Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERANAN MAHASISWA IAIN PURWOKERTO DALAM MEMBERDAYAKAN ANAK JALANAN MELALUI SKEMA REVOLUSI MENTAL DAN SDGs 2030 DI KAMPUNG SRI RAHAYU, KELURAHAN KARANG KLESEM, PURWOKERTO SELATAN, BANYUMAS Nurhayah, Eka Muawali; Sari, Novita; Avifah, Avifah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.979 KB) | DOI: 10.24090/jimrf.v6i2.2746

Abstract

Maraknya permasalahan sosial, pendidikan dan ekonomi yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia tak terkecuali di Kampung Sri Rahayu, menimbulkan dampak yang negatif. Salah satunya yaitu munculnya anak jalanan yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Kondisi anak jalanan yang cukup memprihatinkan dengan banyak masalah yang serius, seperti, putus sekolah, rentan pergaulan bebas, dan degredasi moral.Tujuan penulisan ini yakni, mengkaji kembali problematika yang dialami anak jalanan di Kampung Sri Rahayu, Kelurahan Karang Klesem Kecamatan Purwokerto selatan kabupaten Banyumas. Konsep tulisan ini terfokus pada solusi yang ditawarkan oleh mahasiswa IAIN Purwokerto dalam memberdayakan anak jalanan di Kampung Sri Rahayu melalui skema revolusi mental dan SDGs 2030 yang telah memperlihatkan bebrapa hasil dalam pemberdayaan Psikoso-sosial, pendidikan dan kemandirian ekonomi anak jalanan. Metode penulisan ini adalah deskriptif dan analitif. Hasil pengamatan dan analisis didasarkan pada observasi yang dilakukan di Kampung Sri Rahayu, Kelurahan Karang Klesem Kecamatan Purwoerto Selatan Kabupaten Banyumas, dokumentasi, wawancara serta studi kepustakaan terhadap kondisi anak jalanan di Kampung Sri Rahayu.
PERANAN MAHASISWA IAIN PURWOKERTO DALAM MEMBERDAYAKAN ANAK JALANAN MELALUI SKEMA REVOLUSI MENTAL DAN SDGs 2030 DI KAMPUNG SRI RAHAYU, KELURAHAN KARANG KLESEM, PURWOKERTO SELATAN, BANYUMAS Nurhayah, Eka Muawali; Sari, Novita; Avifah, Avifah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jimrf.v6i2.2746

Abstract

Maraknya permasalahan sosial, pendidikan dan ekonomi yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia tak terkecuali di Kampung Sri Rahayu, menimbulkan dampak yang negatif. Salah satunya yaitu munculnya anak jalanan yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Kondisi anak jalanan yang cukup memprihatinkan dengan banyak masalah yang serius, seperti, putus sekolah, rentan pergaulan bebas, dan degredasi moral.Tujuan penulisan ini yakni, mengkaji kembali problematika yang dialami anak jalanan di Kampung Sri Rahayu, Kelurahan Karang Klesem Kecamatan Purwokerto selatan kabupaten Banyumas. Konsep tulisan ini terfokus pada solusi yang ditawarkan oleh mahasiswa IAIN Purwokerto dalam memberdayakan anak jalanan di Kampung Sri Rahayu melalui skema revolusi mental dan SDGs 2030 yang telah memperlihatkan bebrapa hasil dalam pemberdayaan Psikoso-sosial, pendidikan dan kemandirian ekonomi anak jalanan. Metode penulisan ini adalah deskriptif dan analitif. Hasil pengamatan dan analisis didasarkan pada observasi yang dilakukan di Kampung Sri Rahayu, Kelurahan Karang Klesem Kecamatan Purwoerto Selatan Kabupaten Banyumas, dokumentasi, wawancara serta studi kepustakaan terhadap kondisi anak jalanan di Kampung Sri Rahayu.
Penyuluhan PHBS tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini Ramadhan, Defri Wan; Prayoga, Andes; Avifah, Avifah; Agnesta, Desvia Ratin; Astuti, Evi; Erwan, Fragesta; Andani, Meri; Amartya, Salsa Ananstasya; Setiawan, Shandi; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2391

