Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Factors associated with dietary adherence among patients with type 2 diabetes mellitus at Royal Prima General Hospital Turnip, Modesto Lam Ulido Putra; Girsang, Ermi; Mukti, Ade Indra; Anggraini, Wenti; Rosar, Naufal; Nardi, Leo; Nelda, Fitri; Djohan, Djohan; Cisca, Anita Merry
Buletin Kedokteran & Kesehatan Prima Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/bkkp.v4i2.7691

Abstract

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a significant health issue in Indonesia, where management relies heavily on patient dietary adherence. However, adherence levels are often suboptimal. This study aimed to identify the factors associated with dietary adherence among T2DM patients at a major hospital in Medan, Indonesia. Methods: This cross-sectional study was conducted in December 2024 at Royal Prima General Hospital, involving 64 T2DM patients selected through total sampling. Data on demographic characteristics, knowledge, family support, and healthcare provider (HCP) support were collected via structured questionnaires. Dietary adherence was the dependent variable. Data were analyzed using chi-square tests and multivariate logistic regression. Results: A slight majority of patients (53.1%) were adherent to their diet. Multivariate analysis identified age as the most dominant predictor, with patients aged ≥45 years being 18.9 times more likely to be adherent than younger patients (AOR = 18.935, p=0.004). Male gender was also a significant predictor of higher adherence (AOR = 7.652, p=0.01). Paradoxically, good knowledge (AOR = 0.161) and HCP support (AOR = 0.109) were significantly associated with lower odds of adherence. Education and employment status showed no significant association. Conclusion: Age is the most critical factor influencing dietary adherence among T2DM patients in this cohort, with older individuals demonstrating significantly better compliance. Interventions should specifically target younger patients and women, who are at higher risk for non-adherence.
Analysis of Risk Factors for Chronic Kidney Disease in Young Adults at Rasyida Kidney Hospital, Medan, in 2024 Gultom, Yosephine Octaviana; girsang, Ermi; Mukti, Ade Indra
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i10.62248

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a global health problem with a high economic burden and significant mortality. In Indonesia, the prevalence of CKD continues to rise, while cardiometabolic factors such as hypertension and diabetes, as well as certain infections (e.g., hepatitis B), are thought to contribute to disease progression in young adults. To determine the association between age, sex, hypertension, diabetes mellitus, and hepatitis B with CKD stage, and to identify the most influential factors in young adult patients. This was a retrospective study of medical records from patients aged 19-44 years at Rasyida Kidney Specialty Hospital, Medan, in 2024 (total sampling; n = 121). The dependent variable was CKD stage (stages 4-5). Univariate analysis was performed to describe patient characteristics; bivariate analysis (Fisher’s exact test) was used to assess the association between each factor and CKD stage; and multivariate logistic regression was used to determine independent predictors of advanced CKD. Of the 121 patients, 57% (69) were male, and the majority were aged 33-44 years (62.8%, n = 76). Stage 2 hypertension was present in 55.4% (67) of patients. A history of diabetes was found in 22.3% (27), with 18.2% (22) classified as prediabetic. Hepatitis B was identified in 10.7% (13). Bivariate analysis showed significant associations between CKD stage and hypertension (p < 0.001), diabetes (p < 0.001), and hepatitis B (p = 0.004), but no significant associations for sex (p = 0.052) or age (p > 0.05). Multivariate regression confirmed hypertension (p < 0.001), diabetes (p < 0.001), and hepatitis B (p= 0.033) as independent predictors of advanced CKD. In young adults, CKD stage is strongly associated with hypertension particularly stage 2 as well as diabetes mellitus and hepatitis B, while age and sex show no significant association. These findings highlight the importance of blood pressure screening and control, strict glycemic management, and hepatitis B treatment to slow CKD progression. Further studies are recommended to include lifestyle and metabolic factors such as BMI, dyslipidemia, salt intake, smoking, family history, and treatment adherence.
TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) DI DESA SIBOLANGIT Br Tarigan, Indah Sherbina; Indra Mukti, Ade; Yulizal, Ok
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 2 No. 11 (2023): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v2i11.3803

