlah 2 unit, baterai dengan tegangan 12V berkapasitas 100 Ah sebanyak 14 unit, dan inverter berkapasitas 1500 W. Energi keluaran panel surya yang dihasilkan per hari sebesar 707,4121 Wh. Dengan investasi awal sebesar Rp.52.074.000 kemudian analisis ekonomis menggunakan metode Net Present Value (NPV) didapatkan hasil Rp.17.228.926 analisis ekonomis menggunakan metode Profitability Index (PI) didapatkan hasil 1,3308 dan analisis ekonomis menggunakan metode Discounted Payback Period (DPP) mendapatkan hasil investasi kembali pada tahun ke 12. Dari tiga analisis ini dengan perencanaan umur proyek 25 tahun menyatakan perencanaan PLTS sistem hybrid layak diterapkan.
OPTIMASI BIAYA PEMBANGKITAN UNIT PLTU BERBAHAN BAKAR BATUBARA MENGGUNAKAN METODE LAGRANGE Mawarlisti, Brenda; Gianto, Rudy; -, Yandri
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 2: Juli 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i2.60197

Abstract

Biaya bahan bakar yang besar membuat biaya operasi pembangkitan menjadi tidak ekonomis. Oleh karena itu diperlukan cara optimalisasi untuk meminimalkan biaya operasi dan penjadwalan ekonomis pada pembangkit. Besarnya kebutuhan suatu beban, karakteristik suatu pembangkit, batas maksimum dan minimum kapasitas pembangkit, serta pengeluaran untuk bahan bakar setiap unit pembangkit berpengaruh secara ekonomis pada pengoperasian pembangkit. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh biaya pembangkitan seminimum mungkin pada suatu kondisi pembebanan tertentu pada sistem tenaga listrik. Data pembebanan yang digunakan yaitu sistem                   5 unit dan sistem 10 unit generator pembangkit.Metode yang digunakan adalah metode Lagrange dan perangkat lunak MATLAB secara ekonomis dan non-ekonomis. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa, untuk sistem 5 unit dengan menggunakan metode Lagrange dan MATLAB sama-sama memiliki biaya pembangkitan yang ekonomis seperti pada saat beban 435 MW yang menghasilkan biaya pembangkitan sebesar $1250,8754/jam dengan selisih $13,6246/jam lebih murah dibandingkan metode non-ekonomis dengan biaya pembangkitan sebesar $1264,5/jam. Akan tetapi perhitungan metode Lagrange pada sistem 10 unit tidak dapat ditemukan seutuhnya, perhitungan hanya dapat dilakukan pada saat beban 1036 MW dengan biaya pembangkitan sebesar $59732,0886/jam dengan selisih $14438,5478/jam lebih murah dibandingkan metode non-ekonomis dengan biaya pembangkitan sebesar $74170,6364/jam. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode Lagrange tidak selalu dapat menghasilkan solusi optimalisasi. Ini dikarenakan sistem terlalu besar sehingga pada saat perhitungan output masing-masing unit pembangkit terjadi pengulangan iterasi.
ANALISIS KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) KETAPANG 2×1O MW Rizki, Tengku M; Yusuf, M. Ismail; Hiendro, Ayong; Khwee, Kho Hie; -, Yandri
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 2: Juli 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i2.57053

Abstract

Energi listrik merupakan suatu faktor penunjang yang sangat penting bagi perkembangan secara menyeluruh di suatu negara bagian manapun. Hal ini menyebabkan tingginya permintaan akan energi listrik, sehingga memaksa penyedia energi listrik menggunakan pembangkit listrik dengan kapasitas besar guna menjaga kontinyuitas pelayanan. PLTU merupakan salah satu pembangkit listrik yang mengsuplay sebagian besar energi listrik ke konsumen. Produksi batubara di Indonesia sebanyak 606,71 juta ton pada tahun 2021, beberapa jenis batubara yang digunakan pada pembangkit listrik adalah jenis low rank coal dan medium rank coal dengan nilai kalori 4100 kcal/kg sampai dengan 5200 kcal/kg. Salah satu parameter yang digunakan pada suatu sistem pembangkit tenaga berbahan bakar batubara adalah specific coal consumption (SCC). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar penggunaan konsumsi penggunaan bahan bakar di PLTU Ketapang 2x10 MW kemudian mengetahui jumlah bahan bakar yang digunakan setiap hari dan persentase campuran bahan bakar tersebut. Perbedaan nilai kalori bahan bakar yang digunakan berpengaruh pada konsumsi dimana semakin besar nilai kalori tinggi dapat menyebabkan konsumsi spesifik bahan bakar menurun. Penggunaan bahan bakar cofiring di PLTU Ketapang dengan kalori 4006 Kcal/Kg dan 3815 Kcal/Kg yaitu pada pembangkit unit 1 dengan daya terbesar dihasilkan dihari berbeda sebesar 10000 kW memiliki konsumsi spesifik sebesar 1305.70 kg/kWh. Sedangkan pada pembangkit unit 2 dengan daya terbesar yang dihasilkan dihari kelima sebesar 9920 kW memiliki konsumsi spesifik sebesar 128.16 kg/kWh. Pengunaan bahan bakar campuran (cofiring) pada pembangkit mampu menghemat penggunaan bahan bakar batubara dimana penggunaan cangkang sawit memiliki nilai kalori yang cukup sama dan dapat digunakan sebagai energi dari bahan organik.
PERANCANGAN OPTIMUM SISTEM PLTS PADA PUSKESMAS TERIGAS DI KABUPATEN SAMBAS Alvian, -; Khwee, Kho Hiee; Hiendro, Ayong; -, Yandri; Gani, Usman A
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 2: Juli 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i2.60234

