Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Profil Kebutuhan dan Pemetaan Pemahaman Pelaku Pendidikan SMAN 3 Sidoarjo terhadap Asesmen Kompetensi Minimum Rokhim, Deni Ainur; Agustina, Nur Indah; Asrori, Muhammad Roy; Putra, Moch Chesa Nur Hidayat Arif; Amalia, Firda; Habiddin, Habiddin; Peni, Ristiwi; Wahyudi, Bambang; Wahyudi, Asnan; Putra, Arif
JAMP : Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Juni 2023
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Minimum Competency Assessment (AKM) is an assessment of the essential competencies needed by all students to develop their capacity and participate positively in society. The AKM component consists of literacy and numeracy. This study aims to determine the needs and understanding of education actors at SMAN 3 Sidoarjo towards AKM. The research method used is a qualitative survey method. The data collection process was carried out by distributing research questionnaires to 30 students and 25 teachers at SMAN 3 Sidoarjo. The results showed that AKM is very important and needed by both teachers and students because AKM can improve teacher and student competencies, both literacy and numeracy competencies. Teachers' and students' understanding of AKM showed a general level of understanding without any misconceptions. Therefore, teachers and students make careful preparations in dealing with AKM. Keywords: Minimum Competency Assessment; Literacy; Numeracy Abstrak: Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Komponen AKM terdiri dari literasi dan numerasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan dan pemahaman pelaku pendidikan SMAN 3 Sidoarjo terhadap AKM. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif survei. Proses pengembilan data dilakukan dengan membagikan angket penelitian kepada 30 siswa dan 25 guru semua mata pelajaran di SMAN 3 Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AKM sangat penting dan dibutuhkan baik oleh guru maupun murid karena AKM dapat meningkatkan kompetensi guru dan siswa baik kompetensi literasi maupun numerasi. Pemahaman guru dan murid tentang AKM menunjukkan tingkat pemahaman yang umum tanpa miskonsepsi. Oleh karena itu, guru dan siswa melakukan persiapan yang matang dalam menghadapi AKM. Kata kunci: Asesmen Kompetensi Minimum; Literasi; Numerasi
Pelatihan Modul Ajar Kurikulum Merdeka SMAN 3 Sidoarjo: Studi Pendahuluan Kebutuhan Widarti, Hayuni Retno; Habiddin, Habiddin; Parlan, Parlan; Setiawan, Nur Candra Eka; Rokhim, Deni Ainur; Maharani, Richa Nan; Pratiwi, Juwita Karina; Peni, Ristiwi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Biologi dan Sains Vol 3, No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Biologi dan Sains
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jpmbio-sains.v3i1.2952

