Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendampingan Membaca Al-Qur’an Metode Iqra’ untuk Anak Migran di PKBM PNF KBRI Kuala Lumpur Azzudy, Muhammad Saifuddin; Syamsul Arifin; Eva Maghfiroh; Suwari; Zainul Arifin; Syuhud; Akhmad Saifullah Azzamzuri; Layyinatul Afidah; Berly Wijayanti; Ahmad Munir Saifulloh
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Abdi Putra Vol. 5 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Nusa Putra & Persatuan Insinyur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52005/d9pcvj07

Abstract

Program pengabdian ini menggunakan pendekatan Service Learning untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an anak-anak migran Indonesia di Kuala Lumpur melalui metode Iqra’. Selama 20 sesi dalam satu bulan, program ini ditujukan kepada anak-anak usia 7–12 tahun di PKBM PNF KBRI Kuala Lumpur. Kegiatan meliputi pendampingan kelompok kecil, jurnal reflektif, dan metode pengajaran adaptif. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengenalan huruf hijaiyah dan kelancaran membaca. Program ini juga menumbuhkan empati dan keterampilan pedagogis pada mahasiswa. Inisiatif ini memperkuat peran pendidikan Islam di komunitas diaspora dan menegaskan pentingnya intervensi pendidikan yang kolaboratif dan kontekstual.
Perempuan Dan Media Massa (Berkaca Dari Media Massa Tentang Perempuan Dalam Pola Pikir Kritis) Eva Maghfiroh
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa': Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.410

Abstract

Keindahan perempuan dan kekaguman laki-laki terhadap perempuan adalah cerita klasik dalam sejarah umat manusia. Dua hal itu pula menjadi dominan dalam inspirasi banyak pekerja seni dari masa ke masa. Namun perempuan ketika menjadi simbol dalam seni-seni komersial, maka kekaguman terhadap perempuan menjadi sangat diskriminatif, tendensius, dan bahkan menjadi subordinasi dari simbol-simbol kekuatan laki laki. Lebih dari itu hadir kesan bahwa perempuan adalah simbol kelas sosial dan kehadirannnya hanya karena kerelaan yang dibutuhkan laki laki. Ironisnya, perempuan kerap mengeksploitasi diri mereka sendiri dan tereksploitasi oleh media massa sehingga runtuh harga diri mereka. Saat ini agaknya, media massa relatif bebas dari kontrol kekuasaan pemerintah, tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya media massa tidak pernah bebas dari institusi yang memiliki budaya bisnis, dan industri pemilik modal yang berorientasi pada profit kemudian tenggelam dalam tekanan pasar yang mendewakan rating. Media massa yang telah tereduksi ke dalam kepentingan pasar memungkinkan perempuan dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengejar keuntungan besar dalam meraih pangsa pasar, sarat dengan persaingan ketat. Sebagaimana dalam permainan dadu industri, perempuan pun ditampilkan secara tidak bermoral dan tidak memiliki nilai etika bersosial.