Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peran Tokoh Agama Dalam Meningkatkan Partisipasi Umat Untuk Mencegah COVID-19 Di Era Tatanan Normal Baru Tokan, Pius Kopong; Artama, Syaputra
Journal of Health Education and Literacy Vol 4 No 2 (2022): Journal of Health, Education and Literacy (J-healt)
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/j-healt.v4i2.1354

Abstract

Religious activities in the context of this pandemic are often considered a driving factor in the transmission of COVID-19. This study discusses the role of religious leaders in increasing community participation in preventing COVID-19 in the New Normal Order era. public. The study uses a qualitative approach with the aim of describing the role of religious leaders in increasing community participation to prevent Covid-19. The sampling technique used was Snowball with the key informant being the Parish Priest, the main informant: the head of the neighborhood, and the supporting informant: the head of the Community of Basis (KUB). The process of collecting data through interviews, observation and documentation where the main instrument is the researcher himself supported by other instruments. After the data is collected, it is analyzed using the inductive method. The results of the study indicate that the roles that have been fully implemented are preparing the people, conducting health education/counseling, implementing health protocols. Meanwhile, the role that has not been carried out optimally is to build a work system and supervise the implementation of health protocols by the people. It was concluded that in general the Religious Leaders in the St. Parish. Yosef Frainademetz Mautapaga Ende has performed his role well in increasing community participation to prevent COVID-19 in the era of the new normal order.
Distribusi Penyakit Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Variabel Epidemiologi Di Kabupaten Ende Tokan, Pius Kopong; Ahmad, Hamsir
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 24 No 1 (2024): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v24i1.496

Abstract

Dengue Dengue Fever (DBD) is a public health problem in the world, has an impact on economic loss and continues to be a burden on the country. Events that continue to increase and expand in the last five years are the basis for further studies. The purpose of the research is to determine the distribution of dengue fever based on Epidemiological Variables in Ende Regency in 2018-2022. Research method: using secondary data is descriptive research to assess the spread of dengue cases based on the epidemiological variables of people, places, and times. The subject of the study was the number of dengue cases in 2018-2022 as many as 609 cases. Data collection using secondary data observation techniques. Data processing starts with editing, tabulating, serving, and data presentation.Furthermore, it is analyzed in the form of frequency distribution and presented in the form of tables and graphs. Researchers emphasize the existence of research ethics, namely anonymity and confidentiality. Result: Dengue fever cases in Ende Regency in 2018-2022 attacked more men, namely 318 people (52.2%) and 219 women (47.8%); based on the distribution of wilayah, the most cases were in urban areas, the highest in ende City, then Onekore, Rukun lima, and Kota ratu. The surge in cases occurred in 2019 and 2020 due to the condition of the Covid 19 pandemic which has similarities in symptoms with dengue fever. Still, it decreased in 2021 and increased again in 2022, higher than the previous 5 years. Advice: more aimed at the Ende Regency Government to carry out various interventions by involving cross-sector roles and the active participation of the community in efforts to prevent and control dengue fever
Gambaran Gambaran Faktor Predisposing, Enabling Dan Reinforcing Pencegahan Penyakit DBD di Kelurahan Mautapaga Tokan, Pius Kopong; Owa, Krispina; Ahmad, Hamsir
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 24 No 2 (2024): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v24i2.1076

Abstract

Mautapaga Village is an area with a high level of DHF endemicity. The study aims to describe the predisposing, enabling and reinforcing factors related to the prevention of DHF. Descriptive research design, located in RT 07, 08, 29, 30 Mautapaga Village, research variables related to predisposing, enabling, and reinforcing factors. Population 140 families, simple sampling technique with consideration of similar characteristics. The sample was calculated using the Slovin formula with a 95% confidence level, a total sample of 103 people. Data collection using a questionnaire that has been tested for validity. The researcher began by explaining the inclusion criteria, benefits and objectives. Prospective respondents who were willing to fill out the informed consent, continued with interviews and observations. Data processing began with editing, coding. Univariate data analysis to describe the phenomenon and the magnitude of the problem of each component, presented in the form of a frequency distribution table. Results: generally education level ≥ high school (61.2%), unemployed (64.1%). Lack of knowledge (85.4%), negative attitude (75.7%), not sure (69.9%), low assessment (79.6%). This is the trigger for negative behavior in preventing DHF, 76.7% do not practice DHF prevention. Supporting factors in the form of the availability of Abate obtained from health centers (84.5%), however, 97.1% have less access to information. Likewise, 77.7% admitted to not getting enough support from others, the greatest support is health workers (66%). Conclusion: The level of knowledge about DHF is still low, as are attitudes, beliefs, and prevention behavior. Lack of awareness to provide supporting facilities and infrastructure for prevention measures, most get abate from health centers, as well as the lack of independence in accessing information about DHF. Support from other parties in preventing DHF, the largest from health centers. It is recommended that various parties can contribute to increasing public understanding of DHF, motivating them to continue to practice prevention. Keywords: Predisposing; Enabling; Reinforcing; DHF  
KESIAPAN KELUARGA MENGHADAPI BENCANA ABRASI PANTAI DI DESA RAPORENDU KECAMATAN NANGAPANDA KABUPATEN ENDE Doondori, Anatolia Karmelita; Paschalia, Yustina P. M.; Tokan, Pius Kopong; Sekunda, Maria Salestina
Kelimutu Nursing Journal Vol 2 No 1 (2023): Volume 2 Nomor 1 Juni 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/knj.v2i1.1230

