Islamiyah, Wardah Rahmatul
Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga; RS Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AKSONA

Nocturnal Epilepsy dan Dislokasi Sendi Bahu Anterior Bilateral Berulang Wardah Rahmatul Islamiyah; Ersifa Fatimah; Kurnia Kusumastuti
AKSONA Vol. 1 No. 2 (2021): JULY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.114 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i2.151

Abstract

Pendahuluan: Penyandang epilepsi sering mengalami cedera pada saat serangan. Tipe bangkitan tonik dan kontraksi kuat dari anggota gerak pada saat serangan seringkali menyebabkan cedera otot pada sendi dan tulang, sehingga menyebabkan dislokasi dan fraktur. Kontraksi hebat pada sekelompok otot dapat menyebabkan dislokasi dan instabilitas sendi bahu. Kejadian dislokasi sendi bahu bilateral patognomonis disebabkan oleh karena kejang. Akan tetapi pada umunya bentuk dislokasi pascakejang berupa dislokasi bahu posterior bilateral.  Laporan kasus berikut akan menyampaikan kejadian dislokasi sendi bahu anterior bilateral berulang pada penyandang nocturnal epilepsy. Kasus ini jarang terjadi dan diharapkan meningkatkan kewaspadaan klinisi dalam merawat penyandang epilepsi.  Kasus: Laki-laki 22 tahun dikonsulkan oleh spesialis bedah orthopedi dengan diagnosis dislokasi sendi bahu anterior berulang. Pasien sudah mengalami dislokasi sebanyak empat kali dalam satu tahun terakhir. Dislokasi bahu selalu terjadi setelah serangan kejang di malam hari ketika pasien tidur. Pasien rutin mengkonsumsi obat phenytoin dengan frekuensi serangan 3 – 4  bulan sekali setiap tidur malam. Pasien menginginkan kejadian ini tidak terulang lagi. Penggantian obat antiepilepsi yang tepat dan memiliki efek samping minimal pada tulang membantu mencegah terjadinya komplikasi dislokasi seperti ini.  Kesimpulan: Dislokasi sendi bahu anterior bilateral berulang merupakan bentuk cedera pascabangkitan yang jarang terjadi. Pemilihan jenis antikejang yang tepat, upaya kontrol kejang yang baik dan penatalaksanaan multidisiplin dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi berulang pada kasus serupa.    
Blood Pressure in Patients Obstructive Sleep Apnea and Resistant Hypertension with Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) Therapy: A Systematic Review and Meta-Analysis Rivania, Mutiara Rizqia; Pikir, Budi Sustyo; Lestari, Pudji; Islamiyah, Wardah Rahmatul
AKSONA Vol. 4 No. 2 (2024): JULY 2024
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/aksona.v4i2.52801

Abstract

Highlight: CPAP therapy is a medical treatment for individuals suffering from OSA, a condition that is frequently linked to cardiovascular disease and resistant hypertension. Five studies clearly showed that combining CPAP therapy with standard medications had a big effect on the blood pressure of patients with both obstructive sleep apnea (OSA) and resistant hypertension. Administering CPAP in conjunction with standard treatment, as per guidelines, has demonstrated the capability to lower both daytime and nighttime blood pressure in individuals affected by OSA and resistant hypertension.   ABSTRACT Introduction: Obstructive sleep apnea (OSA) is an upper respiratory tract disorder that is often associated with cardiovascular diseases, one of which is resistant hypertension (RH). On the other side, Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) is a medical treatment that is often used for patients with OSA and RH. Objective: This meta-analysis aimed to determine the effectiveness of CPAP in patients with OSA and resistant hypertension by measuring systolic and diastolic blood pressure at diurnal, nocturnal, and 24 hours. Methods: We conducted a systematic review using a PRISMA flowchart, utilizing sources such as PubMed, Scopus, Science Direct, and ClinicalTrials.gov with MeSH. We then reviewed these sources for quality studies using RoB2, and analyzed the data using the Revman website version. 5.4.Results: The five studies included in the analysis found that CPAP, while maintaining conventional drugs, significantly affected the blood pressure of patients with OSA and RH. The significant results were made clearer by obtaining data for nocturnal SBP pressure, mean -3.89 mmHg (95% CI: -7.03 to -0.76) with a p-value < 0.02, and then nocturnal DBP obtained a mean of -2.34 mmHg (95% CI: -4.70 to 0.02) with a p-value < 0.05. Meanwhile, the 24-hour results for SBP obtained a mean of -2.97 mmHg (95% CI: -5.88 to -0.06) with a p-value < 0.05, and the 24-hour results for DBP obtained a mean of -2.39 mmHg (95% CI: -4.62 to -0.16) with a p-value < 0.04. Conclusion: CPAP, while maintaining conventional treatment according to indications, can reduce 24-hour and nocturnal blood pressure in patients with OSA and resistant hypertension.