Dedi Supriadi
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Mandatory Learning Of Islamic Religious Education In The Perspective Of The National Education Policy Dedi Supriadi; Akhmad Alim; Abdu Rahmat Rosyadi
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 001 (2021): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam (Special Issue)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v10i001.1720

Abstract

Konsep pendidikan Islam yang bersumber dari al-Quran dan al-Hadits menegaskan bahwa belajar agama Islam menjadi kewajiban yang mutlak perlu dilakukan oleh secara individual (fardhu `ain), sedangkan penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan agama Islam secara komunal (fardhu kifayah) menjadi kewajiban negara, pemerintah, masyarakat dan keluarga. Penelitian yang berkaitan dengan wajib belajar pendidikan agama Islam dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional ini dilakukan dengan pendekatan normatif. Data yang digunakan bersumber dari peraturan dan perundang-undangan serta ketentuan lainnya dengan analis data dilakukan secara deskriptif-normatif. Hasi penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, Pendidikan agama Islam wajib  diajarkan dalam bentuk mata pelajaran/kuliah agama di jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang keberadaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Pendidikan agama Islam menjadi bagian inti kurikulum pendidikan nasional dari jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan dalam bentuk pendidikan formal, nonformal dan informal. Kedua, di masa otonomi daerah, Pemerintah Daerah dapat menetapkan kebijakan pendidikan agama Islam melalui regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah, dan bentuk peraturan lainnya dalam menyelenggaran wajib belajar pendidikan agama Islam oleh lembaga Pendidikan Agama Islam nonformal. Kebijakan Negara atau pemerintah di Indonesia telah menetapkan dalam konstitusi Negara, undang-undang, dan peraturan pemerintah, peraturan Menteri Agama tentang Pendidikan agama Islam menjadi suatu yang wajib diselenggarakan oleh setiap lembaga pendidikan Islam maupun pendidikan umum sejak dari pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi
Menggali Potensi dan Keunikan Sumberdaya Alam di Desa Nanjungwangi Melalui Program OVOP E. Mujahidin; Immas Nurhayati; Dedi Supriadi
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Special Issue: Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa (PTMGRMD)
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i2.12526

Abstract

Abstract. Program One Village One Product (OVOP) yang dilaksanakan di Desa Nanjungwangi, Kecamatan Surian, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Program OVOP bertujuan untuk mengembangkan potensi sumber daya alam lokal menjadi produk unggulan daerah. Salah satu sumber daya alam yang diidentifikasi berpotensi di Desa Nanjungwangi adalah tanaman gadung yang diolah menjadi keripik gadung. Pelaksanaan program OVOP melibatkan analisis situasi, partisipasi masyarakat, kolaborasi dengan pemangku kepentingan seperti BUMDes dan Bank BJB, serta evaluasi dan pemantauan. Kendala yang dihadapi antara lain ketersediaan bahan baku yang terbatas, keengganan masyarakat untuk berkelompok, dan permasalahan pemasaran. Solusi yang ditawarkan meliputi pengaturan stok bahan baku, mediasi pemasaran oleh BUMDes, dan pemenuhan legalitas produk. Berdasarkan penelitian terdahulu, usaha keripik gadung dinyatakan layak dengan nilai Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) lebih besar dari 1. Pengembangan keripik gadung diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan UMKM di Desa Nanjungwangi. Abstrak. One Village One Product (OVOP) program implemented in Nanjungwangi Village, Surian District, Sumedang Regency, West Java. The OVOP program aims to develop the potential of local natural resources into regional superior products. One of the natural resources identified as having potential in Nanjungwangi Village is the gadung plant which is processed into gadung chips. The implementation of the OVOP program involves situation analysis, community participation, collaboration with stakeholders such as BUMDes and Bank BJB, and evaluation and monitoring. The constraints faced include limited availability of raw materials, community reluctance to group, and marketing issues. Solutions offered include managing raw material stocks, marketing mediation by BUMDes, and fulfilling product legality. Based on previous research, the gadung chips business is declared feasible with a Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) value greater than 1. The development of gadung chips is expected to provide added economic value for farmers and MSMEs in Nanjungwangi Village.
INOVASI PEMBELAJARAN PAI DI ERA DIGITAL: STRATEGI MENUMBUHKAN MINAT BELAJAR GEN-Z Dedi Supriadi; Taufiqurrahman; Samsuddin
TADBIRUNA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2022): TADBIRUNA
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/jurnalmanajemenpendidikanislam.v4i2.1506

Abstract

This research article aims to analyze and explore innovative strategies for Islamic Religious Education (PAI) teaching in the digital era that align with the characteristics of Generation Z. Using a literature review method involving academic sources related to educational technology, gamification, and social media, this study examines the effectiveness of various approaches in PAI learning. The findings indicate that the utilization of Learning Management System (LMS) platforms, quiz-based applications such as Quizizz and Kahoot, as well as the integration of social media platforms like Instagram and TikTok, significantly enhance student engagement. LMS supports flexible learning, gamification boosts motivation, while social media enables creative and relevant content delivery. These results suggest that integrating technology into PAI learning effectively addresses the challenges of the digital era and meets the needs of Generation Z, creating a more dynamic, interactive, and student-centered learning experience
INOVASI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA POST TRUTH: TANTANGAN DAN PELUANG PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH UMUM TINGKAT MENENGAH Unang Sodikin; Dedi Supriadi; Samsuddin; Maryanton Nur Shamsul
TADBIRUNA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2023): TADBIRUNA
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/jurnalmanajemenpendidikanislam.v4i2.1577

Abstract

This article aims to analyze innovations in Islamic Religious Education (PAI) learning as a response to the challenges of the post-truth era. The main focus of this study is on the integration of Islamic values with modern technology, strengthening Islamic digital literacy, and developing problem-solving and critical thinking-based learning methods. The method used in this research is a literature review that examines various relevant sources, including journal articles, books, and research reports related to Islamic education and the challenges of the post-truth era. The analysis describes the opportunities, challenges, and innovative strategies in PAI learning. The results of this study indicate that innovations in PAI learning, such as the application of e-learning, gamification, Islamic applications, and blended learning models, can enhance the relevance, attractiveness, and effectiveness of education. Furthermore, strengthening Islamic digital literacy and institutional collaboration are strategic opportunities to deliver relevant education in the digital era. However, challenges such as unequal access to technology and the spread of misinformation remain obstacles requiring sustainable solutions. This article concludes that innovations in PAI learning can equip students with critical, ethical, and adaptive skills, enabling them to face global challenges while strengthening Islamic values in the post-truth era