Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : AdBispreneur

HUMAN CAPITAL CHALLENGES IN INDONESIA AND WELCOME ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) in 2015 Muhamad Rizal
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 1, No 1 (2016): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.518 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v1i1.9095

Abstract

Charter and ASEAN blueprint towards the ASEAN Economic Community (AEC) in 2015, has been agreed by the members, characterized by  a new round of joint commitment that is legally binding. AEC Blueprint will give direction of ASEAN as a regional production base and single market. The blueprint is supported by the five essential pillars namely: the free flow of goods, services, investment, skilled labor, and freer flow  of capital. Efforts to realize the ASEAN as a regional production base and single market is certainly provides a lot of great opportunities and challenges for Indonesia. In this regard, the  main sectors which require improvement are professional human capital and competent. Without improvements in this sector, efforts to achieve the Indonesian government for human capital to compete with other countries in Southeast Asia will be difficult. Therefore, in facing such competition, the Indonesian government should prepare a Human Resources (HR) were skilled, intelligent and competitive that Indonesian human resources able to compete.
ANALISIS KARAKTERISTIK PEMBIAYAAN UNTUK INDUSTRI KREATIF DI KOTA BANDUNG Rivani -; Muhamad Rizal; Rudi Saprudin Darwis
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 4, No 1 (2019): Adbispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.701 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v4i1.19797

Abstract

This study aims to find the main problems, especially in the field of financing for the creative industry sector, to find alternative of financing models, and finally to try to analyze the characteristics of financing for the creative industry sector. The research method used is quantitative with explorative studies and uses simple linear regression analysis. Based on the results of the calculations of the two variables, it can be concluded that indeed the characteristics of the creative industry have no significant effect on the characteristics of banking business loans in general. Thus, it can be concluded that indeed the characteristics of the creative industry require alternative financing models that are different from the general financing pattern of banking, which is more in line with the characteristic needs of the creative industry itself which among them generally do not have large assets for financing guarantees, more involving creativity, and have a high level of business competition.  Penelitian ini bertujuan untuk mencari permasalahan utama khususnya bidang pembiayaan untuk sektor industri kreatif, lalu mencari alternatif model pembiayaannya, dan terakhir untuk mencoba menganalisis karakteristik pembiayaan untuk sektor industri kreatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan studi eksploratif serta menggunakan analisis statistik regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil kalkulasi, dapat disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik kredit usaha perbankan secara umum. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karakteristik industri kreatif ini memerlukan alternatif model pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan dari perbankan secara umum. Karakteristik industri kreatif  itu sendiri diantaranya adalah umumnya tidak punya aset besar untuk jaminan pembiayaan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas, serta tingkat persaingan usaha yang tinggi.  
FINTECH SEBAGAI SALAH SATU SOLUSI PEMBIAYAAN BAGI UMKM Muhamad Rizal; Erna Maulina; Nenden Kostini
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 3, No 2 (2018): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.809 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v3i2.17836

