Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGARUH VARIABEL PENINGKATAN PRODUKTIVITAS, PENGUASAAN TEKNOLOGI BARU DAN PELATIHAN TERHADAP PENGENDALIAN MUTU TERPADU KARYAWAN PADA INDUSTRI TEKSTIL DAN GARMEN DI SURAKARTA Darmawi (AK-Tekstil Surakarta), Ahmad; Darsono, Darsono; Kartono, Drajat T; Anantayu (Universitas Sebelas Maret), Sapja
JURNAL MANAJEMEN INDUSTRI DAN LOGISTIK Vol 2, No 1 (2018): page : 03-95
Publisher : Politeknik APP Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.934 KB) | DOI: 10.30988/jmil.v2i1.50

Abstract

Pengendalian Mutu Terpadu membutuhkan partisipasi dari semua divisi dalam perusahaan, seperti divisi pemasaran,disain, pabrikasi. Pemeriksaan laboratorium. Sebagai sebuah proses yang terintegrasi dengan berfokus pada pelanggan dan penerima manfaat, namun secara bersamaan mempunyai tujuan untuk melindungi dan meningkatkan kepuasan semua pemangku kepentingan. Pengembangan karyawan memang membutuhkan biaya cukup besar, tetapi biaya ini merupakan investasi jangka panjang bagi perusahaan di bidang personalia. Karena karyawan yang cakap dan trampil akan dapat bekerja lebih efisien, efektif, pemborosan bahan baku, dan ausnya mesin berkurang, hasil kerjanya lebih baik maka daya saing perusahaan akan semakin besar. Tujuan dari penelitian ini adalah (a) mengetahui Tingkat Produktivitas Karyawan (TPK), (b) Pelatihan Karyawan (PK) dan (c) Pengembangan Teknologi Terbaru (PTT) apakah berpengaruh positif terhadap Pengendalian Mutu Terpadu Karyawan (PMTK). Penelitian ini menggunakan metode penelitian Survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian didapatkan Tingkat Produktivitas Karyawan berpengaruh positif terhadap Pengendalian Mutu Terpadu Karyawan dengan koefisien standarized 0,072. Pelatihan Karyawan berpengaruh positif terhadap Pengendalian Mutu Terpadu Karyawan dengan koefisien standarized 0,164. Pengembangan Teknologi Terbaru berpengaruh positif terhadap Pengendalian Mutu Terpadu Karyawan dengan koefisien standarized 0,114.
POTENSI TIMBULAN SAMPAH PADA OBJEK PARIWISATA PANTAI Ahmad Darmawi
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 9 No. 1 Juni 2017
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.152 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v9i1.2907

Abstract

Lingkungan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamis, kaya keanekaragaman hayati dan banyak manfaatnya bagi masyarakat. Lingkungan pantai ini sangat potensial untuk dikembangkan baik sebagai kawasan wisata, budaya, pertanian, pertambangan, perikanan dan laboratorium alam bagi kepentingan ilmiah, dalam kenyataannya banyak pengelola kebersihan menghadapi berbagai masalah dan kendala sehingga mereka tidak dapat menyediakan pelayanan yang baik sesuai dengan ketentuan teknis dan harapan masyarakat. Disana sini sering terjadi pencemaran akibat pengelolaan yang kurang baik sehingga menimbulkan berbagai masalah pencemaran selama pelaksanaan kegiatan teknis penanganan persampahan. Dari hasil penelitian didapatkan komposisi berat sampah oranik pada kawasan wisata pantai 78,17% merupakan daun-daun, 19,87% sisa limbah rumah makan. Komposisi volume sampah organik pada kawasan wisata pantai 63,26% merupakan daun-daun, 33,27% sisa limbah rumah makan.
Pengaruh Variabel Peningkatan Produktivitas , Penguasaan Teknologi Baru dan Pelatihan Terhadap Pengendalian Mutu Terpadu Karyawan Pada Industri Tekstil dan Garmen di Surakarta Ahmad Darmawi; Darsono Darsono
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik (JMIL) Vol 2, No 1 (2018): page 03 - 103
Publisher : Politeknik APP Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.463 KB) | DOI: 10.30988/jmil.v2i1.21

