Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MODEL PENGEMBANGAN SANTRIPRENEUR SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI KREATIF BERBASIS SYARIAH DI PROVINSI BANTEN Harjawati, Tri; Nourwahida, Cut Dhien
JURNAL SYARIKAH : JURNAL EKONOMI ISLAM Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Syarikah
Publisher : Program Studi Ekonomi Islam FEI UNIDA Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jsei.v7i2.4140

Abstract

Penelitian ini tentang ekonomi kreatif di Pondok Pesantren oleh para santri. Tujuannya yaitu untuk mengetahui kearifan lokal para santri, Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri, dan mengetahui Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan Teknik Pengumpulan data menggunakan wawancara, Studi Dokumentasi dan Study Pustaka. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kearifan lokal para santri lebih ke arah perniagaan (minimarket, laundry, kantin) dengan pembiasaan-pembiasaan selama dipondok yang bertujuan untuk membangun sikap mandiri dan tanggung jawab. 2) Potensi Usaha yang dikelola yaitu rata-rata lebih banyak ke arah perniagaan seperti warung, kopontren (koperasi pesantren), minimarket, dan kantin. 3) Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah, saat ini lebih ke arah optimalisasi potensi yang ada (perniagaan dan kuliner) dengan dukungan berbagai macam Pihak yaitu Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Universitas, Dinas-dinas terkait, Kemenag Tangsel, FSPP, komunitas tertentu, masyarakat, pengelola pondok pesantren, yayasan, guru, wali santri dan para santri. Rekomendasi yang bisa diberikan yaitu diberikan edukasi dalam bentuk pelatihan-pelatihan membuat produk yang unik dan berkesinambungan, diberikan dukungan dana hibah, adanya lokalisasi tempat usaha, dan dipromosikan tempat usahanya, memfasilitasi pengembangan bakat para santri, dan difasilitasi link kerja sama dengan berbagai macam pihak.    
POLA ASUH ANAK DALAM KELUARGA PEMULUNG inayati ma'rifah; Cut Dhien Nourwahida; Andri Noor Adriansyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(1), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3684.61 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i1.10400

Abstract

Abstract.The study of child care in the family scavenger in Jurang Mangu Timur South Tangerang. The goal is to find out how this kind of upbringing applied parents who work as scavengers. The research method using qualitative methods, and the type of research is descriptive. Researchers took the data by interviewing, observation and documentation. Informant was a parent who worked as scavengers and their children aged 4-12 years old. The results showed that parenting in a family scavenger leads to authoritarian upbringing. That pattern of care that have rigid rules in raising children. Each violation subject to physical punishment, verbal and psychological. Rarely praise or reward obtained when children obey this parents. Few or never existed to justify the praise children's behaviour.  when they implement the rules. Low income levels have influenced parenting applied to the scavenger families. Income earned by only family scavenger Rp.400.000.00 until Rp600.000.00 every month, because of a low income, they even employ their children find stuff. They do not spoil the child, and also rare to spoil a child. Abstrak. Studi pengasuhan anak di pemulung keluarga di Jurang Mangu Timur Tangerang Selatan. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana cara pengasuhan yang diterapkan orangtua yang bekerja sebagai pemulung. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Peneliti mengambil data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan adalah orang tua yang bekerja sebagai pemulung dan anak-anak mereka yang berusia 4-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengasuh anak dalam pemulung keluarga mengarah pada pengasuhan yang otoriter. Itulah pola asuh yang memiliki aturan kaku dalam membesarkan anak. Setiap pelanggaran dikenakan hukuman fisik, verbal dan psikologis. Jarang pujian atau hadiah didapat saat anak-anak mematuhi orang tua ini. Beberapa atau tidak pernah ada untuk membenarkan perilaku pujian anak-anak. Ketika mereka menerapkan aturan. Tingkat pendapatan yang rendah telah memengaruhi pola asuh yang diterapkan pada keluarga pemulung. Penghasilan yang diperoleh hanya oleh pemulung keluarga Rp.400.000,00 hingga Rp600.000,00 setiap bulan, karena penghasilan yang rendah, mereka bahkan mempekerjakan anak-anak mereka mencari barang. Mereka tidak memanjakan anak, dan juga jarang memanjakan anak. 
PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT KRAMAT TUNGGAK PASCA BERDIRINYA MASJID JAKARTA ISLAMIC CENTRE Maila D.H. Rahiem; Cut Dhien Nourwahida
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 1 (2023): Dinamika Sosial Pada Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i1.10378

