Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Bios Logos

DNA Barcoding Dalugha (Cyrtosperma Merkusii) di Kepulauan Talaud dan Minahasa Selatan Berdasarkan Gen rbcL Taariwuan, Marlin Bernadet; Ngangi, Jantje; Mokosuli, Yermia; Gedoan, Sukmarayu
JURNAL BIOS LOGOS Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v11i2.34452

Abstract

(Article History: Received June 28, 2021; Revised August 30, 2021; Accepted Sept 3, 2021) ABSTRAKDalugha (Cyrtospera merkusii (Hassk.)Schott) merupakan tanaman endemik Sulawesi Utara yang digunakan sebagai pangan alternatif (penganti beras). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan spesies daluga di Kepulauan Talaud dan Minahasa Selatan menggunakan DNA barcode gen rbcL (ribulose 1,5 bisphosphate carboxylase large). Perbandingan barcode DNA yang dilakukan pada empat sampel yang berbeda lokasi tersebut keduanya menghasilkan tingkat kesamaan 100% (identik). Dengan demikian, tidak ada variasi intra spesies yang ditemukan dari semua sampel yang ada. Selanjutnya, kemiripan sampel-sampel ini telusuri kemiripannya dengan kerabat terdekat yang tercatat di GenBank menggunakan BLAST (Basic Local Alignment Search Tool).  Tanaman dalugha dalam penelitian ini memiliki kemiripan 99,82% dengan tumbuhan Anaphyllopsis americana (AM905753.1), dan kemiripannya 99,63% dengan Cyrtosperma macrotum (AM905750.1), Lasimorpha senegalensis (AM905755.1), Pycnospatha arietina (AM905751.1), dan Podolasia stipitata (AM905752.1). Belum ada rekor sekuens DNA gen rbcL dari spesies ini yang dibisa dibandingkan di GenBank.Kata Kunci: Dalugha; DNA barcoding; gen rbcL ABSTRACTDalugha (Cyrtospera merkusii (Hassk.) Schott) is an endemic plant in North Sulawesi that is used as alternative food (substitute for rice). This research aimed to compare the DNA barcode of dalugha in Talaud Islands and in South Minahasa using rbcL (ribulose 1,5 bisphosphate carboxylase large) gene. The DNA barcoding comparison of all four samples in both area resulted in 100% similarity (identical). Therefore, there is no intraspecific variation found in all samples. Furthermore, the similarity of these samples were conducted with BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) to compare with its closest relatives in GenBank. The closest relatives of this plant, based on similarity information, are 99.82% with Anaphyllopsis americana (AM905753.1) and all 99.63% with Cyrtosperma macrotum (AM905750.1), Lasimorpha senegalensis (AM905755.1), Pycnospatha arietina (AM905751.1), and Podolasia stipitata (AM905752.1).  There is no record yet of rbcL gene sequence of C. merkusii in GenBank for comparison.Keywords: Dalugha; DNA barcoding; rbcL gene
Daya Dukung Habitat Berdasarkan Ketersediaan Pakan Untuk Konservasi Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra) di Kawasan Cagar Alam Dua Saudara Kota Bitung Diswal Takasaheng; Revolson Mege; Sukmarayu Gedoan
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 13 No. 3 (2023): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v13i3.54147

Abstract

Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) merupakan primata endemik Sulawesi Utara yang menempati berbagai tipe habitat, antara lain hutan hujan tropis primer dan sekunder, pantai, serta semak. Oleh Pemerintah Republik Indonesia, spesies ini ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi dan oleh IUCN dinyatakan dalam status kritis (critically endangered). Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji daya dukung habitat dan ketersediaan pakan di kawasan Cagar Alam Tangkoko. Dari hasil analisis data diperoleh hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada vegetasi primer tingkat pohon ditemukan 73 spesies, tingkat tiang 48 spesies, dan tingkat pancang 51 spesies. Untuk vegetasi sekunder tingkat pohon ditemuakn 55 spesies, tiang 62 spesies, dan pancang 41 spesies; INP tertinggi pada vegetasi primer tingkat pohon ialah Artocarpus dadah, untuk vegetasi primer tingkat tiang ialah Morinda bracheata (28,565924%), untuk vegetasi primer tingkat pancang ialah Eugenia sp. (20,172615%), untuk vegetasi sekunder tingkat pohon ialah Spathodea campanulata (26,175021%), untuk vegetasi sekunder tingkat tiang ialah Spathodea campanulata (30,606948%), dan untuk vegetasi sekunder tingkat pancang ialah Spathodea campanulata (38,201475%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vegetasi di Cagar Alam Tangkoko masih memiliki potensi yang cukup baik dalam mendukung kehidupan monyet hitam sulawesi.