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk memahami tingkat pengetahuan ibu hamil terkait Infeksi Saluran Kemih (ISK) di Desa Sibolangit, sebuah kebutuhan mendalam mengingat dampak serius ISK pada kesehatan maternal dan neonatal. Lokasi penelitian dipilih di Desa Sibolangit untuk mendapatkan gambaran representatif mengenai pengetahuan ibu hamil terkait ISK di lingkungan pedesaan. Data ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan program intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan terarah guna meningkatkan pengetahuan ibu hamil, mencegah risiko ISK, serta meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di Desa Sibolangit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK di Desa Sibolangit, dengan menggunakan penelitian kuantitatif dan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu hamil di Desa Sibolangit berusia 20-30 tahun dengan tingkat pengetahuan cukup tentang ISK sebesar 64.6%. Uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia dan tingkat pengetahuan ISK, sementara tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu hamil menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan. Penelitian ini menyoroti risiko ISK pada usia 21-28 tahun, berbeda dengan teori usia reproduktif sehat. Faktor pendidikan dan pekerjaan memainkan peran penting, dengan tingkat pendidikan rendah dikaitkan dengan pengetahuan ISK yang kurang. Temuan ini menekankan perlunya perhatian khusus terhadap pendidikan formal dan status pekerjaan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ISK di Desa Sibolangit, guna meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal.
The Effect of Hordeum Vulgare on Spermatogenesis and Testical Histopathology in Diabetes Mellitus Rats Eka Putri Sihombing, Clarisa; Indra Mukti, Ade; Edlin, Edlin
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i12.55293

Abstract

Diabetes dapat memicu kerusakan pada sistem reproduksi pria dan merupakan salah satu faktor penyebab infertilitas pada pria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Hordeum vulgare terhadap spermatogenesis pada tikus diabetes. Penelitian ini menggunakan desain penelitian True Experimental Pretest dan Posttest Control Group Design. Sampel tikus adalah tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus), dengan berat sekitar 200 gram, dan berusia sekitar 2 bulan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Hordeum vulgare dan variabel dependennya adalah motilitas sperma dan ciri-ciri histopatologis testis tikus. Data akan diolah menggunakan uji Kruskal Wallis dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam spermatogenesis tikus antar kelompok. Pengaruh Hordeum vulgare pada skor rata-rata Johnsen dan gambaran histopatologis testis tikus diabetes menunjukkan bahwa kelompok tikus diabetes yang diberi makan Hordeum vulgare memiliki banyak spermatozoa tetapi epitel germinal tidak teratur yang ditandai dengan exfol.
Gambaran Diagnostik dan Penatalaksanaan Pasien Infeksi Saluran Kemih Rawat Inap di Rumah Sakit Royal Prima Medan Tahun 2024 Wahyuni Br Nababan, Agata; Mukti, Ade Indra; Girsang, Ermi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i11.62356

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Faktor risiko utama meliputi jenis kelamin, usia, serta riwayat penyakit seperti benign prostatic hyperplasia (BPH), batu saluran kemih, dan diabetes mellitus. Diagnosis ISK dilakukan melalui pemeriksaan urin, darah, dan pencitraan, sedangkan penatalaksanaan mencakup pemberian antibiotik secara empiris atau berbasis hasil kultur dengan durasi yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi proporsi pasien ISK rawat inap berdasarkan karakteristik, diagnosis, dan pola penggunaan antibiotik. Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan studi kasus terhadap 85 pasien rawat inap yang terdiagnosis ISK. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan (67,1%) dengan usia di atas 40 tahun (54,1%). Riwayat penyakit yang ditemukan meliputi BPH (9,4%), batu saluran kemih (10,6%), dan diabetes mellitus (22,4%). Pemeriksaan urin menunjukkan adanya eritrosit dan leukosit pada sebagian besar pasien, sedangkan pemeriksaan darah memperlihatkan variasi kadar leukosit, neutrofil, dan laju endap darah yang menandakan adanya respons imun. Pencitraan dilakukan secara selektif, dengan USG dan CT scan sebagai metode paling sering digunakan, sementara 41,2% pasien tidak menjalani pencitraan. Sebagian besar pasien mendapat terapi antibiotik empiris (82,4%) dengan durasi 2–7 hari (96,5%), sedangkan 17,6% mendapat terapi berbasis kultur. Disarankan pasien menjaga kebersihan saluran kemih dan mematuhi terapi antibiotik, sementara fasilitas kesehatan perlu menerapkan protokol diagnosis dan penggunaan antibiotik yang rasional.
Hubungan Usia, Hipertensi dan Riwayat Penyakit Diabetes Melitus Tipe II dengan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Di Rumah Sakit Royal Prima Medan Telaumbanua, Renjiro Howuhowu; Mukti, Ade Indra; Girsang, Ermi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8945