Abstract

Salah satu kebijakan yang menjadi perubahan dari Kurikulum 13 ke dalam Kurikulum Merdeka diantara lain adalah perangkat pembelajaran berupa RPP yang berubah menjadi Modul Ajar. Pengembangan potensi dan pelatihan perlu dilakukan terlebih lagi banyak pendidik yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yaitu modul ajar terutama dalam pembelajaran berdiferensiasi. Studi pendahuluan dilakukan untuk menganalisis kebutuhan terkait kesulitan mitra. Adapun alat ukur atau indikator yang digunakan untuk mengukur kebutuhan mitra dengan menggunakan angket. Berdasarkan data angket kepada mitra 91,43% responden mampu menjelaskan pengetahuan mengenai modul ajar. Pemahaman guru mengenai modul ajar didukung hasil survey bahwa semua guru mampu membedakan perangkat pembelajaran yang digunakan di kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka.Tingginya presentase pemahaman modul ajar didukung dengan 91,43% responden sudah mencoba membuat modul ajar berdiferensiasi. Namun ditemukan 77,14% responden mengalami kendala ketika menyusun modul ajar berdiferensiasi. Berdasarkan analisis dan pembahasan di atas pembuatan modul ajar sebagai perangkat pembelajaran di SMAN 3 Sidoarjo belum optimal. Sosialisasi dan Pelatihan terkait modul ajar sebagai perangkat pembelajaran di era kurikulum merdeka perlu dilaksanakan sebagai solusi belum optimalnya pembuatan modul ajar sebagai perangkat pembelajaran terkhusus menekankan aspek pembelajaran berdiferensiasi. One of the policies to change Curriculum 13 to the Independent Curriculum is that the RPP learning tools become Teaching Modules. Potential development and training need to be carried out because many educators have difficulty developing teaching module learning tools, especially differentiated learning. A preliminary study was carried out to analyze the partners' difficulties needs. The measuring tools or indicators used to measure partner needs use questionnaires. Based on questionnaire data, 91.43% of respondents were able to explain their knowledge regarding teaching modules. Teachers' understanding of teaching modules is supported by survey results. All teachers are able to differentiate learning tools from the 2013 curriculum and the independent curriculum. The high percentage of understanding of teaching modules is supported by 91.43% of respondents who have tried to create differentiated teaching modules. However, 77.14% of respondents experienced problems preparing differentiated teaching modules. Based on the analysis and discussion, the creation of teaching modules for learning tools at SMAN 3 Sidoarjo is not optimal. Socialization and training of teaching modules for learning devices in the era of the independent curriculum need to be implemented as a solution to the lack of optimal creation of teaching modules for learning devices specifically emphasizing differentiated learning aspects.
Profil Kebutuhan dan Pemetaan Pemahaman Pelaku Pendidikan SMAN 3 Sidoarjo terhadap Asesmen Kompetensi Minimum Rokhim, Deni Ainur; Agustina, Nur Indah; Asrori, Muhammad Roy; Putra, Moch Chesa Nur Hidayat Arif; Amalia, Firda; Habiddin, Habiddin; Peni, Ristiwi; Wahyudi, Bambang; Wahyudi, Asnan; Putra, Arif
JAMP : Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Juni 2023
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Minimum Competency Assessment (AKM) is an assessment of the essential competencies needed by all students to develop their capacity and participate positively in society. The AKM component consists of literacy and numeracy. This study aims to determine the needs and understanding of education actors at SMAN 3 Sidoarjo towards AKM. The research method used is a qualitative survey method. The data collection process was carried out by distributing research questionnaires to 30 students and 25 teachers at SMAN 3 Sidoarjo. The results showed that AKM is very important and needed by both teachers and students because AKM can improve teacher and student competencies, both literacy and numeracy competencies. Teachers' and students' understanding of AKM showed a general level of understanding without any misconceptions. Therefore, teachers and students make careful preparations in dealing with AKM. Keywords: Minimum Competency Assessment; Literacy; Numeracy Abstrak: Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Komponen AKM terdiri dari literasi dan numerasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan dan pemahaman pelaku pendidikan SMAN 3 Sidoarjo terhadap AKM. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif survei. Proses pengembilan data dilakukan dengan membagikan angket penelitian kepada 30 siswa dan 25 guru semua mata pelajaran di SMAN 3 Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AKM sangat penting dan dibutuhkan baik oleh guru maupun murid karena AKM dapat meningkatkan kompetensi guru dan siswa baik kompetensi literasi maupun numerasi. Pemahaman guru dan murid tentang AKM menunjukkan tingkat pemahaman yang umum tanpa miskonsepsi. Oleh karena itu, guru dan siswa melakukan persiapan yang matang dalam menghadapi AKM. Kata kunci: Asesmen Kompetensi Minimum; Literasi; Numerasi
Analisis Konten dan Materi Pendampingan Peningkatan Kompetensi Pendidik Kelompok MGMP Kimia Sidoarjo : Studi Pendahuluan Widarti, Hayuni Retno; Munzil, Munzil; Rahayu, Sri; Setiawan, Nur Candra Eka; Rokhim, Deni Ainur; Pratiwi, Juwita Karina; Peni, Ristiwi; Wahyudi, Asnan
Samakta: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Samakta: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Dharma Samakta Edukhatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61142/samakta.v1i1.30

Abstract

Perubahan kurikulum terfokus pada penyempurnaan dan revisi dari kurikulum sebelumnya yaitu dengan adanya perubahan kurikulum 13 menjadi kurikulum merdeka. Pendidik merupakan penggerak merdeka belajar, pendidik berperan dalam desain strategi dan metode pembelajaran berbasis kurikulum merdeka.Pendidik kesulitan dalam implementasi kurikulum merdeka karena pendidik tidak memiliki pengalaman konsep merdeka belajar dan minimnya referensi bahan rujukan mendesain dan mengimplementasikan merdeka belajar. Kegiatan pengabdian ini menggunakan survey yang melibatkan sekelompok individu untuk menjawab sejumlah pertanyaan dalam instrumen yang berupa kuisioner. Data yang diperoleh dari kegiatan pengabdian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari perspektif pendidik dalam menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil kuisioner yang telah dilakukan didapatkan data bahwa pendidik di kelompok MGMP Kimia Sidoarjo telah memiliki pemahaman mengenai kurikulum merdeka dan administrasi yang diperlukan, pendidik juga sudah dapat membedakan kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka. Namun, untuk implementasi dari kurikulum merdeka, pendidik di kelmpok MGMP Kimia Sidoarjo masih mengalami kendala di bidang pemetaan konten dan materi kimia. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum merdeka di kelomok MGMP Kimia Sidoarjo belum optimal, utamanya dalam pemetaan konten dan materi kimia. Oleh karena itu, pendampingan peningkatan kompetensi pendidik di kelompok MGMP Kimia Sidoarjo perlu dilaksanakan sebagai solusi belum optimalnya kompetensi pendidik dalam pemetaan konten dan materi kimia.