Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PERAWATAN METODE KANGGURU PADA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH Siti Aisyah Nur; Siska Sakti Anggraini
Jurnal Abdimas Saintika Vol 2, No 1 (2020): Mei Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v2i1.559

Abstract

Masa bayi merupakan masa pertama dalam fase kehidupan seseorang, dimana pada masa ini memerlukan adaptasi terhadap lingkungan. Bayi Berat Lahir Rendah adalah bayi baru lahir yang memiliki berat saat lahir kurang dari 2500 gram. Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dan lebih sering terjadi di negara berkembang atau dengan sosio ekonomi rendah. Angka kematian BBLR 35x lebih tinggi di banding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Tujuan dalam kegaitan ini adalah Memberikan pengetahuan pada Ibu tentang perawatan metode kangguru pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. Metode yang digunakan adalah Demonstrasi, Ceramah dan Diskusi dengan 5 orang ibu yang mempunyai Bayi BBLR di Ruangan Perinatologi RSUD Rasidin Padang. Kegiatan ini menghasilkan peningkatan pengetahuan Ibu dalam merawat Bayi denagn BBLR. Diharapkan dapat menggunakan Perawatan Metode Kangguru (PMK) sebagai terapi untuk perawatan BBLR yang dapat dilakukan oleh ibu secara langsung, tanpa biaya dengan pemberian pendidikan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlebih dahulu.
PENYULUHAN FISIOTERAPI DADA TERHADAP PEMELIHARAAN FUNGSI OTOT PERNAFASAN PADA PASIEN GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN DI RUANG PARU RSUD M.ZAIN PAINAN Rhona Sandra; Honesty Diana Morika; Siska Sakti Anggraini; Harinal Afriesta
Jurnal Abdimas Saintika Vol 3, No 1 (2021): Mei Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v3i1.1094

Abstract

Gangguan pada sistem respirasi seperti Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), Pneumonia Tuberculosis (TB) merupakan kasus yang banyak di jumpai pada pasien yang menjalani perawatan di Rumah Sakit dengan angka 87%. Pada kebanyakan pasien yang mengalami gangguan sistem respirasi  pernafasan seperti PPOK, TB dan Pneumoni sering terjadi peningkatan produksi sekret, sputum atau lendir yang mengental, sehingga diperlukan upaya untuk pengeluaran sekret salah satu tindakan yang dapat diberikan adalah teknik fisoterapi dada. Fisioterapi dada merupakan satu cara pengobatan untuk mengembalikan fungsi organ pernafasan dengan cara postural drainage, perkusi dan vibrasi dada (Potter&Perry,2009). Dengan pemberian fisioterapi dada pada pasien yang mengalami retensi sekret dan gangguan oksigenasi respon yang diharapkan penumpukan sekret dapat dicegah, drainase trakheobronkhial dapat ditingkatkan dan ventilasi dapat diperbaiki (Asih&Effendy,2004). Kegiatan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga untuk pengeluaran dan mengurangi produksi sekret pada pasien gangguan respirasi di Ruang Paru RSUD M.Zain Painan.   Metode yang digunakan ceramah dan demonstrasi. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan peserta sangat aktif mendengarkan dan melakukan fisioterapi dalam membantu pengeluaran sekret yang menghalangi jalan nafas.
PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT TERHADAP KADAR KOLESTEROL Honesty Diana Morika; Siska Sakti Anggraini; Fenny Fernando; Rhona Sandra
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 2, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v2i2.572

