Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENGARUH VARIASI DIAMETER TABUNG TERHADAP TEKANAN PADA POMPA GELOMBANG TIPE PELAMPUNG Nenny T. Karim; Hamzah Al Imran; M. Agusalim; Abdul Khair Kurani; Ria Sari
TEKNIK HIDRO Vol 14, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/th.v14i1.6011

Abstract

Pemanfaatan energi gelombang laut dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan cara alternatif menggunakan pompa gelombang tipe pelampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi diameter tabung yang efektif terhadap tekanan pompa gelombang tipe pelampung untuk menghasilkan debit yang maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan cara model diletakkan di tengah kolam simulasi gelombang dengan frekuensi dan amplitudo tertentu. Selanjutnya gerakan naik-turun pelampung akan menggerakkan poros dan akan memutar generator. Terdapat beberapa variasi diameter tabung yaitu diameter Ø 2.0 cm, Ø 2.5 cm, dan Ø 3.0 cm dengan Periode (T) 1.3 detik, 1.4 detik, dan 1.5 detik serta menggunakan Stroke (pembangkit) 6, 7 dan 8. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan yang dihasilkan pompa berdiameter (Ø) 2.0 cm pada periode (T) 1.3 detik dan stroke 8 adalah 33233,468 Pa dengan jumlah debit (Q) sebesar 0,0000127 m3/detik, pada pompa berdiameter (Ø) 2.5 cm periode (T) 1.3 detik dan stroke 8 adalah 21956,904 Pa dengan jumlah debit (Q) sebesar 0,0000160 m3/detik dan pada pompa berdiameter (Ø) 3.0 cm periode (T) 1.3 detik dan stroke 8 adalah 15817,920 Pa dengan jumlah debit (Q) sebesar 0,0000230 m3/detik. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tabung yang efektif terhadap tekanan pompa adalah tabung berdiameter 3.0 cm, karena tekanan pompa kecil dan menghasilkan debit yang besar.
STUDI POTENSI DAERAH GENANGAN BANJIR PASANG (ROB) KOTA MAKASSAR Abdul Hakim; Ismail S; M. Agusalim; Nurnawaty
BANDAR: JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING Vol 5 No 1 (2023): Bandar: Journal of Civil Engineering
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/bjce.v5i1.2667

Abstract

Kota Makassar merupakan daerah daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan laut. Pada akhir-akhir ini, curah hujan yang tinggi serta kondisi pasang surut air laut yang bersamaan terjadi, sehingga beberapa wilayah pesisir Kota Makassar mengalami bencana banjir rob. Dampak yang dirasakan masyarakat khsusnya pada daerah pesisir pantai adalah terhambatnya mata pencaharian, timbulnya penyakit dan juga kerugian materi yang disebabkan oleh banjir rob. Studi penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memetakan daerah yang berpotensi mengalami bencana banjir pasang (rob) menggunakan software ArcGIS. Elevasi tinggi pasang surut dianalisis dengan menggunakan metode Admiralty. Hasil penelitian menunjukkan elevasi muka air banjir pasang (rob) tertinggi berada pada ketinggian 0,96 m diatas permukaan laut rata-rata (MSL) dan mengakibatkan potensi luas daerah genangan mencapai 20,83 km2. Daerah genangan banjir tertinggi berada pada Kecamatan Tamalate bagian pesisir dan bagian Sungai Jeneberang dengan persentase luas genangan sebesar 32,59 %
PENGARUH SEBARAN STASIUN HUJAN TERHADAP DEBIT BANJIR RANCANGAN PADA DAS LIPUKASI SUNGAI EMPUNGNGE KABUPATEN BARRU Andi Gunawan; Ismail Syaputra; M.Agusalim; Indriyanti
Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 4 (2023): Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : CV SWA Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3785/kjst.v1i4.146

