Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN KRIM TABIR SURYA EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DENGAN VARIASI KONSENTRASI TRIETANOLAMIN DAN ASAM STEARAT Nurindah Fatkhurrohmah; Imas Maesaroh
HERBAPHARMA : Journal of Herb Farmacological Vol 4 No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 Desember 2022
Publisher : STIKes Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55093/herbapharma.v4i2.345

Abstract

Tabir surya merupakan salah satu sediaan krim yang dapat melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan buah naga merah merupakan salah satu tanaman yang mengandung antioksidan dengan senyawa flavonoid,fenolik dan saponin yang dapat melindungi kulit dari radikal bebas dan paparan sinar matahari. Asam stearat berfungsi sebagai emulgator pada pembuatan sediaan krim jika direaksikan dengan basa kalium hidroksida atau trietanolamin yang dapat digunakan untuk menetralkan krim , variasi konsentrasi trietanolamin dan asam stearat pada sediaan berpengaruh terhadap kualitas fisik krim, konsentrasi trietanolamin dan asam stearat yang semakin tinggi akan berpengaruh pada nilai pH dan daya sebar tetapi tidak berpengaruh pada organoleptik, homogenitas, dan stabilitas krim. sediaan krim tabir surya ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dilihat dari parameter organoleptik, homogenitas, daya sebar, pH, dan stabilitasnya. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan membuat 4 formula sediaan dengan konsentrasi ekstrak buah naga merah 0,64% dan memiliki konsentrasi trietanolamin dan asam stearat yang berbeda yaitu ( F1 ) 2%:10%, (F2) 4%:10%, (F3) 2%:14% dan (F4) 4%:14%. Berdasarkan parameter organoleptik, homogenitas, daya sebar, pH, dan stabilitas konsentrasi trietanolamin dan asam stearat yang memenuhi syarat yaitu pada konsentrasi 4%:14%.
IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA OBAT NATRIUM DIKLOFENAK PADA JAMU PEGAL LINU YANG DIJUAL DI KECAMATAN GARAWANGI Odi Muhrodi; Imas Maesaroh
Jurnal Farmaku (Farmasi Muhammadiyah Kuningan) Vol 8 No 1 (2023): Volume 8 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : STIKes Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55093/jurnalfarmaku.v8i1.373

Abstract

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Jamu pegal linu dikonsumsi untuk mengurangi rasa nyeri, menghilangkan pegal linu, memperlancar peredaran darah, memperkuat daya tahan tubuh, dan menghilangkan sakit seluruh badan. Salah satu bahan kimia obat yang sering ditambahkan kedalam jamu pegal linu adalah natrium diklofenak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan bahan kimia obat natrium diklofenak pada sediaan jamu pegal linu. Jamu pegal linu yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tiga macam merk jamu pegal linu diberi label A, B, dan C yang dijual Kecamatan Garawangi, dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Analisis kualitatif bahan kimia obat natrium diklofenak dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT), menggunakan fase diam silika gel dan fase gerak toluene : etil asetat : asam asetat glasial (60:40:1). Hasil analisis menunjukkan sampel A positif mengandung natrium diklofenak karena diperoleh harga yang mendekati Rf baku pembanding. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa sampel A mengandung natrium diklofenak dan tidak memenuhi persyaratan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Sirup Liofilisat Buah Harendong (Melastoma affine D.Don) Terhadap Bakteri Penyebab Diare Imas Maesaroh; Marini
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : UNIVRSITAS MUHAMMADIYAH KLATEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah harendong (Melastoma affine D. Don) secara empirik digunakan sebagai obat anti diare. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula sirup dari liofilisat ekstrak buah harendong yang stabil secara farmasetika dan untuk mengetahui aktivitasnya terhadap bakteri penyebab diare seperti Escherichia coli, Shigella dysentriae dan Salmonella sp. Penelitian ini diawali dengan menentukan konsentrasi liofilisat dari ekstrak buah harendong yang memiliki aktivitas terhadap beberapa bakteri penyebab diare dengan mengukur diameter daya hambat bakteri. Pengujian stabilitas sirup dengan metode penyimpanan dipercepat melalui parameter organoleptis, homogenitas, viskositas dan pH sediaan. Konsentrasi ekstrak dan sirup liofilisat buah harendong untuk uji aktivitas terhadap beberapa bakteri penyebab diare yaitu 0,5%; 1%; 1,5%; 5%; 10% dan 15%. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak dan sirup buah harendong tidak aktif terhadap bakteri penyebab diare kecuali pada ekstrak liofilisat buah harendong 10% resisten terhadap S.dysentrie dan Salmonella sp dan konsentrasi 15% resisten terhadap S.dysentrie dan intermediate terhadap Salmonella sp. Hasil uji stabilitas sirup liofilisat buah harendong menunjukkan tidak ada perubahan pada tiap konsentrasi secara organoleptis (bau, warna dan konsistensi), homogenitas dan pH. Sedangkan viskositasnya mengalami peningkatan pada konsentrasi 0,5% dan mengalami penurunan pada konsentrasi 1% dan 1,5%.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Sirup Liofilisat Buah Harendong (Melastoma affine D.Don) Terhadap Bakteri Penyebab Diare Imas Maesaroh; Marini
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 14 No 1 (2023): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v14i1.767