Abstract

Badan Kesehatan Dunia (WHO) Menunjukan 20% serangan stroke dan lebih dari 50% serangan jantung disebabkan oleh kadar kolesterol tinggi. Kasusnya di Indonesia meningkat pertahunnya sebanyak 28 persen dan menyerang usia produktif. Variabel independen pada penelitian ini menggunakan terapi Jus tomat. Dimana tomat merupakan salah satu bahan makanan yang tinggi serat yang mengandung alkaloid solanin, saponin, asam folat, biflanoid, protein, mineral,Vitamin, histamine, dan Likopen. Tomat dalam bentuk jus lebih mudah diserap dan dicerna. Mengkonsumsi jus tomat satu gelas sehari dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian jus tomat terhadap kadar kolesterol darah  di Wilayah kerja Puskesmas Ampalu Tahun 2020. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Maret s/d 30 Maret 2020 di Wilayah Kerja Puskesmas Ampalu. Jenis penelitian Quarsi -eksperimen dengan one group rancangan pre-post test. Analisa data dengan cara analisa univariat dan bivariat dengan Uji Paired t Test. Populasi penelitian adalah seluruh responden yang datang berkunjung ke Puskesmas Ampalu yang menderita kolesterol > 200 mg/dl. Sampel yang diambil 10 responden dengan teknik pengambilan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan pemberian jus tomat selama 6 hari. Hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar kolesterol sebelum diberikan jus tomat adalah 243.10 mg/dl, dengan standar deviasi 27.25 nilai Minimal 201 nilai maximal294 standar devias 27.25, rata-rata kadar kolesterol sesudah diberikan jus tomat adalah 194.90 mg/dl, dengan standar deviasi 24.03 nilai minimumnya 145, nilai maximumnya 227 dan standar deviasi 24.03, ada pengaruh rata-rata kadar kolesterol sebelum dan sesudah diberikan jus tomat yaitu dengan Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0.003 (P , 0.05). Dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian jus tomat terhadap penurunan kadar kolesterol di Wilayah Kerja Puskesmas Ampalu tahun 2020. Diharapkan bagi petugas kesehatan, khususnya petugas kesehatan Puskesmas Ampalu untuk meningkatkan lagi memberikan penyuluhanberkaitan dengan obat non farmakologi tentang penurunan kadar kolesterol sehingga menekan penderita kolesterolemia sehingga jumlah penderita kolesterol tinggi bisa menurun.
SOSIALISASI MITIGASI DAN GEMPA BUMI PADA MASYARAKAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BELIMBING Vino Rika Nofia; Honesty Diana Morika; Siska Sakti Anggraini; Andika Herlina
Jurnal Abdimas Saintika Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v5i1.1858

Abstract

Kelurahan Gunung Sarik merupakan daerah wilayah kerja Puskesmas Belimbing. Dimana di wilyah kerja initerdiri dari 17 desa yang didominasi oleh penduduk pribumi. Stimulasi mitigasi bencana gempa bumimerupakan suatu usaha untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana gempa bumi melalui kegiatan-kegiatan yang terencana dan berkelanjutan. Abstrak ini akan membahas tentang stimulasi mitigasi bencanagempa bumi, termasuk upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapanmasyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangkastimulasi mitigasi bencana gempa bumi antara lain adalah pembangunan gedung-gedung yang tahan gempa,penyediaan informasi yang akurat tentang gempa bumi, pembentukan kelompok-kelompok tanggap bencana,dan pelatihan keterampilan dalam penanganan bencana.Pembangunan gedung-gedung yang tahan gempamerupakan salah satu upaya penting dalam mitigasi bencana gempa bumi, karena dapat mengurangi risikokehancuran bangunan dan kerugian manusia akibat gempa bumi. Selain itu, penyediaan informasi yang akurattentang gempa bumi dan pembentukan kelompok-kelompok tanggap bencana dapat membantu masyarakatuntuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan mereka dalam menghadapi bencana gempa bumi. Pelatihanketerampilan dalam penanganan bencana juga penting dilakukan, sehingga masyarakat dapat memilikiketerampilan dasar untuk bertindak dengan cepat dan efektif dalam situasi darurat. Upaya-upaya ini dapatdilakukan secara terencana dan berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat memiliki kesiapan dan ketahananyang baik dalam menghadapi bencana gempa bumi. Dalam keseluruhan, stimulasi mitigasi bencana gempabumi merupakan suatu upaya penting untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana gempa bumi. Denganupaya-upaya yang terencana dan berkelanjutan, masyarakat dapat memiliki kesadaran dan kesiapan yang baikdalam menghadapi bencana gempa bumi, sehingga kerugian manusia dan kerusakan bangunan dapatdiminimalkan.Kata kunci: simulasi bencana, gempa
HUBUNGAN DIABETES MELITUS DENGAN KADAR KREATININ DAN HEMOGLOBIN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DIRUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT TK. III DR. REKSODIWIRYO PADANG Siska Sakti Anggraini; Honesty Diana Morika; Vino Rika Nofia; Dian Dwiana Maydinar
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i1.2569

