Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

DECREASED ANXIETY IN MOTHER OF CHILDREN WITH STUNTING AFTER THOUGHT STOPPING THERAPY: DOI: https://doi.org/10.35654/ijnhs.v2i2.94 Ika Juita Giyaningtyas; Achir Yani Syuhaimie Hamid
International Journal of Nursing and Health Services (IJNHS) Vol. 2 No. 2 (2019): International Journal of Nursing and Health Services (IJHNS)
Publisher : Alta Dharma Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.83 KB) | DOI: 10.35654/ijnhs.v2i2.94

Abstract

Anxiety is an uncertain and unwell-defined worry experienced by individuals. Physicall illnesses is one of anxiety causes. Stunting is a physicall illness in children manifested by a very low height for age. Stunting causes cognitive development disorder, inhibition of mental and motor development, make children more susceptible to diseases. Stunting bad effects is not only on children with stunting but also for parents of children with stunting who become caregiver for the children. Stigma from the society can be occur to the family who cares children with stunting, especially mother. Preliminary data showed mothers of children with stunting feels worry or anxiety about their children. Anxiety intervention for mothers of children with stunting is necessary. Anxiety intervention conducted by thought stopping. Based on the data, this study conducted to know decrease in anxiety in mother of children with stunting after tought stopping therapy. The method was a case study. Author conducted thought stopping therapy in three times of meeting. The result of the study was thought stopping can be used as psychotherapy to decrease anxiety in mother of children with stunting. Nurse have to consider client ability in change the tought proccess by concern on emotional level and sentitifity.
PENERAPAN SPIRITUAL CARE GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 Giyaningtyas, Ika Juita; Elizabeth, Beatrix
Jurnal Salingka Abdimas Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jsam.v4i1.4890

Abstract

Pasien dengan penyakit kronik diantaranya Diabetes Melitus selain mengalami gangguan fisik dan psikis, juga dapat mengalami masalah spiritual diantaranya spiritual distress. Spiritual distress ini bisa terjadi terhadap pasien yang tidak mampu memahami arti hidup, nilai hidup serta tujuan dari hidupnya ketika pasien menderita gangguan fisik dan masalah fisiologis akibat dari penyakit yang dirasakan. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan spiritual distress adalah dengan cara pemenuhan kebutuhan spiritual atau spiritual care. Ketika terpenuhi kebutuhan spiritualnya, penderita diabetes secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas hidupnya, karena kesejahteraan spiritual berbanding lurus dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus. Kualitas hidup yang rendah menyulitkan pasien diabetes mellitus untuk beradaptasi, melakukan aktivitas, mengelola penyakit, dan memiliki strategi koping yang salah mengakibatkan kesehatannya menurun. Sejauh ini belum ada upaya untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes mellitus di wilayah Puskesmas Tambun. Berdasarkan hal tersebut, pelaksana pengabdian menawarkan solusi dengan pemberian spiritual care. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini menunjukkan adanya pengaruh penerapan spiritual care terhadap nilai kualitas hidup pasien diabetes mellitus di wilayah Puskesmas Tambun. Disarankan agar para profesional kesehatan mengintegrasikan spiritual care dengan perawatan biasa dalam manajemen diabetes mellitus. Kata kunci: Kesejahteraan spiritual, penyakit kronis, Kesehatan mental, kualitas hidup
AYO MENYUSUN MENU MAKANAN SEIMBANG BAGI PERTUMBUHAN REMAJA YANG OPTIMAL Elizabeth, Beatrix; Nurpratiwi, Yulidian; Giyaningtyas, Ika Juita
Jurnal Salingka Abdimas Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jsam.v4i1.4891