Abstract

Buah harendong (Melastoma affine D. Don) secara empirik digunakan sebagai obat anti diare. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula sirup dari liofilisat ekstrak buah harendong yang stabil secara farmasetika dan untuk mengetahui aktivitasnya terhadap bakteri penyebab diare seperti Escherichia coli, Shigella dysentriae dan Salmonella sp. Penelitian ini diawali dengan menentukan konsentrasi liofilisat dari ekstrak buah harendong yang memiliki aktivitas terhadap beberapa bakteri penyebab diare dengan mengukur diameter daya hambat bakteri. Pengujian stabilitas sirup dengan metode penyimpanan dipercepat melalui parameter organoleptis, homogenitas, viskositas dan pH sediaan. Konsentrasi ekstrak dan sirup liofilisat buah harendong untuk uji aktivitas terhadap beberapa bakteri penyebab diare yaitu 0,5%; 1%; 1,5%; 5%; 10% dan 15%. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak dan sirup buah harendong tidak aktif terhadap bakteri penyebab diare kecuali pada ekstrak liofilisat buah harendong 10% resisten terhadap S.dysentrie dan Salmonella sp dan konsentrasi 15% resisten terhadap S.dysentrie dan intermediate terhadap Salmonella sp. Hasil uji stabilitas sirup liofilisat buah harendong menunjukkan tidak ada perubahan pada tiap konsentrasi secara organoleptis (bau, warna dan konsistensi), homogenitas dan pH. Sedangkan viskositasnya mengalami peningkatan pada konsentrasi 0,5% dan mengalami penurunan pada konsentrasi 1% dan 1,5%.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SPRAY GEL EKSTRAK BUNGA MARIGOLD (Tagetes Erecta L) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Imas Maesaroh; Lilik Fahmilik
Jurnal Komunitas Farmasi Nasional Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Komunitas Farmasi Nasional
Publisher : Akademi Farmasi Yarsi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marigold flower ( Tagetes erecta L) has the main component in petals namely lutein. Lutein is a natural color substance of the carotenoid group that is a powerful antioxidant and can contribute to covering cells against damage caused by free radicals. in this study researchers wanted to formulate marigold flower extract into spray gel ready. The manufacture of preparations is carried out using the method of maceration, after the stage of making preparations is carried out a ready evaluation that includes organoleptis test, homogeneity, viscosity, scattering, spraying pattern and chemistry (pH). Spray Gel is made in 3 Formulas namely F1, F2, and F3 which have differences in carbopol concentration. for F1 are carbopol 0.4%; F2 0.6% and F3 0.8%. Spray Gel resulting marigold flower extract is clear yellow color, diluted gel and oleum rosae smell. in addition, these three available also have a qualified pH of 5, in the homogeneity test these three gels produced homogeneous available, for F1 viscosity 360,911cps, F2 3,234cps, F3 3,868cps, for Formula 1 0 dispersal power test and formula 2 showed even dispersal power, while formula 3 showed the supply did not spread but only accumulated at one spray point only , Spraying Pattern Test that is Formula 1 and 2 tends to produce an elongated and diffuse spray pattern whereas in formula 3 it is only at one point straight from the spray.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK DAUN ANDONG (Cordyline Fruticosa (L.) A. Cheval) BERDASARKAN VARIASI PELARUT EKSTRAKSI MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET -VISIBEL Imas Maesaroh; Linda Alfiani; Wawang Anwarudin; Herliningsih Herliningsih
Jurnal Komunitas Farmasi Nasional Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Komunitas Farmasi Nasional
Publisher : Akademi Farmasi Yarsi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Andong leaves (Cordyline fruticosa (L.) A. Cheval) contain secondary metabolites including saponins, tannins, flavonoids, steroids, polyphenols, polysaccharides, calcium oxalate, and iron. This study aims to determine the levels of flavonoids in andong leaf extract (Cordyline fruticosa (L.) A. Cheval) using 70% ethanol extraction solvent and 96% ethanol using Ultra Violet – Visible spectrophotometric method. The research method used in this research is experimental laboratory. The results of the qualitative test on both samples showed the presence of flavonoids contained in the leaves of Andong (Cordyline fruticosa (L.) A. Cheval). Absorbance measurements were carried out on the sample, carried out at a wavelength of 400 nm. The results of the quantitative test of flavonoid content in 70% ethanol solvent were 0.811% and flavonoid levels in 96% ethanol solvent were 0.769%.
STABILITAS DAN UJI KEAMANAN LENDIR BEKICOT (Achatina fulica) DALAM FORMULASI SEDIAAN SHEET MASK: STABILITY AND SAFETY TEST OF Snail Mucus (Achatina fulica) IN SHEET MASK FORMULATION Putri Riantikasari; Imas Maesaroh
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.497