Abstract

Desa Numba merupakan salah satu wilayah di kabupaten Ende Propinsi NTT dan menjadi salah satu wilayah yang berpotensi terjadi bencana karena topografi wilayah daerah pesisir pantai dan terdapat pemukiman warga di sekitar area pantai. Bencana yang sering terjadi di wilayah Numba antara lain abrasi pantai, gempa bumi, longsoran dan sekarang pandemi COVID-19. Walapun telah dibangun tembok penahan ombak namun masih dapat menyebabkan pengikisan pantai sehingga berisiko terjadinya abrasi. Kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana merupakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan di dalam keluarga untuk mempersiapkan diri dan keluarga dalam menghadapi bencana ketika sebelum terjadinya suatu bencana agar dapat mengurangi korban risiko bencana. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang kesiapannya dalam menghadapi bencana di desa Numba. Proses pengabdian masyarakat ini terdiri dari edukasi dan praktik dengan materi kesiapan keluarga dan partisipatif keluarga dalam menghadapi bencana. Perubahan kognitif sebelum dan sesudah edukasi dievaluasi dengan menggunakan kuisioner pertanyaan dengan nilai rata-rata 35 menjadi 75 dan kesiapan keluarga dari 30% meningkat menjadi 60%. Keluarga sangat antusias dalam mengikuuti program edukasi kesiapan menghadapi bencana abrasi pantai. Pengabdian masyarakat dengan memberikan edukasi kesiapan menghadapi bencana menjadi bagian dari pra-bencana dalam pengurangan risiko bencana. Tindak lanjut dari pengabdianmasyarakat ini yaitu membuat sistem peringatan dini dan alur evakuasi bencana abrasi pantai
Pengaruh Variasi Umpan Organik terhadap Jumlah Lalat Tertangkap pada Lem Perekat di Pasar Pabaeng Baeng Kota Makassar Rasjid, Ashari; Ahmad, Hamsir; Tokan, Pius Kopong; Rahayu, Rahmi
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 25 No 1 (2025): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v25i1.1307

Abstract

Pasar adalah tempat transaksi barang dengan berbagai pedagang yang sering menjadi sumber sampah organik, termasuk limbah ikan, tempe busuk, buah, dan sayur, yang menjadi tempat berkembang biaknya lalat. Lalat, sebagai vektor penyakit, dapat menyebarkan infeksi saluran pencernaan, infeksi mata, dan penyakit kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variasi umpan limbah ikan, tempe busuk, limbah buah, dan limbah sayur terhadap kepadatan lalat yang terperangkap pada lem perekat di Pasar Pabaeng Baeng Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi-experiment) dengan dosis 10 gram untuk setiap jenis umpan dan 3 kali replikasi. Hasil uji statistik One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi umpan memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah lalat yang terperangkap (P=0.006). Umpan limbah ikan terbukti paling efektif dalam menarik lalat, hal ini disebabkan oleh tekstur yang lembek dan kandungan darah yang tinggi pada limbah ikan. Berdasarkan temuan ini, disarankan kepada pedagang pasar untuk memanfaatkan limbah ikan, buah, dan sayur sebagai umpan pada lem perekat untuk mengurangi populasi lalat di pasar, yang dapat meningkatkan kebersihan dan mengurangi risiko penularan penyakit. Kata Kunci      : Lalat;  Lem Perekat; Variasi Umpan
Pengetahuan Siswa Sekolah Dasar Inpres Waturaja Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue Tokan, Pius Kopong; Artama, Syaputra
Journal of Nursing and Health Science Vol. 1 No. 2 (2022): Edisi Februari
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jnhs.v1i2.25

