Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Digital Extension of Digital Literacy Competence for Islamic Religious Education Teachers in the Era of Digital Learning Reksiana; Abuddin Nata; Dede Rosyada; Maila Dinia Husni Rahiem; Abdulbosit R. Rafikjon Ugli
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 21 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpai.v21i2.9719

Abstract

Purpose –This study aims to analyze the digital literacy competence of Islamic Education teachers at Al-Fath Cirendeu Junior High School, South Tangerang City State Junior High School 3, South Tangerang State Junior High School 6, and Darussalam Ciputat Junior High School. Design/methods/approach – This study used the phenomenological qualitative research method. Research data was obtained through interviews, observations, and documentation studies. The participants in the study were eight Islamic Education teachers and four principals at Al-Fath Cirendeu Middle School, South Tangerang State Middle School 3, Darussalam Ciputat Middle School, and South Tangerang State Middle School 6. The data analysis used in this study was Saldana's Thematic Analysis. Findings – The finding of this dissertation is that the digital literacy competence of PAI teachers in four schools is still at the level of simple learning media users. The data in this study shows that the application of the digital literacy competence of PAI teachers is limited to ICT media users such as YouTube, PPT, Quizizz, Google Classroom, and Google Form which are used as learning media for preparation, delivering material, and learning assessment. Meanwhile, the creation of digital teaching materials has not been able to be done. Research implications/limitations – Practically, the results of the dissertation can provide input to Islamic Education teachers in four schools and Islamic Education teachers, practitioners and education policy makers (government) regarding the implementation of digital literacy competencies in learning and in developing a digital literacy competency model in learning that leads to sustainable curriculum development.
Upaya Orang Tua dalam Mengembangkan Perilaku Prososial Anak Usia Dini Rahiem, Maila D.H.
Aulad: Journal on Early Childhood Vol. 6 No. 1 (2023): January-April 2023
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/aulad.v6i1.440

Abstract

Perilaku prososial merupakan aspek penting dari perkembangan sosial dan psikologis anak. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana upaya orang tua dalam mengembangkan perilaku prososial anak usia dini (AUD). Metode penelitian kualitatif eksploratif digunakan sebagai metode penelitian. Data dikumpulkan lewat wawancara dan pengumpulan dokumen. Dua puluh dua orang tua terlibat dalam penelitian ini. Data menunjukkan bahwa upaya mengembangkan perilaku prososial yang dilakukan orang tua adalah: 1) mencontohkan kepada anak perilaku prososial, 2) membiasakan anak berperilaku prososial, 3) mengajak anak berdikusi tentang perilaku prososial, 4) memberitahu dan menasehati anak untuk berperilaku prososial. Orang tua memegang peranan penting dalam pengembangan perilaku prososial anak. Untuk mendidik anak kasih sayang, sopan santun dan membantu orang lain secara optimal, maka kajian terkait isu ini penting dan dibutuhkan.
Orang Tua dan Regulasi Emosi Anak Usia Dini Rahiem, Maila D.H.
Aulad: Journal on Early Childhood Vol. 6 No. 1 (2023): January-April 2023
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/aulad.v6i1.441

Abstract

Regulasi emosi sangat penting bagi kehidupan sehari-hari anak-anak karena mempengaruhi pemahaman anak tentang situasi sosial, bagaimana mereka merespons, berperilaku, dan berbahagia. Selain itu, kemampuan regulasi emosi menjadi bekal keterampilan yang dibutuhkan anak di masa dewasa. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana orang tua membantu anak usia dini (AUD) meregulasi emosi mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratif. Data dikumpulkan dengan cara peneliti mewawancarai 24 orang tua yang memiliki anak berusia 4-6 tahun dan berdomisili di Jabodetabek. Data dianalisis secara tematik dengan tahapan kodifikasi, klasifikasi, perbaiki dan penemuan tema. Data menunjukkan bahwa orang tua membantu anak meregulasi emosi dengan cara: 1) menenangkan dengan memberi perhatian kepada anak, 2) mendiskusikan dan mendengarkan penjelasan penyebab emosi, 3) menasehati dan memberi penjelasan, 4) mengalihkan emosi anak dengan kesenangan anak, dan 5) membujuk dan memberikan anak keinginannya atau hadiah. Praktik yang dilakukan oleh orang tua dalam meregulasi emosi AUD belum semuanya tepat dan bahkan ada yang berdampak kontra-produktif. Orang tua perlu terus menambah pengetahuan tentang pengasuhan agar dapat mendidik anak sebaik-baiknya.
A Comparison of Science Integration Implementation in Two State Islamic Universities in Indonesia Sayuti, Wahdi; Rahiem, Maila D.H.
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 24, No 1 (2020): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v24i1.5240