Abstract

Pubertas adalah masa perubahan antara masa anak-anak dengan remaja, ditandai dengan perubahan jasmani yang dinamis sehingga menyebabkan perubahan fisik,psikologis dan perilaku. Pubertas dini lebih mudah terlihat pada anak perempuan.Pubertas dini pada perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi sebelum waktunya. Menarche dini meningkatkan risiko kanker seperti kanker payudara, kanker ovarium, obesitas, serta dapat menyebabkan penurunan fungsi kerja paru-paru dan nyeri selama menstruasi karena sistem reproduksi mereka belum berfungsi dengan benar Negara Indonesia menempati urutan ke 15 dari 67 Negara dengan penurunan usia menarche atau terjadinya menarche dini pada anak remaja perempuan. Asupan makanan mempengaruhi terjadinya usia terjadinya menarche pada anak remaja putri Melihat hal ini Tim Pengabdian merasa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat khusunya ibu yang biasanya mengatur makanan dikonsumsi oleh anak remaja. Tim memilih SDN Cikarang Kota 1 sebagai mitra pengabdian Mayarakat. Tim pengabdian mengunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik penyuluhan atau edukasi kesehatan kepada orang tua khusunya ibu,tanya jawab dan demonstrasi. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Para ibu agar bisa menyiapkan dan Menyusun menu yang seimbang untuk mencegah terjadinya pubertas dini pada remaja. Hasil evaluasi para Ibu yang sudah mengikuti PkM ada peningkatan pengetahuan dalam membuat menu makanan. Hasil pre test pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang kurang sebanyak 9 atau 45%, pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang cukup sebanyak 6 atau 30%  dan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang baik sebanyak 5 atau 25% sedangkan total skor jawaban post test dengan kategori kurang sebanyak 2 atau 10%, cukup sebanyak 5 atau 25% dan baik sebanyak  13 atau 65%.
HUBUNGAN LAMA MENDERITA ULKUS DIABETIK DENGAN GANGGUAN MENTAL EMOSIONAL PASIENDIABETES MELITUS DI RUMAH PERAWATAN LUKA UNIT BEKASI TIMUR TAHUN 2022 Gusnerita; Ika Juita Giyaningtyas
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 2 (2023): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/jm2mh223

Abstract

Ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis dari penyakit Diabetes melitus (DM) berupa luka pada permukaan kulit penderita diabetes. IDF mencatat 1 dari 10 orang hidup yang menderita diabetes di seluruh dunia. prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10,6 % , di Jawa Barat sekitar 1 juta penderita pada tahun 2020 dan persentase penderita diabetes melitus di Kabupaten Bekasi sebesar 9.32%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama menderita ulkus diabetik dengan gangguan mental emosional pasien diabetes melitus. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 50 Pasien dengan Luka Ulkus Diabetik yang dirawat di Rumah Perawatan Indonesia Unit Bekasi Timur. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik menggunakan Chi-square. Hasil analisis bivariat ada hubungan antara lama menderita ulkus diabetik dengan gangguan mental emosional pasien diabetes melitus di rumah perawatan luka unit Bekasi Timur dengan nilai P-Value 0,014, yaitu nilai P-Value yang didapatkan P<α 0,05. Terdapat hubungan antara lama menderita ulkus diabetik dengan gangguan mental emosional pasien diabetes melitus di rumah perawatan luka unit Bekasi Timur Tahun 2022. Diharapkan bagi Rumah Perawatan Indonesia dan tenaga kesehatan lainnya dapat memberikan informasi kepada keluarga pasien tentang pentingnya perawatan pasien dan memberikan motivasi pada pasien guna mengurangi resiko gangguan emosional pasien diabetes melitus.
Indonesian Mother’ Experiences In Caring For Stunted Children: A Phenomenological Study With Psychosocial Perspective Giyaningtyas, Ika Juita; Hamid, Achir Yani S.
International Journal of Nursing and Health Services (IJNHS) Vol. 7 No. 6 (2024): International Journal of Nursing and Health Services (IJHNS)
Publisher : Alta Dharma Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35654/ijnhs.v7i6.828

Abstract

Background: Stunting is a condition that children are too short of normal height in their age range. One of the risk factors for stunting is parenting that is applied in families to children. Mothers are at the core in the stunting phenomenon so that understanding their experiences in caring for the children with stunting is essential. In this study, we explored the Indonesian mothers’ experiences in caring for the children with stunting. Methods: This research was a qualitative research with descriptive phenomenology approach. Using purposive sampling, we recruited 12 mothers who were caring for the children with stunting. Data were collected through in-depth interviews and were analyzed using Colaizzi method. Results: We identified four themes in this study: (1) the diverse responses reflecting the mothers’ subjective burden; (2) negative views from the society adding the burden to the mothers; (3) trying to be at peace with the children’s stunting condition; and (4) the importance of social support in caring for the children with stunting. Conclusion: Mothers caring for children with stunting experienced a multifaceted burdens coupled with the negative stigma from the community. They tried various ways from cognitive and religious approach to passive appraisal to cope with the stressful situation. The mothers also expressed their needs of social support from their husbands, families, and communities to help them through the stressful situation of caring for the children with stunting.
HUBUNGAN AKTIVITA FISIK DAN KONSUMSI MINUMAN RINGAN TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA REMAJA DI SMAN 8 TAMBUN SELATAN Ilham Saepul Akbar; Ika Juita Giyaningtyas
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 2 No. 1 (2023): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/kfp02t84

