Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

CERMINAN JIWA CHANOYU DALAM PEPATAH ZEN YANG TERRDAPAT PADA KAKEJIKU Suryawati, Cicilia Tantri
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 5 No 1 (2018): AYUMI : BUDAYA, BAHASA, DAN SASTRA
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.667 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v5i1.826

Abstract

Chanoyu atau biasa juga disebut dengan Sadou atau Chadou dalam bahasa Indonesia disebut Upacara minum Teh adalah kesenian tradisional Jepang yang sarat akan keindahan dan filosofinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna jiwa Chanoyu yang tercermin dalam pepatah bijak Zen pada Kakejiku. Kaligrafi yang ditulis pada Kakejiku memiliki kandungan makna dari pepatah bijak yang digunakan sebagai sarana untuk memahami jiwa chanoyu (Ocha no kokoro) yang terdiri dari  Wa Kei Sei Jaku yang berarti harmoni, respek, murni, dan tenang.Penelitian kualitatif  ini menggunakan metode Deskriptif analisis. Data yang digunakan adalah  pepatah yang mengandung kata “Matsu” (Pinus) yang terdapat pada buku “Ippuku Haiken: Zen no Kotoba, Ocha no Kokoro” karya Chisaka Shugaku yang diterbitkan oleh Tankosha pada tahun 1990, di Tokyo.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Jiwa Chanoyu “WA” tercermin pada  pepatah厳谷栽松(Gankokusaishou) dan 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku) mengenai keharmonisan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan yang ditujukan untuk Sang Pencipta, juga harmoni dengan diri sendiri sebagai bentuk penemuan akan jati diri.Jiwa Chanoyu “KEI” terdapat pada pepatah 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku),yang digambarkan dengan melakukan segala sesuatu dengan penuh kehati-hatian yang merupakan bentuk dari sebuah penghormatan. 松無古今色 (Matsu ni Kokon No Iro Nashi) yang menggambarkan suatu kedisiplinan dan ketekunan.Jiwa Chanoyu “SEI” terdapat pada pepatah 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku), yaitu membuang semua pikiran-pikiran yang tidak baik sehingga menjadikan hati bersih sehingga pertemuan Chanoyu menjadi sebuah kenyamanan.Jiwa Chanoyu “JAKU” terdapat pada pepatah 松無古今色 (Matsu ni Kokon No Iro Nashi) menggambarkan suatu keteguhan dan ketekunan. 松樹千年翠 (Shouju Sennenno Midori) menggambarkan suatu ketenangan, konsentrasi yang tinggi dan tidak terganggu oleh suasana apapun. 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku) menggambarkan suatu ketenangan dan suasana tentram yang dimunculkan melalui kata pinus dan angin. 松老雲自閑 (Matsu Oite Kumo Onozukara Shizuka) menggambarkan suatu yang tenang dan tak terusik.
Representasi Budaya Omotenashi Melalui Komik Hanasaku Iroha Karya P.A. Works Paramita, Anisa Galuh Mayang; Suryawati, Cicilia Tantri
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 7 No 2 (2020): AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.254 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v7i2.3249

Abstract

Penelitian ini membahas tentang representasi budaya omotenashi melalui komik Hanasaku Iroha karya P.A.Work. Hanasaku Iroha menceritakan tentang kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya ketika bekerja di ryokan. Komik dan anime Hanasaku Iroha merupakan karya sastra yang di dalamnya mengandung unsur-unsur budaya khususnya budaya omotenashi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penampilan, perilaku, dan tutur kata dalam komik Hanasaku Iroha karya P.A.Work. Untuk menjawab permasalahan penelitian ini menggunakan teori omotenashi menurut Ichijou dan Muraki. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil analisis diketahui bahwa terdapat tiga macam omotenashi pada bentuk penampilan, yaitu penampilan dari segi ryokan, tokoh, dan makanan. Terdapat enam macam omotenashi pada bentuk perilaku, yaitu ojigi, senyum, cara duduk, cara berjalan, cara membuka dan menutup pintu geser, tindakan profesional. Terdapat dua macam omotenashi pada bentuk tutur kata, yaitu aisatsu dan bahasa sopan.Kata kunci: Hanasaku Iroha; komik; omotenashi
CERMINAN JIWA CHANOYU DALAM PEPATAH ZEN YANG TERRDAPAT PADA KAKEJIKU Suryawati, Cicilia Tantri
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 5 No 1 (2018): AYUMI : BUDAYA, BAHASA, DAN SASTRA
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.667 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v5i1.826

