Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Conservation of Damar Mata Kucing (Shorea javanica): A Review on the Aspect of Trade System Hanifah Nur'aini; Ervizal A. M. Zuhud; Tutut Sunarminto
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 26 No. 3 (2020)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.26.3.316

Abstract

Damar mata kucing (Shorea javanica) is one of the non-timber forest products (NTFP)s that has been widely managed and utilized by local people around the Pesisir Barat Lampung Province. The majority of repong damar has been cut down, especially during the last 15 years. One of the reasons for decreasing community interest in managing repong dammar is the decreasing of dammar gum prices. This research aimed to analyze the market system of dammar cultivation in Pesisir Barat, Lampung Province. Descriptive analysis was used to determine the local community's knowledge, skill, and opinion in the trading channel. For further analysis, marketing margin and farmers' share were also used to analyze the price differentiation from the producer's level to the consumer's level. Based on the study results, there are three channels of the dammar gum market in Pesisir Barat Lampung. Most of the farmers (up to 85.71% of total) in Pekon Pahmungan use trading channels 1 and 2 to sell their harvested dammar. Meanwhile, based on the analysis of profit margin, it appears that farmers in channels 1 and 2 are trading actors that receive the lowest profit margin (IDR7,100 kg-1 and IDR8,100 kg-1) compared to trading channel 3 (IDR14,000 kg-1). Farmer's share obtained by dammar farmers in this study was 55.30% on channel 1, 52.20% on channel 2, and 76.80% on channel 3. Livelihood, limitation on capital, lack of information and networking, knowledge and abilities to tree management and harvested dammar, knowledge of another use of dammar gum, and the ability to use technology directly affecting farmers' position in the dammar gum trading system.
Nilai Kepentingan Budaya Keanekaragaman Tumbuhan Obat Masyarakat Desa Teluk Rendah Ilir Kabupaten Tebo: Index Cultural Significance of Medicinal Plants in the Community of Teluk Rendah Village, Tebo Ilir District, Tebo Regency Albayudi, Albayudi; Adriadi, Ade; Budilaksono, Tri; Aini, Yasri Syarifatul; Nur'aini, Hanifah; Mandala, Bakti
Jurnal Silva Tropika Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v8i2.38685

