Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Penghambatan Enzim Asetilkolinesterase Pada Penyakit Alzheimer Dari Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Yonathan Tri Atmodjo Reubun
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 18 No 1 (2021): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v18i1.1105

Abstract

Moringa leaves have been recognized by the public as a treatment. One such disease is Alzheimer's disease where the way this plant works is to inhibit the damage that occurs in the nervous system in the brain. The purpose of this study was to obtain ethanol extract of Moringa leaves by carrying out a phytochemical screening process to determine the chemical content contained in these plants. The moringa leaves obtained were subjected to a grinding process to obtain simplicia powder. After that, the extraction is done by soaking the Moringa leaves with 96% ethanol for 11 times until the extract is perfect. After that, the concentration is done with a Rotary Evaporator until you get a thick extract of Moringa leaves. After that, the thick extract is followed by the Freeze Drying process to get a thick extract that is stable and can hold in storage. After that, the extract was tested against the inhibition of the acetylcholinesterase enzyme based on the Ellman method, the IC50 yield of Moringa leaf extract was 819.7517 ppm. Meanwhile, Eserin positive control with an IC50 value of 5.010 ppm. Acetylcholinesterase inhibition kinetics were competitive. So it is said that Moringa oleifera extract has an effect on the treatment of Alzheimer's disease.
Analisis Boraks pada Mie Basah dan Mie Kering di Bekasi Utara dan Bekasi Timur dengan Spektrofotometri UV-Vis Yonathan Tri Atmodjo Reubun; Herdini Herdini
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.942

Abstract

Mie merupakan salah satu makanan yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Mie memiliki cara penyajian yang instan dan praktis, mempunyai harga yang murah dan terjangkau, serta mudah didapatkan di berbagai tempat baik di toko, pasar tradisional hingga pasar swalayan. Banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi mie memicu para penjual menggunakan bahan berbahaya seperti boraks untuk memberikan kesan yang menarik dan tahan lama. MenurutPeraturan Menteri Kesehatan RI No 033 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, boraks merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Penggunaan bahan berbahaya seperti boraks dalam tubuh mempunyai efek samping yang serius diantaranya gangguan lambung, usus, bahkan gagal ginjal akut, serta kanker. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi adanya kandungan boraks pada mie basah dan mie kering yang beredar di Bekasi Utara dan bekasi Timur melalui uji kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif boraks dilakukan dengan uji nyala boraks, sedangkan uji kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil pengujian didapatkan dua sampel mie yang positif mengandung boraks, yaitu mie basah non registrasi 1 (MBNR-1) dan mie basah non registrasi 3 (MBNR-3). Sampel positif dilanjutkan dengan uji kuantitatif dengan Spektrofotometri UV-Vis dan didapatkan kadar MBNR-1 sebesar 0,1866% dan MBNR-3 sebesar 0,1789%.
Penghambatan Enzim Asetilkolinesterase dari Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb), Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dan Kombinasinya Yonathan Tri Atmodjo Reubun; Shirly Kumala; Siswa Setyahadi; Partomuan Simanjuntak
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v17i2.9052

Abstract

Penyakit Alzheimer (Alzheimer Disease, AD) adalah suatu penyakit dimana terjadinya kerusakan otak yang ditandai dengan penurunan dari perhatian, memori, dan kepribadian. AD merupakan salah satu akibat dari ganguan fungsi asetilkolin. Dalam hal ini, Asetilkolinesterase (AChE) merupakan enzim yang berfungsi sebagai katalisator pada pemecahan asetilkolin (ACh) menjadi bentuk yang tidak aktif yaitu asetat dan kolin. Pengukuran aktivitas enzim AChE dapat menggambarkan akumulasi ACh dalam tubuh dimana pada hasil ini menunjukkan pada penderita AD dengan adanya aktivitas AChE yang lebih besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas dalam pengobatan AD melalui penghambatan AChE oleh ekstrak Centella asiatica L. Urb, ekstrak Moringa oleifera Lam. dan kombinasinya. Herba pegagan dan daun kelor yang diperoleh masing-masing diekstraksi dengan menggunakan etanol 96% dengan metode maserasi. Maserat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator dan dikeringkan menggunakan metode freeze drying. Kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak diuji menggunakan metode skrining fitokimia standar. Uji aktivitas penghambatan AChE dilakukan menurut metode Ellman yang didasarkan pada hidrolisis reaksi substrat ATCh oleh AChE dengan DTNB yang menghasilkan warna kuning dan diukur serapannya pada panjang gelombang 410 nm. Hasil pengujian penghambatan AChE menunjukan bahwa kombinasi ekstrak herba pegagan dan ekstrak daun kelor 1:1 memberikan penghambatan terbaik dengan nilai IC50 sebesar 217,588 ppm. Sementara itu, kontrol positif eserin dengan nilai IC50 sebesar 5,010 ppm. Kombinasi ekstrak herba pegagan dan daun kelor diduga mempunyai efek positif dalam pengobatan penyakit alzheimer melalui mekanisme aksi penghambatan AChE.
Uji Hedonik Sediaan Kombinasi Daun Kelor dan Temulawak Sebagai Formula Makanan Balita pada Model Penyakit Stunting: Hedonic Test Preparations Combination of Moringa Leaf and Curcuma as a Toddler Food Formula in the Stunting Disease Model Yonathan Reubun; Yonathan Tri Atmodjo Reubun
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 1 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v15i1.372