Abstract

Integrated Quality Control requires the participation of all divisions within the company, such as marketing, design, manufacturing. Laboratory examination. As an integrated process that focuses on customers and beneficiaries, it simultaneously aims to protect and enhance the satisfaction of all stakeholders. Employee development does cost a lot, but it is a long-term investment for the company in personnel. Because skilled and skilled employees will be able to work more efficiently, effectively, wastage of raw materials, and less machine wear, better results will increase the company's competitiveness. The purpose of this research is (a) to know the level of Employee Productivity (TPK), (b) Employee Training (PK) and (c) Latest Technology Development (PTT) whether the positive effect on Integrated Employee Quality Control (PMTK). This research use Survey research method by using quantitative approach. The results obtained the employee Productivity Level positive effect on Integrated Quality Control Employees with 0,072 standardized coefficients. Employee Training has a positive effect on Integrated Employee Quality Control with a standardized coefficient of 0.164. Latest Technology Development positively influences to Integrated Quality Control Employee with a coefficient of standardized 0,114.
Quality Analysis of Simplicia Red Ginger (Zingiber officinale Var. Rubrum) Rhizome with Different Drying Temperature Farrel, Rizki; Aulawi, Tahrir; Darmawi, Ahmad
Jurnal Online Pertanian Tropik Vol. 7 No. 1 (2020): JURNAL ONLINE PERTANIAN TROPIK
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.136 KB) | DOI: 10.32734/jopt.v7i1.3866

Abstract

Red Ginger is ginger that is often used as a basic ingredient of herbal medicine because of its high essential oil content and the spiciest taste. Part of the Red Ginger plant that is commonly utilized is a rhizome, to maintain the quality of ginger rhizome so as not to reduce the economic value, the fresh ginger rhizome is processed first before storing or selling, one of the ways is in the form of Simplicia. The purpose of this study was to obtain the best drying temperature for the quality of red ginger simplicia. The treatments given were drying at 90oC (W1), 100oC (W2), 110oC (W3), and 120oC (W4). The study design used a nonfactorial Complete Randomized Design (RAL) consisting of 5 replications. Drying using an oven that lasts for 300 minutes. Data were analyzed by analysis of variance and if it had the real effect it was followed by Duncan's test (DMRT). Observations made were water content, ash content, starch levels, oleoresin levels, and vitamin C. The best drying results are at a temperature of 120°C at a moisture content with an average value of 3.70%, a temperature of 90°C produces the best drying at ash content with an average value of 4.79%, the starch content of 55.72%, oleoresin content of 50.79% and vitamin C 7.67%. It can be concluded that drying using a temperature of 120°C results in a better quality of Simplicia red ginger rhizome in the water content. Whereas at Ash content, the starch levels, oleoresin levels, and vitamin C, the best temperature is in the drying treatment at 90°C.  
Penyesuaian Speleng Gear terhadap Konsistensi Berat dan Nomor Benang (Ne) pada Mesin Ring Spinning untuk Produksi Ne CMC 24k Darmawi, Ahmad; Sari, Febri Luvita
Jurnal Tekstil Vol 7 No 2 (2024): Vol 7 No 2 Desember 2024
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v7i2.105

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh penyesuaian speleng gear pada mesin Ring Spinning terhadap konsistensi berat dan nomor benang (Ne) pada produksi benang Ne CMC 24k. Ketidaksesuaian dalam nomor benang dapat berdampak signifikan pada kualitas produk tekstil, yang mendorong perlunya kontrol kualitas yang ketat dalam proses pemintalan. Metode penelitian melibatkan pengambilan sampel benang dari spindel 753 hingga 757, yang diuji sebelum dan sesudah penyesuaian speleng gear untuk menilai efektivitas perbaikan. Prosedur penelitian mencakup pengukuran berat dan nomor benang pada kedua kondisi tersebut serta pengamatan perbedaan antara sisi kanan (R) dan kiri (L) pada setiap spindel. Hasil menunjukkan peningkatan stabilitas Ne, namun masih terdapat variasi antara sisi kanan (R) dan kiri (L) pada beberapa spindel yang tidak sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan. Temuan ini menggarisbawahi perlunya pemantauan kualitas secara real-time dan penyesuaian parameter produksi untuk mencapai konsistensi benang yang lebih baik. Rekomendasi mencakup penerapan teknologi pengawasan berbasis komputer untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk secara keseluruhan.
Penggunaan Alat Ukur pada Mesin-mesin Industri Tekstil Sebagai Standar Parameter Kinerja Mesin Darmawi, Ahmad; Yulianto, Bambang
Jurnal Tekstil Vol 5 No 1 (2022): Vol 5 No 1 Juni 2022
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v5i1.18

