Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEHIDRASI PADA PEKERJA: SYSTEMATIC REVIEW Subardiman, Najla Fadiyah; Saftarina, Fitria; Komala, Ramadhana; Anggraini, Dian Isti
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45817

Abstract

Dehidrasi adalah suatu kondisi ketika tubuh mengalami kehilangan cairan lebih banyak daripada yang didapatkan. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan fungsi organ-organ tubuh. Pekerja berisiko kekurangan cairan tubuh karena terjadi peningkatan pengeluaran cairan melalui keringat serta penggantian cairan yang kurang akibat asupan cairan yang tidak memenuhi kebutuhan. Dehidrasi dapat menyebabkan berbagai dampak negatif bagi pekerja, yaitu menurunnya performa kerja, menurunnya konsentrasi, hingga timbulnya gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja (PAK) jika dibiarkan secara terus menerus. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan dehidrasi pada pekerja. Penelitian ini menggunakan metode systematic review. Pencarian literatur dilakukan dengan strategi penelusuran artikel jurnal nasional maupun internasional. Penelusuran data dilakukan di database PubMed, ScienceDirect, dan Garuda dengan batas waktu publikasi dalam 5 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan, yaitu “Factors of dehydration in workers” dan “dehidrasi pada pekerja”. Didapatkan 8 artikel yang telah memenuhi syarat dan kriteria studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dehidrasi pada pekerja dipengaruhi oleh faktor asupan cairan, iklim kerja, beban kerja, aktivitas fisik, dan status gizi. Pada penelitian ini, didapatkan bahwa faktor yang paling banyak berpengaruh terhadap kejadian dehidrasi adalah asupan cairan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang memengaruhi kejadian dehidrasi pada pekerja antara lain asupan cairan, iklim kerja, beban kerja, aktivitas fisik, dan status gizi.
DEPRESI POST PARTUM DAN INVERTED NIPPLE GRADE 1 MENGHAMBAT PRAKTIK PEMBERIAN ASI : Postpartum Depression And Inverted Nipple Grade 1 Inhibit Breastfeeding Practices Yoga, M Agung Prasetya Adnyana; Anggraini, Dian Isti; Saftarina, Fitria
Media Gizi Pangan Vol 31 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v31i1.581

Abstract

Breast milk is the best food for infants because it contains complete nutritional values to support infant growth and development. However, anatomical abnormalities in the nipple such as inverted nipple and psychological factors of post partum depression affect the success of breastfeeding practices.  This study was design  to determine the effect of post partum depression and inverted nipple grade 1 on breastfeeding practices. This study was used a case study method with a nutritional needs management approach for breastfeeding mothers on respondents who breastfeed babies aged 16 months, the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) questionnaire is used to assess post partum depression and if the EPDS score ≥ 10 then the mother is indicated to have post partum depression. Data regarding inverted nipple in mothers using secondary data. Food recall 1 x 2 4 hours was used to assess the mother's food consumption pattern followed by calculation of the level of nutrient fulfilment to quantitatively assess the mother's macronutrient intake in terms  adequate or inadequate category. The total EDPS score was 13 so that the mother was included in post partum depression and based on secondary data and Aesthetic Surgery diagnosis guidelines, the mother was categorised as having inverted nipple grade 1. Both factors can hinder the continuity of breastfeeding practices. Support from husband and family as well as using the breast pump method on inverted nipples can help mothers to produce adequate amounts of breast milk. Quantitative analysis of the level of fulfilment of maternal nutrients in the adequate category, namely energy intake of 113% (good), protein intake of 113% (good), fat intake of 82% (moderate) and carbohydrate intake of 111% (good). Post partum depression and inverted nipple can inhibit breastfeeding practices, so premarital counselling and education about psychological disorders and anatomical abnormalities of the nipple during antenatal care (ANC) are needed for mothers and husbands to increase the success of breastfeeding practices for infants.
Peningkatan Kesehatan Reproduksi Remaja Putri Melalui Penyuluhan dan Simulasi Menjaga Kebersihan Alat Kelamin Luar Wanita Di SMA Muhammadiyah 2 Bandarlampung Puspitasari, Ratna Dewi; Utama, Winda Trijayanthi; Anggraini, Dian Isti; Aditya, Muhammad
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 1 No. 1 (2015): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v1i1.1142

Abstract

Masih kurangnya kesadaran remaja wanita mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar untuk meningkatkan derajat kesehatan. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan remaja wanita mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Oleh sebab itu, perlu diberikaninformasi mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar melalui media penyuluhan. Metode yang digunakan dalam peningkatan pengetahuan ini adalah dengan memberikanpenyuluhan berupa ceramah interaktif dan penayangan video sedangkan untuk penerapan perilaku dilakukan dengan latihan atau simulasi. Kegiatan ini diikuti oleh 36 peserta yang terdiri dari pelajar puteri di SMAMuhammadiyah 2 Bandar Lampung. Setelah dilakukan peyuluhan dan simulasi peserta sudah mengetahui tentang cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar dengan hasil post-test seluruhnya di atas 80%. Simpulan, Peningkatan pengetahuan, akan meningkatkan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik akan membentuk perilaku menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan derajat kesehatan.Kata kunci: alat kelamin luar wanita, peningkatan pengetahuan, penyuluhan
Deteksi dini Gangguan Gizi (Malnutrisi) pada Kelompok Berisiko Anggraini, Dian Isti; Soleha, Tri Umiana; Rachmawati, Ermin; Ramadhian, M. Ricky
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 1 No. 1 (2015): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v1i1.1144

