Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

TATALAKSANA RECURRENT INTRA ORAL HERPES DISERTAI CANDIDIASIS YANG DIRUJUK OLEH DERMATOLOGIST Ganesha, Raziv; Setyaningtyas, Dwi; Savitri E, Diah; Hadi, Priyo; Israyani
Interdental: Jurnal Kedokteran Gigi Vol 16 No 1 (2020): Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG)
Publisher : Faculty of Dentistry, Mahasaraswati Denpasar University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46862/interdental.v16i1.794

Abstract

Introduction : Herpes simplex virus (HSV) is one variant of the herpes virus that infects humans, has two main types of HSV-1 that manifests more found in the mucosa of the mouth, pharynx, and skin (upper waist), and the type HSV-2 manifests in the genital area (lower waist). Case: 16-year-old female patient were referred from dermatologis RSAL Dr Ramelan Surabaya with complaints of many ulcers, whitish area of the tongue, palatum, vestibulum and genitals. Case Treatment: patients treated with systemic drugs of acyclovir, fluconazole, folic acid, vitamin B, vitamin C, methyl prednisolone, aloe vera extract topical. Patients were tested for blood, HSV-1 & HSV-2 (+), HIV (-), ANA (-). Discussion: Herpes simplex infection is a disease caused by the herpes simplex virus (HSV) which is a DNA virus (Deoxyribonucleic acid). In humans, the herpes virus can be latent and reactivate Reactivation can occur because of a trigger in the form of decreased immunity due to weather changes, fever, sun exposure, emotional stress, trauma, pregnancy, hormonal, systemic diseases, allergies, and immunosuppression. In this case the cause is thought to be due to hormonal. The diagnosis of primary HSV infection and recurrent infection is usually obtained from clinical features and laboratory tests are used establish the diagnosis. Conclucion: Recurrence of HSV infection can be reduced if avoid trigger factors. HSV infection management aimed at the control of pain, supportive treatment and definitive treatment. In this case, multidisciplinary collaboration is required in the treatment because it involves two sites, oral and genital. Keyword : HSV, Recurrent Herpes Oral, Oral Candidiasis
TATALAKSANA RECURRENT INTRA ORAL HERPES DISERTAI CANDIDIASIS YANG DIRUJUK OLEH DERMATOLOGIST Raziv Ganesha; Dwi Setyaningtyas; Diah Savitri E; Priyo Hadi; Israyani
Interdental: Jurnal Kedokteran Gigi Vol. 16 No. 1 (2020): Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG)
Publisher : Faculty of Dentistry, Mahasaraswati Denpasar University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46862/interdental.v16i1.794

Abstract

Introduction : Herpes simplex virus (HSV) is one variant of the herpes virus that infects humans, has two main types of HSV-1 that manifests more found in the mucosa of the mouth, pharynx, and skin (upper waist), and the type HSV-2 manifests in the genital area (lower waist). Case: 16-year-old female patient were referred from dermatologis RSAL Dr Ramelan Surabaya with complaints of many ulcers, whitish area of the tongue, palatum, vestibulum and genitals. Case Treatment: patients treated with systemic drugs of acyclovir, fluconazole, folic acid, vitamin B, vitamin C, methyl prednisolone, aloe vera extract topical. Patients were tested for blood, HSV-1 & HSV-2 (+), HIV (-), ANA (-). Discussion: Herpes simplex infection is a disease caused by the herpes simplex virus (HSV) which is a DNA virus (Deoxyribonucleic acid). In humans, the herpes virus can be latent and reactivate Reactivation can occur because of a trigger in the form of decreased immunity due to weather changes, fever, sun exposure, emotional stress, trauma, pregnancy, hormonal, systemic diseases, allergies, and immunosuppression. In this case the cause is thought to be due to hormonal. The diagnosis of primary HSV infection and recurrent infection is usually obtained from clinical features and laboratory tests are used establish the diagnosis. Conclucion: Recurrence of HSV infection can be reduced if avoid trigger factors. HSV infection management aimed at the control of pain, supportive treatment and definitive treatment. In this case, multidisciplinary collaboration is required in the treatment because it involves two sites, oral and genital. Keyword : HSV, Recurrent Herpes Oral, Oral Candidiasis
Analisis Faktor Utilitas Jaminan Kesehatan Nasional Pada Lansia Dikota Medan: Analysis Of Jkn Utility Factors In The Elderly In Medan City Israyani; Nur Hasanah; Fitriani Pramita Gurning
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 7: Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8243