Abstract

Permasalahan stunting di negara berkembang seperti Indonesia merupakan suatu masalah yang banyak disebabkan karena adanya faktor pendukungnya seperti penghasilan per kapita yang rendah hingga menengah, serta pengetahuan dan edukasi kepada masyarakat tentang gizi yang masih kurang. Pemanfaatan tanaman sebagai formulasi sediaan sangat dibutuhkan karena tanaman kaya akan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formulasi terbaik dari kombinasi daun kelor dan temulawak berdasarkan uji organoleptis dan hedonik dari responden meliputi rasa, bau, warna dan tekstur. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimana populasi yang digunakan adalah mahasiswa program studi farmasi Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia berusia 17 sampai 23 tahun, uji yang dilakukan meliputi organoleptis serta uji hedonik dari bubur formulasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa kombinasi 1:1, 1:2, dan 2:1 terhadap rasa yaitu (4,30 ; 3,43 ; 2,97), bau (3,67 ; 3,40 ; 1,97), warna (3,23 ; 2,70 ; 2,97), dan tekstur (3,90 ; 3,83 ; 2,23). Kombinasi 1:1 lebih disukai oleh responden karena warna, bau, rasa, dan tekstur lebih baik dibandingkan kombinasi lainnya. Disimpulkan bahwa bubur kombinasi formula 1 mempunyai penilaian lebih baik dari uji kombinasi 1:2 dan 2:1 berdasarkan hasil organoleptis dan uji hedonik.
Uji Hedonik Sediaan Kombinasi Daun Kelor dan Temulawak Sebagai Formula Makanan Balita pada Model Penyakit Stunting: Hedonic Test Preparations Combination of Moringa Leaf and Curcuma as a Toddler Food Formula in the Stunting Disease Model Yonathan Reubun; Yonathan Tri Atmodjo Reubun
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 1 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v15i1.372

Abstract

Permasalahan stunting di negara berkembang seperti Indonesia merupakan suatu masalah yang banyak disebabkan karena adanya faktor pendukungnya seperti penghasilan per kapita yang rendah hingga menengah, serta pengetahuan dan edukasi kepada masyarakat tentang gizi yang masih kurang. Pemanfaatan tanaman sebagai formulasi sediaan sangat dibutuhkan karena tanaman kaya akan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formulasi terbaik dari kombinasi daun kelor dan temulawak berdasarkan uji organoleptis dan hedonik dari responden meliputi rasa, bau, warna dan tekstur. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimana populasi yang digunakan adalah mahasiswa program studi farmasi Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia berusia 17 sampai 23 tahun, uji yang dilakukan meliputi organoleptis serta uji hedonik dari bubur formulasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa kombinasi 1:1, 1:2, dan 2:1 terhadap rasa yaitu (4,30 ; 3,43 ; 2,97), bau (3,67 ; 3,40 ; 1,97), warna (3,23 ; 2,70 ; 2,97), dan tekstur (3,90 ; 3,83 ; 2,23). Kombinasi 1:1 lebih disukai oleh responden karena warna, bau, rasa, dan tekstur lebih baik dibandingkan kombinasi lainnya. Disimpulkan bahwa bubur kombinasi formula 1 mempunyai penilaian lebih baik dari uji kombinasi 1:2 dan 2:1 berdasarkan hasil organoleptis dan uji hedonik.
A review: Utilization of Herbal Medicines in Alzheimer's Disease from Three Plants in Indonesia Yonathan Tri Atmodjo Reubun
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 9, No 2 (2022): October
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v9i2.4197