Abstract

Chanoyu atau biasa juga disebut dengan Sadou atau Chadou dalam bahasa Indonesia disebut Upacara minum Teh adalah kesenian tradisional Jepang yang sarat akan keindahan dan filosofinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna jiwa Chanoyu yang tercermin dalam pepatah bijak Zen pada Kakejiku. Kaligrafi yang ditulis pada Kakejiku memiliki kandungan makna dari pepatah bijak yang digunakan sebagai sarana untuk memahami jiwa chanoyu (Ocha no kokoro) yang terdiri dari  Wa Kei Sei Jaku yang berarti harmoni, respek, murni, dan tenang.Penelitian kualitatif  ini menggunakan metode Deskriptif analisis. Data yang digunakan adalah  pepatah yang mengandung kata “Matsu” (Pinus) yang terdapat pada buku “Ippuku Haiken: Zen no Kotoba, Ocha no Kokoro” karya Chisaka Shugaku yang diterbitkan oleh Tankosha pada tahun 1990, di Tokyo.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Jiwa Chanoyu “WA” tercermin pada  pepatah厳谷栽松(Gankokusaishou) dan 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku) mengenai keharmonisan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan yang ditujukan untuk Sang Pencipta, juga harmoni dengan diri sendiri sebagai bentuk penemuan akan jati diri.Jiwa Chanoyu “KEI” terdapat pada pepatah 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku),yang digambarkan dengan melakukan segala sesuatu dengan penuh kehati-hatian yang merupakan bentuk dari sebuah penghormatan. 松無古今色 (Matsu ni Kokon No Iro Nashi) yang menggambarkan suatu kedisiplinan dan ketekunan.Jiwa Chanoyu “SEI” terdapat pada pepatah 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku), yaitu membuang semua pikiran-pikiran yang tidak baik sehingga menjadikan hati bersih sehingga pertemuan Chanoyu menjadi sebuah kenyamanan.Jiwa Chanoyu “JAKU” terdapat pada pepatah 松無古今色 (Matsu ni Kokon No Iro Nashi) menggambarkan suatu keteguhan dan ketekunan. 松樹千年翠 (Shouju Sennenno Midori) menggambarkan suatu ketenangan, konsentrasi yang tinggi dan tidak terganggu oleh suasana apapun. 閑坐聴松風 (Kanzashite Shoufuwo Kiku) menggambarkan suatu ketenangan dan suasana tentram yang dimunculkan melalui kata pinus dan angin. 松老雲自閑 (Matsu Oite Kumo Onozukara Shizuka) menggambarkan suatu yang tenang dan tak terusik.
Representasi Budaya Omotenashi Melalui Komik Hanasaku Iroha Karya P.A. Works Paramita, Anisa Galuh Mayang; Suryawati, Cicilia Tantri
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 7 No 2 (2020): AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.254 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v7i2.3249

Abstract

Penelitian ini membahas tentang representasi budaya omotenashi melalui komik Hanasaku Iroha karya P.A.Work. Hanasaku Iroha menceritakan tentang kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya ketika bekerja di ryokan. Komik dan anime Hanasaku Iroha merupakan karya sastra yang di dalamnya mengandung unsur-unsur budaya khususnya budaya omotenashi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penampilan, perilaku, dan tutur kata dalam komik Hanasaku Iroha karya P.A.Work. Untuk menjawab permasalahan penelitian ini menggunakan teori omotenashi menurut Ichijou dan Muraki. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil analisis diketahui bahwa terdapat tiga macam omotenashi pada bentuk penampilan, yaitu penampilan dari segi ryokan, tokoh, dan makanan. Terdapat enam macam omotenashi pada bentuk perilaku, yaitu ojigi, senyum, cara duduk, cara berjalan, cara membuka dan menutup pintu geser, tindakan profesional. Terdapat dua macam omotenashi pada bentuk tutur kata, yaitu aisatsu dan bahasa sopan.Kata kunci: Hanasaku Iroha; komik; omotenashi
Tradisi dalam Budaya Jepang pada Anime Konohana Kitan Karya Sakuya Amano: Kajian Folklor Sebagian Lisan Ulah, Rif'ah Fatkhul; Suryawati, Cicilia Tantri
AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra Vol 11 No 1 (2024): AYUMI: Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Japanese Literature Study Program, Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/ayumi.v11i1.8667