Abstract

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan kawasan yang ditandai dengan daratan tinggi dimana air dikawasan DAS berasal dari air hujan yang turun lalu tertampung di daerah DAS. Air pada kawasan ini adalah aliran air yang mengalami siklus hidrologi, merupakan aliran air dari permukaan laut siklus ini tidak pernah berhenti dan terus berulang secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan besaran curah hujan berdasarkan jumlah dan sebaran stasiun penakar hujan serta besarnya debit banjir rancangan yang terjadi diberbagai kala ulang pada DAS Lipukasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif yang meliputi data berupa angka untuk mendapatkan informasi yang akurat dianalisis dengan menggunakan persamaan. Hasil penelitian ini adalah nilai debit rancangan tertinggi terdapat pada penggunaan 3 stasiun pada metode HSS Nakayasu Priode Kala ulang (Tahun) 5 yaitu 600,4575 m³/dtk, Gama 1 543,3283 m³/dtk, dan Limantara 962,1782 m³/dtk, sedangkan ketika menggunakan 4 stasiun pada metode HSS Nakayasu Priode Kala ulang (Tahun) 5 yaitu 590,3626 m³/dtk, Gama 1 534,1939 m³/dtk, dan Limantara 946,0020 m³/dtk, sedangkan ketika menggunakan 2 stasiun pada metode HSS Nakayasu Priode Kala ulang (Tahun) 5 yaitu 611,2816 m³/dtk, Gama 1 553,1226 m³/dtk, dan Limantara 979,5229 m³/dtk. Hasil perhitungan dari setiap metode HSS yang digunakan tidak bisa diputuskan yang paling sesuai dengan hidrograf terukur pada DAS Lipukasi, karena setiap metode HSS memiliki keunggulan dan kelemahan yang berbeda-beda.
PERBANDIGAN LAJU SEDIMENTASI DAN KARAKTERISTIK SEDIMEN DI MUARA SUNGAI LARONA KAB. LUWU TIMUR Irwan; Toha Andi Lala; Agusalim; Syafa’at S Kuba; Andi Rahmat
Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 5 (2023): Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : CV SWA Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3785/kjst.v1i5.188

Abstract

Sungai merupakan daerah aliran air terbuka yang memiliki muka air bebas dan memisahkan antara daerah satu dengan daerah yang lainnya serta mempunyai fungsi untuk mengalirkan air dari hulu ke hilir. Untuk menghubungkan daerah yang dipisahkan oleh sungai kita dapat menggunakan jembatan. Beberapa jembatan menggunakan pilar sebagai tumpuan beban, tetapi dengan adanya pilar ini akan mempengaruhi perubahan morfologi sungai. perubahan morfologi ini dapat mempengaruhi perubahan karakteristik aliran disekitar pilar jembatan. Pada setiap sungai memiliki karakteristik dan bentuk yang berbedabeda. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti iklim, topografi, dan proses terbentuknya sungai. selain dapat mengalirkan air dari huku ke hilir, sungai juga mempunyai peran penting dalam siklus hidrologi.
PENGARUH TATA GUNA LAHAN TERHADAP DEBIT BANJIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI PANGKAJENE KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN A.Aswar Saputra; Muh. Ishaq Haq; M. Agusalim; Muh. Amir Zainuddin
Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 5 (2024): Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : CV SWA Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3785/kohesi.v2i5.2079

Abstract

Tata guna lahan merupakan aturan atau perencanaan yang mengatur fungsi lahan secara rasional agar tercipta keteraturan, artinya setiap lahan yang ada di sebuah kota ataupun daerah memiliki fungsi dan peruntukan yang berbeda dengan tujuan yang sama yaitu bertujuan agar memberikan hak dan perlindungan pada lingkungan bagi setiap penghuninya. Penelitihan ini bertujuan Untuk menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap debit bajir di DAS Pangkajene. pada penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari instansi terkait seperti debit banjir, curah hujan, tata guna lahan dan topografi. Hasil perhitungan debit banjir rencana yag diperoleh dengan menggunkan metode rasional dapat dilihat pada tabeh 4.11 menunjukka perubahan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 untuk priode ulang 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun mengalami peningkatan dapat dilihat pada gambar 4.6 dan 4.7. hal ini diakibatkan karna nilai koefisien C meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2020.
Analisis Tingkat Kerawanan Banjir di Kabupaten Wajo Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) Rifandi, Arif; Putra, M. Sandi; Mahmuddin; Agusalim, M.
Arus Jurnal Sains dan Teknologi Vol 2 No 1: April (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajst.v2i1.426

