Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Evaluasi Penerapan Arsitektur Perilaku terhadap Karakteristik Pengguna Komersial : Studi Kasus: Food Junction Grand Pakuwon Aliza Yasmin Rasyidah; Azkia Avenzoar
Arsir: Jurnal Arsitektur Vol 9 No 1 (2025): Arsir
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v9i1.199

Abstract

In the field of architecture, humans build buildings or structures to meet their needs, and as users of these buildings influence the way humans behave. As well as ensuring the variables that influence the correlation between architecture and the social stability of building occupants. The most fundamental aspect of architecture is understanding the importance of the interaction between these elements such as accessibility, open space and aesthetics. In the western city of Surabaya, a place has been built, making it a new historical milestone in realizing the people's wishes. For this reason, the design of the Grand Pakuwon Food Junction building must be able to be accepted and respond to user behavior, namely visitors, by creating space elements that foster social interaction, are easy to adapt, and offer indoor and outdoor facilities to its users, as well as giving them a variety of activities to choose from. The method used for qualitative description is interviews and identifying each factor to create the stability of desired behavior for residents and users. It is hoped that the results of this research can provide development of spatial logic theory (Hiller and Hanson) and humanistic principles and encourage building designs that are not only functional, but also pay attention to aspects of genetic attitudes and emotions.
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Salma Nuha Rozan Hanifah; Azkia Avenzoar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.
Penerapan Arsitektur Hijau pada Fasilitas Publik Perkotaan (Studi Kasus Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya) Efrata Pramita Ngole; Azkia Avenzoar
Tekstur (Jurnal Arsitektur) Vol 7, No 1 (2026): TEKSTUR (Jurnal Arsitektur)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.tekstur.2026.v7i1.7858

Abstract

Rapid urban growth necessitates an approach to building design that is not only functional and aesthetic, but also ecologically sustainable. Green architecture emerges as a design strategy that integrates energy efficiency, adaptation to local climate, and preservation of the surrounding environment. Libraries, as public facilities, have great potential to apply green architecture principles as part of community sustainability education efforts. This study aims to analyze the application of green architecture principles at the Bank Indonesia Library in Surabaya, using a qualitative descriptive approach and precedent study methods. The analysis is based on Steffen Lehmann's (2016) theory of Climate-Responsive Urban Design, which includes six main principles: adaptation to local climate, density and connectivity, green space, circulation metabolism, flexible design, and climate-sensitive water management. The results of the study indicate that all of these principles have been effectively implemented through passive design, space efficiency, vegetation utilization, adaptive reuse of buildings, functional flexibility of spaces, and sustainable water management strategies. This study demonstrates that the application of green architecture principles in urban public facilities can contribute to environmental sustainability while enhancing the comfort and social functionality of spaces.
Analisis Elemen Fasad Bangunan dalam Membentuk Sense of Place: Studi Kasus Kawasan Bosbow Madiun Tarisa Nurahma; Azkia Avenzoar
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 9 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v9i2.14759

Abstract

Sense of place is the concept of emotional, social, and cultural attachments formed between individuals and a place. The formation of sense of place is influenced by three factors, namely physical form, image, and activities. Historical buildings, especially cultural heritage, have a high sense of place, especially in their physical form. This research aims to analyze the influence of the physical form of colonial building facades in the Bosbow cultural heritage area of Madiun City in forming a sense of place. The research method used is qualitative-descriptive with the approach of field observation and literature study. The results of this study show that the physical elements of buildings such as roofs, gevels, columns, walls, doors, windows, and other decorations have a role in shaping a sense of place in the form of visual impressions, place identity, and physical comfort. These elements not only represent a beautiful colonial character but also serve as a link between historical values and present-day spatial experiences. So the preservation of physical elements in buildings that have a sense of place value such as historic buildings is very important to strengthen the identity of an area.
PENERAPAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA SELASAR SUNARYO ART SPACE Muhammad Farhan; Azkia Avenzoar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i2.3844