Abstract

Didalam tubuh manusia terdapat bahan bakar utama yaitu glukosa Glukosa akan disimpan di dalam hati dan otot sebagai cadangan energi yang menjadi sumber energi untuk melakukan aktivitas fisik dan didapatkan dari mengonsumsi minuman ringan, untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dan konsumsi minuman ringan terhadap kadar gula darah remaja di SMAN 8 Tambun Selatan. Jenis penelitian ini kuantitatif, menggunakan desain cross sectional, dengan sampel 92 responden remaja, Instrumen penelitian ini menggunakan kusioner aktivitas fisik (GPAQ), kadar gula darah diambil menggunakan alat easy touch blood glucose test monitoring system, dan satu pertanyaan essai yang berisikan frekuensi konsumsi minuman ringan yang di konsumsi selama satu minggu. Analisa data menggunakan uji chi-square. Nilai p-value 0.000 (α<0.05) pada aktivitas fisik. Dan didapatkan hasil nilai p-value 0.124 (α>0.05) konsumsi minuman ringan. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada remaja dan tidak terdapat hubungan antara konsumsi minuman ringan terhadap kadar gula darah pada remaja
Deteksi Dini Kesehatan Mental Emosional Anak Usia Sekolah di Sekolah Dasar Wilayah Karang Kitri Giyaningtyas, Ika Juita; Widiyatmini, Hari
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 5, No 3 (2025): Abdira, Juli
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v5i3.785

Abstract

Mental health in school-aged children is a crucial aspect that influences their academic, social, and emotional development. Unfortunately, early detection of emotional and mental disorders in children remains limited, especially in elementary school settings. This community service program aimed to raise awareness and enhance the capacity of teachers and parents in early detection of children’s mental health issues using the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). The activity was conducted at SD Negeri Margahayu 2 in August 2024, involving 248 respondents. The results showed that 18.95% of children were in the normal category, 61.29% in the borderline category, and 19.76% in the abnormal category. These findings indicate that a majority of children are at an early stage of emotional and mental health risk and require further monitoring and intervention. Therefore, strong collaboration between schools and families is essential to create a supportive environment for children’s mental well-being and to prevent more severe issues.
EARLY DETECTION OF MENTAL EMOTIONAL DISORDERS (DEPRESSION, ANXIETY, AND STRESS) IN PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS Giyaningtyas, Ika Juita; Elizabeth, Beatrix; Sartika, Aprilina
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2076

Abstract

Chronic diseases such as diabetes mellitus can affect the psychological state of the patient. Negative emotional responses to the diagnosis that one has the disease can include denial or unwillingness to acknowledge reality, anxiety, anger, guilt, and depression. These conditions are mental emotional disorders that often occur in patients with chronic diseases. Diabetes mellitus patients who come to the doctor or to other health services are not known to have mental emotional disorders, so they do not get further treatment. This will certainly have an impact on the failure of monitoring therapy which further affects the prognosis. Based on the analysis of the situation and existing problems, it is necessary to conduct early detection related to mental emotional disorders or psychosocial mental health problems that accompany diabetes mellitus patients in the Cibarusah Health Center area. Early detection is carried out with the Self Reporting Quetionnaire 20 (SRQ-20) instrument. Based on the results of early detection that has been carried out, it is concluded that the majority of patients with diabetes mellitus experience mental emotional disorders, as many as 56%. Patients must realize the importance of early detection and actively participate in treatment. Prevention efforts are important by involving diabetes management, promotion of a healthy lifestyle, social support, and constant monitoring of changes in mental symptoms.
INCREASE SKILLS IN YOUTH CADRE COMMUNICATION THROUGH TRAINING COMMUNICATION EFFECTIVE IN RIDOGALIH VILLAGE Elizabeth, Beatrix; Giyaningtyas, Ika Juita; Sartika, Aprilina
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2077