Abstract

ABSTRACTIn 2017, more than 40 new fintech businesses is born, this financial business have emerged that have tried their luck in the Indonesian financial landscape along with the other 140s of startup that have stood before. Indonesia's fintech industry has become one of the prima donna that attracted so much attention from the financial industry actors. Investment on startup fintech began to attract a lot of interest, even some startup managed to get series A of investment this year. The fintech sectors are beginning to develop and many new products are launched.Meanwhile, the Ministry of Cooperatives and Small and Medium Enterprises (Ministry of Small and Medium Enterprises) launched 3.79 million micro, small and medium enterprises (SMEs) already utilizing online platform in marketing their products. This number is around 8 percent of the total perpetrators of SMEs in Indonesia, which is 59.2 million.The problem of sources of financing is a classic problem that is a barrier to the growth of SMEs who do not get financing facilities from the banking sector. Lack of financial resources makes SMEs unable to develop innovations to increase production. However, the rapid growth of financing business of fintech, such as peer-to-peer lending can now be another alternative for loan fund raisers. peer-to-peer lending is a financing business that targets the middle to lower market sectors  ABSTRAKSepanjang tahun 2017, setidaknya muncul lebih dari 40 bisnis fintech baru yang mencoba peruntungan di lanskap keuangan Indonesia bersama dengan 140-an startup lain yang telah berdiri sebelumnya. Industri fintech Indonesia memang menjadi salah satu primadona yang menarik perhatian begitu besar dari para pelaku industri keuangan. Investasi pada startup fintech mulai banyak diminati, bahkan beberapa startup berhasil mendapatkan investasi seri A di tahun ini. Sektor-sektor fintech mulai berkembang dan produk-produk baru banyak diluncurkan.Sementara itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) melansir sebanyak 3,79 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan produknya. Jumlah ini berkisar 8 persen dari total pelaku UMKM yang ada di Indonesia, yakni 59,2 juta.Masalah sumber pembiayaan merupakan masalah klasik yang menjadi penghambat pertumbuhan UMKM yang tidak mendapat fasilitas pembiayaan dari sektor perbankan. Kurangnya sumber dana menjadikan UMKM tidak dapat mengembangkan inovasi untuk meningkatkan produksinya. Namun demikian pesatnya pertumbuhan bisnis pembiayaan FinTech seperti peer-to-peer lending  sekarang ini bisa menjadi alternatif lain bagi para pencari dana pinjaman. peer-to-peer lending merupakan bisnis pembiayaan yang menyasar sektor  pasar menengah ke bawah.
TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL PADA UKM : STUDI PEMETAAN SISTEMATIK Margo Purnomo; Erna Maulina; Aulia Rizki Wicaksono; Muhamad Rizal
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 7, No 1 (2022): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v7i1.36295

Abstract

Research on the Technology Acceptance Model (TAM) in small and medium enterprises (SMEs) has been widely carried out because TAM is one theory that plays an important role in the sustainability of SMEs. So the purpose of this research is to conduct a mapping related to the topic of TAM in SMEs, especially for the publication trends of each country from time to time, the focus and locus of research as well as the methods used. This research is a qualitative method using a systematic mapping study method. The search was carried out with the criteria of being a scientific journal published on the Scopus electronic database in the publication year 2004-2019, using English and the subject area of Business, Management and Accounting. The results of this study indicate that there has been an increase in discussions related to the topic of TAM from 2004 to 2019. Research related to the topic of TAM is generally dominated by scientific publications from Asia, namely Indonesia, Iran, Korea, Malaysia, Oman, Taiwan and the UAE. The results showed that there were 17.2% of previous research articles on TAM in SMEs in Indonesia. The approach used in this research is mostly quantitative, which is 80% and mostly done in manufacturing companies, which is 24.1%. Although the results of this study have limitations in observation time, they contribute to providing an overview of opportunities to explore new topics in TAM in SMEs.Penelitian tentang Technology Acceptance Model (TAM) pada usaha kecil dan menengah (UKM) telah banyak dilakukan dikarenakan TAM merupakan salah satu teori yang berperan penting dalam keberlangsungan UKM. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan terkait topik TAM pada UKM khususnya untuk tren publikasi setiap negara dari waktu ke waktu, fokus dan lokus penelitian serta metode yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan metode studi pemetaan sistematik. Penelusuran dilakukan dengan kriteria jurnal merupakan jurnal ilmiah yang dipublikasikan pada database electronic scopus pada tahun publikasi 2004-2019, menggunakan bahasa inggris dan subject area Business, Management and Accounting. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan pembahasan terkait topik TAM yang ada sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2019. Penelitian terkait topik TAM ini umumnya didominasi oleh publikasi ilmiah yang berasal dari Asia yaitu Indonesia, Iran, Korea, Malaysia, Oman, Taiwan dan UEA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 17.2% artikel penelitian terdahulu tentang TAM pada UKM di Indonesia. Dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian besar secara kuantitatif yaitu sebesar 80% dan banyak dilakukan pada perusahaan manufacturing yaitu sebesar 24,1%. Walaupun hasil penelitian ini memiliki keterbatasan dalam waktu pengamatan akan tetapi berkontribusi dalam  memberikan gambaran tentang peluang untuk mengekplorasi topik baru dalam TAM pada UKM.