Abstract

Pengukuran memainkan aktivitas penting di semua cabang teknik dan sains. Pengukuran dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk memperoleh perbandingan kuantitatif antara standar yang telah ditentukan sebelumnya dan besaran parameter yang tidak diketahui. Kecepatan komponen ini dapat diukur dengan menggunakan instrumen jenis kontak atau non-kontak. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa komponen berjalan pada kecepatan yang ditetapkan sesuai dengan standar yang ditetapkan pada tampilan mesin dan untuk mengetahui apakah ada variasi kecepatan. Pengukuran merupakan bagian integral dari setiap sistem kontrol otomatis untuk tindakan kontrol, perbedaan atau kesalahan antara nilai aktual dan nilai yang diinginkan dari variabel yang akan ditentukan atau diukur. Evaluasi kinerja mesin memerlukan pengukuran berbagai parameter. Pengukuran yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengukuran yang digunakan pada mesin industri tekstil Tipe mekanik, Tipe listrik, Tipe optik dan Tipe non-kontak.
Setting Jarak Antara Top Flat dengan Cylinder terhadap Jumlah Neps Sliver Carding di Mesin Carding Darmawi, Ahmad; Mahmudha, Sukhatsti Jhohan
Jurnal Tekstil Vol 5 No 2 (2022): Vol 5 No 2 Desember 2022
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v5i2.36

Abstract

Proses di mesin carding adalah proses terpenting dari pembuatan benang, karena di mesin carding akan sangat mempengaruhi hasil produk benang yang akan dihasilkan oleh proses selanjutnya terutama untuk kerataan sliver, kebersihan sliver, serta jumlah neps yang terkandung. Ketidaksempurnaan proses di mesin akan berpengaruh untuk dapat meningkatkan hasil produksi dan menjaga kualitas benang yang dihasilkan. Kerataan pada benang dipengaruhi oleh tebal (thick), tipis (thin), dan gumpalan serat yang tidak dapat diurai lagi (neps). Salah satu cara yang dapat meningkatkan hasil produksi dan menjaga kualitas benang yang dihasilkan dengan memperkecil timbulnya neps. Lalu untuk memperkecil timbulnya neps dilakukan trial terhadap jarak setting antara top flat dengan cylinder. Metode penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian ini menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, fenomena yang bersifat alamiah maupun fenomena berupa hasil rekayasa. Hasil penelitian didapatkan faktor penyebab tingginya jumlah neps sliver carding melebihi masa pakai (lifetime) dan setting jarak antara top flat dengan cylinder terlalu lebar.
Analisis Jump Cone Pada Mesin Winding Savio Menggunakan Metode DMAIC dalam Pengambilan Keputusan Darmawi, Ahmad; Anandita, Reyno; Parmawati, Sih
Jurnal Tekstil Vol 6 No 2 (2023): Vol 6 No 2 Desember 2023
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v6i2.65