Abstract

Cadres have a role in preventing disease and improving people's ability to help themselves to achieve optimal health. The incidence of diabetes in adolescents is increasing day by day, so it needs early prevention. Ridogalih Village has Youth cadres but they still can not communicate with the community or their peers. The cadres in Ridogalih village have so far only focused on pregnant women and the elderly, so adolescents do not get good health information. The purpose of community service activities through training adolescent cadres conducted by Medika Suherman University is to improve the knowledge and skills of adolescent cadres so that they can optimize health in Ridogalih village. The method of service carried out provides training on how to communicate effectively, especially with peers. Youth cadres who participated in this training were 30 children who had been appointed as youth cadres before. Evaluation of this activity uses a knowledge questionnaire and a pre-posttest knowledge checklist. The results of the training obtained increased knowledge and skills in effective communication. The results of the training obtained increased knowledge and skills about effective communication. Pre-test cadre knowledge was less as much as 17 or 56.7%, sufficient cadre knowledge as much as 12 or 40.0% and good cadre knowledge as much as 1 or 3.3% while the total score of post test answers in the less category was 4 or 13.3%, enough as much as 16 or 53.3% and good as much as 10 or 33.3%.
Penerapan Art Therapy berkelompok dalam menurunkan tanda dan gejala pasien dengan halusinasi Giyaningtyas, Ika Juita; Sianturi, Renta
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.36609

Abstract

AbstrakRumah Sakit Jiwa (RSJ) Islam Klender yang berlokasi di Kecamatan Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, merupakan fasilitas kesehatan yang berfokus pada pelayanan kesehatan mental. Masalah kesehatan mental yang paling banyak ditemukan di rumah sakit ini adalah halusinasi, yaitu sekitar 93% dari total pasien. Halusinasi merupakan sensasi yang dialami melalui panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar dan dapat menimbulkan dampak serius seperti kehilangan kontrol diri, perilaku kekerasan, bahkan upaya bunuh diri. Program ini bertujuan untuk menurunkan tanda dan gejala halusinasi melalui penerapan art therapy berkelompok serta meningkatkan kemampuan pasien dalam mengalihkan perhatian dari halusinasi ke aktivitas yang lebih positif dan bermakna. Kegiatan dilakukan dengan metode demonstrasi langsung pelaksanaan art therapy. Program dilaksanakan pada tanggal 8 dan 10 juli 2025 dengan 2 kali sesi terapi berkelompok yang diikuti oleh 10 pasien dengan diagnosis halusinasi. Pasien diajak mengekspresikan emosi dan pikiran melalui kegiatan menggambar dan mewarnai untuk mengalihkan fokus dari halusinasi. Setelah dua kali sesi pelaksanaan art therapy berkelompok, pasien menunjukkan penurunan tanda dan gejala halusinasi. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan interaksi sosial dan ekspresi emosional positif pasien selama berada di ruang rawat. Penerapan art therapy secara berkelompok efektif membantu pasien dengan halusinasi dalam menurunkan tanda dan gejala yang dialami, sekaligus meningkatkan kemampuan ekspresi diri dan interaksi sosial. Intervensi ini dapat menjadi alternatif pendukung terapi keperawatan jiwa di rumah sakit. Kata kunci: art therapy; gangguan jiwa; intervensi halusinasi; terapi kelompok; terapi modalitas AbstractThe Islamic Mental Hospital (RSJ) Klender, located in Duren Sawit District, East Jakarta City, is a healthcare facility focused on mental health services. The most prevalent mental health problem found in this hospital is hallucination, affecting approximately 93% of the total patients. Hallucinations are sensations perceived through the senses without any external stimulus and can lead to serious consequences such as loss of self-control, violent behavior, and even suicidal attempts. This program aimed to reduce the signs and symptoms of hallucinations through the implementation of group art therapy and to improve patients’ ability to redirect their attention from hallucinations to more positive and meaningful activities. The activity was conducted using a direct demonstration method of art therapy implementation. The program was carried out on July 8 and 10, 2025, consisting of two group therapy sessions attended by 10 patients diagnosed with hallucinations. Patients were encouraged to express their emotions and thoughts through drawing and coloring activities to help divert their focus from hallucinations. After two group art therapy sessions, patients showed a reduction in the signs and symptoms of hallucinations. In addition, the activity enhanced patients’ social interactions and positive emotional expressions during hospitalization. The implementation of group art therapy proved effective in helping patients with hallucinations reduce their symptoms while improving self-expression and social interaction skills. This intervention can serve as a supportive alternative in psychiatric nursing care within hospital settings. Keywords: art therapy; group therapy; hallucination management; mental health disorders; modality intervention