Abstract

Background: Oral and dental health is an essential part of Clean and Healthy Living Behaviors (CHLB) that must be instilled from an early age. Kindergarten-aged children are vulnerable to dental and oral problems due to a lack of understanding and improper brushing habits, therefore, appropriate and engaging health education efforts are necessary. Purpose: To increase children's understanding of CHLB and oral health and to introduce them to proper toothbrushing techniques. Method: This health education activity was held on November 25, 2025, at Smart Kids Kindergarten, Gedong Air, Bandar Lampung. Thirty-two participants participated. The educational activity used a face-to-face communicative and educational approach for kindergarten-aged children, tailored to their developmental characteristics. The material was delivered interactively using leaflets and flipcharts containing colorful pictures, simple text, and engaging illustrations for easy comprehension by children. Furthermore, education included demonstrations and simulations on proper toothbrushing techniques, including brushing times, tools to be used, and systematic brushing steps. Leaflets were distributed to participants as supporting media so that the information provided could be remembered and applied in daily life. Results: The use of leaflets as the primary medium for delivering toothbrushing lessons positively impacted children's understanding of proper toothbrushing techniques, including how to hold the toothbrush, the direction of brushing movements, and the order in which they brush the front, sides, and back of their teeth. This demonstrated that children enthusiastically participated in the activity and understood the importance of maintaining oral hygiene. Conclusion: Oral health education using leaflets and leaflets was effective in improving understanding and basic toothbrushing skills in early childhood. Direct, hands-on oral health education tailored to the developmental characteristics of early childhood has the potential to be an effective promotional strategy for preventing oral health problems and instilling sustainable healthy lifestyle habits. Suggestion: Schools are expected to make oral health education a routine program integrated into kindergarten learning activities, so that clean and healthy living habits can be instilled sustainably from an early age. Teachers and other educational staff are advised to continue providing reinforcement through proper tooth brushing habits and monitoring children's eating habits in the school environment. Keywords: CHLB; Early childhood; Health education; Oral health; Toothbrushing Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Anak usia taman kanak-kanak rentan mengalami masalah gigi dan mulut akibat kurangnya pemahaman dan kebiasaan menyikat gigi yang tidak benar, sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan yang tepat dan menarik. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman anak tentang PHBS kesehatan gigi dan mulut serta memperkenalkan gerakan menyikat gigi yang baik dan benar. Metode: Kegiatan pendidikan kesehatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 November 2025 di TK Smart Kids Gedong Air, Bandar Lampung. Melibatkan 32 peserta yang mengikuti kegiatan. Kegiatan edukasi menggunakan pendekatan komunikatif dan edukatif secara langsung (face to face) kepada anak usia taman kanak-kanak dengan yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif menggunakan media leaflet dan lembar balik yang berisi gambar berwarna, tulisan sederhana, serta ilustrasi menarik agar mudah dipahami oleh anak-anak. Selanjutnya, diberikan edukasi berupa demonstrasi dan simulasi mengenai gerakan menyikat gigi yang baik dan benar, meliputi waktu menyikat gigi, alat yang digunakan, serta langkah-langkah menyikat gigi secara sistematis. Leaflet dibagikan kepada peserta sebagai media pendukung agar informasi yang diberikan dapat diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil: Menunjukkan bahwa penggunaan lembar balik sebagai media utama dalam penyampaian materi gerakan sikat gigi memberikan dampak positif terhadap pemahaman langkah-langkah menyikat gigi yang benar, mulai dari cara memegang sikat gigi, arah gerakan menyikat, hingga urutan menyikat gigi bagian depan, samping, dan belakang, sehingga kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak mengikuti kegiatan dengan antusias dan mampu memahami pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Simpulan: Pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan leaflet dan lembar balik efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar menyikat gigi pada anak usia dini. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan secara langsung dan disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak usia dini berpotensi menjadi strategi promotif yang efektif dalam mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut serta menanamkan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan. Saran: Diharapkan pihak sekolah dapat menjadikan kegiatan pendidikan kesehatan gigi dan mulut sebagai program rutin yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di TK, sehingga perilaku hidup bersih dan sehat dapat ditanamkan secara berkelanjutan sejak usia dini. Guru dan tenaga pendidik disarankan untuk terus memberikan penguatan melalui pembiasaan menyikat gigi yang benar serta pengawasan terhadap kebiasaan makan anak di lingkungan sekolah
Edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil Rilyani, Rilyani; Prayoga, Andes; Avifah, Avifah; Ramadhan, Defri Wan; Agnesta, Desvia Ratin; Astuti, Evi; Erwan, Fragesta; Andani, Meri; Amartya, Salsa Ananstasya; Setiawan, Shandi; Usman, Irindy Inayah; Dari, Ulan; Nasta, Beatrick Rosali; Aulia, Devita; Utami, Julia Tri; Sari, Putri Melinda
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2586

