Sari, Ayi Puspita
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan kesehatan cuci tangan dan pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan media KPSP dan Denver II Setiawati, Setiawati; Sari, Ayi Puspita; Yusuf, Dodi Iqbal; Puta, Dava Arya; Kusumaningrum, Dyah Intan; Sari, Walenda Pitri Novidia; Kumala, Ajeng Dyah; Ferisca, Fidela; Wahyuningsih, Indah; Hasanah, Uswatun
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2347

Abstract

Background: Handwashing with soap is an essential part of Clean and Healthy Living Behaviors, which plays a role in preventing infectious diseases in children. However, at the Pasir Gintung Health Post within the Simpur Community Health Center in Bandar Lampung, proper handwashing practices are still low, as are parents and cadres' limited knowledge regarding growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Purpose: To increase knowledge regarding standard handwashing and improve cadres' ability to perform growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Method: This community service activity was carried out on November 29, 2025 at the Pasir Gintung Health Post, the working area of ​​the Simpur Bandar Lampung Health Center. This activity was attended by 10 parents and their children and 3 health cadres. The activity used a media-based health education approach and practical supervision to improve the knowledge and skills of parents and health cadres regarding handwashing with soap behavior and child growth and development examinations using DPSQ and Denver II. The child growth and development examination instruments used DPSQ sheets, Denver II forms, and standard guidebooks. Evaluation of the activity was carried out using questionnaires to participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test) regarding the importance of handwashing with soap, important times for handwashing, and handwashing steps according to WHO standards, while evaluation for health cadres included supervision and observation of cadres in conducting child growth and development screening using DPSQ and Denver II regarding the importance of early detection and follow-up steps if there is suspicion of growth and development delays in children. Results: Data obtained on the level of knowledge of participants regarding handwashing stages before the educational activity showed that 3 participants (30.0%) were in the good category and 7 participants (70.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) were in the poor category. Meanwhile, regarding the practical actions of participants in washing their hands correctly before the educational activity, 5 participants (50.0%) were in the good category and 5 participants (50.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) was in the poor category. Conclusion: Health education activities using proposals, SAP, and leaflets, as well as direct demonstrations, were effective in increasing knowledge and skills in implementing proper handwashing with soap according to standards. Increased community knowledge and cadre skills contribute to changes in community behavior towards healthy living and early detection as an effort to prevent the causes of child development problems. Suggestion: It is hoped that the handwashing health education program, along with supervision of DPSQ examinations and child development, can be implemented sustainably and integrated with maternal and child health service programs. Health workers are expected to continue improving their competencies through regular training on effective health education techniques and the appropriate and consistent use of DPSQ instruments. Keywords: Child development; Denver II; DPSQ; Handwashing; Health cadres; Health education Pendahuluan: Cuci tangan pakai sabun merupakan bagian penting dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang berperan dalam mencegah penyakit infeksi pada anak. Namun, di Poskeskel Pasir Gintung wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung, masih ditemukan rendahnya praktik cuci tangan yang benar serta keterbatasan pengetahuan orang tua dan kader mengenai pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan KPSP dan Denver II. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai cuci tangan sesuai standar dan peningkatan kemampuan kader dalam melakukan deteksi tumbuh kembang melalui pemeriksaan KPSP dan Denver II. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2025 di Poskeskel Pasir Gintung, wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Kegiatan ini diikuti 10 orang tua beserta anaknya dan 3 orang kader kesehatan. Kegiatan menggunakan pendekatan edukasi kesehatan berbasis media dan supervisi praktik untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan orang tua dan kader kesehatan terkait perilaku cuci tangan pakai sabun serta pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan KPSP dan Denver II. Instrumen pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan lembar KPSP, form Denver II, dan buku panduan standar. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test) mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun, waktu-waktu penting untuk cuci tangan, serta langkah-langkah mencuci tangan sesuai standar WHO, sedangkan evaluasi untuk kader kesehatan berupa supervisi dan observasi pada kader dalam melakukan skrining pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan menggunakan KPSP dan Denver II mengenai pentingnya deteksi dini dan langkah tindak lanjut jika ditemukan kecurigaan keterlambatan tumbuh kembang pada anak. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan peserta tentang tahapan cuci tangan sebelum kegiatan edukasi sebanyak 3 orang (30.0%) dalam kategori baik dan dalam kategori kurang sebanyak 7 orang (70.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 1 orang (10.0%). Sementara itu, untuk tindakan praktik peserta dalam melakukan cuci tangan dengan benar sebelum kegiatan edukasi yang dalam kategori baik sebanyak 5 orang (50.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 5 orang (50.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang 1 orang (10.0%). Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan dengan menggunakan media proposal, SAP, dan leaflet, serta praktik langsung demonstrasi, efektif mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan perilaku cuci tangan pakai sabun yang benar sesuai standar. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dan keterampilan kader memberikan kontribusi terhadap perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat dan deteksi dini sebagai upaya pencegahan penyebab masalah tumbuh kembang anak. Saran: Diharapkan, program pendidikan kesehatan cuci tangan serta supervisi pemeriksaan KPSP dan perkembangan anak dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tenaga kesehatan diharapkan terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan rutin terkait teknik edukasi kesehatan yang efektif serta penggunaan instrumen KPSP secara tepat dan konsisten.
Implementasi senam hipertensi sebagai upaya efektif dalam menurunkan tekanan darah Sari, Walenda Pitri Novida; Usman, Irindy Inayah; Rohma, Eis Ainun; Ningsih, Indah Wahyu; Nasta, Beatrick Rosali; Sari, Ayi Puspita; Indriani, Dwi Liza; Winanda, Bayu; Maharani, Erliana; Marzuna, Marzuna; Mukti, Adika Dwiki; Agnesta, Desvia Ratin; Ramadan, Defri Wan; Rianty, Dian Asih
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3059