Abstract

The transformation of IAIN (State Institute for Islamic Studies) into UIN (State Islamic University) cannot be isolated from discourses on identity, concepts, aspirations of the standard of Islamic education and its goal to incorporate the principle of integration of science. However, since the transformation of these institutions, the integration of science practice still appears at the normative-philosophical level and is not yet in the empirical-implementation domain. The aim of this study is, therefore, to reveal and explain the implementation of the integration of the science concept at the technical-operational level, which focuses on the curriculum design and learning process at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta and UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. The results of the study showed that these two universities have similarities in the concept of the integration of science and have almost the same objectives, i.e., decreasing the dichotomy of science between religious and general science. However,  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang has a more organized and structured approach to the idea of integration, from theory and framework to the practice of curriculum design and the learning process. Perubahan status kelembagaan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) tidak bisa dilepaskan dari  diskursus tentang identitas, gagasan, ekspektasi terhadap mutu lembaga pendidikan Islam dan sekaligus mengemban misi tentang pentingnya integrasi keilmuan. Namun demikian, sejak perubahan status kelembagaan ini, integrasi keilmuan yang dikembangkan di UIN ini nampaknya masih berada pada tataran normatif-filosofis dan belum menyentuh wilayah yang lebih empirik-implementatif. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan implementasi integrasi keilmuan ke dalam tataran yang lebih teknis operasional, yang dalam penelitian ini difokuskan pada pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara substantif, kedua perguruan tinggi Islam memiliki kemiripan konsep integrasi keilmuan dan memiliki tujuan yang hampir sama, yakni menghilangkan dikotomi keilmuan, antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun, jika dibandingkan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, maka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dinilai lebih terencana dan sistematis dalam merumuskan konsep integrasi keilmuannya, dari mulai perumusan konsep dan paradigma sampai pada operasionalisasi penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran.
Persepsi dan Makna Tradisi Bajapuik bagi Masyarakat Minang Perantauan di Pasar Minggu Jakarta Selatan Putri Aulia; Maila D.H Rahiem; Cut Dhien Nourwahida
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 12 No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, June 2023
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i2.1839

Abstract

This research explores the perspectives and meanings of the Bajapuik tradition for the Minangkabau diaspora community in Pasar Minggu, South Jakarta. The study utilizes an explorative descriptive qualitative method. The researcher interviewed 2 ninik-mamak figures and 10 Minangkabau community members who have participated in the Bajapuik tradition. The research data indicates that: 1) The Minangkabau diaspora community interprets the Bajapuik tradition as a courtship tradition; 2) The importance of the involvement of ninik-mamak in leading the implementation of the Bajapuik tradition; 3) The Bajapuik tradition performed in diaspora has undergone changes in its implementation procedures; 4) The determination of the Japuik money is influenced by the social status of the man. The researcher concludes that the implementation of the Bajapuik tradition in the diaspora has experienced changes and shifts based on its original cultural values, but it is still carried out and preserved by involving traditional figures and the Minangkabau community to provide cultural understanding of the Bajapuik tradition.
Faith and Disaster Resilience: What can Islamic Education Teach Children to Help Prepare Them for A Disaster? Husni Rahiem, Maila Dinia
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i2.9964

Abstract

AbstractChildren used their internal mechanisms, including faith, in coping and bouncing back after a disaster. In this paper, researcher examines the role of faith in building more resilient communities, and also how Islamic education at school can be used to help teach children to be better prepared for a disaster. The research suggests that Islamic education could be used to increase students hope after a disaster, to seek prayer as a source of strength and peace, to see the essential role of Muslim clergies in disaster recovery, and to see how some religious practices need to be understood in better ways. Qualitative narrative research was used as the method of inquiry with the primary source of data coming from interviews.  There are 27 child survivors being interviewed. All those interviews were audio-recorded and transcribed, then the transcripts were analysed to find any emerging themes.AbstrakBeberapa anak menggunakan mekanisme internal mereka, termasuk iman, dalam mengatasi dan bangkit kembali setelah bencana. Dalam makalah ini, peneliti meneliti peran iman dalam membangun komunitas yang lebih tangguh, dan juga bagaimana pendidikan Islam di sekolah dapat digunakan untuk membantu mengajar anak-anak agar lebih siap menghadapi bencana. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat digunakan untuk meningkatkan harapan pelajar setelah bencana, untuk menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan perdamaian, untuk melihat peran penting para ulama Muslim dalam pemulihan bencana, dan untuk melihat bagaimana beberapa praktik keagamaan perlu dilakukan. dipahami dengan cara yang lebih baik. Penelitian naratif kualitatif digunakan sebagai metode penyelidikan dengan sumber data utama yang berasal dari wawancara. Ada 27 anak yang selamat yang diwawancarai. Semua wawancara itu direkam dan ditranskripsi, kemudian transkrip dianalisis untuk menemukan topik yang tampak. How to Cite : Rahiem, M. D. H. (2018).  Faith and Disaster Resilience: What can Islamic Education Teach Children to Help Prepare Them for a Disaster?. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 178-192. doi:10.15408/tjems.v5i2.9964.
Parents' Conceptions of Islamic Religious Education for Indonesian Early Childhood Maila D.H. Rahiem; Lidinia Marhamah
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 2 2025
Publisher : Faculty of Educational Sciences, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v12i2.51595