Abstract

Kabupaten Wajo, sebagai salah satu daerah di Indonesia, memiliki karakteristik geografis dan lingkungan yang membuatnya rentan terhadap bencana banjir. Berlokasi di wilayah Sulawesi Selatan, kabupaten ini memiliki topografi yang beragam, termasuk dataran rendah yang dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Wajo dan mengetahui parameter paling berpengaruh terhadap tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Wajo. Metode yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini menggunakan metode overlay dengan scoring antar parameter yang ada yaitu curah hujan, elevasi, kemiringan lereng, jenis tanah, penggunaan lahan dan buffer sungai. Semua parameter tersebut nantinya akan dinilai dengan memberikan bobot dan nilai klasifikasinya masing-masing. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sebaran lokasi rawan banjir di kabupaten wajo diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan rincian 1109.33 km² (44.22%) berkategori sangat rawan, 1129.68 km² (45.03%) cukup rawan, dan 269.86 km² (10.75%) tidak rawan serta faktor yang paling berpangaruh terhadap tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Wajo adalahh topografi yang cenderung rendah dan datar berpotensi menjadi tampungan air yang mengakibatkan terjadinya banjir.
Studi Perancangan Dimensi Dinding Penahan Model Geotextile Sebagai Upaya Pengendalian Banjir Sungai Saddang Kab. Enrekang Sahril; Risman, Andi Muh.; Agusalim, M.; Kuba, Muhammad Syafaat S.
Arus Jurnal Sains dan Teknologi Vol 2 No 2: Oktober (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajst.v2i2.678

Abstract

Banjir sungai sering kali menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, merusak infrastruktur, dan mengancam keselamatan masyarakat. Beberapa titik di kecamatan Enrekang terutama di wilayah perkotaan dan beberapa titik di bantaran sungai. Ketika DAS Saddang banjir akan menyebabkan aktivitas di wilayah perkotaan lumpuh dan beberapa lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai terendam menyebabkan gagal panen para petani. Perencanaan dinding penahan dengan menggunakan geotextile dalam pengendalian banjir sungai sangat penting mengingat masalah banjir telah menjadi perhatian utama dalam manajemen risiko bencana di berbagai wilayah. Geotextile memiliki sifat khusus dalam meningkatkan stabilitas tanah dan mengurangi erosi, menjadikannya kandidat potensial untuk meningkatkan kinerja dinding penahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perancangan dinding penahan model geotextile sebagai upaya pengendalian banjir di Sungai Saddang. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif analitik. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan didapatkan bahwa perancangan dinding penahan menggunakan geotextile woven dengan kekuatan tarik max sebesar 52 kN/m, SF metode bishop yaitu 0,618, ΔMR yaitu 734,47 kN/m, Tall didapatkan 10,505 kN/m dengan Sv yaitu 0,25 m, SF rencana yaitu 1,2 dan ΔMRcum pada lapisan ke 11.
IMPLEMENTASI SOFTWARE WEAP UNTUK PROYEKSI KEBUTUHAN AIR DOMESTIK PADA DAS JENEBERANG Ismi Annisa, Nurul; Mi’raj Hilal, Muh.; Al Imran, Hamzah; Agusalim, M.
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 11 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i11.2024.4799-4805