Abstract

Japanese culture is rich of traditions and festival that have become an inseparable part of the national identity. One form of these cultural richnesses is matsuri. Matsuri is a festival that honors local gods or celebrates important events in the history of a community in Japan. This tradition continues to live and is passed down from generation to generation, encompassing various aspects such as beliefs, customs and art. This study focuses on the representation of traditional Japanese culture in the anime Konohana Kitan by Sakuya Amano, which represents various elements of Partly Verbal Folklore. Through qualitative analysis, the study analyzes several Japanese cultural traditions such as hanami, kagura dance, Shichi-Go-San, Bon Odori, and religious elements such as Buddhism and Shintoism. This anime does not only serve as a medium of entertainment, but also as an effective educational tool to introduce and preserve Japanese cultural heritage. The results of this study indicate that Konohana Kitan contains many aspects of Partly Verbal Folklore that are still relevant and valued in modern Japanese society, thus making a significant contribution to the preservation and dissemination of traditional Japanese culture. Keywords: anime; partly verbal folklore; tradition.
Citraan dalam Kumpulan Sajak Rikyuu Hyakushuu Hidayat, Ramadhani Firdaus; Suryawati, Cicilia Tantri
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 10 No. 1 (2023): Narration of Equality in Japanese Popular Culture
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v10i1.51537

Abstract

Abstract This article aims to analyze the imageries and philosophies encapsulated within the collection of poems Rikyuu Hyakushuu by Sen no Rikyuu. Imagery is a literary technique that allows poets to describe concepts, feelings, or experiences in a more visual and immersive way. The approach employed is qualitative with a descriptive analysis method. The data analyzed is extracted from the book Rikyuu Douka ni Manabu authored by Abe Sosei and published by Tankousha in 2000 in Kyoto. The analysis revealed that the most prevalent imageries in the poetry are visual imagery, followed by kinetic, emotional, olfactory, and auditory imageries. Each type of imagery correlates with various aspects of the chanoyu practice (Japanese tea ceremony). Furthermore, the scrutiny of chanoyu's philosophical aspects like wa (harmony), kei (respect), sei (cleanliness), and jaku (tranquility) in each type of imagery demonstrates that visual imageries embody wa and sei, auditory imageries embody kei, kinetic imageries embody kei and sei, olfactory imageries embody sei, and emotional imageries predominantly embody jaku and kei values.
Improving Community Economy Through Innovation in Soft Ice Cream Machine and Food Dehydrator Technology and the Development of Local Wisdom in Sambibulu Village Marwiyah, Siti; Hartati, Fadjar Kurnia; Suryawati, Cicilia Tantri; Tampubolon, Liosten Rianna Roosida Ully; Kurniawati, Ony
Unram Journal of Community Service Vol. 6 No. 3 (2025): September
Publisher : Pascasarjana Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ujcs.v6i3.1178

Abstract

Empowering Assisted Villages with the title "Improving Community Economy through Innovation in Soft Ice Cream Machine and Food Dehydrator Technology and Developing Local Wisdom in Sambibulu Village." The goal of the Mentored Village Program is to increase income, quality, and production capacity so that the target partner products can be competitive in the market. The problems faced by target partners 1 and 2 are that the types of products are still limited, namely: red guava, crystal guava, duck water tourism, cafes, and children's swimming pools. The solution to solve the partners' problems is the implementation of innovative ice cream machine technology, food dehydrator machines, and skills development to cultivate a local wisdom-based culture. The methods used to implement the proposed solutions are through training, mentoring, and practical operation and maintenance of innovative machine technologies and local wisdom culture. The target GDP achievement shows an increase in income for the target partner 2 of Rp. 6,000,000 per month for the ice cream business, an increase in income for target partner 1 of Rp. 7,000,000 per month for the flour, juice, and red guava chips business, and an increase in 3 types of product diversification. The external outputs of GDP are articles in Sinta 4 community service journals, videos, publications in mass media, posters, and the Unitomo YouTube channel.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Edukasi Budaya Jepang Sebagai Daya Tarik Wisata di Kampung Sakura Kota Batu Jawa Timur Nugroho, Rahadiyan Duwi; Suryawati, Cicilia Tantri; Andarwati, Titien Wahyu; Pujimahanani, Cahyaningsih; Putri, Sitty Najwa Amalia; Fayadh, Satria Ammar; Putri, Alvina Salshabilla Linjani
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 6 No. 3 (2025): August
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v6i3.17245