Abstract

Alzheimer's disease is a disease in which brain damage is characterized by a decrease in attention, memory, and personality. Personality changes often occur when sufferers become less spontaneous, more apathetic, and withdrawn from their environment. The use of chemical drugs derived from the synthesis of natural drugs is approved for clinical use for Alzheimer's patients. Synthesis from natural materials is carried out because of the many chemical compounds contained in plants which have various biological and pharmacological effects. As for the use of natural medicines that are efficacious as antioxidants, anticoagulants, and anti-inflammatories, they are targets in the prevention of Alzheimer's disease where from these effects they can inhibit the acetylcholinesterase enzyme that plays a role in neurotransmitter damage. This journal review aims to maximize the use of natural medicines that have antioxidant effects from plants such as turmeric (Curcuma longa L.), gotu kola (Centella asiatica L.) and Kelor leaves (Moringa oleifera Lam.) so that these three plants are expected to have an effect. potential in the prevention of Alzheimer's disease which will be discussed extensively.
Kombinasi nanoemulsi Minyak Kemiri (Aleurites mollucana L.) dan Serbuk Daun seledri (Apium graveolens L.) pada Model Penyakit Alopesia Yonathan Tri Atmodjo Reubun; Anggelina Aprilia Pangalila
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 20 No 1 (2023): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v20i1.1856

Abstract

Candlenut oil and celery leaves have been widely used by people in the world as a treatment for hair loss problems as well as strengthening hair roots and blackening hair. Hair loss disease or in the medical world called alopecia is a disease where the amount of hair loss is more than hair growth in general. The main cause pf alopecia generally occurs due to inflammation in the hair follicles. The purpose of this experimental animals used, namely male rabbits of the New Zealand White type. The study began by testing the phytochemical screening on each of the materials used. Furthermore, a combination of candlenut oil and celery powder was carried out to form a nanoemulsion preparation. After that, tests were carried out including pH, emulsion type, hair growth including hair weight and thickness of the shaving area. The results showed that the co,bination of candlenut oil and celery powder had a pH value of 6.30 with an emulsion type, namely oil in water (O/W) and had hair growth activity from test animals for 28 days with the average weight and thickness of hair 0.2458 and 1,15 cm. this result is better than average positive control product X with an average weight and thickness of 0.2076 and 1 cm. in addition, compared with the negative control, the results of weight and hair thickness were 0.0305 and 0.5 cm. based on these results, it was concluded that the combination of candlenut oil and celery powder had good hair growth activity in experimental animals so that it could be used as treatment therapy for alopecia patients.
EVALUASI SEDIAAN HAIR GEL EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI CARBOPHOL 940 Yonathan Tri Atmodjo Reubun; Annysa Ellycornia Silvyana; Lia Warti; adinda tri octaviani; Choirunnisa Iskandar
PROSIDING SIMPOSIUM KESEHATAN NASIONAL Vol. 2 No. 1 (2023): Simposium Kesehatan Nasional
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/simkesnas.v2i1.144

Abstract

Daun seledri (Apium graveolens L.) banyak digunakan sebagai obat penumbuh rambut bagi pasien yang mengalami permasalahan tentang kerontokan rambut. Pada pria ataupun wanita, kerontokan rambut ini menjadi suatu permasalahan dimana dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang. Sediaan gel rambut merupakan suatu produk yang disukai oleh masyarakat dimana sediaan ini mudah dalam penggunaannya serta dapat membuat rambut terlihat mengkilap, licin dan rapih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula terbaik dari ekstrak daun seledri dalam sediaan gel dengan menggunakan variasi carbophol 940 sebagai gelling agent pada konsentrasi berbeda yaitu 0.5%, 1%, dan 1,5%. Penelitian dimulai dari ekstraksi daun seledri dengan menggunakan etanol 96% selanjutnya dilakukan pemekatan dengan menggunakan rotary evaporator, skrining fitokimia dan pembuatan sediaan gel serta dilakukan evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat. Hasil yang diperoleh dari masing-masing formula di analisis untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari perbedaan konsentrasi carbophol 940 pada formula sediaan hair gel. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa formula 3 gel ekstrak seledri dengan konsentrasi 1,5% menghasilkan lebih baik yang dibuktikan dengan hasil uji homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah penambahan carbophol pada sediaan gel dapat meningkatkan hasil pengujian serta evaluasi dari sediaannya
Formulasi Sediaan Gel Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) menggunakan Iota Karaginan sebagai Gelling Agent dan Uji Aktivitas terhadap Bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis Silvyana, Annysa Ellycornia; Octaviani, Adinda Tri; Reubun, Yonathan Tri Atmodjo
Jurnal Dunia Farmasi Vol 8, No 3 (2024): Edisi Agustus
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v8i3.6127