Abstract

Prevalensi diabetes mellitus di Sumatera Barat pada tahun 2021 yaitu sebesar 1,8%, lebih tinggi dari tahun 2017 yaitu 1,2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan kadar kreatinin dan  hemoglobin pada pasien  chronic kidney disease (ckd) di ruang Hemodialisa  Rumah Sakit TK. III dr. Reksodiwiryo Padang.  Metode penelitian  ini menggunakan  metode deskriptif analitik  dengan  desain pendekatan cross sectional. Penelitian ini telah dilakukan di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tk. III dr. Reksodwiryo Padang pada tanggal 12-14 September 2023. Populasi pada penelitian ini seluruh pasien chronic kidney disease sebanyak 120 orang dan sampel 54 orang. Teknik pengambilan sampel Studi Dokumentasi. Analisa data dilakukan analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Hasil uji statistik terdapat (62,3%) memiliki kadar kreatinin tidak normal, (61,1%) memiliki kadar Hemoglobin tidak normal, (38.9%) mengalami penyakit diabetes melitus, terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan kadar kreatinin (p value = 0,015), dan terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan kadar hemoglobin (p value = 0,112). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan diabetes melitus dengan kadar kreatinin dan hemoglobin pada pasien chronic kidney disease. Saran diharapkan agar perawat lebih menambah wawasan tentang hubungan diabetes melitus dengan kadar kreatinin dan hemoglobin yang sangat berpengaruh dengan pasien dalam kesehatan.Kata kunci : Diabetes Melitus, Kadar Kreatinin, Hemoglobin, Chronic Kidney Disease dan   Hemodialisa.
EFEKTIVITAS TEKNIK ACTIVE CYCLE OF BREATHING KOMBINASI POSTURAL DRAINAGE TERHADAP SATURASI OKSIGEN DAN CLEARANCE SPUTUM TB PARU MULTI DRUG RESISTANT Novita Amri; Siska Sakti Anggraini; Honesty Diana Morika
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 16, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v16i2.30667