Abstract

Background: Pregnant women need adequate nutrition to stay healthy. This is achieved by increasing and varying the food they consume, but avoiding excessive portion sizes or restricting their diet, as this can harm the fetus. Chronic Energy Deficiency (CED) is a condition in which a pregnant woman experiences a prolonged (yearly or chronic) lack of food, resulting in health problems such as an inability to meet increased nutritional needs during pregnancy. Pregnant women with CED have a higher risk of giving birth with low birth weight (LBW) compared to pregnant women without CED. Purpose: To provide education to increase pregnant women's knowledge about how to prevent and manage CED. Method: This activity was conducted on November 29, 2024, at 9:30 a.m. Western Indonesian Time (WIB) at the Simpur Community Health Center (Puskesmas) in Bandar Lampung. A total of 24 pregnant women and mothers with toddlers attended the activity to serve as respondents. The goal of this activity was health education to increase pregnant women's knowledge regarding the prevention of chronic energy deficiency during pregnancy. Respondent knowledge was measured using a questionnaire administered before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation was conducted by asking respondents questions about the explanation and observing changes in their knowledge levels based on the questionnaire results between before and after the educational activity. Results: Data obtained showed that the level of knowledge of respondents before the educational activity was 4 (16.7%) in the good category, 12 (50.0%) in the adequate category, and 8 (33.3%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge after the educational activity was 16 (66.7%) in the good category, 8 (33.3%) in the adequate category, and no respondents had poor knowledge. Conclusion: This educational activity successfully increased the knowledge and awareness of pregnant women regarding the importance of preventing and managing chronic energy deficiency (CED). Increased knowledge among pregnant women will minimize the risk of CED, thereby improving the health and nutritional quality of pregnant women, which will contribute to achieving the national goal of reducing stunting and maternal mortality. Suggestion: Community Health Centers (Puskesmas) are expected to improve and optimize the implementation of education on the prevention of chronic energy deficiency (CED) for pregnant women in a structured, sustainable, and individual-based manner. Program support that involves the family as a support system for pregnant women is needed to improve adherence to nutritional recommendations. Keywords: Chronic energy deficiency; Health education; Pregnant women; Prevention Pendahuluan: Ibu hamil memerlukan nutrisi agar tetap sehat. Ini dilakukan dengan menggunakan perbanyak dan variasikan makanan yang dikonsumsinya, namun jangan menambah ukuran porsinya dan juga membatasi pola makan karena dapat membahayakan janin dalam kandungan. Defisiensi Energi Kronis adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil mengalami kekurangan makanan dalam jangka waktu yang lama (menahun atau menahun), sehingga menimbulkan gangguan kesehatan seperti tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan gizi selama kehamilan. Ibu hamil yang menderita KEK memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan dengan berat badan lebih rendah (BBLR) dibandingkan ibu hamil tanpa KEK. Tujuan: Memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai cara pencegahan dan penanganan KEK. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2024 pada pukul 09.30 WIB di Wilayah Kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Sebanyak 24 ibu hamil dan ibu yang memiliki balita menghadiri kegiatan untuk menjadi responden. Sasaran dalam kegiatan ini adalah pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai pencegahan kejadian kekurangan energi kronik selama menjalani kehamilan. Pengukuran pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kembali mengenai isi penjelasan kepada responden dan melihat perubahan tingkat pengetahuan berdasarkan hasil kuesioner antara sebelum kegiatan edukasi dan setelah kegiatan edukasi. Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 4 (16.7%) dalam kategori baik, sebanyak 12 (50.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 16 (66.7%) dalam kategori baik, sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori cukup, dan tidak ada responden yang memiliki pengetahuan kategori kurang. Simpulan: Kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya pencegahan dan penanganan gangguan kurang energi kronik (KEK). Peningkatan pengetahuan ibu hamil akan meminimalkan risiko KEK sehingga peningkatan derajat kesehatan dan kualitas gizi ibu hamil akan berkontribusi dalam pencapaian tujuan nasional yaitu menurunkan angka stunting dan angka kematian ibu. Saran: Diharapkan agar Puskesmas dapat meningkatkan dan mengoptimalkan pelaksanaan edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil secara terstruktur, berkesinambungan, dan berbasis kebutuhan individu. Diperlukan dukungan program yang melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung ibu hamil guna meningkatkan kepatuhan terhadap anjuran gizi.
ANALISIS PENERAPAN PROTOKOL TAMBAHAN I 1977 DAN KONVENSI JENEWA DALAM PERLINDUNGAN WARTAWAN PERANG (STUDI KASUS KONFLIK RUSIA–UKRAINA) Avifah, Avifah
Jurist Argumentum: Pemikiran Intelektual Hukum Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Prodi Ilmu Hukum, Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jjm.v3i2.14873