Abstract

Abstract: Neo-Vernacular architecture is a concept within the postmodern movement that combines two styles, modern and vernacular. In an increasingly advanced and modern era, modern architecture predominates and the interest in vernacular architecture declines as it is considered outdated. However, the emergence of Neo-Vernacular architecture provides a solution to this issue. Neo-Vernacular architecture merges modern building designs with distinctive local elements. This creates an opportunity for vernacular architecture to reemerge with a more modern and widely accepted approach. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) is a cultural and art center located in the city of Bandung. SSAS is built with a modern form while incorporating traditional elements. The objective of this research is to focus on examining the neo-vernacular elements present in the SSAS building. The research methodology used involves identifying the principles and criteria of the neo-vernacular approach in the building elements of SSAS. The research findings indicate that certain elements of the SSAS building reflect the principles and criteria of neo-vernacular architecture.Keyword: Art center, Neo-Vernacular Architecture, BandungAbstrak: Arsitektur Neo-Vernakular merupakan sebuah konsep dalam aliran postmodern yang menggabungkan dua gaya, yaitu arsitektur modern dan vernakular. Dalam era yang semakin maju dan modern, arsitektur modern lebih dominan dan minat terhadap arsitektur vernakular menurun karena dianggap usang. Namun, hadirnya arsitektur Neo-Vernakular menjadi solusi atas masalah tersebut. Arsitektur Neo-Vernakular menggabungkan desain bangunan modern dengan unsur-unsur lokal yang khas. Hal ini memberikan peluang bagi arsitektur vernakular untuk hadir kembali dengan pendekatan yang lebih modern dan diterima dengan baik. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) merupakan sebuah bangunan pusat kebudayaan dan kesenian yang terdapat di kota bandung. SSAS dibangun dengan bentuk yang modern namun memiliki unsur tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah berfokus pada pengkajian elemen neo vernakular yang terdapat pada bangunan SSAS. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi prinsip dan kriteria pendekatan neo vernakular pada elemen-elemen bangunan SSAS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian elemen bangunan SSAS mencerminkan prinsip dan kriteria  arsitektur neo vernakular.Kata Kunci: Pusat kesenian, Arsitektur Neo Vernakular, Bandung
OPTIMALISASI POLA PENATAAN RUANG PADA PASAR TRADISIONAL GEMPOLKEREP, KABUPATEN MOJOKERTO Faizah Choirunnisa; Azkia Avenzoar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4237

Abstract

Abstract: This research is motivated by the condition of Pasar Gempolkerep which affects the productivity of buying and selling transaction activities in it which has an impact on the economy of Gempolkerep Village and its surroundings. The muddy conditions, the irregular position of the traders' kiosks, the location of the market at the entrance to the village make the face of the village look shabby and the buying and selling transactions in it are uncomfortable and irregular. These problems occur due to the confusion of the spatial division zone. Article 28 I paragraph (3) and Article 32 paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia explain that traditional markets are a reflection of local wisdom and part of Indonesian national culture that must be preserved. The existence of the market is very vital for the economic joints of Gempolkererep Village and its surroundings. Most residents depend on their economy on this village market. Because of its very vital function, the village government makes the management of this market a priority, including its arrangement. According to Ching (1996) spatial planning patterns are spatial arrangements that are related to each other according to function, proximity, or circulation flow so that they are organized into spatial patterns that are closely related to each other or coherent. If the spatial pattern or spatial zone is considered appropriate, then the productivity of the community engaged in activities in it will be guaranteed and of course this will have a positive impact on the economy of Gempolkerep Village and its surroundings. The purpose of this study is to evaluate the existing spatial pattern so that it can later produce the right spatial zone for Pasar Gempolkerep. This study uses a method with a qualitative category through location surveys and literature studies. From this study, it is hoped that the spatial zone of Pasar Gempolkerep will be organized so that the productivity of economic activities in it increases and creates better market conditions. Keyword: spatial pattern, traditional market, dry zone, wet zone Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi pasar Gempolkerep yang mempengaruhi produktifitas kegiatan transaksi jual beli didalamnya yang mana berdampak pada ekonomi Desa Gempolkerep dan sekitarnya. Kondisi becek, tak teraturnya posisi kios pedagang, letak pasar pada jalan masuk desa menjadikan wajah desa menjadi kumuh serta transaksi jual beli didalamnya tidak nyaman dan tidak teratur. Permasalahan tersebut terjadi akibat rancunya zona pembagian ruang.  Pasal 28 I ayat (3) dan pasal 32 ayat (1) UUD Republik Indonesia Tahun 1945 menjelaskan bahwa pasar tradisional merupakan gambaran kearifan lokal dan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia yang harus dilestarikan. Keberadaan pasar sangat vital bagi sendi perekonomian Desa Gempolkererep dan sekitar. Sebagian besar warga menggantungkan perekonomiannya pada pasar desa ini. Karena fungsinya yang sangat vital maka pemerintah desa menjadikan pengelolaan pasar ini prioritas, termasuk segi penataannya. Menurut Ching (1996) pola tata ruang adalah susunan ruang yang memiliki kaitan satu dengan lainnya menurut fungsi, kedekatan, atau alur sirkulasi sehingga terorganisir menjadi pola – pola bentuk ruang yang berkaitan erat satu sama lain atau koheren. Apabila pola tata ruang atau zona ruang dinilai sudah tepat, maka produktifitas masyarakat yang berkegiatan di dalamnya akan terjamin dan tentu hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Desa Gempolkerep dan sekitar. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pola tata ruang yang ada agar nantinya dapat menghasilkan zona ruang yang tepat bagi Pasar Gempolkerep. Penelitian ini menggunakan metode dengan kategori kualitatif melalui survei lokasi dan studi literatur. Dari penelitian ini diharapkan zona ruang Pasar Gempolkerep tertata sehingga produktifitas kegiatan ekonomi di dalamnya meningkat dan menciptakan kondisi pasar lebih baik. Kata Kunci: pola tata ruang, pasar tradisional, zona kering, zona basah
Analisis Penerapan Prinsip Desain Universal untuk Meningkatkan Aksesibilitas di Tugu Pahlawan Surabaya antonio wishardian; Azkia Avenzoar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4361