Abstract

Indonesia saat ini mengalami permasalahan beban ganda dalam menghadapi masalah gizi, ketika permasalahan gizi kurang belum teratasi, muncul permasalahan baru yaitu permasalahan gizi lebih. Beban ganda masalah gizi ini banyak terjadi pada kelompok penduduk berisiko seperti bayi dan balita, wanita usia subur, wanita hami dan menyusui serta kaum lanjut usia (lansia). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan deteksi dini gangguan gizi pada kelompok berisiko. Khalayak sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah masyarakatdi kampung Totokaton kecamatan Punggur kabupaten Lampung Tengah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu penilaian status gizi kelompok sasaran dan edukasi status gizi melalui pembagian leaflet.Penilaian status gizi kelompok bayi, anak di bawah dua tahun (baduta), pra lansia dan lansia dengan metode antropometrik. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan Tanggal 11 Oktober 2014, Pukul 08.30 sampai dengan selesai. Tempat kegiatan pengabdian ini adalah pos kesehatan desa di kampung Totokaton kecamatan Punggur kabupaten Lampung Tengah. Hasil kegiatan didapatkan bahwa malnutrisi pada kelompok pralansia terdapat 22 orang (75,86%) yaitu 6 orang (20,68%) berstatus gizi kurang, 8 orang (27,58%) berstatus gizi lebih dan 8 orang (27,58%) berstatus gizi obes. Pada kelompok lansia terdapat 9 orang (64,28%) yang mengalami malnutrisi yaitu 6 orang (42,85%) berstatus gizi kurang, 2 orang (14,28%) berstatus gizi lebih dan 1 orang (7,14%)berstatus gizi obes. Pada kelompok bayi dan baduta terdapat 1 orang (5,88%) yang mengalami malnutrisi yaitu berstatus gizi lebih. Kesimpulan: malnutrisi tinggi pada kelompok dewasa dan lansia sehingga intervensidisarankan difokuskan pada kelompok tersebut untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup manusia.Kata Kunci: gangguan gizi, malnutrisi
DETERMINANTS OF ANEMIA AMONG ADOLESCENT GIRLS AT SMA NEGERI 3 BENGKULU: A CROSS-SECTIONAL STUDY Yana, Risda; Zuraida, Reni; Susanti, Susanti; Anggraini, Dian Isti; Wuryaningsih, Wuryaningsih
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10761

Abstract

Anemia among adolescent girls remains a public health challenge that has not been fully resolved, particularly because this condition has wide-ranging impacts on various aspects of adolescents’ lives from impaired growth and development, decreased concentration during learning, reduced daily productivity, to an increased risk of reproductive system disorders. The aim of this study was to identify the determinants of anemia among female students at SMA Negeri 3 Bengkulu City. The study was designed using an analytical observational method with a cross-sectional approach. A total of 131 tenth-grade students aged 15 to 17 years were selected as participants through simple random sampling. Hemoglobin levels were directly measured using a rapid-test–based Hb meter. The variables examined included nutritional status, chronic energy deficiency, duration of menstruation, adequacy of nutrient intake, level of compliance in consuming iron supplement tablets, and the extent of peer support received. Data were analyzed using the chi-square test for bivariate analysis and the backward Wald method of multiple logistic regression for multivariate analysis. The study found that one in four respondents (25.2%) was confirmed to have anemia. Through multivariate modeling, it was revealed that four factors significantly influenced the occurrence of anemia nutritional status, duration of menstruation, adequacy of protein intake, and the presence of social support from peers with nutritional status emerging as the strongest predictor. Therefore, anemia prevention interventions should prioritize comprehensive improvement of nutritional status, increased consumption of adequate protein, monitoring of menstrual patterns and duration, as well as empowerment of peer networks as health support agents within the school environment. ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang belum sepenuhnya teratasi, terutama karena kondisi ini berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan remaja, mulai dari terhambatnya tumbuh kembang, menurunnya daya konsentrasi saat belajar, berkurangnya produktivitas harian, hingga timbulnya risiko gangguan pada sistem reproduksi. Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan kejadian anemia di kalangan siswi SMA Negeri 3 Kota Bengkulu. Studi dirancang menggunakan metode observasional analitik berpendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 131 siswi kelas X dengan rentang usia 15 hingga 17 tahun dipilih sebagai partisipan melalui teknik pengambilan sampel acak sederhana. Kadar hemoglobin diukur secara langsung menggunakan alat Hb meter berbasis rapid test. Variabel yang diteliti meliputi status gizi, kondisi kekurangan energi kronik, lama hari menstruasi, kecukupan asupan zat gizi, tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi suplemen tablet tambah darah, serta sejauh mana dukungan yang diperoleh dari teman sebaya. Pengolahan data menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik berganda metode backward Wald untuk analisis multivariat. Studi ini menemukan bahwa satu dari empat responden (25,2%) terkonfirmasi mengalami anemia. Melalui pemodelan multivariat, terungkap bahwa empat faktor secara bermakna memengaruhi kejadian anemia, yakni status gizi, lama menstruasi, kecukupan asupan protein, dan keberadaan dukungan sosial dari teman sebaya, dengan status gizi menempati posisi sebagai prediktor paling kuat. Dengan demikian, intervensi pencegahan anemia hendaknya diprioritaskan pada perbaikan status gizi secara menyeluruh, peningkatan konsumsi protein yang memadai, pemantauan pola dan durasi siklus menstruasi, serta pemberdayaan jaringan teman sebaya sebagai agen dukungan kesehatan di lingkungan sekolah.