Abstract

Kelompok usia 5-14 tahun merupakan anak-anak sekolah yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk aktivitas di sekolah, baik pada pagi maupun sore hari sehingga berisiko terjadi penularan DBD di sekolah cukup tinggi. Sebagai bentuk upaya pencegahan penularan, perlu menggali tingkat pengetahaun siswa sehingga lebih tepat dalam mengambil sikap antisipatif. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penelitian. Penelitian bertujuan mengetahui pemahaman siswa SDI Watujara berhubungan dengan DBD. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimental dengan menggunakan studi deskriptif, unsur-unsur yang akan diteliti adalah segala apa yang diketahui siswa SDI Watujara yang berhubungan  penyakit DBD.Populasi penelitian adalah semua siswa SDI Watujara sebanyak 105 orang dan semuanya diikutkan dalam penelitian, kegiatan dilaksanakan bulan 01 Agustus sampai 01 Oktober 2020. Hasil penelitian tingkat pengetahuan siswa SDI Watujara kategori baik 11,43%, cukup 36,19% dan kurang 52,38%. Tingkat pengetahuan tentang penyebab DBD kategori baik 17,14%, cukup 37,14%,kurang 45,71%, tanda dan gejala DBD kategori baik 10,48%, cukup 38,10%, kurang 51,43%, pencegahan DBD kategori baik 7,62%, cukup 36,19%,kurang 56,19% dan penatalaksanaan DBD kategori baik 10,48%, cukup 34,29%,kurang 55,24%. Kesimpulan: Sebagian besar siswa SDI Watujara memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang penyakit DBD.  Kontribusi tersebesar adalah pengetahuan tentang pencegahan DBD, diikuti penatalaksanaan DBD, tanda dan gejala DBD, dan penyebab DBD.
Pemberdayaan Keluarga dalam Upaya Pencegahan Penyakit Kecacingan dan Stunting Pada Balita di Desa Gheoghoma Kabupaten Ende Owa, Khrispina; Sekunda, Maria Salestina; Tokan, Pius Kopong; Ibrahim, Muhamad Chairul
SENTRA DEDIKASI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Arlisaka Madani Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59823/dedikasi.v3i3.107

Abstract

Penyakit kecacingan (soil-transmitted helminth/ STH) dan stunting pada balita tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat khususnya di wilayah pedesaan karena faktor lingkungan, sanitasi, serta praktik pemberian makan dan perilaku higienis keluarga. Pemberdayaan keluarga melalui edukasi kesehatan, penguatan praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), akses dan pemeliharaan sanitasi layak, serta peningkatan ketahanan pangan keluarga merupakan strategi kunci untuk pencegahan terpadu kecacingan dan stunting di tingkat desa. Pemberdayaan keluarga juga memiliki peran strategis dalam pencegahan kedua masalah tersebut, mengingat keluarga merupakan unit terkecil yang berperan langsung dalam pola asuh, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pemenuhan gizi anak. Tujuan Pengabdian Masyarakat ini meningkatkan kemampuan dan kemandirian keluarga dalam upaya pencegahan penyakit kecacingan dan stunting. Metode Partisipatory Learning and Action (PLA) dengan metode learning by doing. Tahap persiapan dengan mengidentifikasi permasalahan mitra, tahap elaksanaan dengan memberikan sosialisasi, edukasi dan pelatihan serta pendampingan kepada keluarga tentang CTPS, penerapan PHBS di rumah tangga, pengawas minum obat cacing, dan tahap evaluasi penerapan PHBS di keluarga, pengawasan minum obat cacing balita, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin setiap bulan melalui KMS balita. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menemukan bahwa pemberdayaan keluarga melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan perilaku dapat menjadi intervensi efektif dan berkelanjutan untuk mencegah kecacingan sekaligus menurunkan prevalensi stunting pada balita, apabila dilaksanakan dengan dukungan program kesehatan masyarakat dan multisektor secara berkesinambungan. Intervensi berbasisi keluarga dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian keluarga dalam upaya pencegahan penyakit kecacingan dan stunting pada balita.
Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Mendukung Girij Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Dbd Di Desa Gheoghoma Tokan, Pius Kopong; Wawomeo, Aris; Artama, Syaputra
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 6 No. 3 (2023): Juli 2023
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v6i3.2502

