Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

KRITIK SOSIAL NOVEL SABAR TANPA BATAS KARYA ADHITYA MULYA DAN KESESUAIANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA Wijayanti, Tri Lutmasari; Sholeh, Khabib; Faizah, Umi; Santoso, Suryo Daru
Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 13, No 2 (2025): Jurnal Bahtera
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/btr.v13i2.9122

Abstract

Abstract : Social critique is essential for evaluating the functioning of social systems within a community and can be communicated through various forms. Critical thinking is necessary to foster empathy toward one’s surroundings. However, social critique has yet to receive adequate attention in school curricula, despite educators' potential to use literature as a tool to develop students’ critical thinking skills. This study aims to describe the social critique within Adhitya Mulya's novel Sabar Tanpa Batas through qualitative descriptive research using content analysis. Data collection involved literature review techniques, observation, and note-taking. The findings reveal that the social critique in Sabar Tanpa Batas includes: (1) Poverty, which encompasses the challenges and costs of accessing education, low income levels, and difficulties in finding employment; (2) Crime, including cases of abuse; (3) Family disorganization, such as the absence of financial support from the head of the family and instances of child abuse; (4) The role of youth in society, including undervaluation of certain skills; (5) Population issues, such as the unaffordability of housing. Based on validity, relevance, and interviews with informants, the social critique in Sabar Tanpa Batas can serve as an alternative literary teaching material for twelfth-grade high school students.Keywords: social criticism, literature teaching material.
ANALISIS KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL SUMI KARYA JAZULI IMAM DAN MODUL AJARNYA DI SMA KELAS XII Sanjaya, Mahestya Andi; Bagiya, Bagiya; Santoso, Suryo Daru
SURYA BAHTERA Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Surya Bahtera
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Idealnya, sastra berperan penting dalam mencerminkan realitas sosial dan budaya di sekitarnya, serta menjadi media kritik sosial yang efektif dalam menyampaikan pesan moral, sosial, dan politik kepada masyarakat. Dalam konteks pendidikan, khususnya di tingkat SMA, pembelajaran sastra diharapkan mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami kritik sosial melalui karya sastra, sekaligus memupuk sikap kritis terhadap permasalahan yang ada di sekitar mereka. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran kritik sosial melalui sastra sering kali kurang optimal, baik karena keterbatasan pemahaman siswa terhadap makna tersirat dalam karya sastra maupun metode pengajaran yang belum sepenuhnya mendukung eksplorasi kritik sosial secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur intrinsik dalam Novel Sumi karya Jazuli Imam; (2) kritik sosial dalam novel tersebut; dan (3) rencana modul ajar kritik sosial novel di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data dari kutipan novel. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka, simak, catat, dan observasi. Analisis data menggunakan teknik content analysis dengan penyajian informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur intrinsik novel ini meliputi: tema mayor pencarian jati diri dan tema minor masalah keluarga; tokoh utama Sumi, dengan tokoh tambahan seperti Dawiyah, Pak Stefan, dan Pak Saldi; alur maju; latar tempat di kampung Pancoran, kota Marlo, serta waktu pagi hingga malam. Amanatnya adalah tidak mudah menyerah, kebaikan akan kembali kepada yang berbuat baik. Kritik sosial dalam novel mencakup: masalah agama (mengingat Tuhan), ekosistem (minimnya air bersih dan rusaknya hutan), moral (hilangnya rasa kemanusiaan), serta politik (kesenjangan sosial dan keamanan). Rencana pembelajaran menggunakan metode TANDUR yang terdiri dari enam langkah: Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, dan Rayakan.Kata kunci: kritik sosial, novel, modul ajar.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS PROSEDUR MENGGUNAKAN METODE QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS VII MTS AL-IMAN 02 BULUS Mufid, Anwar; Sholeh, Khabib; Santoso, Suryo Daru
SURYA BAHTERA Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Surya Bahtera
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis meemukan bahwa menulis prosedur teks di kelas VII MTs Al-Iman 02 Bulus lebih banyak disajikan menggunakan metode ceramah dan pengugasan, sehingga siswa cepat merasa bosan dengan materi yang diajarkan. Hal itu membuat siswa pasif dan tidak aktif dalam kelas, akibatnya banyak siswa yang ngobrol sendiri, bermain, dan ada yag tertidur. Berdasarkan hasil wawancara terhadap Bapak Rafifidiato, S.Pd selaku guru Bahasa Indonesia kelas VII, terbukti dengan hasil penulisan teks prosedur pada siswa kelas VII MTs Al-Iman 02 Bulus masih belum mencapai KKM, yakni 75. Hal itu menyebabkan model pembelajaran yang tergolong masih monoton sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengekspresikan apa yang siswa pikirkan dalam bentuk tulisan. Penelitian ini merupakan tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) proses pembelajaran menulis teks prosedur dengan model quantum learning pada siswa kelas VII MTs Al-Iman 02 Bulus, (2) peningkatan keterampilan menulis teks prosedur dengan model quantum learning pada siswa kelas VII MTs Al-Iman 02 Bulus. Proses belajar siswa dalam pembelajaran menulis teks prosedur pada prasiklus belum menggunakan model quantum learning dan pada siklus I dan siklus II penulis menggunakan model quantum learning terbukti menjadi lebih baik, dilhat dari hasil pengamatan atau observasi pada prasiklus ke siklus I siswa yang aktif bertanya kepada guru sebanyak 10 siswa atau 27,02% menjadi 20 siswa atau 54,06%, antusias siswa dalam proses pembelajaran sebanyak 12 siswa atau 32,43% menjadi 19 siswa atau 51,35%, siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan sebanyak 14 siswa atau 37,83% menjadi 20 siswa atau 54,06%. Pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan siswa, keaktifan siswa bertanya kebada guru sebanyak 30 siswa atau 81,09%, antusias siswa dalam proses pembelajaran sebanyak 33 siswa atau 89,18%, tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas sebanyak 33 siswa atau 89,18% . Peningkatan keterampilan menulis siswa dapat dilihat dari hasil tes siswa pada tahap prasiklus sampai siklus II dengan rata-rata prasiklus mencapai 50,0, siklus I meningkat menjadi 65,0, dan siklus II meningkat menjadi 79,0.