Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Perspektif Hukum Islam Terhadap Tradisi Tammu Taung Pulau Pajenekang Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Syahrul, Syahrul; Hasan, Hamzah; Mustafa, Zulhasari
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i6.11137

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji tradisi Tammu Taung di Pulau Pajenekang dalam perspektif hukum Islam dengan menelaah pandangan ulama kontemporer serta relevansinya terhadap maqāṣid al-sharī‘ah dan konsep maslahah mursalah. Penelitian ini merupakan studi lapangan dengan pendekatan teologis normatif. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder dihimpun dari literatur ilmiah relevan. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tammu Taung mengandung nilai ilahiyah, sosial, dan patriotisme, yang diekspresikan melalui ritual keagamaan, zikir, pembacaan barzanji, serta pemberian makanan manis sebagai simbol rasa syukur dan solidaritas. Tradisi ini berperan sebagai media pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas keislaman masyarakat pesisir. Dalam perspektif hukum Islam, tradisi ini tidak bertentangan dengan prinsip syariat, sebab memenuhi unsur kemaslahatan dalam aspek jiwa, sosial, dan ekonomi. Secara ‘urf, praktik ini termasuk dalam kategori ‘urf sahih yang telah membudaya secara turun-temurun dan memberikan manfaat kolektif. Tradisi Tammu Taung mencerminkan sinkronisasi antara adat dan ajaran Islam, sekaligus menjadi strategi kultural dalam merawat spiritualitas komunitas. Kajian ini menegaskan bahwa pelestarian tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan prinsip hukum Islam selama tidak mengandung unsur penyimpangan akidah dan syariah
Problematika Pemaknaan Teks Syariat dan Dinamika Maslahat Kemanusiaan Mustafa, Zulhasari
Mazahibuna: Jurnal Perbandingan Mazhab VOLUME 2 ISSUE 1, JUNE 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mh.v2i1.14282

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan ruang interpretasi teks syariat di bawah otoritas ilahi, menemukan daya dukung teks syariat terhadap implementasi kemaslahatan manusia, dan menemukan kesinambungan antara konsep kemaslahatan, teks syariat, dan realitas kemaslahatan manusia. Penelitian dijalankan melalui library research, metode penelitian kualitatif, dan pendekatan doktriner. Data-data kualitatif dihimpun dari literatur-literatur yang membahas teks syariat dan kemaslahatan. Data diolah dan dianalisis mulai dari tahap identifikasi sampai tahap penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks syariat meliputi aspek transenden dan historis. Otoritas ilahi dalam teks syariat tidak mengabaikan dimensi kemanusiaan. Kehadiran rasulullah saw. sebagai raḥmatan lil ‘ālamīn tertuang dalam teks syariat. Aspek kerahmatan terwujud apabila kemaslahatan terealisasi dan kemudaratan dihilangkan. Kemaslahatan manusia selalu jadi pertimbangan dalam setiap legislasi hukum dari teks syariat. Dengan demikian, pemaknaan terhadap teks syariat tidak dapat mengabaikan aspek kemaslahatan manusia. Penentuan maslahat kemanusiaan tidak dapat pula secara sewenang-wenang dilakukan sehingga spirit teks syariat diabaikan. Ruang dialogis harus selalu terbuka antara dinamika maslahat kemanusiaan dengan makna-makna yang diraih dari teks syariat.Kata kunci: Teks Syariat; Tujuan Syariat, Kemaslahatan; Otoritas Ilahi; Hak Hamba . AbstractThe research aimed to describe the interpretation space of Shari'a texts under divine authority, to find support of Shari'a texts on the implementation of human benefit, and to find continuity between the concepts of benefit, Shari'a texts, and the reality of human benefit. Research was carried out through library research, qualitative research methods, and doctrinal approaches. Qualitative data collected from the literature that discussed the text of the Shari'a and benefit. Data was processed and analyzed starting from the identification stage until the conclusion stage. The results showed that the Shari'a text covers transcendent and historical aspects. The divine authority in the Shari'a text does not neglect the human dimension. The presence of rasulullah saw., as raḥmatan lil ‘ālamīn is contained in the Shari'a text. The grace aspect is realized when the benefit is realized and the harm is removed. The benefit of humans is always a consideration in every legal legislation of the Shari'a text. Thus, the meaning of the Shari'a text cannot ignore the aspect of human benefit. The determination of the benefits of humanity cannot also be arbitrarily carried out so that the spirit of the Shari'a text is ignored. Dialogue space must always be open between the dynamics of the benefit of humanity and the meanings achieved from the Shari'a text.Key words: Teks Syariat, Tujuan Syariat, Kemaslahatn, Otoritas Ilahi, Hak Hamba 
JUDICIAL REASONING AND DISPARITY IN ISLAMIC FAMILY LAW: A MAQĀṢID-BASED ANALYSIS OF POST-DIVORCE MAINTENANCE AND CHILD CUSTODY Musliadi, Musliadi; Kurniati, Kurniati; Mustafa, Zulhasari; Haque, Muhammad Faizul
al-Mawarid Jurnal Syariah dan Hukum (JSYH) Vol. 8 No. 2 (2026): al-Mawarid Jurnal Syariah dan Hukum (JSYH)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/mawarid.vol8.iss2.art9

Abstract

Purpose – This study aims to analyse judicial disparities in determining post-divorce maintenance and ḥaḍānah (child custody) from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah by comparing Decision of the Yogyakarta Religious Court No. 348/Pdt.G/2021/PA.YK and the Decision of the Jepara Religious Court No. 1492/Pdt.G/2021/PA.Jepr. Method – This study employed a normative legal research method using case, statutory, and conceptual approaches. The two decisions are comparatively analysed to identify differences in the application of legal norms, construction of facts, assessment of evidence, and judicial reasoning in determining post-divorce maintenance and ḥaḍānah, with maqāṣid al-sharī‘ah serving as an evaluative framework for assessing the justice and welfare achieved through the decisions. Findings – The study finds that judicial disparity is reflected not only in differences in the rulings concerning post-divorce maintenance and ḥaḍānah, but also in the construction of facts, interpretation of legal norms, assessment of evidence, and weighting of the interests of the parties. Judges assign different weights to parents’ economic capacity, caregiving circumstances, continuity of the child’s living arrangements, and the child’s material and psychological needs. These differences demonstrate that judicial discretion plays an important role in contextualising legal norms according to concrete circumstances while simultaneously creating potential for inconsistency when not accompanied by clear reasoning parameters. From the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, variations in judicial outcomes may be justified when oriented toward maṣlaḥah and the protection of lineage, life, intellect, and property. Conversely, disparities unsupported by material facts and adequate reasoning may undermine legal certainty and protect women and children’s rights. Contribution/Limitations – This study offers a maqāṣid al-sharī‘ah-based evaluative framework to distinguish legitimate judicial variation from problematic disparities in cases concerning post-divorce maintenance and ḥaḍānah. Its limitation lies in the use of only two judicial decisions as the primary cases, which limits the generalisability of the findings to Religious Court practices across Indonesia. Value/Originality – The originality of this study lies in integrating maqāṣid al-sharī‘ah, judicial reasoning, and the best interests of the child principle to analyse judicial disparity. This approach shifts the focus from differences in judicial outcomes alone to evaluating the quality and legitimacy of judicial reasoning in realising substantive justice.