Abstract

Abstract: The problem of Dengue Fever (DHF) is not only a public health problem but also an economic burden. Cases that continue to increase both globally, nationally and locally require the role of various parties, especially in community empowerment in optimizing the 3M Plus PSN through the 1 House 1 Jumantik Movement (G1R1J) which aims to increase ABJ >95% at the family level. It is known that the results of the G1R1J trial in Gheoghoma village can increase ABJ by 84.7%. In connection with this, one of the efforts made is to empower posyandu cadres through Community Service activities. The methods used were training, post-training assistance and advocacy. The implementation time was three months in Gheoghoma village, North Ende sub-district, Ende Regency.Conclusion: this community service contributed to increasing the knowledge of posyadu cadres about G1R1J by 60%, with good knowledge criteria.  This human resource potential continues to be maintained so that the community service team provides assistance for a certain period of time before finally releasing the cadres to be able to independently act as G1R1J motivators. The activity ended by advocating to the Head of Gheoghoma Village. Keywords: Empowerment; Cadre; G1R1J  Abstrak: Persoalan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan hanya menjadi masalah kesehatan masyarakat tetapi juga menjadi beban ekonomi. Kasus yang terus meningkat baik secara global, nasional maupun local menuntut peran berbagai pihak terutama dalam pemberdayaan masyarakat dalam mengoptimalkan PSN 3M Plus melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) yang bertujuan meningkatkan ABJ >95% di level keluarga. Diketahui bahwa hasil ujicoba G1R1J di desa Gheoghoma dapat meningkatkan ABJ sebesar 84,7%. Sehubungan dengan itu salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memberdayakan kader posyandu melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Metoda yang digunakan adalah  pelatihan, pendampingan pasca pelatihan dan advokasi. Waktu pelaksanaan tiga bulan di desa Gheoghoma Kecamatan Ende Utara Kabupaten Ende.Simpulan: pengabdian masyarakat ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengetahuan kader posyadu tentang G1R1J  sebesr 60%, dengan kriteria pengetahuan baik.  Potensi SDM ini terus dipertahankan sehingga tim pengabdian kepada masyarakat melakukan pendampingan untuk jangka waktu tertentu sebelum akhirnya melepaskan para kader mampu secara mandiri berperan sebagai motivator G1R1J. Kegiatan diakhiri dengan melakukan advokasi kepada Kepala Desa Gheoghoma. Kata kunci: Pemberdayaan; Kader; G1R1J
Penerapan Terapi Kognitif dan Senam Lansia dalam Upaya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Lansia di Masa Pandemi Covid 19 Artama, Syaputra; Wawomeo, Aris; Tokan, Pius Kopong
Mitra Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/mahajana.v3i2.1861

Abstract

The COVID-19 outbreak, which in recent years has become a pandemic in almost all countries in the world, has had a negative impact on the physical and psychological health of individuals and communities. One of the age groups that is a concern during this pandemic is the elderly. During the pandemic, to prevent the elderly from feeling lonely, anxious, stressed which can affect the health of the elderly such as a decrease in the body's immunity, decreased cognitive function, a program of elderly activities is needed, including cognitive therapy and elderly gymnastics. The health conditions and psychological conditions faced by the elderly during the pandemic as a whole can have an impact on health, especially on the body's immunity and the quality of life of the elderly. The purpose of this activity is so that the elderly can take an active role in cognitive therapy and gymnastics activities for the elderly and understand and apply the importance of maintaining health during a pandemic. This strengthening is a preventive and rehabilitative effort in improving the health and quality of life of the elderly. The form of activity program carried out by the method of carrying out socialization, implementing cognitive therapy in the elderly, seeing the results of evaluation of changes after therapy is carried out, carrying out elderly gymnastics activities in Gheo Ghoma Village, Ende Regency. The results of this activity can be seen from the participation of the elderly in carrying out cognitive therapy and gymnastics for the elderly. There are changes in the cognitive improvement of the elderly after therapy and an increase in public insight and understanding of the importance of maintaining the health of the elderly during the Covid-19 pandemic. Cognitive therapy and elderly gymnastics programs are simple things that need to be done regularly and consistently, in order to build community awareness in maintaining the health of the elderly and improving the quality of life of the elderly, especially during the current pandemic
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah di Kabupaten Ende Owa, Khrispina; Tokan, Pius Kopong; Bedho, Martina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 9 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i9.12810