Abstract

Kramat Tunggak, which operated from 1970 to 1999, was Southeast Asia's largest prostitute district. Following the demise of the localization, an Jakarta Islamic Centre (JIC) mosque was built. Changes in the function of the area have an impact on the quality of life in the neighborhood. The research examined the social changes that have happened among the residents of Kramat. This study employed a descriptive qualitative methodology. The data was acquired through observation, in-depth interviews, and a review of relevant documents. Eight Kramat Tunggak  locals, one Jakarta Islamic Centre Mosque manager, and one RT chair participated in this study. The study discovered that several social changes occurred in Kramat Tunggak following the establishment of the Islamic Centre Mosque. Kramat Tunggak's people have undergone social transformations: 1) increased comfort and security of the residential area, as well as the tranquility of the community in carrying out life activities; 2) creating new jobs for the community, particularly as traders; 3) increased community participation in religious activities; 4) the community is liberated to engage in activities and interact in the Kramat Tunggak neighborhood. Encouraged by these advances, the residents of Kramat Tunggak should continue to make excellent use of the Jakarta Islamic Centre Mosque and the resources it provides to improve their social, cultural, religious, and economic life.Kramat Tunggak, yang beroperasi dari tahun 1970 hingga 1999, merupakan lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara. Menyusul ditutupnya lokalisasi, masjid Jakarta Islamic Centre dibangun. Perubahan fungsi kawasan berdampak pada kualitas kehidupan di lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Kramat Tunggak pasca berdirinya Masjid Jakarta Islamic Centre. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Peneliti mewawancarai 8 orang masyarakat Kramat Tunggak, 1 orang pengurus Masjid Jakarta Islamic Centre dan 1 orang ketua RT. Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Kramat Tunggak Pasca Berdirinya Masjid Jakarta Islamic Centre antara lain: 1) meningkatnya kenyamanan dan keamanan daerah tempat tinggal, serta ketenangan masyarakat dalam menjalankan aktivitas kehidupan; 2) memberikan wadah lapangan pekerjaan bagi masyarakat terutama sebagai pedagang dengan adanya masjid Islamic Centre; 3) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan; dan 4) masyarakat menjadi lebih leluasa berkegiatan dan berinteraksi di sekitar wilayah Kramat Tunggak. Didorong oleh kemajuan ini, warga Kramat Tunggak harus terus memanfaatkan Masjid Islamic Centre dengan baik dan sumber daya yang disediakannya untuk meningkatkan kehidupan sosial, budaya, agama, dan ekonomi mereka.
Persepsi dan Makna Tradisi Bajapuik bagi Masyarakat Minang Perantauan di Pasar Minggu Jakarta Selatan Putri Aulia; Maila D.H Rahiem; Cut Dhien Nourwahida
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12, Issue 2, June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i2.1839

Abstract

This research explores the perspectives and meanings of the Bajapuik tradition for the Minangkabau diaspora community in Pasar Minggu, South Jakarta. The study utilizes an explorative descriptive qualitative method. The researcher interviewed 2 ninik-mamak figures and 10 Minangkabau community members who have participated in the Bajapuik tradition. The research data indicates that: 1) The Minangkabau diaspora community interprets the Bajapuik tradition as a courtship tradition; 2) The importance of the involvement of ninik-mamak in leading the implementation of the Bajapuik tradition; 3) The Bajapuik tradition performed in diaspora has undergone changes in its implementation procedures; 4) The determination of the Japuik money is influenced by the social status of the man. The researcher concludes that the implementation of the Bajapuik tradition in the diaspora has experienced changes and shifts based on its original cultural values, but it is still carried out and preserved by involving traditional figures and the Minangkabau community to provide cultural understanding of the Bajapuik tradition.
Persepsi dan Makna Tradisi Bajapuik bagi Masyarakat Minang Perantauan di Pasar Minggu Jakarta Selatan Putri Aulia; Maila D.H Rahiem; Cut Dhien Nourwahida
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 12 No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, June 2023
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i2.1839

Abstract

This research explores the perspectives and meanings of the Bajapuik tradition for the Minangkabau diaspora community in Pasar Minggu, South Jakarta. The study utilizes an explorative descriptive qualitative method. The researcher interviewed 2 ninik-mamak figures and 10 Minangkabau community members who have participated in the Bajapuik tradition. The research data indicates that: 1) The Minangkabau diaspora community interprets the Bajapuik tradition as a courtship tradition; 2) The importance of the involvement of ninik-mamak in leading the implementation of the Bajapuik tradition; 3) The Bajapuik tradition performed in diaspora has undergone changes in its implementation procedures; 4) The determination of the Japuik money is influenced by the social status of the man. The researcher concludes that the implementation of the Bajapuik tradition in the diaspora has experienced changes and shifts based on its original cultural values, but it is still carried out and preserved by involving traditional figures and the Minangkabau community to provide cultural understanding of the Bajapuik tradition.
Fenomena Pengendara Motor Di Bawah Umur Nugraha, Ilham; Syaripulloh, Syaripulloh; Nourwahida, Cut Dhien; Fajarini, Ulfah; Zaharah, Zaharah
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 10.C (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to understand the Phenomenon of Underage Motorcycle Riders (A Case Study of Students at SMP Negeri 1 Gunungputri. This research uses descriptive qualitative research methods with a case study approach. Data collection techniques include interviews, observation, and documentation. Data analysis techniques using Miles and Huberman model. The research sample consists of 4 students from SMP Negeri 1 Gunungputri, 4 parents, 1 school representative, 2 community members, and 1 law enforcement officer.. The results show that the factors behind underage motorcycle riders using motorcycles include personal factors, family factors, and peer factors. Underage motorcycle riding also has both positive and negative impacts; the positive impact includes mobility from home to school, while the negative impact includes traffic accidents. There are three efforts made to address underage motorcycle riding: first, efforts made by parents, such as prohibiting speeding and always wearing a helmet when riding a motorcycle. Second, efforts made by the school, such as conducting socialization about traffic rules and motorcycle riding in collaboration with the police during the MPLS (School Environment Introduction Period) event. Third, efforts made by law enforcement, such as conducting socialization at schools during Monday morning assemblies, as well as repressive measures like issuing traffic tickets while simultaneously providing education about traffic rules.