Abstract

Tuberkulosis Paru Multi Drug Resistant (MDR-TB) merupakan salah satu tantangan kesehatan global dengan tingkat mortalitas yang tinggi dan terapi yang kompleks. Pasien MDR-TB kerap mengalami hipoksemia akibat gangguan pertukaran gas serta retensi sputum yang berisiko menimbulkan komplikasi berupa atelektasis dan perburukan fungsi paru. Kondisi ini membutuhkan intervensi tambahan selain pengobatan farmakologis. Teknik Active Cycle of Breathing (ACBT) dan Postural Drainage (PD) secara teoritis mampu meningkatkan saturasi oksigen dan memperbaiki clearance sputum, namun bukti empiris mengenai efektivitasnya pada pasien MDR-TB masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengisi gap pengetahuan tersebut sekaligus mengeksplorasi intervensi fisioterapi yang sederhana dan terjangkau sebagai terapi adjuvan dalam tatalaksana MDR-TB.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kombinasi ACBT dan PD dalam meningkatkan saturasi oksigen serta clearance sputum pada pasien MDR-TB. Desain penelitian menggunakan quasi-experimental dengan rancangan pretest–posttest control group. Sebanyak 30 pasien MDR-TB direkrut sebagai sampel penelitian dan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (n=15) yang mendapatkan terapi ACBT + PD dan kelompok kontrol (n=15) yang hanya memperoleh perawatan standar. Intervensi diberikan selama empat minggu dengan frekuensi tiga kali per minggu. Saturasi oksigen diukur menggunakan pulse oximeter, sedangkan clearance sputum dievaluasi berdasarkan volume dan karakteristik sputum. Analisis data dilakukan dengan paired t-test untuk melihat perbedaan intrakelompok dan independent t-test untuk membandingkan hasil antar kelompok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata saturasi oksigen pada kelompok intervensi meningkat signifikan dari 91,80% ± 3,25 menjadi 95,60% ± 2,80 (p=0,018), sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami perubahan bermakna dengan nilai rata-rata 91,40% ± 3,10. Pada aspek clearance sputum, kelompok intervensi mengalami peningkatan volume dari 8,90 ± 2,20 ml menjadi 15,70 ± 3,05 ml (p=0,007), sedangkan kelompok kontrol tetap relatif stabil yaitu 9,10 ± 2,30 ml. Analisis bivariat menegaskan bahwa terdapat perbedaan bermakna baik pada saturasi oksigen maupun volume sputum antara kelompok intervensi dan kontrol.Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi ACBT dan PD terbukti efektif dalam meningkatkan oksigenasi serta memperbaiki clearance sputum pada pasien TB paru MDR.Kata Kunci : Active Cycle of Breathing; Postural Drainage; MDR-TB; saturasi oksigen; clearance sputum ABSTRACTMultidrug-resistant pulmonary tuberculosis (MDR-TB) remains a major global health challenge with high mortality rates and complex treatment regimens. Patients with MDR-TB often experience hypoxemia due to impaired gas exchange and sputum retention, which may lead to complications such as atelectasis and further deterioration of lung function. These conditions require adjunctive interventions in addition to pharmacological therapy. The Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) and Postural Drainage (PD) are theoretically capable of improving oxygen saturation and enhancing sputum clearance; however, empirical evidence regarding their effectiveness in MDR-TB patients remains limited. Therefore, this study is important to address the existing knowledge gap and explore simple, affordable physiotherapy interventions as adjuvant therapy in the management of MDR-TB.This study aimed to analyze the effectiveness of combining ACBT and PD in improving oxygen saturation and sputum clearance in MDR-TB patients. A quasi-experimental design with a pretest–posttest control group was employed. A total of 30 MDR-TB patients were recruited and divided into two groups: the intervention group (n=15), which received ACBT + PD therapy, and the control group (n=15), which received standard care only. The intervention was administered for four weeks with a frequency of three sessions per week. Oxygen saturation was measured using a pulse oximeter, while sputum clearance was evaluated based on volume and characteristics. Data analysis was conducted using paired t-tests for intragroup comparisons and independent t-tests for intergroup comparisons.The results showed that the mean oxygen saturation in the intervention group significantly increased from 91.80% ± 3.25 to 95.60% ± 2.80 (p=0.018), while the control group showed no significant changes with a mean value of 91.40% ± 3.10. In terms of sputum clearance, the intervention group experienced a significant increase in sputum volume from 8.90 ± 2.20 ml to 15.70 ± 3.05 ml (p=0.007), whereas the control group remained relatively stable at 9.10 ± 2.30 ml. Bivariate analysis confirmed significant differences between the intervention and control groups in both oxygen saturation and sputum volume.In conclusion, the combination of ACBT and PD is proven effective in improving oxygenation and enhancing sputum clearance among patients with MDR pulmonary tuberculosis.Keywords: Active Cycle of Breathing; Postural Drainage; MDR-TB; oxygen saturation; sputum clearance 
EFEKTIFITAS DIETA KETAGONIK DALAM PENGURANGAN RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK BUAYA vino rika nofia; Siska Sakti Anggraini; Rahmi Novita Yusuf; Andhika Herlina MP; Lidia Rusdi
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 15, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v15i2.2951

Abstract

Penyakit jantung koroner merupakan suatu keadaan akibat terjadinya penyempitan, penyumbatan, atau kelainan pembuluh nadi koroner. Penyakit Jantung Koroner salah satu masalah kesehatan utama karena menjadi penyebab nomor satu kematian setiap tahunnya. Mortalitas akibat PJK menurut data WHO tahun 2020 yaitu sekitar 9,4 juta kematian dan lebih dari 203 juta jiwa hidup dengan kecacatan setiap tahunnya. Terapi farmakologi adalah pendekatan umum untuk mengurangi resiko penyakit jantung koroner, tetapi belum mencapai tingkat keberhasilan yang diinginkan dalam mencegah resiko PJK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Efektifitas Dieta Ketagonik dalam Pengurangan Resiko Penyakit Jantung Koroner di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diet ketogenik menunjukkan dampak yang beragam pada profil lipid. Tidak ada perubahan signifikan pada kolesterol total dan kadar HDL, meskipun ada sedikit peningkatan pada HDL, namun penurunan signifikan terlihat pada kadar LDL (p = 0.009) dan trigliserida (p = 0.002). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kolesterol total tidak berubah secara signifikan, diet ketogenik memiliki potensi yang positif dalam menurunkan kadar LDL dan trigliserida, yang berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Penelitian ini mendukung teori bahwa diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak sehat berpotensi memperbaiki profil lipid secara keseluruhan Dengan demikian, penelitian ini memberikan bukti bahwa Dieta Ketagonik dapat menjadi tambahan yang berharga dalam pengobatan penyakit jantung koroner, mengevaluasi efek jangka panjang dari dieta ketogenic pada kardiovaskular, khususnya pasien dengan kondisi penyakit jantung koroner, untuk mengambil keputusan tentang pola makan yang tepat dalam mengendalikan dan mencegah penyakit kardiovaskular.Kata kunci :  Dieta Ketagonik, Penyakit Jantung Koroner 
THE EFFECTIVENESS OF CHEST PHYSIOTHERAPY IN INCREASING OXYGENATION SATURATION IN PATIENTS WITH CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE AT THE WEST SUMATRA LUNG HOSPITAL Honesty Diana Morika; Siti Aisyah Nur; Indah Komala Sari; Rhona Sandra; Siska Sakti Anggraini; Novita Amri
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 15, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v15i2.2942