Abstract

Background: Indonesia is one of the endemic countries for soil transmitted helminths (STH) with the third highest number of children aged 1-14 years in the world after India and Nigeria, namely around 7% in 2012 and is estimated to be more than 1.5 billion people or 24% of the world's population. Infected with soil-borne worms it is estimated that more than two billion people with STH infections worldwide experience severe morbidity. These infections cause 9-135 thousand deaths per year. The prevalence of worm infections in Indonesia, especially in low socio-economic populations, is still relatively high, namely 45-65%. This group has a high risk of contracting worms because they do not maintain the cleanliness and sanitation of the environment where they live.Purpose: To determine the factors associated with the incidence of stunting in preschool children in Ende Regency.Method: This type of research is a mixed method design that uses non-experiment, namely analytical descriptive research with a cross sectional approach. The population in this study were children aged 12-72 months in Gheoghoma village, Ende Regency, with simple random sampling carried out randomly. The number of respondents with consideration of a representative sample was carried out within 3 months according to the inclusion criteria so that a sample of 82 respondents was obtained.Results: Showed that the majority of mothers' knowledge of worms was in the good category, with no stunting occurring as many as 55 (69.6%) and none experienced stunting, while mothers with a poor level of knowledge as many as 24 (30.4%) did not experience stunting but also experienced stunting as many as 3 (100%). The results of the Chi-Square test showed that poor maternal knowledge regarding the causes, prevention and management of worms has an influence on stunting in children with OR 1.125 (95% CI: 0.985-1.285 p-value = 0.01 (p<0.05).Conclusion: Factors that influence stunting are parents' low knowledge about the benefits of giving worm medicine to children. Although the worm infection in this study had little effect on the nutritional status of children, it could have an impact in the future if there is no immediate prevention and treatment.Suggestion: For health workers to always provide support for the implementation of worm and stunting prevention programs by increasing the role of the community in implementing clean and healthy living behavior. For future researchers, they should add risk factors for stunting with different variables and a larger number of samples. Keywords: Pre-School Children; Worms; Stunting. Pendahuluan: Indonesia merupakan salah satu negara endemik soil transmitted helminths (STH) dengan jumlah anak usia 1-14 tahun terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Nigeria yaitu sekitar 7% di tahun 2012 dan diperkirakan lebih dari 1.5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi cacing  yang ditularkan melalui tanah. Diperkirakan lebih dari dua miliar orang dengan infeksi STH di dunia mengalami morbiditas berat. Infeksi tersebut menyebabkan 9-135 ribu kematian per tahun.  Prevalensi infeksi cacingan di Indonesia terutama pada penduduk dengan sosio-ekonomi rendah, masih relatif tinggi yaitu sebesar 45-65%. Kelompok ini mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit kecacingan karena kurang menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya.  Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah di Kabupaten Ende.Metode: Jenis penelitian dengan rancangan mixed metode yang menggunakan non experiment yaitu penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak berusia 12-72 bulan yang berada di desa Gheoghoma Kabupaten Ende dengan pengambilan simple random sampling dilakukan secara acak. Jumlah responden dengan pertimbangan sampel yang representatif dilakukan dalam waktu 3 bulan sesuai kriteria inklusi sehingga didapatkan sampel sebanyak 82 responden.Hasil: menunjukkan bahwa pengetahuan ibu terhadap kecacingan mayoritas berada pada kategori baik tidak terjadi stunting sebanyak 55 (69.6%) dan tidak ada yang mengalami stunting, sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan buruk sebanyak 24 (30.4%) tidak mengalami stunting namun juga mengalami stunting sebanyak 3 (100%). Hasil uji Chi-Square diketahui bahwa pengetahuan ibu yang buruk mengenai penyebab, pencegahan dan penanggulangan kecacingan mempunyai pengaruh terhadap stunting pada anak dengan OR 1.125 (95% CI: 0.985-1.285 p-value = 0.01 (p<0.05).Simpulan: Faktor yang berpengaruh terhadap stunting yakni rendahnya pengetahuan orangtua tentang manfaat pemberian obat cacing pada anak. Meskipun Infeksi cacing dalam penelitian ini kurang berpengaruh terhadap status gizi pada anak, tetapi kemungkinan bisa memberi dampak di masa depan jika tidak ada pencegahan dan penanganan segera.Saran: Bagi tenaga kesehatan agar senantiasa memberikan dukungan pelaksanaan program pencegahan kecacingan dan stunting dengan meningkatkan peran masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Bagi peneliti selanjutnya agar menambahkan faktor risiko terjadinya stunting dengan variabel berbeda dan jumlah sampel yang lebih banyak. Kata kunci: Anak Pra Sekolah; Kecacingan; Stunting.