Usman, Irindy Inayah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil Rilyani, Rilyani; Prayoga, Andes; Avifah, Avifah; Ramadhan, Defri Wan; Agnesta, Desvia Ratin; Astuti, Evi; Erwan, Fragesta; Andani, Meri; Amartya, Salsa Ananstasya; Setiawan, Shandi; Usman, Irindy Inayah; Dari, Ulan; Nasta, Beatrick Rosali; Aulia, Devita; Utami, Julia Tri; Sari, Putri Melinda
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2586

Abstract

Background: Pregnant women need adequate nutrition to stay healthy. This is achieved by increasing and varying the food they consume, but avoiding excessive portion sizes or restricting their diet, as this can harm the fetus. Chronic Energy Deficiency (CED) is a condition in which a pregnant woman experiences a prolonged (yearly or chronic) lack of food, resulting in health problems such as an inability to meet increased nutritional needs during pregnancy. Pregnant women with CED have a higher risk of giving birth with low birth weight (LBW) compared to pregnant women without CED. Purpose: To provide education to increase pregnant women's knowledge about how to prevent and manage CED. Method: This activity was conducted on November 29, 2024, at 9:30 a.m. Western Indonesian Time (WIB) at the Simpur Community Health Center (Puskesmas) in Bandar Lampung. A total of 24 pregnant women and mothers with toddlers attended the activity to serve as respondents. The goal of this activity was health education to increase pregnant women's knowledge regarding the prevention of chronic energy deficiency during pregnancy. Respondent knowledge was measured using a questionnaire administered before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation was conducted by asking respondents questions about the explanation and observing changes in their knowledge levels based on the questionnaire results between before and after the educational activity. Results: Data obtained showed that the level of knowledge of respondents before the educational activity was 4 (16.7%) in the good category, 12 (50.0%) in the adequate category, and 8 (33.3%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge after the educational activity was 16 (66.7%) in the good category, 8 (33.3%) in the adequate category, and no respondents had poor knowledge. Conclusion: This educational activity successfully increased the knowledge and awareness of pregnant women regarding the importance of preventing and managing chronic energy deficiency (CED). Increased knowledge among pregnant women will minimize the risk of CED, thereby improving the health and nutritional quality of pregnant women, which will contribute to achieving the national goal of reducing stunting and maternal mortality. Suggestion: Community Health Centers (Puskesmas) are expected to improve and optimize the implementation of education on the prevention of chronic energy deficiency (CED) for pregnant women in a structured, sustainable, and individual-based manner. Program support that involves the family as a support system for pregnant women is needed to improve adherence to nutritional recommendations. Keywords: Chronic energy deficiency; Health education; Pregnant women; Prevention Pendahuluan: Ibu hamil memerlukan nutrisi agar tetap sehat. Ini dilakukan dengan menggunakan perbanyak dan variasikan makanan yang dikonsumsinya, namun jangan menambah ukuran porsinya dan juga membatasi pola makan karena dapat membahayakan janin dalam kandungan. Defisiensi Energi Kronis adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil mengalami kekurangan makanan dalam jangka waktu yang lama (menahun atau menahun), sehingga menimbulkan gangguan kesehatan seperti tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan gizi selama kehamilan. Ibu hamil yang menderita KEK memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan dengan berat badan lebih rendah (BBLR) dibandingkan ibu hamil tanpa KEK. Tujuan: Memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai cara pencegahan dan penanganan KEK. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2024 pada pukul 09.30 WIB di Wilayah Kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Sebanyak 24 ibu hamil dan ibu yang memiliki balita menghadiri kegiatan untuk menjadi responden. Sasaran dalam kegiatan ini adalah pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai pencegahan kejadian kekurangan energi kronik selama menjalani kehamilan. Pengukuran pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kembali mengenai isi penjelasan kepada responden dan melihat perubahan tingkat pengetahuan berdasarkan hasil kuesioner antara sebelum kegiatan edukasi dan setelah kegiatan edukasi. Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 4 (16.7%) dalam kategori baik, sebanyak 12 (50.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 16 (66.7%) dalam kategori baik, sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori cukup, dan tidak ada responden yang memiliki pengetahuan kategori kurang. Simpulan: Kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya pencegahan dan penanganan gangguan kurang energi kronik (KEK). Peningkatan pengetahuan ibu hamil akan meminimalkan risiko KEK sehingga peningkatan derajat kesehatan dan kualitas gizi ibu hamil akan berkontribusi dalam pencapaian tujuan nasional yaitu menurunkan angka stunting dan angka kematian ibu. Saran: Diharapkan agar Puskesmas dapat meningkatkan dan mengoptimalkan pelaksanaan edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil secara terstruktur, berkesinambungan, dan berbasis kebutuhan individu. Diperlukan dukungan program yang melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung ibu hamil guna meningkatkan kepatuhan terhadap anjuran gizi.
Implementasi senam hipertensi sebagai upaya efektif dalam menurunkan tekanan darah Sari, Walenda Pitri Novida; Usman, Irindy Inayah; Rohma, Eis Ainun; Ningsih, Indah Wahyu; Nasta, Beatrick Rosali; Sari, Ayi Puspita; Indriani, Dwi Liza; Winanda, Bayu; Maharani, Erliana; Marzuna, Marzuna; Mukti, Adika Dwiki; Agnesta, Desvia Ratin; Ramadan, Defri Wan; Rianty, Dian Asih
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3059