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang berdampak signifikan pada kualitas hidup dan kesejahteraan pasien. Salah satu komplikasi serius dari PPOK adalah rendahnya saturasi oksigenasi, yang berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas. Fisioterapi dada telah diakui sebagai intervensi yang efektif dalam meningkatkan fungsi pernapasan dan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas fisioterapi dada dalam meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK di Rumah Sakit Paru Sumatera Barat.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi klinis acak terkontrol dengan dua kelompok. Kelompok intervensi menerima fisioterapi dada tambahan selain perawatan standar, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima perawatan standar. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Saturasi oksigenasi diukur sebelum dan setelah intervensi fisioterapi dada. Intervensi fisioterapi dada terdiri dari serangkaian teknik yang ditujukan untuk meningkatkan volume udara yang masuk ke paru-paru dan meningkatkan pernapasan.Hasil: Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata saturasi oksigenasi pada kelompok intervensi meningkat secara signifikan setelah menerima fisioterapi dada, dengan rata-rata peningkatan sebesar 4,750 dan p-value = 0,046. Ini menunjukkan bahwa fisioterapi dada secara signifikan meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kesimpulan: Fisioterapi dada terbukti efektif dalam meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK. Hasil penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk memasukkan fisioterapi dada sebagai bagian dari protokol perawatan rutin untuk pasien PPOK di rumah sakit. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan protokol perawatan yang lebih efektif dan memberikan wawasan tambahan bagi praktisi kesehatan mengenai peran fisioterapi dada dalam manajemen PPOK.Kata Kunci : PPOK,fisoterapi dada,saturasi oksigenasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) Roza Marlinda; Siska Sakti Anggraini; Yunia Roza
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 2 (2024): November 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i2.2737

Abstract

Perawat merupakan sumber daya manusia yang ada di lingkungan rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dan mempunyai hubungan interaksi langsung dengan pasien.penelitianyangdilakukanoleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8.7% terdapat infeksi nosokomial denganAsiaTenggarasebanyak10%.Penggunaan  APD  ini tidak menggunakan  handscoon  atau  masker,  atau  bahkan  keduanya    saat    melakukan tindakan  keperawatan, misalnya  pemasangan  infus  dan  pemberian  obat  suntik dengan    alasan    lupa    ataupun    merasa    kesulitan    dan    tidak  nyaman    saat melakukannyaPenggunaan alat pelindung diri pada perawat sangat berpengaruh terhadap penularan penyakit Tujuan penelitian untuk Mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam penggunaan alat pelindung diri (APD) di ruang bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah desain analitik dengan menggunakan pendekatan Cross sectinal study. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2024 di Ruang Bedah RSUP dr. M.Djamil Padang, sasaran 47 orang responden, teknik pengambilan sampelnya teknik proposional sampling. Teknik pengolahan data dengan editing, coding, data entry, tabulating, cleaning serta analisa data dengan analisa univariat dan anlisa bivariat dengan uji chi-square. Dari hasil penelitian didapatkan (80,9%) perawat patuh, (76,6%) pendidikan D3, (74,5%) sikap perawat baik, dan masa kerja lebih dari 5 tahun yaitu (78,7%).Tidak ada hubungan pendidikan dengan kepatuhan p value = 1.000. Ada hubungan sikap dengan kepatuhan p value = 0,000 dan tidak ada hubungan masa kerja dengan kepatuhan p value = 0,081. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada hubungan pendidikan dan masa kerja dengan kepatuhan perawat sedangkan sikap memiliki hubungan positif dengan kepatuhan perawat dalam penggunaan APD. Tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan lebih patuh dalam menggunakan APD untuk melindungi diri, pasien dan keluarga dari infeksi menular dan virus. Perawat juga harus selalu menerapakan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran yang sudah ditetpakan.