Abstract

Pendahuluan: Buah belimbing wuluh mengandung zat nutrisi yang banyak seperti fenol dan flavonoid yang mempunyai aktivitas sebagai antijerawat. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas sediaan gel sari buah belimbing wuluh dan aktivitasnya terhadap bakteri penyebab jerawat. Pada penelitian ini terdapat 3 formula gel dengan konsentrasi sari buah belimbing wuluh yang berbeda yaitu 50%, 25%, dan 10%. Metode: Pada penelitian ini sari buah belimbing wuluh diformulasikan dalam bentuk sediaan gel dengan iota karaginan sebagai gelling agent. Tiap formula gel di evaluasi meliputi pengamatan organoleptik, pH, homogenitas, viskositas, dan uji stabilitas fisik dengan metode shelf-life dan sentrifugasi, serta uji aktivitas antibakteri. Hasil: Berdasarkan hasil, semakin besar konsentrasi sari buah belimbing wuluh warna gel semakin tua, pH semakin asam dan viskositas semakin besar. Dan pada hasil uji statistik LSD aktivitas antibakteri didapatkan hasil KHM terbaik yaitu pada formula 1 (50%) dengan luas diameter zona hambat rata-rata 8,68 mm terhadap bakteri Propionibacterium acne dan 9,34 mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis yang mendekati kontrol positif. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi sari buah belimbing wuluh semakin besar dimeter zona hambat yang terbentuk. Ketiga formula dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis
Perbandingan Aktivitas Penerapan Prolanis Diabetes Melitus Pada Dua Puskesmas Kota Bekasi Silvyana, Annysa Ellycornia; Warti, Lia; Rahayu, Feronika Evma; Reubun, Yonathan Tri Atmodjo; Muhaereni, Desweri
Jurnal Farmasi Higea Vol 15, No 2 (2023)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v15i2.545

Abstract

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) adalah program pemerintah yang bertujuan untuk mendorong peserta penyakit kronis mencapai kualitas hidup yang optimal. Pelaksanaan Prolanis pada suatu Fasilitas Kesehatan kemungkinan berbeda dengan Fasilitas Kesehatan lainnya, untuk mengetahui perbedaannya perlu dilakukan perbandingan deskriptif antar Fasilitas Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas penerapan Prolanis Diabetes Melitus di Puskesmas A dan Puskesmas B Kota Bekasi yang dapat digunakan  sebagai dasar pertimbangan kebijakan selanjutnya. Metode pada penelitian ini adalah analitik observasional secara deskriptif dan penelitian dilaksanakan di Puskesmas A dan Puskesmas B Kota Bekasi dalam kurun waktu selama 3 (tiga) bulan. Aktivitas penerapan Prolanis yang dibandingkan meliputi karakteristik sumber daya manusia (SDM) tenaga Prolanis, frekuensi sms gateway, kualitas sms gateway, kualitas materi edukasi dan ketersediaan jenis obat DM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penerapan Prolanis di Puskesmas A lebih besar dibandingkan Puskesmas B, dimana karakteristik SDM tenaga Prolanis, frekuensi sms gateway dan ketersediaan obat DM di kedua Puskesmas tidak berbeda. Kualitas sms gateway dan kualitas materi edukasi Puskesmas A lebih besar dibandingkan Puskesmas B sehingga penerapan Prolanis di Puskesmas A lebih baik dibandingkan Puskesmas B. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program Prolanis BPJS di setiap Puskesmas.