Abstract

Mesin winding merupakan tahap akhir dalam proses pemintalan sebelum di packing dan dikirimkan untuk customer, maka dari itu produk yang dihasilkan harus dipastikan sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan, namun pada kenyataanya masih sering dijumpai berbagai cacat sehingga penelitian ini difokuskan pada masalah cone defect yang ada di mesin winding Savio agar dapat menekan jumlah cacat gulungan. Penelitian ini difokuskan pada defect jump cone dengan pendekatannya menggunakan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) untuk meningkatkan proses. Setiap langkah DMAIC dilakukan untuk menganalisis secara hati-hati dan menjaga proses tetap tepat. Pada tahap measure mengunakan diagram pareto untuk mengetahui frekuensi cacat, dan akan diambil cacat yang dominan sebagai langkah perbaikan. Pada tahap analisis, diagram sebab-akibat (fishbone diagram) digunakan dalam analisis penyebab masalah. Pada tahap improve mengunakan metode Failure Mode Effect and Analysis (FMEA). Pada tahap control disaarankan untuk menggunakan tools berupa checklist untuk mengontrol hal-hal terkait diagram fishbone yang dalam tahap analyze.
Penanganan Peak Daerah 18 cm Menggunakan Pendekatan PDCA pada Mesin Drawing Finisher FA 306 A Rosida, Alya; Darmawi, Ahmad; Aribowo, Irham
Jurnal Tekstil Vol 6 No 2 (2023): Vol 6 No 2 Desember 2023
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v6i2.66

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai kendala mekanik atau mechanical fault yang sering muncul pada mesin drawing finisher dalam proses produksi benang. Mechanical fault tersebut berada pada area drafting zone, meliputi wilayah callender roll, front roll, middle roll, dan back roll. Untuk mengidentifikasi letak permasalahan, digunakan perhitungan rumus berdasarkan pembacaan gearing diagram mesin drawing finisher. Meskipun perhitungan tersebut tidak memberikan hasil yang akurat secara langsung, namun perhitungan tersebut dapat membantu menyempitkan ruang lingkup permasalahan sehingga mekanik tidak perlu membongkar seluruh bagian mesin. Hasil uji keluaran spectograf menunjukan terdapat peak pada daerah 18 cm yang merupakan wilayah callender roll hasil uji menunjukan adanya penyimpangan batas standar yaitu sebesar 75% sedangkan untuk standar presentase peak berada pada batas standar 55%. Penyebab utama kemunculan peak adalah kesalahan penyetelan toleransi clearen gear. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan peak yang ada pada wilayah callender roll menggunakan metode Plan, Do, check, Action (PDCA) dengan menggunakan metode PDCA tergambar secara jelas dan rinci bagaimana penyelesaian peak khususnya pada daerah 10 cm yang memiliki penyimpangan batas standar sebesar 75% sehingga turun menjadi 25%.
Studi tentang Peningkatan Kualitas Benang Cotton Compact Ne 40 UW Lot 36-33 Darmawi, Ahmad; Rendy Stiyaji
Jurnal Tekstil Vol 8 No 1 (2025): Vol 8 No 1 Juni 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v8i1.106

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kebersihan mesin, kondisi lingkungan, dan pengaturan ketegangan terhadap kualitas benang dalam proses winding pada industri tekstil. Metode penelitian ini melibatkan penggunaan mesin winding otomatis dengan pengaturan ketegangan canggih, serta pengukuran kebersihan mesin dan pengaruh variabel lingkungan seperti suhu dan kelembaban. Material yang digunakan adalah benang roving berkualitas tinggi, dan kebersihan mesin dijaga dengan pemeliharaan rutin untuk mencegah akumulasi fly waste yang dapat mempengaruhi ketegangan benang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersihan mesin yang terjaga dengan baik mengurangi tingkat cacat benang hingga 7%, dibandingkan dengan mesin yang tidak terawat. Pengaturan ketegangan yang optimal mengurangi cacat benang sebesar 15%, sementara kondisi lingkungan yang stabil, terutama kelembaban, juga berkontribusi pada peningkatan kualitas benang. Benang yang diproses dengan mesin yang bersih dan pengaturan ketegangan yang konsisten memiliki kualitas yang lebih baik, dengan lebih sedikit cacat seperti thin places dan loops. Kesimpulannya, kebersihan mesin, pengaturan ketegangan yang stabil, dan pengelolaan kondisi lingkungan yang tepat memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas benang dalam proses winding. Untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk, disarankan untuk menerapkan pemeliharaan mesin yang lebih ketat, pengaturan ketegangan yang konsisten, serta pengendalian suhu dan kelembaban yang lebih baik.