Abstract

Abstract This study examines how Indonesian Muslim parents conceptualize Islamic religious education for young children. Although early childhood Islamic education is widely valued in Indonesia, less is known about how parents themselves define its aims, appropriate starting age, core content, and pedagogical form. The study draws on 35 written interview responses from parents living in six Indonesian provinces: Banten, Jakarta Special Capital Region (DKI Jakarta), East Java, South Sumatra, West Kalimantan, and West Java. Using reflexive thematic analysis, the responses were read in Indonesian, coded inductively, and organized into themes that connect parental language with educational interpretation. The findings show that parents do not imagine Islamic religious education as a narrow subject or a set of isolated religious facts. They describe it as an early foundation for moral life, faith orientation, ritual familiarity, and everyday character formation. Parents believe religious education should begin early, often from infancy or the preschool years, because young children imitate adults, absorb routines, and learn through repeated practice. The parent-imagined curriculum includes knowing God, daily prayers, basic ritual practices, Qur'anic literacy, prophetic stories, and everyday moral etiquette. The preferred pedagogy is relational and gentle: modeling, practice, storytelling, singing, play, visual media, and patient repetition. The study contributes to Islamic education and early childhood education by conceptualizing parents’ views as an integrated model of faith formation, moral habituation, ritual practice, and developmentally appropriate pedagogy.   Abstrak Studi ini mengkaji bagaimana orang tua Muslim Indonesia mengonseptualisasikan pendidikan agama Islam bagi anak usia dini. Meskipun pendidikan Islam pada anak usia dini sangat dihargai di Indonesia, masih belum banyak diketahui bagaimana orang tua sendiri mendefinisikan tujuan, usia awal yang tepat, materi inti, dan bentuk pedagogis pendidikan tersebut. Penelitian ini menggunakan 35 respons wawancara tertulis dari orang tua yang tinggal di enam provinsi di Indonesia, yaitu Banten, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI Jakarta), Jawa Timur, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Dengan menggunakan analisis tematik refleksif, respons dibaca dalam bahasa Indonesia, dikodekan secara induktif, dan diorganisasikan ke dalam tema-tema yang menghubungkan bahasa orang tua dengan interpretasi pendidikan. Temuan menunjukkan bahwa orang tua tidak memandang pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran yang sempit atau sekumpulan fakta keagamaan yang terpisah. Mereka menggambarkannya sebagai fondasi awal bagi kehidupan moral, orientasi keimanan, pengenalan praktik ibadah, dan pembentukan karakter sehari-hari. Orang tua meyakini bahwa pendidikan agama sebaiknya dimulai sejak dini, sering kali sejak masa bayi atau usia prasekolah, karena anak usia dini meniru orang dewasa, menyerap rutinitas, dan belajar melalui praktik yang berulang. Kurikulum yang dibayangkan oleh orang tua mencakup pengenalan kepada Tuhan, doa sehari-hari, praktik ibadah dasar, literasi Al-Qur’an, kisah-kisah nabi, dan adab moral dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pedagogis yang lebih disukai bersifat relasional dan lembut, meliputi keteladanan, praktik, bercerita, bernyanyi, bermain, penggunaan media visual, dan pengulangan yang sabar. Studi ini berkontribusi pada kajian pendidikan Islam dan pendidikan anak usia dini dengan mengonseptualisasikan pandangan orang tua sebagai model terpadu pembentukan iman, pembiasaan moral, praktik ibadah, dan pedagogi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.