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease with a high prevalence and a risk of serious complications such as stroke and heart disease. One non-pharmacological effort to control blood pressure is through physical activity, such as hypertension exercises. Purpose: To determine the effectiveness of hypertension exercises on lowering blood pressure in the community. Method: A pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach was used. The activity was conducted on 66 respondents in Dusun II Aryo Jipang in April 2026. The hypertension exercises intervention was conducted three times, with approximately 20–25 active participants per session. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention using a sphygmomanometer. Results: The results showed that before the intervention, 44 respondents (66.7%) had hypertension with an average blood pressure of 148/92 mmHg. After the hypertension exercises, there was a trend towards a decrease in blood pressure among respondents who actively participated. This indicates that hypertension exercises have a positive effect on blood pressure control. Conclusion: Implementation of hypertension exercises in the community has shown a positive effect on lowering blood pressure. Hypertension exercises, as a form of physical activity, have been shown to be an effective non-pharmacological intervention in helping control blood pressure. Regular and continuous implementation of hypertension exercises is necessary to achieve maximum results in lowering blood pressure and improving public health. Suggestion: The community, especially those with hypertension, is encouraged to engage in physical activity, such as hypertension exercises, at least 3–5 times a week, as an effort to control blood pressure. The community is also encouraged to adopt a healthy lifestyle, including a low-salt diet, maintaining a healthy weight, and having regular blood pressure checks. Keywords: Blood pressure; Community service; Hypertension; Hypertension exercises; Physical activity Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi dan berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tekanan darah adalah melalui aktivitas fisik, seperti senam hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada masyarakat. Metode: Menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada 66 responden di Dusun II Aryo Jipang pada bulan April 2026. Intervensi berupa senam hipertensi dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jumlah peserta aktif sekitar 20–25 orang setiap pertemuan. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan tensimeter. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebanyak 44 responden (66.7%) mengalami hipertensi dengan rerata tekanan darah 148/92 mmHg. Setelah dilakukan senam hipertensi, terdapat kecenderungan penurunan tekanan darah pada responden yang mengikuti kegiatan secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa senam hipertensi memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian tekanan darah. Simpulan: Pelaksanaan senam hipertensi pada masyarakat menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap penurunan tekanan darah. Senam hipertensi sebagai bentuk aktivitas fisik terbukti dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif dalam membantu mengontrol tekanan darah. Diperlukan pelaksanaan senam hipertensi secara rutin dan berkelanjutan agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dalam menurunkan tekanan darah serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kepada masyarakat khususnya penderita hipertensi untuk rutin melakukan aktivitas fisik seperti senam hipertensi secara teratur minimal 3–5 kali dalam seminggu sebagai upaya pengendalian tekanan darah. Diharapkan juga kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh, seperti mengatur pola makan rendah garam, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.