Abstract

Istilah Benign Prostatic Hyperplasia atau BPH merupakan kondisi hiperplasia sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat pada laki-laki. BPH adalah masalah kesehatan yang biasa dijumpai pada 1 dari 3 pria pada usia lebih dari 50 tahun.Laki-laki yang mengalami BPH biasanya akan mengalami gejala LUTS atau Lower Urinary Tract Syndrome dimana muncul dorongan ingin berkemih secara tiba-tiba,sering buang air kecil pada malam hari,dan ketika sudah berkemih masih merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya,dimana gejala ini akan mengganggu produkvitas orang yang mengalaminya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Usia, Riwayat Hipertensi Dan Diabetes Melitus Tipe II terhadap kejadian Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan secara pada satu waktu dan mengumpulkan data secara simultan yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel independen (Usia, Hipertensi, DM Tipe II) dengan variabel dependen (BPH). Penyajian data meliputi analisis multivariat,bivariat (Chi-square) dan multivariat (Logistic regression). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas pasien BPH berada pada kelompok usia 51–60 tahun sebanyak 29 (46%) orang dan 61–70 tahun sebanyak 22 (34,9%) orang (p=0,000), pasien BPH yang memiliki riwayat hipertensi sebanyak 45 (71,4%) orang (p=0,023), sedangkan pasien BPH dengan riwayat DM tipe II sebanyak 38 (60,3 %) orang (p=0,03).Melalui hasil analisis multivariat didapatkan nilai Odds Ratio (OR) pada masing-masing variabel independen (Usia,Hipertensi,Diabetes Melitus Tipe II) adalah OR = (1,6; 2,8; 2,5) yang menujukan bahwa dengan adanya ketiga variabel tersebut akan meningkatkan peluang laki-laki mengalami BPH
Hubungan Lama Waktu Duduk dan Posisi Duduk Terhadap Keluhan Low Back Pain Pada Pekerja Kantoran di Kabanjahe Kabupaten Karo Grace Angelina Br Tarigan; Edlin Edlin; Ade Indra Mukti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.34421

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang paling sering dikeluhkan masyarakat ialah sakit punggung bagian bawah atau dikenal juga sebagai Low back pain (LBP), dikarenakan duduk dalam jangka waktu yang lama.Salah satu penyebab nyeri punggung bawah, yang merupakan penyakit musculoskeletal yang salah satu penyebabnya adalah postur tubuh yang salah, seperti duduk atau berdiri dalam waktu lama, terlalu banyak membungkuk atau melakukan gerakan berulang-ulang saat bekerja. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menilai hubungan durasi waktu duduk dan posisi duduk terhadapa keluhan low back pain. . Jenis Penelitian yang digunakan ialah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, metode penelitian ini melibatkan survei dengan 100 orang pegawai kantoran di Kabanjahe Kabupaten Karo yang berusia 25-56 tahun. Lokasi Penelitian ini dilakukan di Gedung Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Karo. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat adanya hubungan signifikan antara posisi duduk dan keluhan low back pain.