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease with a high prevalence and a risk of serious complications such as stroke and heart disease. One non-pharmacological effort to control blood pressure is through physical activity, such as hypertension exercises. Purpose: To determine the effectiveness of hypertension exercises on lowering blood pressure in the community. Method: A pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach was used. The activity was conducted on 66 respondents in Dusun II Aryo Jipang in April 2026. The hypertension exercises intervention was conducted three times, with approximately 20–25 active participants per session. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention using a sphygmomanometer. Results: The results showed that before the intervention, 44 respondents (66.7%) had hypertension with an average blood pressure of 148/92 mmHg. After the hypertension exercises, there was a trend towards a decrease in blood pressure among respondents who actively participated. This indicates that hypertension exercises have a positive effect on blood pressure control. Conclusion: Implementation of hypertension exercises in the community has shown a positive effect on lowering blood pressure. Hypertension exercises, as a form of physical activity, have been shown to be an effective non-pharmacological intervention in helping control blood pressure. Regular and continuous implementation of hypertension exercises is necessary to achieve maximum results in lowering blood pressure and improving public health. Suggestion: The community, especially those with hypertension, is encouraged to engage in physical activity, such as hypertension exercises, at least 3–5 times a week, as an effort to control blood pressure. The community is also encouraged to adopt a healthy lifestyle, including a low-salt diet, maintaining a healthy weight, and having regular blood pressure checks. Keywords: Blood pressure; Community service; Hypertension; Hypertension exercises; Physical activity Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi dan berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tekanan darah adalah melalui aktivitas fisik, seperti senam hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada masyarakat. Metode: Menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada 66 responden di Dusun II Aryo Jipang pada bulan April 2026. Intervensi berupa senam hipertensi dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jumlah peserta aktif sekitar 20–25 orang setiap pertemuan. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan tensimeter. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebanyak 44 responden (66.7%) mengalami hipertensi dengan rerata tekanan darah 148/92 mmHg. Setelah dilakukan senam hipertensi, terdapat kecenderungan penurunan tekanan darah pada responden yang mengikuti kegiatan secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa senam hipertensi memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian tekanan darah. Simpulan: Pelaksanaan senam hipertensi pada masyarakat menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap penurunan tekanan darah. Senam hipertensi sebagai bentuk aktivitas fisik terbukti dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif dalam membantu mengontrol tekanan darah. Diperlukan pelaksanaan senam hipertensi secara rutin dan berkelanjutan agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dalam menurunkan tekanan darah serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kepada masyarakat khususnya penderita hipertensi untuk rutin melakukan aktivitas fisik seperti senam hipertensi secara teratur minimal 3–5 kali dalam seminggu sebagai upaya pengendalian tekanan darah. Diharapkan juga kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh, seperti mengatur pola makan rendah garam, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.