Abstract

Lansia merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit degeneratif dan kronis sesampai memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang lebih tinggi. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hadir sebagai bentuk perlindungan sosial dari pemerintah untuk memastikan akses kesehatan yang adil dan terjangkau, termasuk bagi kelompok lansia. Namun dalam implementasinya masih terdapat kendala dalam pemanfaatan layanan tersebut oleh lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat utilitas JKN pada lansia di Kota Medan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap sembilan orang lansia pengguna JKN. Data dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola yang memengaruhi pemanfaatan layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun JKN sangat membantu dalam meringankan beban biaya pengobatan, pemanfaatannya oleh lansia masih terhambat oleh keterbatasan pengetahuan terhadap prosedur, rendahnya kualitas pelayanan dan juga ketergantungan pada dukungan keluarga. Didapatkan kesimpulan bahwa utilitas JKN pada lansia belum sepenuhnya optimal dan membutuhkan intervensi berupa edukasi, perbaikan layanan dan penguatan sistem pendampingan sosial untuk mendukung partisipasi lansia secara mandiri dalam layanan kesehatan.
The FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB KEJADIAN HIPERTENSI DI KLINIK SIAR KELURAHAN BERANDAN BARAT, KECAMATAN BABALAN M.Kes, dr. Nofi susanti,; Israyani; Wahyuni, Sri; Sundari, Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.29845

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu dari berbagai jenis penyakit tidak menular (PTM) yang memerlukan perhatian lebih. Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat diatas normal yang ditunjukkan dengan nilai sistolik dan diastolik saat tekanan darah diukur dengan sphygmomanometer, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kejadian hipertensi di Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat. Desain dari penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross sectional, dengan jumlah sampel 66 orang. Analisis data yang digunakan adalah uji univariat dan bivariate dengan uji Chi square. Adanya hubungan jenis kelamin dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan dengan nilai p = 0,000. Adanya hubungan pekerjaan dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan  dengan p = 0,045. Tidak ada hubungan pengetahuan dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan dengan nilai p = 0,191. Tidak ada hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan dengan nilai p = 0,175. Adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan berolahraga dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan dengan nilai p = 0,001. Adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin, pekerjaan, dan kebiasaan berolahraga dengan kejadian hipertensi. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi di wilayah keja Klinik Siar, Kelurahan Berandan Barat, Kecamatan Babalan.
Overview of knowledge level clinical students of Faculty of Dentistry Hasanuddin University regarding burning mouth syndrome: Tinjauan tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin mengenai sindrom mulut terbakar Usman, Nur Asmi; Febrianti, Salsa; Mauliana, Anggun; Marlina, Erni; Israyani; Harlina; Yusran, Ali
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i3.1292

Abstract

Burning mouth syndrome (BMS), or glossopyrosis, is a condition characterised by a burning sensation or pain in certain areas of the oral cavity, particularly the tongue, without any changes to the surface of the oral tissue. Some data indicate that BMS suffer-ers are not being treated properly, highlighting the importance of clinical education about BMS for practitioners. This study explo-res the level of knowledge of professional students about BMS. This descriptive analytical cross-sectional study used a ques-tionnaire to collect data, with 74.2% of respondents demonstrating good knowledge of BMS and showing motivation to learn after completing the Clinical Readiness Programme. It was concluded that professional students have a good level of knowledge about BMS, but further research is needed, especially among undergraduate dental students, to increase awareness and knowledge about BMS.
Overview of knowledge level clinical students of Faculty of Dentistry Hasanuddin University regarding burning mouth syndrome: Tinjauan tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin mengenai sindrom mulut terbakar Nur Asmi Usman; Salsa Febrianti; Anggun Mauliana; Erni Marlina; Israyani; Harlina; Ali Yusran
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burning mouth syndrome (BMS), atau glossopyrosis, adalah kondisi sensasi rasa terbakar atau nyeri pada beberapa daerah di rongga mulut, khususnya lidah, tanpa perubahan pada permukaan jaringan mulut. Data menunjukkan penderita BMS tidak ditangani dengan baik sehingga perlu ditekankan pentingnya upaya pendidikan untuk edukasi klinis tentang BMS kepada praktisi. Penelitian ini mengeksplorasi gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa profesi terkait BMS. Penelitian deskriptif analitik desain cross sectional menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data yaitu 74,2% responden menunjukkan pengetahuan yang baik tentang BMS menunjukkan motivasi belajar setelah menyelesaikan Clinical Readiness Program. Disimpulkan bahwa mahasiswa profesi memiliki tingkat pengetahuan tentang BMS dengan baik namun penelitian lebih lanjut diperlukan terutama pada mahasiwa FKG tingkat dasar untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang BMS.