Abstract

Abstract: Tugu Pahlawan in Surabaya is a historic public area that serves as both a city landmark and an educational tourist destination. As a public space, it should be accessible to all groups, including persons with disabilities. This research aimed to analyze the extent to which universal design principles have been implemented at Tugu Pahlawan to enhance accessibility and comfort for all visitors. The method used was a descriptive qualitative approach through direct observation, visual documentation, interviews with site management, and literature review based on the Ministry of Public Works and Housing Regulation No. 14 of 2017 regarding the 7 principles of universal design. The results show that 5 out of the 7 universal design principles have been adequately applied, including the presence of ramps, elevators, audio QR codes, and flat pedestrian paths. However, there are still shortcomings in certain aspects such as the absence of guiding blocks for the visually impaired, information in sign language, and accessible toilet facilities for people with disabilities. Keyword: Universal design, Accessibility, Public space, Disability, Tugu Pahlawan Surabaya. Abstrak: Tugu Pahlawan di Surabaya merupakan kawasan publik bersejarah yang menjadi ikon kota sekaligus destinasi wisata edukatif. Sebagai fungsi publik, kawasan ini seharusnya dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana prinsip-prinsip desain universal diterapkan di Tugu Pahlawan guna meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan bagi seluruh pengunjung. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi langsung, dokumentasi visual, wawancara dengan pengelola, serta studi pustaka dengan acuan Permen PUPR No. 14 Tahun 2017 tentang 7 prinsip desain universal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 7 prinsip universal sudah cukup menerapkan 5 prinsip dan 2 prinsip belum cukup menerapkan prinsip, seperti adanya ramp, lift, QR code audio, dan jalur pedestrian datar. Namun, masih ditemukan kekurangan pada beberapa aspek seperti guiding block untuk tunanetra, informasi dalam bahasa isyarat, dan fasilitas toilet khusus disabilitas. Kata Kunci: Desain universal, Aksesibilitas, Ruang publik, disabilitas, Tugu Pahlawan Surabaya
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Salma Nuha Rozan Hanifah; Azkia Avenzoar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.
IMPLEMENTASI POLA ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PUSAT PERBELANJAAN DI IKLIM TROPIS: LAGOON AVENUE MALL SUNGKONO SURABAYA Ravinda Arga Wijaya; Azkia Avenzoar
JURNAL KOLABORASI UNPAND 卷 5 期 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.101

Abstract

Penerapan pola arsitektur biofilik dalam ruang komersial seperti mall, khususnya di kawasan beriklim tropis, masih jarang dikaji secara mendalam. Padahal, pendekatan desain ini menawarkan potensi besar dalam mengintegrasikan elemen alam ke dalam lingkungan binaan guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola arsitektur biofilik pada Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan semi-outdoor di Surabaya. Studi dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi fotografis, serta pemetaan pola biofilik berdasarkan kategori Nature in the Space, Natural Analogues, dan Nature of the Space dalam 14 pola desain biofilik. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengidentifikasi jenis, distribusi, dan proporsi pola arsitektur biofilik yang tampak dalam ruang publik mall. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya menampilkan pola biofilik yang cukup beragam, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara konsisten di seluruh area sirkulasi utama. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik perancangan ruang komersial tropis yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkaya literatur mengenai representasi pola biofilik dalam konteks urban.
Application of Biophilic Architecture Principles: a Case Study in the Design of Jemursari Hospital, Surabaya AHMAD DANI PUTRA PRATAMA R. H.; Azkia Avenzoar
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol. 6 No. 01 (2026): Desember 2025 - Mei 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v6i01.12439

Abstract

This study aims to examine the application of biophilic architectural principles in the design of healthcare facilities, specifically at RSI Jemursari Hospital in Surabaya. The background of this research is based on the significant role of the built environment in supporting the healing process of patients, both physically and psychologically. The biophilic design approach is selected as it integrates natural elements into architectural design to enhance spatial quality and user comfort. The research employs a descriptive qualitative method, utilizing literature review and case study analysis as data collection techniques. The study is conducted based on the 14 patterns of biophilic design, which are used as analytical parameters to evaluate architectural elements within the case study object. The results indicate that the implementation of biophilic principles in hospital design improves environmental quality through the optimization of natural lighting, air circulation, the presence of vegetation, and visual connections to nature. These elements contribute to creating a more comfortable environment, reducing patient stress levels, and supporting a more effective healing process. In conclusion, the application of biophilic architecture in hospital design not only serves an aesthetic function but also plays a significant role in enhancing the health and well-being of building users.