Abstract

This community service program aims to enhance the understanding and skills of tourism managers about Japanese culture as a tourist attraction in Kampung Sakura Batu, East Java. The service method employs Participatory Action Research (PAR) oriented towards community empowerment. The evaluation instruments utilize questionnaires and interviews, with qualitative descriptive data analysis techniques to assess the outcomes. The results of this service activity show an increase in knowledge among Kampung Sakura managers about several Japanese cultures, including how to wear a Yukata correctly, perform a tea ceremony, make sushi, arrange Japanese flowers (Ikebana), and understand simple Japanese conversations that can be used to welcome tourists visiting Kampung Sakura.
KEARIFAN LOKAL DALAM PRAKTIK SPIRITUAL DAN ARSITEKTUR: STUDI KOMPARATIF CANDI BOROBUDUR (INDONESIA) DAN KUIL KIYOMIZUDERA (JEPANG) Rahadiyan Duwi Nugroho; Andarwati, Titien Wahyu; Pujimahanani, Cahyaningsih; Suryawati, Cicilia Tantri; Handoko, Putut
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v4i2.6097

Abstract

Borobudur Temple in Indonesia and Kiyomizudera Temple in Japan are Buddhist places of worship reflecting local wisdom in spiritual practices and architectural structures. This study aims to analyze the values of local wisdom in the spiritual and architectural aspects of both structures, which contribute to a system of meaning, social practices, and community identity. The benefit is to enrich knowledge about the local wisdom embodied in these two historical buildings, which also function as Buddhist places of worship. The method employed is a comparative study using a descriptive qualitative approach through literature review. Findings reveal that Borobudur Temple, influenced by Mahayana Buddhism, reflects local wisdom through communal cooperation (gotong royong), harmony with nature, and spiritual symbolism in its reliefs and tiered structure (kamadhatu, rupadhatu, arupadhatu) representing the path to enlightenment. Meanwhile, Kiyomizudera Temple, influenced by Tendai Buddhism, expresses local wisdom through spiritual activities such as pilgrimage, ritual use of Otowa Waterfall, and the application of traditional, nail-free wooden construction techniques that are earthquake-resistant. The temple is also designed to blend with its natural surroundings and foster inner peace. In conclusion, both structures represent a fusion of spiritual values, traditional architecture, and cultural preservation, reflecting the profound understanding of past societies regarding the interconnection between humanity, nature, and spirituality
PDB PENGUATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA SAMBIBULU MELALUI WISATA EDUKASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL Marwiyah, Siti; Hartati, Fadjar Kurnia; Tampubolon, Liosten Rianna Roosida Ully; Luayyi, Sri; Suryawati, Cicilia Tantri
Jurnal Likhitaprajna Vol 8 No 2 (2024)
Publisher : FKIP Universitas Wisnuwardhana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37303/peduli.v8i2.683

Abstract

The Assisted Village Empowerment Program (AVEP) in strengthening the community's economy is very important to improve community welfare and empowerment through the local potential that exists around the Assisted Village. Sambibulu Village, Taman District, Sidoarjo Regency, East Java has a variety of regional potential that needs to be developed, such as water ecotourism, MSME stalls, agricultural equipment rental, agribusiness, and the Sambi Horti Red Guava Farmers Group. The aim of this AVEP program is to increase the level of empowerment of target partners in each partner based on increasing product quality, capacity and competitiveness. The methods used are socialization, training, application of technology, mentoring and evaluation, as well as a desire program. The results of this activity showed an increase in production output by 50% and product quality increased by 65%, diversification of crystal seed guava and shallot planting with an increase in profits of 40%.