Abstract

Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina menimbulkan berbagai pelanggaran terhadap warga sipil, termasuk wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik di wilayah konflik. Wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang akurat dan faktual kepada publik internasional, namun dalam praktiknya mereka kerap menjadi sasaran kekerasan, penahanan sewenang-wenang, pembatasan akses, serta ancaman keselamatan akibat situasi konflik dan perang informasi. Hukum Humaniter Internasional memberikan dasar perlindungan terhadap wartawan yang tidak terlibat langsung dalam permusuhan dengan menempatkan mereka sebagai warga sipil, sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa Tahun 1949 dan ditegaskan secara khusus dalam Pasal 79 Protokol Tambahan I Tahun 1977. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip hukum humaniter internasional yang mengatur perlindungan wartawan perang serta mengkaji implementasi dan kendala penerapan perlindungan tersebut dalam konflik bersenjata Rusia–Ukraina. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual yang dianalisis secara deskriptif-analitis, menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Konvensi Jenewa Tahun 1949 belum mengatur secara spesifik perlindungan wartawan perang, rezim hukum humaniter internasional memberikan perlindungan terhadap wartawan sebagai warga sipil. Pasal 79 Protokol Tambahan I Tahun 1977 secara eksplisit menegaskan status wartawan sebagai warga sipil yang berhak memperoleh perlindungan hukum sepanjang tidak turut serta secara langsung dalam permusuhan. Namun, dalam praktik konflik Rusia–Ukraina, penerapan ketentuan tersebut menghadapi berbagai kendala, antara lain lingkungan konflik dengan pelanggaran hukum humaniter internasional yang luas, dinamika perang informasi, keterbatasan mekanisme penegakan hukum internasional, serta kesulitan pembuktian dan dokumentasi di medan tempur. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap wartawan perang belum berjalan secara optimal dan masih menyisakan kesenjangan antara norma hukum dan realitas konflik bersenjata modern.