Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGELOLAAN MODEL PENDIDIKAN TEMAN SEBAYA (PEER GROUP) DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA Camellia, Vita; Atika, Tuti
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.485 KB) | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4132

Abstract

Kampung Kubur berada di Jl. Zainul Arifin, Lingkungan I Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah Kota Medan. Jumlah masyarakat Kampung Kubur terdiri dari 270 kk, 1093 jiwa. Identik dengan peredaran narkoba telah membuat stigma negatif bagi warga. Awal tahun 2015 peredaran narkoba di Kampung Kubur menjadi sorotan perhatian masyarakat Indonesia. Penggerebekan dadakan sering dilakukan dengan tujuan agar Kampung Kubur terbebas dari pengaruh negatif peredaran narkoba. Permasalahan baru kemudian muncul seiring semakin hilangnya peredaran narkoba dari daerah tersebut. Banyak masyarakat yang kehilangan sumber mata pencahariannya. Kelompok remaja juga menjadi resah. Geliat ekonomi berkurang drastis. Bermain keluar Kampung Kubur untuk mengisi waktu luangnya juga ragu tidak diterima, karena stigma negatif yang melekat. Dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan zat, teman kelompok sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau mencetuskan penyalahgunaan narkoba pada diri seseorang. Teman sebaya memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumsi zat-zat seperti tembakau, alkohol, dan obat-obatan lainnya. Teman sebaya merupakan faktor eksternal yang juga dapat memengaruhi pergaulan pada remaja, baik itu pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negative. Pengabdian ini dilaksanakan di Kampung Kubur. Target luaran dari pengabdian ini adalah mitra memahami arti penting hidup sehat tanpa narkoba, mampu membangun kembali rasa percaya dirinya, mampu mengelola usaha doorsmeer, terbangunnya usaha doorsmeer yang menjadi pengisi waktu lenggang dan sumber pendapatan baru bagi mitra karena mendatangkan nilai ekonomi.
Pemberdayaan Remaja Mesjid Melalui Keterampilan Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele Sebagai Peluang Usaha dan Ketersediaan Pangan Keluarga di Kelurahan Sidodadi Sudarwati, Lina; Dewinta, Astrid Fauzia; Andriani, Lusiana; Atika, Tuti; Supsiloani, Supsiloani
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Patikala Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal PkM PATIKALA
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Bakat Indonesia/Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/patikala.v5i3.4686

Abstract

Based on population data of Sidodadi Village in 2022, around 3107 people or 66.80% of the total population turned out to be unemployed and became dependents of 33.20% of the productive age population who worked. In addition to the high unemployment rate in Sidodadi Village, the fate of the younger generation is also threatened by the rampant drug use. The problem found is the absence of capital and the lack of skills to start a business. Based on the problems described earlier, community empowerment efforts for youth are needed. This Community Empowerment activity is carried out through stages starting with problemmapping, solution offering, training and business preparation practices, spawning training and practices, training and enlargement practices, digital marketing training, to evaluation and monitoring. A series of stages of empowerment activities have been completed and someforms of value changes that occurred after the empowerment was carried out, namely achange in orientation towards abandoned ponds that were originally considered useless can finally be used and utilized as a source of economic improvement through catfish farming. In addition, there is also achange in the assumption that working individually is more effective instead of working together in a team or group.
Implementasi Program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) di Desa Pantai Cermin Kiri, Kabupaten Serdang Bedagai Rafsanzani, Rafa; Atika, Tuti; Putri, Malida
RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol. 3 No. 5 (2025): September: RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Ilmuwan Pendidikan, Sosial, dan Humaniora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/risoma.v3i5.1192

Abstract

The Desa Bersinar (Drug Clean Village) program is a strategic initiative designed to prevent and eradicate drug abuse and illicit trafficking (P4GN) at the village level through the active involvement of both the village government and the community. This study aims to analyze the implementation of the Desa Bersinar program in Pantai Cermin Kiri Village, Serdang Bedagai Regency, an area recognized as drug-prone due to its coastal geographical conditions and its vulnerability to illicit distribution routes. The research adopts a descriptive qualitative approach, with data gathered through direct observation, in-depth interviews with the program coordinator, six implementing members, program beneficiaries, and two public informants. Additional data were obtained from documentation and relevant literature to provide a more comprehensive perspective. Data analysis was conducted through three stages: reduction, presentation, and conclusion drawing, ensuring systematic interpretation of findings. The results indicate that the Desa Bersinar program in Pantai Cermin Kiri Village has successfully implemented two of the three indicators outlined in David C. Korten’s theory of successful program implementation, specifically program elements and implementing organizational elements. These include clear structures of coordination, division of responsibilities, and collaboration among stakeholders. However, the third indicator—supportive environmental elements—has not been fully realized. Challenges include limited resources, lack of sustainable community participation, and insufficient external support from higher levels of government. Overall, the program demonstrates significant progress in combating drug-related issues, but its sustainability requires stronger environmental support, broader community empowerment, and multi-sectoral collaboration to ensure long-term effectiveness.