Phoenna, Riezky Poetra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Pengetahuan ke Keterampilan: Literasi Keuangan Siswa Kelas XII Dayah Al-Muslimun Melalui Simulasi Anggaran Ikhsan, Maulana; Putra, Shaki S.; Hasanuddin, AR Fuad; Hadi, Misbul; Phoenna, Riezky Poetra; Nawaf, Abdul Razak
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v4i02.24956

Abstract

Literasi keuangan merupakan kompetensi krusial bagi siswa tingkat akhir yang akan memasuki fase kemandirian finansial. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi perencanaan keuangan pada 39 siswa Kelas XII Dayah Terpadu Al-Muslimun, Lhoksukon, yang diidentifikasi memiliki pemahaman awal yang rendah dan heterogen terkait perencanaan keuangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain One-Group Pretest-Posttest dengan instrumen pengumpulan data berupa 10 pertanyaan pada kuesioner dan intervensi utama berupa pelatihan yang mengintegrasikan sosialisasi teoretis dengan simulasi praktik penyusunan anggaran pribadi. Analisis data menggunakan Paired Samples T-Test dan Cohen's d yang diterapkan pada data pretest dan posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor pemahaman rata-rata yang sangat signifikan secara statistik dengan nilai rata-rata 3,00 (cukup paham) sebelum mengikuti kegiatan menjadi 4,76 (sangat paham) setelah mengikuti kegiatan dengan nilai p sebesar 0,00. Dampak intervensi terbukti sangat besar secara praktis, dengan nilai Cohen's d sebesar 3,992. Selain itu, terjadi penurunan drastis pada standar deviasi skor yang mengindikasikan keberhasilan program dalam menyeragamkan kompetensi siswa pada level yang tinggi. Luaran dari kegiatan ini adalah peningkatan kapabilitas aplikatif siswa dalam mengelola keuangan, membuktikan bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman sangat efektif dalam mentransformasi pengetahuan kognitif menjadi keterampilan praktis.
The Paradox of Resource Nationalism and the Human Security Crisis: Study of the PT Freeport Indonesia Conflict Post Majority Share Acquisition (2017 – 2025) Nibal, Rachel Kamilia Faradiba; Phoenna, Riezky Poetra; Novia, Hana; Elindawati, Rifki
SIYAR Journal Vol. 6 No. 2 (2026): July
Publisher : International Relations Study Program, The Faculty of Social and Political Sciences, UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/siyar.2026.6.2.295-320

Abstract

Indonesia’s majority share acquisition in PT Freeport Indonesia (PTFI) since 2017 is often narrated as a success of resource nationalism, yet human security conditions for indigenous Papuan communities around the mining area remain precarious. Drawing on the human security framework (UNDP) and the concept of structural violence (Galtung), and applying Fairclough’s critical discourse analysis to corporate communications, official statements, policy documents, and human rights reporting from 2017–2025, this study explains why ownership change has not translated into local protection. The analysis shows how the paired discourse of “sovereignty”, “development”, and “security” reframes labor conflict and coercive governance as necessary for stability and investment, thereby normalizing exclusion. Empirically, the crisis is manifested in the 2017 strike-related dismissals and subsequent terminations affecting approximately 8,000–8,300 workers, restrictions on access to housing and essential services (including health care and schooling), and persistent environmental violations documented by state authorities. These dynamics generate interconnected threats to economic, health, environmental, and community security, producing haram through institutional arrangements rather than isolated incidents. While Papuan workers and customary institutions mobilize resilience through strikes, litigation, and advocacy, their claims remain politically unresolved. The article concludes that resource nationalism is insufficient unless it is accompanied by rights-based governance that de-securitizes Papua’s policy space and makes corporate accountability meaningful at the local level