Abstract

ABSTRACT Indonesia  is  a  country  with a  high  biodiversity, including medicinal plants. Fertile soil, a supportive climate, and flora diversity are significant potential for producing natural-based medicines. The use of plants in traditional medicine has long been practiced by various ethnic groups or communities across Indonesia. One way to document the use and interaction of communities with plants is through ethnobotanical studies. Quantitative ethnobotanical studies analyze plant species that hold significance for communities, aiming to support the valuation of useful plant diversity from both social and economic perspectives. This study focuses on identifying important plant species, particularly medicinal plants, that play a vital role in the lives of the people in Teluk Rendah Village, Tebo Ilir Subdistrict, Tebo Regency. The use of medicinal plants has been a long-standing tradition among the residents of Teluk Rendah Ilir Village, Tebo Ilir Subdistrict, Tebo Regency. The study was conducted from September to October 2020 in Teluk Rendah Ilir Village, Tebo Ilir Subdistrict, Tebo Regency. This research is descriptive-quantitative, employing survey methods, in-depth interviews, and quantitative analysis using the Index of Cultural Significance (ICS). A total of 65 species from 35 families were identified as medicinal plants utilized by the community. The ICS results indicated two medicinal plants with the highest scores: Zingiber officinale with an ICS value of 60 and Citrus aurantifolia with an ICS value of 54. Plants with moderate ICS values included 7 species, while 39 species were categorized as low, and 17 species were categorized as very low.   Keywords: ethnobotany, ICS (Index of Cultural Significance), medicinal plants   ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya hayati, termasuk tumbuhan obat. Kesuburan tanah, iklim yang mendukung, serta keanekaragaman flora yang melimpah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan dari bahan alam. Penggunaan tumbuhan dalam pengobatan tradisional telah lama dilakukan oleh berbagai suku atau etnis di Indonesia. Salah satu cara pendokumentasian penggunaan dan interaksi masyarakat dengan tumbuhan adalah dengan studi etnobotani. Studi etnobotani kuantitatif dengan menganalisis jenis-jenis tumbuhan yang penting bagi masyarakat dilakukan untuk mendukung upaya valuasi keanekaragaman tumbuhan berguna baik dari nilai sosial dan ekonominya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan khususnya tumbuhan obat yang penting dalam kehidupan masyarakat Desa Teluk Rendah Kecamatan Tebo Ilir Kabupaten Tebo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Index Nilai Budaya dari tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat Desa Teluk Rendah Ilir Kabupaten Tebo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober tahun 2020. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan metode survey dan wawancara in-depht interview dan analisis kuantitatif menggunakan analisis nilai kepentingan budaya (Index of Cultural Significanse/ICS). Terdapat sebanyak 65 spesies dari 35 famili yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Desa Teluk Rendah Illir. Nilai Index Cultural Significance (ICS) menunjukkan 2 jenis tumbuhan obat dengan nilai ICS tertinggi, yaitu Zingiber officinale (jahe merah) dengan nilai ICS sebesar 60 dan Citrus aurantifolia (jeruk nipis) dengan nilai ICS sebesar 54. Tumbuhan dengan dengan nilai ICS kategori moderat/sedang sebanyak 7 spesies, kategori rendah sebanyak 39 spesies dan kategori sangat rendah sebanyak 17 spesies.   Kata kunci: etnobotani, ICS (Index of Cultural Significance), tumbuhan obat
Peningkatan pemahaman dan kepedulian lingkungan siswa melalui edukasi konservasi berbasis experiential learning di SMAN 12 Kota Jambi Nur'aini, Hanifah; Mandala, Bakti; Nahlunnisa, Hafizah; Darsono, Beti Septiana; Rahmilija, Femei
Jurnal Oase Nusantara Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan lingkungan yang semakin kompleks menuntut pening-katan kesadaran dan partisipasi masyarakat, termasuk generasi muda, dalam upaya pelestarian alam. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian siswa terhadap isu-isu lingkungan melalui sosialisasi dan aksi konservasi di SMAN 12 Kota Jambi. Sebanyak 29 siswa dari kelas X, XI, dan XII terlibat dalam kegiatan ini. Metode yang digunakan mengacu pada pendekatan experiential learning dan penyuluhan berbasis ekoliterasi. Rang-kaian kegiatan meliputi pre-test, pe-nyampaian materi secara interaktif, pemutaran video edukatif, diskusi, kuis, praktik penanaman pohon, dan post-test. Materi yang disampaikan mencakup isu kerusakan lingkungan, manfaat pohon dan hutan, serta peran satwa dan tumbuhan dalam ekosistem. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pema-haman siswa terhadap pentingnya pelestarian lingkungan setelah mengikuti kegiatan. Selain peningkatan aspek kognitif, kegiatan ini juga mendorong sikap dan aksi nyata siswa dalam mendukung konservasi lingkungan, seperti penanaman pohon dan pengelolaan taman sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif yang diterapkan mampu menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian lingkungan di kalangan siswa. Penguatan edukasi lingkungan di se-kolah diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pembentukan gene-rasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan alam.
Etnobotani pada Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Dua Belas Wilayah Air Hitam: Ethnobotany of Suku Anak Dalam in Bukit Dua Belas National Park Air Hitam Region Albayudi, Albayudi; Sardi, Idris; Putra, Firmansyah; Nur'aini, Hanifah; Darsono, Beti Septiana; Aini, Yasri Syarifatul
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.45063

