Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Perencanaan Angkutan Penyeberangan pada Rute Tahoku-Luhu untuk Meningkatkan Konektivitas Koridor Ambon-Seram di Provinsi Maluku Mandaku, Hanok; Rasyid, Mentari; S. Nunlehu, Dewi
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 36 No. 2 (2024): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v36i2.2320

Abstract

Koridor Ambon-Seram di Provinsi Maluku merupakan kawasan potensial yang memiliki interaksi relatif tinggi dibanding kawasan lainnya. Meski demikian, kawasan Semenanjung Huamual di bagian barat Pulau Seram masih sulit diakses untuk distribusi barang dan komoditas masyarakat. Sejauh ini hanya mengandalkan moda pelayaran rakyat (kapal kayu dan speedboat) berukuran kecil yang beroperasi pada rute Tahoku (Pulau Seram)-Luhu (Pulau Ambon). Kondisi ini selain rentan terhadap kecelakaan, juga belum mampu melayani arus penumpang dan barang. Akibatnya masyarakat beralih ke rute lain dengan risiko biaya dan waktu perjalanan yang lebih tinggi sehingga membebani secara ekonomi dan menurunkan nilai konektivitas wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan angkutan penyeberangan pada rute Tahoku-Luhu guna meningkatkan konektivitas pada koridor antar-pulau Ambon-Seram di Provinsi Maluku. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linear untuk memproyeksikan potensi dan pertumbuhan muatan berdasarkan data historis. Hasil proyeksi tersebut menjadi dasar perencanaan pola operasional, kebutuhan fasilitas transportasi, dan spesifikasi kapal yang sesuai. Analisis dilakukan dengan cakupan jangka panjang selama 20 tahun, mencakup proyeksi pergerakan penumpang, kendaraan, dan barang. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pertumbuhan muatan per tahun sebesar 5% untuk penumpang, 12% untuk kendaraan roda dua, dan 50% untuk barang. Pada perencanaan jangka panjang (20 tahun rencana), jumlah pergerakan diperkirakan mencapai rata-rata 70 orang per hari, 102 kendaraan roda dua per hari, dan 62 ton barang per hari. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pola operasional yang diusulkan meliputi kecepatan kapal sebesar 9 knot, waktu operasional pelabuhan selama enam jam per hari, dan frekuensi pelayaran sebanyak satu roundtrip per hari. Selain itu, diperlukan fasilitas tambahan berupa satu unit kapal jenis Ro-Ro, dermaga, gedung terminal seluas 135 m², serta area parkir kendaraan seluas 224,84 m².
Penerapan Life Cycle Assessment (LCA) Pada Proses Produksi Minyak Kayu Putih Di Desa Sawa-Namlea Rasyid, Mentari; Anggriani, Rani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.14560

Abstract

Minyak kayu putih merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang memiliki potensi dalam industri di Indonesia. Namun dalam aktivitasnya cenderung hanya berfokus pada kuantitas produksi untuk mendapatkan keuntungan dan kurang memperhatikan output terhadap lingkungan. perlu dilakukan upaya untuk mengetahui analisis dampak lingkungan yang dihasilkan dari proses produksi penyulingan minyak kayu putih, serta melakukan upaya dalam mengurangi dampak ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak lingkungan yang dihasilkan dari produksi minyak kayu putih di IKM Ketel Parigi menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) serta pendekatan produksi bersih untuk mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan. Pendekatan LCA dalam penerapannya di bantu oleh software SimaPro 9.4.0 untuk mengetahui nilai dari dampak lingkungan yang dihasilkan berdasarkan penggolahan data menggunakan metode Eco Indicator 99. Berdasarkan hasil pengolahan nilai yang dihasilkan dari single score dari masing-masing damage category yaitu human health atau dampak kesehatan manusia menjadi dampak terbesar dengan nilai 2,21 Pt, selanjutnya diikuti esources atau dampak terhadap sumber daya dengan nilai sebesar 2,09 Pt, dan ecosystem quality atau dampak terhadap kualitas ekosistem memiliki nilai terkecil yaitu 0,222 Pt. Rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk mengurangi dampak lingkungan menggunakan pendekatan produksi bersih yaitu dengan memanfaatkan limbah daun kayu putih dengan pembuatan briket sebagai pengganti bahan bakar kayu.