Abstract

Pada ilmu biologi, bekicot termasuk hewan lunak (mollusca) yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit salah satunya dari bagian lendir bekicot bisa digunakan untuk mengatasi jerawat karena mengandung senyawa glikoprotein (Achasin) yang memiliki aktivitas anti mikrobakterial terhadap bakteri jerawat. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memformulasikan lendir bekicot (Achatina fulica) dalam konsentrasi 11%, 16%, dan 21% menjadi sediaan sheet mask dengan metode penelitian secara eksperimental laboratorium,   serta dilakukan uji evaluasi fisik pada sediaan sheet mask diantaranya yaitu uji organoleptik, uji derajat keasaman (pH), uji homogenitas, uji viskositas, uji iritasi dan uji stabilitas. Hasil dari evaluasi fisik sediaan essence pada sheet mask hingga setelah dilakukan uji stabilitas cycling test dan suhu kamar menunjukkan bahwa untuk uji organoleptik tidak mengalami perubahan warna, bentuk, bau, uji derajat keasaman (pH) pada semua formula hasilnya tetap stabil pada pH 6 dan masih memenuhi syarat pH kulit sediaan essence, untuk uji homogenitas semua formula tidak mengalami perubahan dan sediaan essence tetap homogen, uji viskositas tiap pengujian mengalami perubahan nilai viskositas, didapatkan nilai viskositas pada stabilitas cycling test untuk F0 (1.20±0.11), F1 (1.23±0.12), F2 (1.29±0.07), dan F3 (1.41±0.12) mPa’s, sedangkan pada stabilitas suhu kamar didapatkan nilai viskositas F0 (1.16±0.10), F1 (1.19±0.10), F2 (1.26±0.07), dan F3 (1.39±0.11) mPa’s, untuk uji iritasi sediaan essence tidak menimbulkan iritasi pada kulit serta essence dinyatakan aman karena memiliki skor derajat iritasi 0 yang artinya sediaan essence termasuk ke dalam kategori tidak mengiritasi.
Formulation and Evaluation of Transdermal Patch Preparations from Ethanol Extract of Green Tea Leaves (Camellia sinensis (L.) Kuntze) Maesaroh, Imas; Anjani, Sri
Clinical and Pharmaceutical Sciences Journal Vol. 1 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/clips.v1i2.366

Abstract

Green tea (Camelia sinensis (L.) Kuntze) contains secondary metabolites such as polyphenols, flavonoids, tannins, and catechins Epigallocatechin gallate (EGCG). An ethanol extract of green tea is formulated into a transdermal patch to bypass the first-pass effect and maintain the drug's bioavailability in the plasma. This study aims to determine the optimal concentration combination of HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulose) and PVP (Polyvinylpyrrolidone) that yields the best physical stability of the transdermal patches. Green tea was extracted using the maceration method with 70% ethanol. Transdermal patches are made by first optimizing the base using a combination of HPMC and PVP polymer bases in F1 (1:3), F2 (2:2), and F3 (3:3). The patch preparations obtained were tested, including organoleptic evaluations, pH levels, weight consistency, thickness, and fold resistance. The results obtained show that the most optimal formula to be used as a transdermal patch preparation is formula 3 (F3), with a ratio of HPMC and PVP (3:1) and an average weight of 0.08 g and an average thickness of the patch is 0.16 m, and has met the patch fold resistance test, namely more than or equal 200 folds and has a stable pH of 6. This study concludes that green tea ethanol extract can be formulated into a transdermal patch preparation with a combination of HPMC and PVP (3:1), which has the best physical stability. Keywords: Camellia sinensis (L.) Kuntze.), HPMC-PVP, transdermal patch