Abstract

ABSTRACT Knowledge about the interaction between indigenous communities and plants is documented in ethnobotanical studies. One manifestation of the interaction between traditional communities and plants is the use of plants for religious purposes. Suku Anak Dalam (SAD), located in Air Hitam, Sarolangun Regency, Jambi Province, is an indigenous community that utilizes plants in the performance of traditional rituals. The traditional knowledge held by the community embodies local wisdom, particularly in terms of environmental stewardship. This study aims to identify and analyze the use of plants for religious purposes by the Suku Anak Dalam (SAD) community living in the Bukit Dua Belas National Park area, Air Hitam District, Sarolangun Regency, Jambi Province. The research method employed was an ethnobotanical survey through in-depth interviews with key informants and direct field observation. The results showed that 48 plant species are used in 8 cultural expressions related to religious practices, these are: rumah adat, pohon sialang, setubung anak, balai mandi budak atau Turun de ayek, tanah pranoon, tanah banuaron, tanah bebalai, dan ruang berburu. The most frequently used plant part is the stem (36%), while the least used is the seed (6%). This knowledge reflects the local wisdom of the SAD community in preserving both spiritual values and the surrounding natural environment.   Keywords: anak dalam tribe, ethnobotany, plants, religion   ABSTRAK Pengetahuan mengenai interaksi antara masyarakat adat dengan tumbuhan didokumentasikan dalam studi etnobotani. Salah satu bentuk interaksi masyarakat adat dengan tumbuhan adalah dalam penggunaan pada aspek religi. Suku Anak Dalam (SAD) yang terletak di Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi adalah salah satu kelompok masyarakat adat yang menggunakan tumbuhan dalam pelaksanaan ritual adat. Pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat memiliki nilai-nilai kearifan masyarakat dalam hal menjaga lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pemanfaatan tumbuhan dalam aspek religi oleh masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) yang tinggal di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Metode yang digunakan adalah survei etnobotani melalui wawancara mendalam dengan informan kunci serta observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48 spesies tumbuhan yang digunakan dalam delapan bentuk ekspresi budaya yang berkaitan dengan aspek religi, yaitu rumah adat, pohon sialang, setubung anak, balai mandi budak atau Turun de ayek, tanah pranoon, tanah banuaron, tanah bebalai, dan ruang berburu. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah batang (36%), sedangkan bagian yang paling sedikit digunakan adalah biji (6%). Pengetahuan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat SAD dalam menjaga nilai spiritual serta kelestarian alam sekitarnya.   Kata kunci: etnobotani, suku anak dalam, tumbuhan, religi
Strategi Pengembangan Ekowisata Di Kawasan Inti Geopark Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin: Ecotourism Development Strategy in the Core Area of Geopark, Renah Pembarap Subdistrict, Merangin Regency Albayudi, Albayudi; Adriadi, Ade; Chairul, Muhammad; Aini, Yasri Syarifatul; Darsono, Beti Septiana; Nur’aini, Hanifah
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51681

Abstract

ABSTRACT The Core Area of Merangin Geopark has high ecotourism potential based on its unique geological heritage, biodiversity, and local socio-cultural values. However, its development still faces various challenges that require appropriate and sustainable management strategies. This study aims to analyze the strategic position and formulate ecotourism development strategies in the Core Area of Merangin Geopark. The research employed a survey method by collecting primary data through observations, interviews, and questionnaires, as well as secondary data from literature reviews and relevant institutions. Data were analyzed using SWOT analysis through the development of IFAS and EFAS matrices. The results indicate that the ecotourism development position of Merangin Geopark falls within Quadrant II (ST strategy), suggesting that the area possesses strong internal strengths but faces considerable external threats. The recommended development strategy focuses on utilizing existing strengths to mitigate threats through strengthening conservation efforts, implementing zoning and carrying capacity management, enhancing environmental interpretation, and actively involving local communities in the management and monitoring of the area. This approach is expected to ensure the sustainability of natural resources and geological heritage while providing economic and social benefits for local communities.   Keywords: community-based management (CBM), ecotourism, geopark, SWOT analysis, ST strategy   ABSTRAK Kawasan Inti Geopark Merangin memiliki potensi ekowisata yang tinggi berbasis keunikan geologi, keanekaragaman hayati, dan nilai sosial budaya masyarakat lokal. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan strategi pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi strategis serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata di Kawasan Inti Geopark Merangin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, serta data sekunder dari studi literatur dan instansi terkait. Analisis data dilakukan menggunakan Analisis SWOT melalui penyusunan matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi pengembangan ekowisata Geopark Merangin berada pada Kuadran II (strategi ST), yang mengindikasikan bahwa kawasan memiliki kekuatan internal yang dominan namun dihadapkan pada ancaman eksternal yang cukup besar. Strategi pengembangan yang direkomendasikan menekankan pada pemanfaatan kekuatan kawasan untuk mengantisipasi ancaman melalui penguatan konservasi, penerapan zonasi dan daya dukung kawasan, peningkatan fungsi interpretasi lingkungan, serta pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengawasan kawasan. Strategi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan warisan geologi sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal.   Kata kunci: analisis SWOT, ekowisata, geopark, strategi ST, pengelolaan berbasis masyarakat