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, yang melintasi Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan sumber utama air domestik di wilayah tersebut. Sebagian besar DAS ini berada di Kabupaten Gowa dengan luas 1.883,33 km², meliputi 18 kecamatan, 46 kelurahan, dan 121 desa. DAS Jeneberang memiliki luas 790 km² dengan sungai utama sepanjang 80 km. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan kebutuhan air domestik selama 20 tahun mendatang serta mengevaluasi kemampuan debit air DAS Jeneberang dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah model Water Evaluation and Planning (WEAP). Hasil pemodelan memproyeksikan kebutuhan air domestik sebesar 31.615.794 m³ untuk skenario jumlah pelanggan dan 610.140.365 m³ untuk skenario jumlah penduduk. Dengan debit air yang tersedia sebesar 10.028.184.600 m³, DAS Jeneberang memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pada kedua skenario tersebut.
Pengaruh Abutment Jembatan Terhadap Aliran Sungai (Uji Model Laboratorium) Agus, Fauziah; Taufiq, Muh; Agusalim, M.; Kuba, Muhammad Syafa’at S Kuba
Cosmic Jurnal Teknik Vol 1 No 4 (2024): Nopember
Publisher : Ali Institute or Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/cosmic.v1i4.938

Abstract

Abutment adalah bagian struktural jembatan, dapat mempengaruhi pola aliran air di sekitarnya, yang berpotensi meningkatkan kecepatan aliran dan risiko erosi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh abutment jembatan terhadap aliran sungai melalui uji model laboratorium. Model saluran terbuka digunakan untuk mereplikasi kondisi sungai nyata. Pengujian dilakukan dengan membandingkan data aliran sebelum dan sesudah pemasangan abutment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan abutment menyebabkan peningkatan kecepatan aliran pada beberapa titik pengukuran, terutama di area yang dekat dengan abutment. Peningkatan kecepatan ini berdampak pada nilai Froude, yang menunjukkan peralihan aliran menuju kondisi kritis atau superkritis. Fenomena ini meningkatkan risiko erosi dan turbulensi, khususnya di sekitar abutment. Hasil ini penting dalam konteks desain dan pengelolaan jembatan, di mana diperlukan perhatian khusus untuk mencegah dampak negatif terhadap aliran sungai dan lingkungan sekitarnya
Evaluasi Kinerja Daerah Irigasi Selli Coppobulu Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Menggunakan Aplikasi Software PDSDA PAI Versi 1.0 Supardi Supardi; Amril Habibudin; Farouk Maricar; Agusalim Agusalim
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 2, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v2i3.10300

Abstract

ABSTRAK: Dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan irigasi, pengembangan dan pengelolaan irigasi dengan melakukan kegiatan kinerja irigasi untuk mendata dan menilai fungsi aset daerah irigasi. Agar aset jaringan irigasi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, maka perlu terus didayagunakan melalui penyelenggaraan Operasi dan Pemeliharaan (OP) secara baik dan benar, sehingga dapat memberikan pelayanan irigasi sebaik mungkin kepada para petani dalam mendukung program ketahanan pangan. Dalam hal ini dilakukan penilaian indeks kinerja irigasi menggunakan software PDSDA-PAI Versi 1.0 yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi fisik indeks kinerja jaringan irigasi pada Daerah Irigasi Selli Coppobulu Kabupaten Bone, (Kondisi Exsisting saat ini), dan juga untuk mengetahui besar indeks jaringan pada Daerah Irigasi Selli Coppobulu Kabupaten Bone. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survey langsung di lapangan. Berdasarkan dari hasil survei dan pengambilan data dilapangan, seluruh daerah irigasi yang berada di Kab. Bone masih berfungsi semuanya. Salah satunya adalah D.I Selli Coppobulu yang memiliki luas baku 1238 Ha dan panjang saluran induk ± 9.200 m, saluran sekunder ± 2.900m. Berdasarkan hasil survei jumlah aset (PAI) berupa 383 bangunan. Berdasarkan hasil analisa software PDSDA-PAI Versi 1.0 hasil penilaian indeks kinerja Prasarana Daerah Irigasi Selli Coppobulu Kabupaten Bone didapatkan nilai sebesar 33,44%, dimana menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007 hasil indeks kinerja tersebut masuk pada kondisi daerah irigasi kurang dan perlu perhatian. Oleh karena itu daerah irigasi Selli Coppobulu memerlukan penanganan dengan cara melakukan rehabilitasi prasarana jaringan irigasi terutama pada saluran dan bangunan yang kondisi rusak sedang dan rusak berat, dan melaksanakan pemeliharaan rutin dan berkala.