Abstract

Kabupaten Sambas yang merupakan daerah jika di lihat secara kasat mata merupakan daerah dengan intensitas matahari yang cukup tinggi dengan suhu maksimum mencapai 34ËšC dan minimum 23ËšC menjadi daerah yang potensial untuk di kembangkan sebagai alternatif pembangkit listrik terbarukan. Maka dilakukan perancangan optimum sistem PLTS pada Puskesmas Terigas menggunakan software HOMER.Membandingkan biaya energi listrik antara sistem PLTS dan PLN pada Puskesmas Terigas di Kabupaten Sambas. Pada penelitian ini menggunakan beberapa data sekunder. Data sekunder yang digunakan berasal dari beberapa sumber berbeda yang dapat dipertanggung jawabkan keaslian dan keaabsahannya. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dapat memenuhi kebutuhan energi listrik yang ada di Puskesmas Terigas selama 24 jam, dengan asumsi beban sebesar 60,74 kWh/hari.energi listrik selama 1 tahun sebesar 22.170 kWh/tahun. Mengunakan perencanaan ini adalah PLTS Off grid dengan konfigurasi dari panel surya "“ inverter "“ baterai. Hasil analisis teknis untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara off grid yang paling optimal, menggunakan panel surya sebesar 18,8 kW, inverter sebesar 6 kW, dan baterai sebanyak 30 buah. Daya yang dapat diproduksi oleh PLTS ini sebesar 27.276 kWh per tahun. .Berdasarkan analisis ekonominya maka didapat nilai NPC sebesar Rp397.653.399,95 Annualized Cost (AC) sebesar Rp28.148.217,50 serta biaya energi yang di keluarkan oleh PLTS sebesar Rp1.269,65 / kWh. Biaya energi PLN sebesar Rp1.699,53/kWh,biaya energi PLTS sebesar Rp1.269,65 / kWh lebih rendah dibangdingkan biaya energi dari PLN.
PERANCANGAN ENERGI OPTIMUM SISTEM PLTS UNTUK BASE TRANSCEIVER STATION Ariansyah, Ahmad; Hiendro, Ayong; -, Yandri; Khwee, Kho Hie; Abidin, Zainal
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 2: Juli 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i2.60671

Abstract

Kalimantan Barat merupakan daerah yang dilalui garis khatulistiwa yang mendapatkan sinar matahari dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan energi ini tidak terbatas. Penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai pemanfaatan konversi energi listrik di daerah Kalimantan Barat merupakan solusi yang tepat sebagai pelengkap kebutuhan energi Alat yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pada penelitian ini menggunakan aplikasi Homer Energy Modelling. Piranti ini digunakan untuk menganalisis kombinasi terbaik dalam penggunaan energi yang tersedia untuk menyalurkan kebutuhan beban yang berada di BTS XL Pontianak Timur, Kota Pontianak.Kebutuhan untuk memenuhi energi listrik di BTS XL Pontianak Timur 24 jam sebesar 3.6 kWh/hari dan untuk energi listrik selama 1 tahun sebesar 1.313 kWh/tahun.Hasil analisis teknis untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara off-grid yang paling optimal, menggunakan panel surya sebesar 0,975 kW, inverter sebesar 0,275 kW, dan baterai sebanyak 6 buah. Pada konfigurasi ini panel surya dapat menyuplai energi listrik sebesar 1.482 kWh/ tahun, dengan kelebihan energi sebesar 86.2 kWh/tahun yang dapat di simpan ke dalam baterai.Hasil analisis ekonomi pada skenario off-grid, untuk skenario off-grid yang paling ekonomis adalah konfigurasi dari panel surya"“inverter"“baterai dengan biaya keseluruhan sistem selama 25 tahun (NPC) sebesar Rp 34.051.086 untuk biaya keseluruhan sistem 1 tahun (AC) sebesar Rp2.410.333 serta untuk biaya pokok produksi energi listrik (LCOE) sebesar Rp1.835 /kWh.