Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Evaluasi Penerapan Arsitektur Perilaku terhadap Karakteristik Pengguna Komersial : Studi Kasus: Food Junction Grand Pakuwon Aliza Yasmin Rasyidah; Azkia Avenzoar
Arsir: Jurnal Arsitektur Vol 9 No 1 (2025): Arsir
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v9i1.199

Abstract

In the field of architecture, humans build buildings or structures to meet their needs, and as users of these buildings influence the way humans behave. As well as ensuring the variables that influence the correlation between architecture and the social stability of building occupants. The most fundamental aspect of architecture is understanding the importance of the interaction between these elements such as accessibility, open space and aesthetics. In the western city of Surabaya, a place has been built, making it a new historical milestone in realizing the people's wishes. For this reason, the design of the Grand Pakuwon Food Junction building must be able to be accepted and respond to user behavior, namely visitors, by creating space elements that foster social interaction, are easy to adapt, and offer indoor and outdoor facilities to its users, as well as giving them a variety of activities to choose from. The method used for qualitative description is interviews and identifying each factor to create the stability of desired behavior for residents and users. It is hoped that the results of this research can provide development of spatial logic theory (Hiller and Hanson) and humanistic principles and encourage building designs that are not only functional, but also pay attention to aspects of genetic attitudes and emotions.
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Salma Nuha Rozan Hanifah; Azkia Avenzoar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.
Penerapan Arsitektur Hijau pada Fasilitas Publik Perkotaan (Studi Kasus Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya) Efrata Pramita Ngole; Azkia Avenzoar
Tekstur (Jurnal Arsitektur) Vol 7, No 1 (2026): TEKSTUR (Jurnal Arsitektur)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.tekstur.2026.v7i1.7858

Abstract

Rapid urban growth necessitates an approach to building design that is not only functional and aesthetic, but also ecologically sustainable. Green architecture emerges as a design strategy that integrates energy efficiency, adaptation to local climate, and preservation of the surrounding environment. Libraries, as public facilities, have great potential to apply green architecture principles as part of community sustainability education efforts. This study aims to analyze the application of green architecture principles at the Bank Indonesia Library in Surabaya, using a qualitative descriptive approach and precedent study methods. The analysis is based on Steffen Lehmann's (2016) theory of Climate-Responsive Urban Design, which includes six main principles: adaptation to local climate, density and connectivity, green space, circulation metabolism, flexible design, and climate-sensitive water management. The results of the study indicate that all of these principles have been effectively implemented through passive design, space efficiency, vegetation utilization, adaptive reuse of buildings, functional flexibility of spaces, and sustainable water management strategies. This study demonstrates that the application of green architecture principles in urban public facilities can contribute to environmental sustainability while enhancing the comfort and social functionality of spaces.
PENERAPAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA SELASAR SUNARYO ART SPACE Muhammad Farhan; Azkia Avenzoar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i2.3844

Abstract

Abstract: Neo-Vernacular architecture is a concept within the postmodern movement that combines two styles, modern and vernacular. In an increasingly advanced and modern era, modern architecture predominates and the interest in vernacular architecture declines as it is considered outdated. However, the emergence of Neo-Vernacular architecture provides a solution to this issue. Neo-Vernacular architecture merges modern building designs with distinctive local elements. This creates an opportunity for vernacular architecture to reemerge with a more modern and widely accepted approach. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) is a cultural and art center located in the city of Bandung. SSAS is built with a modern form while incorporating traditional elements. The objective of this research is to focus on examining the neo-vernacular elements present in the SSAS building. The research methodology used involves identifying the principles and criteria of the neo-vernacular approach in the building elements of SSAS. The research findings indicate that certain elements of the SSAS building reflect the principles and criteria of neo-vernacular architecture.Keyword: Art center, Neo-Vernacular Architecture, BandungAbstrak: Arsitektur Neo-Vernakular merupakan sebuah konsep dalam aliran postmodern yang menggabungkan dua gaya, yaitu arsitektur modern dan vernakular. Dalam era yang semakin maju dan modern, arsitektur modern lebih dominan dan minat terhadap arsitektur vernakular menurun karena dianggap usang. Namun, hadirnya arsitektur Neo-Vernakular menjadi solusi atas masalah tersebut. Arsitektur Neo-Vernakular menggabungkan desain bangunan modern dengan unsur-unsur lokal yang khas. Hal ini memberikan peluang bagi arsitektur vernakular untuk hadir kembali dengan pendekatan yang lebih modern dan diterima dengan baik. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) merupakan sebuah bangunan pusat kebudayaan dan kesenian yang terdapat di kota bandung. SSAS dibangun dengan bentuk yang modern namun memiliki unsur tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah berfokus pada pengkajian elemen neo vernakular yang terdapat pada bangunan SSAS. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi prinsip dan kriteria pendekatan neo vernakular pada elemen-elemen bangunan SSAS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian elemen bangunan SSAS mencerminkan prinsip dan kriteria  arsitektur neo vernakular.Kata Kunci: Pusat kesenian, Arsitektur Neo Vernakular, Bandung
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Salma Nuha Rozan Hanifah; Azkia Avenzoar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.
IMPLEMENTASI POLA ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PUSAT PERBELANJAAN DI IKLIM TROPIS: LAGOON AVENUE MALL SUNGKONO SURABAYA Ravinda Arga Wijaya; Azkia Avenzoar
JURNAL KOLABORASI UNPAND 卷 5 期 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.101

Abstract

Penerapan pola arsitektur biofilik dalam ruang komersial seperti mall, khususnya di kawasan beriklim tropis, masih jarang dikaji secara mendalam. Padahal, pendekatan desain ini menawarkan potensi besar dalam mengintegrasikan elemen alam ke dalam lingkungan binaan guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola arsitektur biofilik pada Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan semi-outdoor di Surabaya. Studi dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi fotografis, serta pemetaan pola biofilik berdasarkan kategori Nature in the Space, Natural Analogues, dan Nature of the Space dalam 14 pola desain biofilik. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengidentifikasi jenis, distribusi, dan proporsi pola arsitektur biofilik yang tampak dalam ruang publik mall. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya menampilkan pola biofilik yang cukup beragam, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara konsisten di seluruh area sirkulasi utama. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik perancangan ruang komersial tropis yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkaya literatur mengenai representasi pola biofilik dalam konteks urban.